Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 95. Gadis cantik


__ADS_3

"Wah segar sekali paman! Rasanya pikiran ku jadi jernih kembali," ucap An Ming.


"Baguslah pangeran! Itu artinya ide paman berhasil, buktinya pangeran sudah tidak sedih lagi." ucap Zheng.


"Ya paman, tapi aku punya pertanyaan deh untuk paman dan guru." ucap An Ming.


"Apa itu pangeran?" Zheng terlihat penasaran.


"Kalau aku memberontak dari Quangzi, apa kalian mau tetap setia padaku?" tanya An Ming.


"Hah??" Zheng serta guru Yao kompak terkejut hebat mendengar pertanyaan An Ming.


"Sebentar pangeran, apa kata-kata pangeran itu benar adanya?" ucap Zheng tak percaya.


"Enggak lah paman, itu kan aku bilang kalau." ucap An Ming.


"Tapi, apa pangeran punya keinginan buat memberontak dari Quangzi?" tanya Zheng.


"Tidak juga, tapi gak tahu kalau di lain waktu." jawab An Ming.


"Duh pangeran, kenapa pangeran bisa punya pikiran kayak gitu?! Istana Quangzi itu kan tempat tinggal pangeran, disana juga ada ibu dan saudara pangeran. Masa pangeran tega mau berkhianat dari mereka?" ujar Zheng.


"Iya pangeran, sebaiknya pangeran lupakan saja niat pangeran itu! Jangan pernah punya pikiran seperti itu lagi ya!" ucap guru Yao.


An Ming mengangguk pelan, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Tanpa diduga, An Ming menemukan sosok wanita yang sedang mencuci wajahnya disana.


Tiba-tiba saja An Ming tersenyum dan terus menatap ke arah wanita itu.


"Cantik sekali dia!" ucapnya spontan.


Sontak Zheng dan guru Yao kompak terkejut mendengar ucapan An Ming, mereka juga menoleh ke arah yang ditatap oleh pangeran kecil itu.


"Ya ampun! Jadi, daritadi pangeran ngeliatin perempuan itu?" ujar Zheng.


"Iya paman, dia cantik ya? Aku jadi mau samperin dia dan kenalan sama dia, boleh kan paman?" ucap An Ming.


"Ah eee gimana ya..??" ujar Zheng bingung.


Tanpa menunggu jawaban dari Zheng, An Ming langsung pergi begitu saja mendekati wanita yang ada di depan sana itu.


"Eh eh pangeran, tunggu!" teriak Zheng.


Zheng serta guru Yao coba mengejar An Ming untuk mencegah pangeran kecil itu.


Tapi terlambat, An Ming sudah lebih dulu sampai di dekat si wanita tersebut.


"Halo!" sapa An Ming pada wanita itu.


"Hah??" wanita yang sedang mencuci muka di sungai itu terkejut, ia mendongakkan kepalanya menatap ke arah An Ming dengan bingung.


"Kamu siapa ya? Apa kita saling kenal?" tanya wanita itu pada An Ming.


An Ming tersenyum lebar, kemudian naik ke daratan dan duduk di samping wanita itu.


"Aku An Ming, pangeran istana Quangzi. Putra pertama ratu Lien," jawab An Ming.


"Apa? Jadi, kamu itu pangeran Quangzi?" wanita itu terkejut mendengarnya sekaligus tak menyangka jika yang ada di hadapannya ini adalah seorang pangeran istana.


"Benar sekali!" jawab An Ming sambil tersenyum.


Wanita itu sontak berdiri dan memberi salam hormat kepada An Ming.


"Salam hormat hamba, pangeran!" ucapnya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu begitu padaku! Aku tidak membutuhkan hormat darimu, ayo duduklah di sampingku!" ucap An Ming.


"Ba-baik pangeran!" ucap wanita itu gugup dan duduk kembali di sebelah An Ming sambil terus menunduk.


"Jangan menunduk! Katakan siapa namamu gadis manis!" pinta An Ming.


"Eee hamba Feng Lian, pangeran." jawabnya.




Slaasshh...


"Akh!" Xiu memekik keras saat bagian pahanya terkena sabetan pedang salah satu prajurit.


