
"Ta-tapi guru..."
"Sudahlah Xi Mei, ingat kata paman! Kamu harus yakin jika kamu bisa!" potong Ryu.
"Nah, benar itu!" sahut Felix.
Xi Mei pun menatap bunga kecil di depan sana, entah mengapa ia ragu bahwa panahnya bisa melesak tepat di tengah-tengah bunga itu.
Namun, demi keinginannya untuk berlatih dengan guru Felix membuat Xi Mei langsung mengangkat busurnya dan bersiap melesakkan anak panahnya.
"Ayolah panah, kamu pasti bisa!" batin Xi Mei.
Slaasshh...
Anak panah itu pun melesat cepat ke arah pohon besar di depan sana, perlahan-lahan panah itu berubah ukuran menjadi lebih kecil dan menyesuaikan diri dengan ukuran si bunga.
Semua orang disana terkejut, termasuk guru Felix yang seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Anak panah itu pun menusuk tepat ke bagian tengah si bunga dan membuat bunga itu terlepas dari pepohonan lalu terjatuh ke bawah.
"Waw luar biasa!" ucap Felix memujinya.
"Ahaha, kamu semakin berkembang aja Xi Mei. Paman benar-benar bangga!" sahut Ryu.
"Ah paman bisa aja!" ucap Xi Mei tersipu.
"Kamu memang luar biasa, Xi Mei! Harusnya saya tidak meragukan kemampuan kamu itu, karena kamu memang salah satu pemanah terhebat yang pernah saya temui!" ucap Felix.
"Terimakasih guru! Jadi, apa aku bisa lanjut berlatih sekarang?" tanya Xi Mei penuh harap.
"Tentu saja, kamu kan sudah menyelesaikan tes mu. Ayo kita berlatih sekarang! Aku juga sudah tidak sabar ingin melatih mu!" jawab Felix.
"Syukurlah, akhirnya aku bisa juga dilatih sama guru!" ucap Xi Mei tersenyum senang.
"Yasudah, kamu semangat ya berlatihnya Xi Mei! Paman dan Zheng akan menunggu disini sambil bicara, jangan kecewakan kepercayaan paman dan guru Felix loh!" ucap Ryu.
"Siap paman!" ucap Xi Mei.
"Ayo Xi Mei!" ucap Felix.
Xi Mei mengangguk pelan, lalu mengikuti kemana gurunya melangkah hingga tiba di lapangan yang mana sudah terdapat cukup banyak orang disana.
Felix pun mengenalkan Xi Mei kepada seluruh muridnya disana, tampak mereka semua bertepuk tangan menyambut kedatangan Xi Mei.
Sementara Ryu duduk di kursi sembari menonton Xi Mei berlatih, sedangkan Zheng masih fokus menatap ke lapangan tanpa berkedip.
"Zheng, kemarilah! Duduk di sampingku, ada yang aku ingin bicarakan padamu!" ucap Ryu.
"Ah iya paman," ucap Zheng sedikit terkejut lalu langsung terduduk di sebelah Ryu.
"Ada apa ya paman?" tanya Zheng penasaran.
"Kamu itu kan ditugaskan sang ratu untuk mengawal Xi Mei, apa alasannya ratu Lien melakukan itu?" ucap Ryu.
"Eee untuk itu aku juga tidak tahu paman, karena aku tidak berani bertanya pada sang ratu saat beliau memerintahkan aku. Aku hanya bisa menurut dan menjalankan perintahnya," ujar Zheng.
"Benar juga, tidak mungkin kamu berani bertanya pada ratu Lien secara langsung." kata Ryu.
"Iya paman, aku juga sadar diri akan posisiku. Memangnya kenapa ya paman? Kok kelihatannya paman kayak curiga gitu?" ujar Zheng heran.
"Bukan curiga, aku hanya penasaran mengapa ratu Lien sampai harus menugaskan kamu untuk mengawal Xi Mei disini. Memangnya kamu sendiri gak heran atau curiga gitu sama ratu Lien?" ucap Ryu.
"Sebenarnya sih aku curiga paman, tapi mau gimana lagi? Aku hanya bisa menjalankan tugas dari sang ratu, aku gak berani banyak tanya sama ratu Lien." jawab Zheng.
