
Slaasshh...
Tiba-tiba saja sebuah panah melesat cepat dan menusuk tepat ke bahu Li Qin.
"Akh!" Li Qin memekik kesakitan.
"Yang mulia!" teriak Reiner panik. "Semuanya berjaga-jaga! Jangan sampai ada serangan susulan dari orang itu!" perintah Reiner.
"Baik panglima!" seluruh prajurit langsung bersiap siaga menjaga raja Li Qin.
Sementara Reiner menghampiri rajanya yang terluka itu, tampaknya juga terdapat obat bius di panah tersebut yang membuat Li Qin mulai kehilangan kesadaran.
"Yang mulia tidak apa-apa?" tanya Reiner.
"Akh! Tubuhku rasanya lemas sekali, sepertinya ada obat bius di panah ini!" jawab Li Qin.
"Kalau begitu, panahnya harus cepat dicabut yang mulia." usul Reiner.
"Ya, bantu aku!" pinta Li Qin.
Plop
Reiner berhasil mencabut panah itu dari bahu sang raja, tapi rasanya obat bius itu telah mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Bagaimana yang mulia?" tanya Reiner.
"Tubuhku masih lemas," jawab Li Qin.
"Hahaha hahaha.." suara tawa wanita menggema di sekitar mereka.
Para prajurit kompak mendongakkan kepala mereka, tapi tanpa sadar puluhan anak panah mulai menghujam tubuh mereka hingga tewas.
Slaasshh slaasshh...
Satu persatu prajurit tumbang, menyisakan Li Qin bersama sang panglima.
"Sial! Kita terjebak yang mulia!" ujar Reiner.
Lalu, sang wanita bertopeng hitam muncul di hadapan mereka dan kembali tertawa puas.
"Hahaha, kamu akan mati Li Qin!" ujarnya.
"Siapa kau? Tunjukkan wajahmu jika kau memang kesatria!" ujar Li Qin.
"Untuk membunuh seseorang sepertimu, tak perlu menunjukkan wajahku bukan?" ucap wanita itu.
"Kamu tidak lebih dari seorang pengecut! Dasar bedebah!" umpat Li Qin.
"Tidak usah banyak bicara lagi, mari kita bertarung dan buktikan siapa yang lebih hebat diantara kita!" tantang si wanita.
"Siapa takut??!" Li Qin melepaskan diri dari pegangan panglimanya dan bersiap menghadapi wanita itu.
"Tapi yang mulia, anda sedang terluka. Sangat bahaya bila yang mulia meneruskannya," ucap Reiner memperingati.
"Tidak apa-apa, aku bisa hadapi dia! Kamu tenang saja dan tetap berhati-hati!" ucap Li Qin kekeuh.
Akhirnya Li Qin yang sudah terlanjur emosi dan tak mau direndahkan oleh siapapun itu mulai bergerak mendekati si wanita bertopeng dengan langkah sempoyongan.
"Kamu mau melawanku kan? Ayo angkat senjata mu! Kita bertarung sampai mati!" ujar Li Qin.
"Baiklah, jangan menyesal jika nantinya kamu akan terbunuh di tanganku, Li Qin!" ucap wanita itu.
"Itu hanya terjadi di dalam mimpimu wanita aneh! Kamu tidak akan bisa melakukan itu di dunia nyata!" ujar Li Qin.
"Jangan meremehkan ku raja sialan!" umpat si wanita.
"Hahaha.." Li Qin tertawa dan semakin mendekat ke arah wanita itu.
"Hiyaaa.." wanita bertopeng itu pun melakukan serangan lebih dulu secara brutal.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Li Qin masih terus melakukan perlawanan walaupun berkali-kali juga ia merasakan tubuhnya semakin lemas.
Slaasshh...
Satu tebasan pedang milik si wanita berhasil mengenai bahu Li Qin hingga pakaian yang ia kenakan terkoyak.
Lambat laun tenaga Li Qin mulai habis, efek racun di panah tadi benar-benar membuatnya lemas dan hampir tak sadarkan diri.
Merasa bahwa Li Qin tak berdaya, wanita itu terus meningkatkan intensitas serangannya sehingga Li Qin berkali-kali terkena sabetan pedangnya.
"Raja Qin! Hentikan pertarungan ini!" teriak Reiner dari belakang sana.
Bukannya berhenti, justru si wanita bertopeng itu semakin brutal menyerang Li Qin.