Darah segar mengalir di pahanya itu sampai menembus pakaian yang dikenakannya.


"Hahaha, bagaimana putri Xiu? Masih ingin melawan kami? Atau kamu sudah menyerah dan mau ikut dengan kami bertemu raja Ling?" ujar si panglima.


"Tidak akan! Aku akan terus melawan kalian, lagipun aku belum kalah!" jawab Xiu dengan lantang.


"Baiklah, ayo cepat tangkap dia!" perintah panglima itu kepada para prajuritnya.


Seluruh prajurit itu mendekat dan menangkap tubuh putri Xiu secara paksa.


"Ah lepasin aku! Kalian jangan pegang-pegang aku dan paksa aku buat ikut sama kalian! Lepasin aku cepat!" ucap Xiu mencoba berontak.


"Sudah, jangan banyak bicara! Kamu ikut saja dengan kami atau kami akan habisi kamu saat ini juga!" tegas prajurit.


"Ih gak mau! Aku gak mau ikut kalian! Cepat lepasin aku dan jangan paksa aku!" ucap Xiu terus mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


Akan tetapi, tenaga Xiu tidak mampu membuat dirinya lepas dari cengkraman para prajurit itu.


"Diam kamu! Ayo prajurit, bawa dia untuk bertemu dengan raja Ling!" teriak panglima Sidhagat dengan keras.


"Baik panglima!" ucap prajurit itu menurut.


Akhirnya mereka membawa Xiu yang terluka itu secara paksa untuk menemui raja Ling.


Sesampainya di tempat raja Ling berada, mereka terkejut karena raja Ling tengah bertarung dengan In Lao serta Wein Lao sekaligus.


"Hentikan pertarungan kalian! Lihatlah, kami sudah berhasil menangkap putri Xiu. Jika kalian tidak berhenti, maka kami akan memenggal kepala putri Xiu saat ini juga!" teriak panglima itu.


"Apa? Xiu??" Wein Lao tersentak kaget melihat istrinya tertangkap disana.


"Hahaha, ya benar Lao! Istrimu sekarang sudah ada di tangan kami, jadi kamu menyerah dan jangan melakukan perlawanan lagi!" ucap si panglima.


"Bagus Reiner! Aku suka sekali dengan cara mainmu itu!" ucap raja Ling memuji panglimanya.


"Terimakasih raja Ling!" ucap si panglima bernama Reiner itu.


"Sial! Bagaimana ini ayah? Aku tidak mau terjadi sesuatu pada putri Xiu, kita harus lakukan sesuatu!" bisik Wein Lao pada ayahnya.


"Sabar dulu putraku!" jawab In Lao.


Xiu yang sedang terluka itu hanya bisa terdiam pasrah sembari menatap suaminya, ia benar-benar tak mampu berbuat apapun saat ini apalagi ada pedang menempel di dekat lehernya.


"Selamatkan aku, Lao! Aku tidak mau mati sekarang, aku masih ingin bersamamu!" batin Xiu.


Raja Ling tertawa lebar, berjalan mendekati putri Xiu dan menyentuhnya.


"Hahaha, akhirnya kamu tertangkap juga Xiu! Sekarang kita hentikan pertarungan ini, aku akan membawamu ke istanaku!" ucap raja Ling.


"Berhenti!" Wein Lao berteriak keras.




Ratu Lien amat cemas menantikan putrinya kembali ke istana, ia terus mondar-mandir di depan istana sembari menggigit jarinya karena panik.


Gusion serta beberapa prajurit disana hanya bisa memandangi ratu mereka yang tengah panik itu, mereka tak berani menegur atau menghampirinya.


"Duh, gimana ini? Kamu dimana putriku? Cepatlah pulang!" gumam ratu Lien.


Tiba-tiba saja, Luan sang pelayan istana muncul menghampiri ratu Lien dan melewati Gusion serta prajurit disana.


"Permisi ratu!" ucap Luan yang kini berhenti di samping ratunya.


"Ya Luan, ada apa?" tanya ratu Lien.


"Tidak apa-apa, aku ingin disini saja sampai putriku pulang. Aku harus pastikan dia selamat dan baik-baik saja!" ucap ratu Lien.