"Yasudah, kamu lupakan saja soal itu! Kamu ambil hikmahnya dari tugas ini, karena kamu jadi bisa berdekatan dengan Xi Mei. Kamu pasti senang kan dengan itu?" ujar Ryu menggoda Zheng.
"Ah paman ini," ucap Zheng malu-malu.
"Hahaha, sudahlah kamu tidak usah mengelak! Aku tahu bagaimana perasaan kamu terhadap Xi Mei," ucap Ryu terkekeh kecil.
"Eee..." Zheng makin dibuat malu karena Ryu terus saja menggodanya seperti itu.
"Tapi, maaf Zheng! Sebaiknya kamu pendam saja perasaan kamu itu!" ucap Ryu.
Deg!
Zheng terkejut dan reflek menoleh ke arah Ryu dengan tatapan bingung.
•
•
Wein Lao kini berada di luar, bersama para pasukan serigala yang sedari tadi berjaga disana.
Seluruh pasukan serigala itu menatap ke arah pangeran mereka dengan raut kebingungan.
"Pangeran, ada apa?" tanya salah seorang serigala.
"Tidak ada, aku hanya sedang sedih karena sebentar lagi aku harus pergi dari sini meninggalkan putri Xiu." jawab Wein Lao.
__ADS_1
"Mengapa pangeran harus pergi? Tinggallah disini jika pangeran mau, itu tidak akan menjadi masalah bukan?!" saran serigala disana.
"Tentu saja itu masalah, aku tak mungkin terus berada disini. Siapa yang akan menjaga wilayah kita di hutan sana? Apa kalian mau ada penyusup masuk?" ucap Wein Lao.
"Tenang saja pangeran! Biar kami semua yang berjaga disana, sedangkan pangeran tetaplah disini bersama tuan putri Xiu!" usul serigala itu.
Wein Lao berpikir sejenak dengan memalingkan wajahnya, ia bingung harus bagaimana saat ini.
"Tidak bisa, aku harus tetap pergi! Lagipun, sudah ada pasukan istana yang menjaga tuan putri disini. Aku yakin mereka pasti bisa melakukan tugas dengan baik dan tuan putri tidak akan terluka!" ucap Wein Lao.
"Baiklah pangeran! Tapi, apa pangeran akan baik-baik saja jika kita pergi dari sini? Yang aku lihat, sepertinya pangeran sangat bersedih." ucap serigala itu.
"Kamu ini bicara apa? Untuk apa saya bersedih?" elak Wein Lao.
"Sudahlah pangeran, pangeran tidak bisa menyembunyikan rasa sedih pangeran itu dari kami!" ucap serigala itu.
"Iya pangeran, kami bisa melihat dengan jelas bahwa pangeran sedih harus berpisah dengan putri Xiu." sahut yang lain.
"Jangan bicara aneh-aneh! Gak enak kalau didengar yang lain. Lagipun, putri Xiu kan sedang dalam misi penyamarannya. Jadi, kalian jangan keras-keras menyebut namanya!" ucap Wein Lao.
"Siap pangeran!" ucap serigala itu menurut.
"Yasudah, kalian semua bersiaplah karena sebentar lagi kita akan kembali ke hutan!" ucap Wein Lao memberikan perintah.
"Siap pangeran!" ucap seluruh serigala bersamaan.
"Aku akan kembali ke dalam, sepertinya tuan putri sudah mulai berlatih." kata Wein Lao.
"Siap pangeran!"
Wein Lao hanya bisa menggeleng pelan, lalu berbalik dan masuk kembali ke dalam perguruan itu untuk melihat Xi Mei yang tengah berlatih.
"Aku memang baru mengenal tuan putri, tapi entah kenapa sejak pertama kali melihatnya rasanya hatiku seperti mengatakan bahwa aku menyukainya." batin Wein Lao.
•
•
"Permisi ratu!"
Ratu Lien yang sedang berjalan dibuat terkejut saat Gusion tiba-tiba muncul di depannya dan memanggilnya.
"Ah iya, ada apa panglima Gusion?" tanya ratu Lien disertai senyum manisnya.
"Eee bisakah hamba bicara sebentar denganmu, ratu?" ucap Gusion.