Li Qin yang sudah tak berdaya hanya bisa berdiam diri dengan luka yang sudah sangat banyak di bagian tubuhnya.
"Matilah kau Li Qin!" ucap wanita itu.
Jlebb..
Wanita itu menusuk perut Li Qin dengan pedangnya, lalu mencabutnya kasar dan terlihat lah darah berlumuran di pedangnya itu.
Wanita itu tersenyum puas melihat Li Qin perlahan-lahan mulai terjatuh ke tanah.
Tak berhenti sampai disitu, si wanita kembali menusukkan pedangnya ke tubuh Li Qin yang sudah tak berdaya itu.
"Hahaha, rasakan itu raja tengik!" umpatnya.
Bruuukkk...
Akhirnya Li Qin terjatuh dalam posisi terlentang dengan kedua tangan melebar.
Reiner masih melotot menyaksikan pembunuhan di depan matanya sendiri.
__ADS_1
"Cih dasar lemah!" ucap si wanita.
Lalu, wanita itu tampak mengarahkan pandangan ke arah sang panglima. Ia tersenyum tipis dan dibalas oleh Reiner.
Perlahan Reiner mendekat ke arah si wanita, sedangkan wanita itu membuang pedangnya dan melepas topeng di wajahnya.
"Kamu hebat istriku!" ucap Reiner memuji si wanita sambil tersenyum.
"Ini hal mudah Reiner, sekarang kita hanya perlu gunakan ini untuk mengecoh pasukan Sidhagat." ucap si wanita seraya menunjukkan lencana milik putri Xiu yang ia pegang di tangan.
"Darimana kamu dapat itu?" tanya Reiner.
"Tentu saja aku mengambilnya langsung dari Quangzi, aku yakin ini cukup untuk meyakinkan Ling bahwa pembunuh ayahnya adalah sang putri Quangzi yang hilang itu." jelas wanita itu.
"Bagus istriku, kamu memang cerdik! Kalau begitu sebaiknya kamu pergi, biar aku yang mengurus jasad raja busuk ini!" ucap Reiner.
"Baik suamiku!" ucap si wanita.
Mereka berpelukan sejenak, sebelum wanita itu pergi dari sana.
Sementara Reiner berpura-pura memasang wajah paniknya saat mengurus jenazah sang raja.
•
Raja Ling kini sudah mengetahui semuanya, ia menangis menatap jasad sang ayah yang ada di hadapannya kini.
Ia benar-benar tak menyangka bahwa pembunuh ayahnya adalah Reiner, orang kepercayaannya sendiri.
Wein Lao serta putri Xiu saling berpelukan, mereka merasa kasihan melihat raja Ling yang tengah menangis di hadapan mereka saat ini.
"Sabar raja Ling! Terkadang kenyataan memang pahit, tapi itulah adanya." ucap Wein Lao.
"Ya raja Ling, kamu sekarang sudah mengetahui semuanya. Bukan aku yang membunuh ayahmu, tetapi panglima mu sendiri bersama istrinya. Ini memang sebuah kebenaran yang tak terduga, aku pun ikut kaget melihatnya." sahut Xiu.
Raja Ling hanya bisa terus menangis menutupi wajahnya, perlahan ia berjongkok di depan Wein Lao sambil meratapi kepergian ayahnya.
"Hiks hiks, saya benar-benar bodoh! Selama ini saya menuduh orang yang tidak bersalah, dan malah menjadikan si pembunuh itu sebagai orang kepercayaan saya." ucap raja Ling.
Xiu menatap suaminya, meminta izin untuk mendekati raja Ling.
Wein Lao mengangguk pelan memberi izin.
Xiu pun melangkah mendekat ke tempat raja Ling berada dan merendahkan posisinya menyamai tubuh sang raja.
"Raja Ling, sudah ya kamu tidak perlu menyesali ini semua! Aku tahu kamu sedih dan marah sewaktu kehilangan ayah kamu, begitupun dengan aku dulu. Tapi, kamu harus bisa kuat dan semangat untuk menjadi raja yang hebat!" ucap Xiu.
"Xiu, maafkan saya ya! Saya sudah melakukan kesalahan dengan menuduh kamu, saya seharusnya tahu kamu gak mungkin melakukan ini semua!" ucap raja Ling menatap Xiu.
"Gapapa raja Ling, aku udah maafin kamu kok. Sekarang jangan nangis lagi ya!" ucap Xiu.
