Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 78. Ungkapan Zheng


__ADS_3

"Halo semua!" ucap Xiu sambil melambaikan tangan.


"Halo tuan putri!" balas mereka semua.


"Tuan putri, kami senang sekali karena tuan putri sudah kembali ke istana! Kami sungguh sedih sewaktu tuan putri dikabarkan hilang dan tidak muncul bertahun-tahun," ucap salah seorang warga.


"Iya tuan putri, dari dulu kami selalu berharap tuan putri dapat kembali ke istana. Dan ternyata harapan kami terkabul juga walau baru sekarang tuan putri kembali," sahut yang lain.


"Terimakasih ya buat kalian semua, karena kalian benar-benar perduli dan cinta sama aku. Aku gak nyangka kalau kalian para rakyat Quangzi ternyata secinta ini kepadaku, aku bangga memiliki rakyat seperti kalian!" ucap Xiu sambil tersenyum.


"Tentu saja tuan putri, kami kan selalu sayang pada semua anggota kerajaan!" ucap warga itu.


"Oh ya, kalian kenalkan pria di sebelah ku ini ya! Nama dia Wein Lao, dia pangeran dari kerajaan seberang dan dia akan menjadi suamiku dalam waktu dekat ini." ucap Xiu.


"Hai semua warga Quangzi! Salam kenal dari aku, pangeran Wein Lao!" ucap Wein Lao.


"Wah hebat ya tuan putri! Baru pulang aja udah langsung bawa calon suami, emang pesona kecantikan tuan putri gak ada tandingannya deh!" ucap salah seorang warga.


"Hahaha, ada-ada saja.." Xiu tertawa lepas.


Sementara itu, Zheng hanya bisa mengamati momen itu dari jauh dengan perasaan sedih.


"Aku ingin ada di atas sana bersama kamu Xi Mei," batin Zheng.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


Zheng terkejut bukan main, ia spontan menoleh ke belakang dan menatap Gusion ada disana.


"Haish, kamu ngapain disitu?" tanya Zheng.


"Harusnya aku yang tanya, ngapain kamu berdiri disini aja daritadi? Ngeliatin tuan putri sama pangeran Lao yang lagi ngobrol sama warga?" ujar Gusion balik bertanya.


"Kalau iya emang kenapa? Gak boleh?" ucap Zheng.


"Hahaha, santai aja dong Zheng! Aku kan cuma tanya tadi, gausah ngegas gitu!" ujar Gusion.


"Saya gak ngegas, saya cuma jawab pertanyaan kamu. Saya emang lagi ngeliatin tuan putri, soalnya saya kagum sama beliau!" ucap Zheng.


"Kagum kenapa?" tanya Gusion heran.


"Ya kagum aja, abisnya tuan putri itu orangnya asik banget dan dia gak sombong! Buktinya dia mau bicara sama warga-warga itu," jawab Zheng.


"Iya sih, tuan putri Xiu emang luar biasa! Dia sama baiknya seperti ratu Lien," ucap Gusion.


"Wajar aja lah, tuan putri itu kan anaknya ratu. Jadi, pasti sifatnya nurun deh." ucap Zheng.


"Yaudah, saya mau ke belakang dulu." sambungnya.


"Lah kok ke belakang? Bukannya kamu lagi fokus lihatin tuan putri dari sini?" tanya Gusion heran.


"Saya sudah puas ngeliatin mereka, sekarang saya mau ke belakang aja. Kebetulan saya juga belum makan, jadi saya mau makan dulu." jawab Zheng.


"Baiklah, kamu makan saja sesuka kamu disana!" ucap Gusion tersenyum tipis.


Zheng mengangguk kecil, menepuk pundak Gusion sekilas lalu melangkah pergi ke belakang istana meninggalkan pria itu.




Sore harinya, Xiu mengajak Wein Lao berkeliling di kebun istana menikmati berbagai tumbuhan dan pemandangan yang ada disana.