"Ya, silahkan saja kamu bicara! Aku dengan senang hati akan mendengarkan mu," ucap ratu Lien.
"Soal apa?" tanya ratu Lien penasaran.
"Maaf ratu! Hamba tidak bisa memberitahukan itu sekarang, karena ini sangat penting dan tidak boleh ada orang lain yang mengetahuinya." kata Gusion.
"Baiklah, aku bersedia bicara berdua denganmu. Mari kita bicara di taman istana! Kalian berdua, tetaplah disini!" ucap ratu Lien.
"Tapi ratu, apa tidak sebaiknya kami ikut bersama ratu?" tanya salah seorang pelayannya.
"Tidak usah, biar aku saja yang pergi dengan Gusion. Kalian tunggu disini, nanti aku akan kembali!" perintah ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap dia pelayan itu patuh.
"Ayo Gusion, kita pergi sekarang!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Gusion.
Ratu Lien pun melangkah lebih dulu menuju taman istana, lalu disusul oleh Gusion yang berjalan tepat di belakangnya.
Sesampainya di taman, ratu Lien langsung menghadap ke arah Gusion dan menatap pria itu dengan raut kebingungan.
"Ada apa Gusion? Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya ratu Lien.
"Begini ratu, aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sudah memegang rahasia terbesar mu itu. Dan aku bisa saja mengatakan rahasia itu kepada yang mulia kapanpun aku mau," jawab Gusion sambil tersenyum smirk.
"Apa maksudmu? Rahasia apa?" tanya ratu Lien.
"Aku yakin kau pasti tahu ratu, ini adalah rahasia yang sangat besar dan bisa membuat yang mulia emosi padamu ratu jika beliau mengetahuinya." ucap Gusion.
"Tidak usah bertele-tele, katakan saja apa yang kamu ketahui itu!" ujar ratu Lien kesal.
"Hahaha, baiklah ratu. Aku sudah tahu bahwa Xi Mei adalah tuan putri Xiu yang hilang, dan kau menutupi itu dari semua keluarga istana agar putri Xiu tidak bisa ditangkap. Betul begitu ratu?" ucap Gusion.
Sontak ratu Lien terkejut hebat mendengar ucapan Gusion, ia tak menyangka jika Gusion mengetahui identitas asli dari Xi Mei.
"Bagaimana ratu? Benar kan yang saya katakan tadi? Zhao Xi Mei, si pendekar hebat yang datang ke istana waktu itu adalah tuan putri Xiu." ujar Gusion tersenyum smirk.
"Kamu bicara apa sih Gusion? Jangan asal deh! Mana mungkin dia adalah putriku yang telah lama hilang? Darimana kamu tau?" ujar ratu Lien.
"Sudahlah ratu, tidak perlu berakting lagi di depanku! Aku sudah mengetahui semuanya, dan aku yakin sekali aku tidak salah dengar kalau Xi Mei adalah tuan putri Xiu. Sebaiknya ratu mengaku saja padaku!" ucap Gusion.
"Kamu mau apa sebenarnya?" tanya ratu Lien.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya ingin ratu mengakui bahwa Xi Mei adalah putri Xiu yang hilang. Setelah itu, mungkin aku tak akan membahas ini lagi." jawab Gusion dengan santai.
Ratu Lien terdiam sejenak, berpikir apakah ia harus mengakui semua itu atau tidak. Ia khawatir jika ini hanyalah jebakan dari Gusion.
"Aku tidak bisa mengakui hal yang memang tidak benar, jadi kau jangan memaksaku!" ujar ratu Lien.
"Oh ya? Aku tahu loh waktu itu ratu datang ke rumah Luan dan menanyakan kondisi putri Xiu, lalu Luan mengatakan jika putri Xiu masih ada di lembah parabuan dan sedang berlatih di perguruan elang putih." ucap Gusion.
"Dari informasi yang aku dapatkan juga, kau telah menugaskan Zheng untuk menjaga Xi Mei di lembah parabuan. Dari situ saja aku sudah memiliki kesimpulan bahwa Xi Mei memang benar putri Xiu yang hilang," sambungnya.