"Kamu benar-benar wanita yang luar biasa putri Xiu! Kamu baik, cantik, dan juga hebat!" ucap raja Ling memuji Xiu.
Xiu tersenyum saja sembari menggerakkan satu tangannya ke bahu sang raja.
Raja Ling menggeleng pelan, "Tidak udah, aku bisa sendiri. Kalau kamu bantu aku, nanti Wein Lao cemburu loh." ucapnya.
"Hah??" Xiu menoleh ke arah suaminya dan dibalas dengan tatapan tajam.
"Kamu cemburu sayang?" tanya Xiu pada suaminya itu.
"Tidak, untuk apa aku cemburu? Aku yakin kamu cintanya cuma sama aku, jadi buat apa aku cemburu?" elak Wein Lao.
"Yakin? Yaudah raja, yuk aku bantu aja berdiri! Itu Lao gak cemburu kok, kamu gausah sungkan!" ucap Xiu.
Wein Lao terdiam saja melihat kelakuan istri mungilnya itu.
Raja Ling akhirnya menerima bantuan tangan Xiu dan berdiri tegak seperti sebelumnya.
"Nah, seorang raja harus berdiri tegak seperti ini! Kamu gak boleh menunduk, apalagi membungkuk!" ucap Xiu.
"Ya Xiu, terimakasih!" ucap raja Ling.
Xiu mengangguk sambil tersenyum.
"Yasudah, mari kita kembali ke waktu asal!" ucap Wein Lao.
Raja Ling mengangguk setuju, Wein Lao pun mengeluarkan kembali portal waktu dari cincin yang ia kenakan itu.
Mereka tiga langsung masuk ke portal tersebut dan kembali ke waktu semula.
"Dimana kamu Reiner?!" geram raja Ling.
"Sabar raja! Kamu harus bisa tahan emosi, dendam hanya akan menyakiti dirimu!" ucap Xiu.
"Tidak bisa Xiu, aku harus balas kematian ayahku dan membunuh Reiner!" ucap raja Ling.
"Tapi raja—" ucapan Xiu tertahan saat Wein Lao menyentuh pundaknya.
"Sudah, biarkan raja Ling melakukan apa yang ingin dia lakukan!" ucap Wein Lao pada istrinya.
"Baiklah!" ucap Xiu menurut.
"Aku pergi dulu, sekali lagi maafkan aku, putri Xiu!" ucap raja Ling berpamitan pada mereka berdua.
"Ya raja, sampai bertemu lagi!" ucap Xiu.
Raja Ling pun bergegas pergi mencari Reiner, sedangkan Wein Lao bersama istrinya itu saling memeluk dan melempar senyum.
"Kamu kok bisa punya portal waktu kayak gitu sih? Kamu jangan-jangan orang luar bumi ya?" tanya Xiu pada suaminya.
"Sembarangan kalo ngomong! Masa aku dibilang alien sih?" ujar Wein Lao.
"Hahaha, terus kamu dapat itu darimana?" tanya Xiu penasaran.
__ADS_1
"Dari ayah, dia bilang katanya cuma ini satu-satunya cara buat menyadarkan raja Ling dan bebasin kamu cantikku." jawab Wein Lao.
"Ohh, terus ayah kamu dapat darimana?" tanya Xiu.
"Eee sudahlah gausah bahas itu!" pinta Wein Lao.
"Tapi Lao—mmpphh.." Wein Lao langsung membungkam mulut Xiu dengan bibirnya.
Ya mereka pun saling bertukar saliva disana.
•
•
Bruuukkk...
Gusion dan Reiner jatuh bersamaan ke tanah setelah merasakan kekuatan milik Fey Chu.
Wanita itu tersenyum puas, dirinya merasa hebat setelah berhasil mengalahkan dua panglima itu.
"Segini saja kekuatan panglima perang dari dua kerajaan besar di negeri ini? Kalian itu manusia lemah, jadi seharusnya kalian setuju dengan apa yang aku katakan tadi!" ucap Fey Chu.
"Dasar gadis gila! Sampai kapanpun kamu tidak mungkin bisa mewujudkan itu!" ucap Gusion.
"Terserah kalian saja, aku sudah berusaha baik loh dengan mengajak kalian bergabung denganku. Tapi, jika kalian tidak mau ya sudah gapapa." ucap Fey Chu sambil tersenyum.
Gusion bangkit kembali dan berniat melawan Fey Chu dengan pedangnya, namun wanita itu menahannya.
