Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 81. Belum siap


__ADS_3

TOK TOK TOK...


Namun, tiba-tiba suara ketukan pintu muncul dari arah luar kamar mereka yang membuat Wein Lao mengurungkan niatnya kembali.


"Aaarrgghh!!" Wein Lao menggeram kesal.


"Hahaha, kamu gagal lagi deh! Aku kan udah bilang, sabar dulu sayang sampai kita nikah nanti! Kamu gak mau dengar sih, tuh kan jadinya kamu kesal sendiri." goda Xiu sambil terkekeh kecil.


Wein Lao hanya diam menatap wajah Xiu, ia berusaha keras menahan gairah di tubuhnya saat ini agar tidak kelepasan.


Xiu langsung mendorong tubuh Wein Lao hingga terpental ke samping, gadis itu pun bangkit sambil meledek Wein Lao sejenak.


"Wle wle wle, kamu gak bisa sentuh aku lagi!" ledek Xiu seraya menjulurkan lidahnya.


Wein Lao justru terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, sungguh melihat tingkah gadis itu membuat dirinya merasa terhibur.


"Awas kamu ya! Setelah kita nikah nanti, aku gak akan pernah lepasin kamu!" ancam Wein Lao.


"Ih ngeri! Udah ah aku mau keluar aja, kalau lama-lama disini nanti aku digigit serigala lagi!" ujar Xiu.


"Ya ya ya.." ucap Wein Lao singkat.


Xiu pun bergegas melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


TOK TOK TOK...


"IYA SEBENTAR!!" teriak Xiu dari dalam sana.


Ceklek...


Xiu membuka pintu, senyum renyahnya tadi langsung menghilang saat melihat ratu Lien berdiri di hadapannya kini.


"Mommy...??" ucap Xiu terbujur kaku.


"Selamat pagi sayang! Kamu kenapa kaget gitu lihat mommy disini?" ujar ratu Lien.


"Eee anu.." Xiu tampak gugup dan ketakutan.


Gadis itu terus melirik ke arah Wein Lao yang masih terbaring di atas ranjangnya, ia khawatir kalau ratu Lien melihat semua itu.


"Kenapa? Kamu takut kalau mommy tahu Wein Lao ada di kamar kamu?" celetuk ratu Lien.


"Hah??" ujar Xiu tersentak kaget.


"Gausah kaget gitu sayang! Semalam Wein Lao temuin mommy dan minta izin langsung kok ke mommy buah tidur bareng kamu, tapi dengan satu syarat kalau dia gak akan berbuat macam-macam sama kamu." ucap ratu Lien.


"Ohh gitu, pantas aja mommy udah tahu. Aku kira semalam Lao bohong sewaktu dia bilang kalau mommy udah izinin dia buat tidur disini," ucap Xiu.


"Ya enggak lah sayang, Lao gak bohong kok. Terus, dia sekarang dimana? Udah bangun apa belum?" ucap ratu Lien menanyakan mengenai Wein Lao.


"Eee udah kok mom, tadi kita bangun bareng. Tapi, mom jangan mikir yang enggak-enggak ya! Kita berdua tuh gak lakuin apa-apa kok semalam, kita cuma tidur aja!" ucap Xiu.


"Iya iya, mommy kan juga gak nuduh kalian berbuat yang enggak-enggak." ucap ratu Lien.


"Iya juga sih, kenapa aku malah bilang begitu ya mom?" ujar Xiu garuk-garuk kepala.


"Yaudah, kamu suruh Lao siap-siap gih!" ucap ratu Lien.


"Hah? Siap-siap? Emangnya mommy mau ajak Lao kemana?" tanya Xiu heran.


"Kok kemana sih? Emangnya kamu lupa? Semalam kan kita udah setuju kalau hari ini kalian mau persiapan bikin baju pengantin." jawab ratu Lien.


"Oh iya, maaf mom aku lupa! Ini gara-gara Lao selalu ngomong jorok sih mom!" ujar Xiu.


"Hah? Ngomong jorok gimana?" tanya ratu Lien.


"Eee enggak kok, gapapa mom. Sebentar ya, aku panggilin Wein Lao dulu supaya dia bisa cepat-cepat siap-siap!" ucap Xiu.