"Tapi ratu, menunggu di dalam pun lebih baik dan tidak ada bedanya. Mari ratu, aku antar ke dalam!" ucap Luan berusaha mendekati sang ratu.


"Tidak Luan! Aku tidak mau masuk ke dalam! Aku akan tetap disini, jadi jangan memaksaku untuk masuk!" pinta ratu Lien dengan tegas.


"Baiklah ratu, aku menurut saja denganmu! Tapi, perlukah aku mengambil payung untuk mencegah dirimu dari kepanasan?" ujar Luan.


"Tidak perlu, aku sudah terbiasa dengan udara panas seperti ini! Kamu jangan khawatirkan aku, aku tidak akan kenapa-napa kok disini!" ucap ratu Lien menolak.


"Baik ratu! Kalau begitu aku akan temani ratu disini sampai tuan putri kembali," ucap Luan.


Ratu Lien terdiam saja, ia kembali mencemaskan putrinya yang tak kunjung pulang itu dan juga belum ada kabar mengenai dirinya.


Lalu, Gusion memberanikan diri untuk menghampiri sang ratu di depannya itu dan berbicara padanya.


"Maaf ratu! Apa perlu hamba dan beberapa prajurit pergi mencari tuan putri Xiu?" ujar Gusion.


"Ah iya, kau benar panglima! Pergilah kau dan cari putriku sampai dapat! Aku khawatir terjadi sesuatu padanya saat ini!" titah ratu Lien.


"Siap ratu! Ayo semua, kita harus pergi sekarang dan temukan putri Xiu!" ucap Gusion memerintah para prajuritnya untuk berkumpul.


"Tunggu dulu ratu, panglima! Kalau panglima pergi, lalu siapa yang berjaga di istana? Istana tidak boleh kosong ratu! Bagaimana jika ada serangan dadakan dari musuh?" ucap Luan.


"Tidak apa, masih ada prajurit yang lain, lagipun aku yakin kita akan aman disini dan tidak ada serangan dari musuh!" ucap ratu Lien.


"Eee jadi bagaimana ratu?" tanya Gusion.


"Kalian pergi saja, temukan putriku!" jawab ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Gusion dan langsung pergi bersama beberapa prajurit.


Sementara ratu Lien dan Luan tetap menunggu disana.




Wanita itu sontak berdiri dan memberi salam hormat kepada An Ming.


"Salam hormat hamba, pangeran!" ucapnya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu begitu padaku! Aku tidak membutuhkan hormat darimu, ayo duduklah di sampingku!" ucap An Ming.


"Ba-baik pangeran!" ucap wanita itu gugup dan duduk kembali di sebelah An Ming sambil terus menunduk.


"Jangan menunduk! Katakan siapa namamu gadis manis!" pinta An Ming.

__ADS_1


"Eee hamba Feng Lian, pangeran." jawabnya.


"Feng Lian? Waw nama yang cantik, secantik orangnya!" ucap An Ming memuji wanita itu.


"Ah pangeran bisa saja, hamba jadi malu!" ucap wanita itu sembari menunduk malu.


"Tidak perlu malu, angkat kepala mu Feng Lian! Aku ingin melihat wajah cantikmu itu," pinta An Ming.


Wanita itu menurut dan mengangkat wajahnya menghadap ke arah An Ming.


"Nah seperti itu, aku sangat menyukai senyum di wajahmu yang manis itu! Bisakah aku mengenal mu lebih jauh cantik?" goda An Ming.


"Tentu saja pangeran, aku merasa terhormat jika pangeran mau berkenalan denganku. Tapi, apa itu dibolehkan?" ucap Feng Lian.


"Mengapa tidak? Aku memang keluarga istana, tapi aku berhak berteman dengan siapapun, termasuk dirimu manis!" ujar An Ming seraya mencolek dagu Feng Lian.


Wanita itu makin tersipu, senyuman di wajahnya terus mengembang dan membuat An Ming semakin tergoda.


"Kenapa pangeran ingin berteman denganku? Aku ini hanya gadis desa biasa loh, aku bukan keluarga istana seperti pangeran. Memangnya pangeran tidak akan dimarahi nanti?" ujar Feng Lian.


"Aku tidak perduli dengan itu, aku bisa berteman dengan siapapun yang aku mau." ucap An Ming.