"Cukup! Jangan maju lagi!" ucap Fey Chu.
"Kenapa? Kamu takut melawanku, ha?" tanya Gusion.
"Aku justru tidak mau membuatmu mati, karena aku tahu kamu bukan lawan ku. Kamu itu cuma bawahan yang gak bisa apa-apa!" jawab Fey Chu.
"Kurang ajar! Kamu tidak bisa meremehkan aku seperti itu!" geram Gusion.
"Itu kenyataannya, aku tidak memiliki urusan dengan bawahan seperti kalian. Jadi, sebaiknya kalian pergi saja karena aku gak mau kotorin tangan aku buat lawan kalian!" ucap Fey Chu.
"Dasar pengecut!" umpat Gusion.
Disaat Gusion hendak menyerang Fey Chu, tiba-tiba saja raja Ling muncul dan menghentikan pertarungan itu.
"Berhenti!!" teriak raja Ling dari jauh.
"Hah??" Gusion dan Fey Chu sama-sama terkejut, mereka menoleh ke arah raja Ling dengan mata terbelalak.
Sementara Reiner yang masih tergeletak di tanah juga ikut terkejut melihat rajanya sudah kembali.
Kini raja Ling sudah berhenti di dekat mereka, menatap ketiganya dengan penuh keheranan.
"Ada apa ini? Siapa kamu wanita muda? Kenapa kamu berkelahi dengan pasukan Quangzi?" tanya raja Ling pada Fey Chu.
"Ah kamu pasti raja Sidhagat kan?" ujar Fey Chu.
"Ya, aku Ling. Kamu siapa?" ucap raja Ling.
"Aku Fey Chu, aku pastikan sebentar lagi kamu akan lengser dari jabatan mu raja!" ucap Fey Chu.
"Apa maksudmu?" tanya raja Ling tak mengerti.
Wanita itu tersenyum saja, lalu melesat pergi meninggalkan raja Ling serta yang lainnya.
"Siapa dia sebenarnya??" gumam raja Ling.
"Hey! Aku yakin kamu pasti tau dimana putri Xiu, cepat katakan padaku atau aku akan menyerang kamu!" ucap Gusion.
"Hah? Tenanglah panglima Gusion, aku bisa beritahu dimana putri Xiu dan pangeran Lao padamu, jangan gunakan kekerasan ya!" ucap raja Ling.
"Baguslah, dimana mereka sekarang? Beritahu aku!" ujar Gusion.
"Nanti akan aku beritahu, tapi sebelumnya aku ada urusan sebentar dengan panglima ku." ucap raja Ling.
"Sialan! Kamu ingin mempermainkan aku?" geram Gusion.
"Ah tidak, aku hanya—" ucapan raja Ling terpotong saat Gusion mengangkat pedangnya dan maju menyerang ke arahnya.
"Jangan banyak bicara kau! Rasakan ini!" Gusion langsung maju dan menyerang raja Ling.
"Gusion hentikan!!" suara teriakan itu membuyarkan pertarungan mereka.
"Hah? Tuan putri Xiu??" Gusion terkejut melihat keberadaan putri Xiu dan Wein Lao disana.
"Apa-apaan kamu Gusion? Kenapa kamu serang raja Ling?" tanya putri Xiu.
"Maaf tuan putri! Hamba khawatir dengan tuan putri, hamba takut kalau dia sudah mencelakakan tuan putri!" jawab Gusion.
"Tenang saja! Aku tidak apa-apa kok! Raja Ling memang tadi ingin menghabisi ku, tapi sekarang dia sudah sadar dan tidak akan melakukan itu lagi." ucap Xiu.
"Ya benar! Aku sudah mengetahui semuanya, dan sekarang aku tidak lagi bermusuhan dengan putri Xiu." sahut raja Ling.
"Oh begitu, syukurlah! Kalau begitu hamba minta maaf raja Ling atas tindakan hamba tadi!" ucap Gusion pada raja Ling.
"Tidak apa-apa," ucap raja Ling singkat.
Disaat mereka sedang berbicara, Reiner tak sengaja mendengar percakapan mereka dan langsung terkejut hebat.
"Sial! Bagaimana caranya raja Ling bisa tahu kalau putri Xiu bukan pembunuh ayahnya? Apa dia juga tahu yang sebenarnya bahwa Emy yang sudah melakukan itu?" batin Reiner.
Reiner langsung berusaha bangkit walau dengan kondisi terluka dan berniat pergi dari sana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1