"Iya, mommy tunggu di depan ya?" ucap ratu Lien.


"Oke mom!" ucap Xiu tersenyum lebar.


Ratu Lien pun pergi dari sana, Xiu langsung merasa lega dan mengelus dadanya sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya.




Xiu menghampiri Wein Lao yang masih tergeletak di atas kasur memeluk guling.


Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, berhenti tepat di samping tubuh Wein Lao dan menatapnya.


"Ish, kok kamu malah tidur lagi sih Lao? Ayo bangun dong! Kamu lupa ya kalau hari ini kita mau fitting baju pengantin?" ujar Xiu sembari mendorong-dorong tubuh Wein Lao.


"Apaan sih Xiu? Gak bisa nanti-nanti aja gitu? Aku masih mau tidur tau, semalaman aku gak bisa tidur gara-gara kamu pelit gak mau bolehin aku buat peluk kamu!" ucap Wein Lao.


"Dih, suruh siapa kamunya bahas yang enggak-enggak terus! Udah ayo bangun buruan, mommy udah nungguin tau!" ucap Xiu.


"Iya iya, ini aku bangun sayang!" ujar Wein Lao.


Wein Lao langsung bangkit dan terduduk di ranjangnya, meraih satu tangan gadisnya dan menggenggamnya erat.


"Sayang, emang kamu udah siap buat nikah sama aku besok?" tanya Wein Lao pada Xiu.

__ADS_1


"Hah? Kamu bilang apa sih? Kita nikahnya itu bukan besok Lao, tapi masih Minggu depan. Kamu gausah ngada-ngada deh!" ucap Xiu.


"Enggak, aku nanti bakal bilang ke papa dan mommy kamu buat ubah jadwal pernikahan kita. Soalnya aku pengen cepat-cepat nikah sama kamu, jadi kita nikahnya besok aja ya?" ucap Wein Lao.


"Ih apa sih? Aku gak mau ya, gausah pake diubah-ubah segala deh! Minggu depan itu udah pas tahu waktunya," ucap Xiu.


"Aku maunya besok," ucap Wein Lao.


"Ya kalo gitu kamu nikahnya aja sana sama tembok!" ujar Xiu.


"Hahaha, jahat banget sih kamu! Masa aku disuruh nikah sama tembok? Yang bener aja? Terus, gimana nanti caranya aku bisa bikin anak?" ucap Wein Lao.


"Haish, jadi kamu maksa buat nikah besok supaya kamu bisa cepat bikin anak? Iya begitu?" ucap Xiu.


"Ya itu salah satu alasannya sih," jawab Wein Lao.


Xiu menggeleng pelan sembari menarik tangannya dari genggaman Wein Lao, namun pria itu justru mengeratkan cengkeramannya dan berdiri seraya menahan pinggang gadis itu.


"Ih ih kamu mau apa? Jangan dekat-dekat ya Lao!" ucap Xiu ketakutan.


"Tenang sayang! Kamu tadi nyuruh aku siap-siap kan? Gimana kalau kita mandi bareng aja sekarang?" ujar Wein Lao.


"Hah? Emang bisa gitu? Gak bakal dibolehin sama mommy tau," ucap Xiu.


"Boleh kok, asalkan mommy kamu gak tahu. Yuk kita mandi bareng!" ujar Wein Lao seraya mencolek dagu gadisnya.


"Ah terserah kamu lah!" ucap Xiu.


"Bagus! Aku suka nih sama wanita penurut kayak kamu, yuk kita mandi bareng!" ucap Wein Lao.


"Sekarang lepasin dulu tangan aku ya!" pinta Xiu.


"Gak ah, nanti kamu malah kabur lagi dan gak mau mandi bareng sama aku!" ujar Wein Lao.


"Enggak kok, beneran deh." ucap Xiu.


"Janji?" tanya Wein Lao.


Xiu mengangguk sambil tersenyum, Wein Lao pun luluh dan melepas genggaman tangannya seperti kemauan Xiu.


"Aku mau mandi bareng sama kamu, tapi nanti kalo kita udah nikah. Wle!" ledek Xiu sembari menjulurkan lidahnya ke arah Wein Lao.