An Ming semakin mendekati wanita itu dan meraih satu tangannya, ia memberanikan diri menggenggamnya kemudian mengecupnya.


Cup!


"Hah? Kenapa pangeran cium tangan aku?" tanya Feng Lian terkejut tapi tak berontak.


"Karena aku suka," jawab An Ming sambil tersenyum.


Wanita itu hanya membalas senyum sang pangeran dan membiarkan An Ming kembali menciumi tangannya yang lembut itu.


"Kamu sering datang kesini, Lian?" tanya An Ming tanpa melepas genggaman tangannya.


"Ya pangeran, sehabis dari kebun pasti aku selalu kesini dulu untuk membersihkan wajahku." jawab Feng Lian.


"Oh begitu, pantas saja kamu terlihat bersinar dan cerah. Ternyata kamu rajin cuci muka di air ini," ucap An Ming memuji Feng Lian.


"Ah pangeran bisa aja!" ucap Feng Lian malu-malu.


"Kamu jangan panggil aku pangeran! Panggil saja aku An Ming, okay?!" pinta An Ming.


"Baik An Ming!" ucap Feng Lian menurut.


An Ming merasa gemas dengan tingkah wanita itu, ia pun mencubit wajahnya dan sesekali mengusap rambutnya yang halus.


"Pangeran!!"




"Sial! Bagaimana ini ayah? Aku tidak mau terjadi sesuatu pada putri Xiu, kita harus lakukan sesuatu!" bisik Wein Lao pada ayahnya.


"Sabar dulu putraku!" jawab In Lao.


Xiu yang sedang terluka itu hanya bisa terdiam pasrah sembari menatap suaminya, ia benar-benar tak mampu berbuat apapun saat ini apalagi ada pedang menempel di dekat lehernya.


"Selamatkan aku, Lao! Aku tidak mau mati sekarang, aku masih ingin bersamamu!" batin Xiu.


Raja Ling tertawa lebar, berjalan mendekati putri Xiu dan menyentuhnya.


"Hahaha, akhirnya kamu tertangkap juga Xiu! Sekarang kita hentikan pertarungan ini, aku akan membawamu ke istanaku!" ucap raja Ling.


Disaat raja Ling serta para prajuritnya hendak membawa pergi putri Xiu, tiba-tiba Wein Lao bersuara menahan mereka.


"Berhenti!" Wein Lao berteriak keras.


Sontak raja Ling menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Wein Lao dan tersenyum tipis.


"Apa maumu Lao? Kamu masih belum kapok ingin melawanku, ha?" tanya raja Ling.


"Lepaskan istriku! Dia bukan pembunuh ayahmu, jadi dia tidak pantas dibawa oleh kalian!" ucap Wein Lao.


"Sudah berkali-kali kamu bilang begitu, tapi saya tidak akan pernah percaya dengan kata-kata kamu itu!" ucap raja Ling lantang.


"Itu terserah kamu, tapi memang benar kalau istriku bukan pembunuh!" ucap Wein Lao.


"Ah sudahlah, kamu diam disitu atau kupenggal kepala istrimu ini di hadapan mu!" ancam raja Ling.


"Jangan berani-beraninya kamu melakukan itu! Aku pastikan kamu akan merasakan balasan yang lebih pedih!" ucap Wein Lao kesal.


"Aku tidak takut, karena kamu juga sudah aku kalahkan. Sekarang diamlah disitu dan jangan bergerak! Nyawa istrimu ini ada di tanganku," ucap raja Ling.


Wein Lao serta ayahnya hanya bisa berdiam diri disana, sang ayah juga berusaha menahan Wein Lao untuk tidak maju menyerang raja Ling.


"Tahan Lao! Kegegabahan kamu bisa melukai istrimu!" ucap In Lao.


"Iya ayah, tapi bagaimana dengan Xiu? Aku tidak mau dia dibawa oleh raja Ling!" ujar Wein Lao.


"Tenang saja! Ayah juga tidak mungkin membiarkan dia membawa Xiu, tapi kita harus sabar dulu dan jangan gegabah!" ucap In Lao.


"Baiklah ayah!" ucap Wein Lao menurut.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2