"Cukup Gusion! Jika memang Xi Mei adalah putriku, lalu apa masalahnya denganmu? Apa yang ingin kamu lakukan, ha?" ucap ratu Lien.
"Sabar ratu, jangan emosi! Aku kan sudah bilang, aku hanya ingin kamu mengakui semua itu. Setelahnya, aku tidak akan membahas ini lagi." kata Gusion sambil tersenyum renyah.
"Ya, memang benar yang kau katakan tadi. Xi Mei adalah putriku, putri Xiu yang telah lama hilang!" jawab ratu Lien dengan tegas.
"Apa??"
Ratu Lien dan Zheng kompak menoleh ke asal suara, mereka terkejut karena ternyata Xavier ada disana.
•
•
Bughh...
Xi Mei tersungkur ke tanah setelah terkena pukulan dari lawan kelahinya barusan.
"Awhh!!" pekik Xi Mei memegangi perutnya.
"Kamu gapapa Xi Mei?" tanya Felix cemas.
"Enggak paman, aku baik-baik aja." jawab Xi Mei.
"Kamu kenapa gak tahan pukulan dari Yun Su, Xi Mei?" tanya Felix terheran-heran.
"Sshh aku tadi kurang fokus guru, aku salah kira pukulan dari Yun Su." jawab Xi Mei meringis.
"Xi Mei, maaf ya!" ucap Yun Su merasa bersalah.
"Gapapa Yun Su, kamu gak salah kok. Tadi aku aja yang gak bisa halau pukulan kamu, jadinya aku kena deh." ucap Xi Mei sambil tersenyum.
"Yasudah, kamu masih kuat ikut latihan gak?" tanya Felix sedikit lega.
"Eee masih kok guru, tapi boleh kan kalau aku izin minum dulu?" ucap Xi Mei.
"Oh boleh boleh, silahkan aja kamu minum disana! Nanti kalau udah, kamu langsung kembali kesini buat lanjut latihan!" ujar Felix.
"Siap guru!" ucap Xi Mei.
Xi Mei berusaha bangkit walau harus susah payah menahan sakit di tubuhnya.
"Bisa gak?" tanya Felix cemas.
"Ah bisa kok guru, cuma luka segini mah aku masih kuat kok." jawab Xi Mei.
"Baguslah, kalo gitu yang lain ayo fokus lagi kita lanjutkan latihannya!" ucap Felix.
"Siap guru!" ucap mereka semua serentak.
Disaat Xi Mei hendak berdiri, tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekatinya dan menawarkan bantuan kepadanya.
"Hey! Mau aku bantu?" ucapnya.
"Ah gak—" ucapan Xi Mei terjeda saat ia melihat Zheng berjongkok di hadapannya.
"Zheng? Kamu ngapain malah kesini?" tanya Xi Mei heran.
"Aku kan daritadi tontonin kamu, aku khawatir loh pas lihat kamu jatuh gara-gara kena pukulan tadi. Kondisi kamu gimana? Ada yang luka atau kerasa sakit gak?" ujar Zheng cemas.
"Enggak kok, gak ada. Kamu gausah cemas, aku ini wanita kuat dan aku baik-baik aja. Sekarang kamu mending balik deh ke tempat duduk, aku bisa kok berdiri sendiri!" ucap Xi Mei.
"Kamu yakin? Aku bantu aja ya, tadi aja kamu masih kesusahan buat bangun. Daripada kamu tambah sakit, mending aku bantuin." usul Zheng.
"Yaudah deh, terserah kamu!" ucap Xi Mei.
Zheng tersenyum tipis, lalu membantu Xi Mei untuk bangkit dan menuntunnya ke pinggir dengan perlahan.
"Pelan-pelan aja!" ucap Zheng.
"Iya," ucap Xi Mei mengangguk singkat.
Zheng terus memandangi wajah Xi Mei sambil tersenyum lebar, pesona gadis itu memang benar-benar membuatnya tergila-gila dan tidak bisa berkedip untuk saat ini.
Namun, seketika ingatannya mengenai perkataan Ryu tadi kembali muncul dalam pikiran. Zheng pun mulai mengalihkan pandangan dan membuang jauh-jauh perasaannya itu.
"Saya harus bisa buang rasa cinta saya itu!" batin Zheng.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...