"Hah??" Wein Lao terkejut dengan itu, apalagi Xiu langsung berlari pergi meninggalkannya.


"Xiu, jangan pergi kamu!" teriak Wein Lao.


Namun, Xiu tak menggubrisnya dan tetap keluar dari kamarnya.




Singkat cerita, Xiu datang ke rumah Luan di desa Fuxiu untuk menemui Chen yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu.


Xiu memang tak memiliki teman lain saat ini, sehingga ia hanya bisa menemui Chen jika ia sedang ingin bercerita.


"Tuan putri, silahkan diminum!" ucap Chen.


"Ah iya, terimakasih kak Chen!" ucap Xiu.


"Sama-sama. Oh ya, kamu sebenarnya mau apa datang kesini?" tanya Chen bingung.


"Umm, aku mau cerita sama kamu." jawab Xiu.


"Cerita apa?" tanya Chen penasaran.


"Eee sebentar ya kak! Aku mau minum dulu, soalnya cuacanya lagi panas banget nih, aku jadi haus." ucap Xiu sambil terkekeh kecil.


"Ahaha, iya maaf maaf aku malah ajakin kamu ngobrol! Yaudah, silahkan diminum tuan putri!" ucap Chen.


"Apa sih kak? Panggil aku Xi Mei aja kali kayak biasa, gausah pake tuan putri segala! Kita kan udah sahabatan dari kecil, jadi gak perlu kayak gitu!" ucap Xiu.


"Iya iya, aku nurut aja deh sama tuan putri istana yang cantik jelita ini." ucap Chen.


"Ya ampun! Paling bisa deh kamu kalo soal muji-muji aku," ucap Xiu tersipu.


"Hahaha.." Chen tertawa lebar.


Xiu pun menenggak minuman itu sampai tersisa setengah, lalu kembali menatap Chen setelah dirasa cukup puas.


"Gimana? Kamu udah gak haus lagi?" tanya Chen.


"Iya, udah kok. Makasih ya kak, minumannya enak banget! Seger!" ucap Xiu sambil tersenyum.


"Ahaha, iya dong aku gitu loh yang buat." ucap Chen.


"Iya kak, emang paling mantap deh minuman buatan kamu!" ucap Xiu memujinya.


"Udah ah jangan begitu terus! Sekarang mending kita bahas kenapa kamu datang kesini, apa yang mau kamu bicarakan sama aku?" ucap Chen.


"Nah iya kak, jadi aku tuh pengen curhat gitu loh sama kamu soal hubungan aku dan Lao." ucap Xiu.


"Ohh, kenapa emangnya? Ada masalah sama kalian berdua?" tanya Chen penasaran.

__ADS_1


"Enggak sih, aku cuma bingung aja sama tingkah Lao yang sekarang. Dia kelihatan ngebet banget pengen nikah sana aku, malahan dia bilang kalau pernikahan kita tuh dimajuin jadi besok." jawab Xiu.


"Hah? Besok? Cepet amat," ujar Chen kaget.


"Iya kak, makanya aku juga kaget. Mana usulan Lao juga disetujui sama mommy dan orangtuanya, kan aku jadi bingung kak." ucap Xiu.


"Ya gapapa dong Xi Mei, malahan bagus kalau kalian nikahnya dipercepat jadi besok. Emang kamu gak mau nikah sama dia?" ucap Chen.


"Mau dong kak, tapi kan gak besok juga. Aku masih belum siap buat berumah tangga," ucap Xiu.


"Iya juga sih, kalo aku jadi kamu juga aku pasti belum siap buat nikah cepat-cepat. Apalagi Wein Lao mendadak majuin waktu nikahan kalian jadi besok," ucap Chen.


"Nah itu dia kak, terus menurut kamu gimana? Aku harus kayak gimana sekarang?" tanya Xiu.


"Eee kamu coba bicara aja sama mommy kamu dan Wein Lao juga! Bilang kalau kamu belum siap buat nikah besok, siapa tahu mereka bisa ngertiin dan gak jadi rubah jadwal pernikahan kalian." jawab Chen memberi usul.


"Aku udah bicara sama Lao, tapi dia gak mau dengar dan tetap pengen pernikahan kita diadain besok." ucap Xiu.


Chen pun terdiam untuk memikirkan apa yang dapat ia usulkan kepada putri Xiu.




Disisi lain, Wein Lao tampak kebingungan mencari dimana Xiu berada.


Pria itu sudah mengelilingi hampir seluruh ruangan istana, namun tak berhasil menemukan putri Xiu.


Wein Lao pun merasa cemas dan khawatir terhadap kondisi gadisnya saat ini.


"Duh, kamu kemana sih Xiu? Kebiasaan deh pergi gak bilang-bilang dulu sama aku, bikin cemas aja deh!" gumam Wein Lao.


Saat ia sedang bingung mencari Xiu, ia justru bertemu dengan Zheng di depan sana.


"Eh Zheng, pas banget saya ketemu kamu disini. Kamu lihat Xiu gak selama kamu berjaga di sekitar sini?" tanya Wein Lao pada Zheng.


"Enggak tuh, emang kenapa ya? Tuan putri Xiu hilang?" jawab Zheng.


"Eee enggak sih, dia gak hilang. Cuma saya masih belum tahu aja dia dimana sekarang, makanya ini saya lagi cari dia." elak Wein Lao.


"Maaf! Bukannya itu sama aja ya kalau tuan putri hilang?" ucap Zheng.


"Ya iya sih, bisa dibilang begitu. Tapi, tolong kamu jangan kasih tahu siapa-siapa dulu tentang ini, termasuk ratu Lien! Saya gak mau bikin beliau cemas!" ucap Wein Lao.


"Baik!" ucap Zheng singkat.


"Kalo gitu kamu tolong bantu saya buat cari putri Xiu di sekitar istana! Kalau kamu ketemu sama dia, tolong kabari saya!" pinta Wein Lao.


Zheng mengangguk saja, kemudian pergi dari sana tanpa berbicara apapun lagi.


Wein Lao sedikit heran dengan sikap Zheng, pasalnya kali ini pria itu nampak tak menyukai dirinya.


"Ada apa ya?" batinnya.


Saat Wein Lao hendak bergerak kembali, tiba-tiba ia berpapasan dengan ratu Lien dari depan.


"Lao! Kamu lagi apa disini?" ucap ratu Lien.


"Eh ratu, maaf ratu tadi aku sedang mencari putri Xiu. Aku ingin bicara dengannya, tetapi aku tidak berhasil menemukan dia dimanapun. Aku khawatir dia kenapa-napa ratu!" ucap Wein Lao.


"Kamu tidak perlu khawatir Lao! Xiu tadi pamit padaku untuk pergi ke desa Fuxiu menemui sahabatnya, dia juga diantar oleh Mungyi kok." ucap ratu Lien sambil tersenyum.


"Huh syukurlah! Aku pikir terjadi sesuatu pada Xiu, tapi ternyata tidak." ucap Wein Lao.


"Iya Lao, kamu tenang saja! Sekarang lebih baik kamu ikut denganku, ada yang ingin aku bicarakan padamu!" ucap ratu Lien.


"Eee ratu mau bicara apa?" tanya Wein Lao penasaran.


"Nanti saja aku bicara langsung padamu di belakang, aku ingin hanya kita berdua dan tidak ada siapapun yang mendengarnya." ucap ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Wein Lao menurut.


"Marilah!" ucap ratu Lien.


"Silahkan ratu!" ucap Wein Lao meminta ratu Lien jalan lebih dulu.


Mereka pun melangkah pergi dari sana.


Sesampainya di taman belakang, kini ratu Lien menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Wein Lao sambil tersenyum.


"Jadi, apa yang ratu ingin bicarakan denganku?" tanya Wein Lao sangat penasaran.


"Soal pernikahan kamu dengan Xiu, apa tidak bisa berjalan seperti sebelumnya saja?" jawab ratu Lien.


"Maksud ratu?" tanya Wein Lao heran.


"Begini Lao, Xiu mengatakan padaku kalau dia belum siap menikah esok hari. Apa kamu bersedia untuk menikahi putriku di waktu yang tepat, yakni Minggu depan?" jelas ratu Lien.


"Eee..." Wein Lao terdiam kebingungan memikirkan perkataan ratu Lien barusan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2