Mereka tampak saling bergandengan tangan, menatap satu sama lain dan tersenyum lebar sepanjang perjalanan.


"Xiu, kita duduk dulu yuk!" pinta Wein Lao.


"Kenapa harus duduk sih? Kita juga baru jalan beberapa menit, masa udah duduk aja? Nanti dulu dong Lao, kita kesana dulu sebentar lihat yang lain!" ucap Xiu.


"Emangnya kamu gak capek? Udah lama banget loh kita jalan, kaki aku aja pegal banget nih. Disana ada apa lagi sih emang? Kamu mau tunjukin apa?" tanya Wein Lao.


"Ah kamu mah lemah! Masa baru segini aja udah capek?" cibir Xiu.


"Bukan gitu cantik, tapi kita kan emang udah jalan lama banget. Selain itu, besok kan mau ada acara lamaran disini. Kita berdua gak boleh terlalu capek dong sayang, nanti yang ada acara lamarannya bisa gagal terlaksana." ucap Wein Lao.


Xiu merasa tersipu saat Wein Lao menyebutnya sayang dan memuji kecantikannya, apalagi pria itu juga mencubit pipinya dengan lembut.


"Heh! Kamu dikasih tahu sama calon suami bukannya nurut, malah senyum! Kamu mau ngeledek apa gimana nih? Gini-gini aku bisa tegas loh!" ucap Wein Lao.


"Eee bukan gitu Lao, aku senyum karena aku kaget aja sama ucapan kamu tadi." ucap Xiu.


"Ucapan yang mana?" tanya Wein Lao bingung.


"Itu loh, tadi kamu panggil aku sayang sama cantik kan? Aku kaget karena sebelumnya kamu kan gak pernah bilang begitu," jelas Xiu.


"Ohh, iya maaf ya abisnya aku gak tahan pengen bilang gitu ke kamu!" ucap Wein Lao.

__ADS_1


"Gapapa Lao, gak perlu minta maaf. Aku justru suka kamu panggil aku begitu," ucap Xiu.


"Oh ya? Berarti gapapa dong kalau mulai saat ini, aku panggil kamu sayang?" ucap Wein Lao.


"Jelas gapapa dong," jawab Xiu sambil tersenyum.


"Makasih ya cantik!" ucap Wein Lao sembari mencubit pipi gemas Xiu.


"Ih jangan cubit-cubit terus dong! Nanti lama-lama pipi aku tambah melar tau!" protes Xiu.


"Abisnya kamu gemesin!" ucap Wein Lao.


"Ahaha.." Xiu tertawa dan tanpa sengaja malah menempelkan wajahnya di bahu Wein Lao.


"Nyaman ya?" goda Wein Lao.


"Hah? Apa sih?!" tanya Xiu kebingungan.


"Ya itu kamu, nyaman ya nyender di bahu aku?" ucap Wein Lao sambil tersenyum.


"Eee emangnya kenapa? Kamu gak suka kalau aku kayak gini sama kamu? Atau mungkin kamu pegel karena aku nyender di bahu kamu?" tanya Xiu.


"Gak gitu sayang, kamu udah kayak gini aja! Aku suka kok diginiin sama kamu!" jawab Wein Lao.


Xiu tersenyum lebar saat Wein Lao menahan kepalanya untuk tetap bersandar pada bahunya.


Mereka pun lanjut berjalan mengelilingi kebun tersebut dengan kondisi seperti itu.




Ratu Lien bersama Luan dan dua orang pelayan istana yang lain muncul di kebun tersebut untuk sekedar berkeliling.


Mereka tanpa sengaja melihat Xiu dan Wein Lao yang tengah bersenggama disana, bahkan terlihat kalau sepasang kekasih itu sangat mesra.


Sontak sang ratu langsung tersenyum dibuatnya, ia senang lantaran putrinya telah menemukan sosok lelaki yang pantas untuknya.


"Ratu, sepertinya tempat ini memang sangat cocok untuk dijadikan sebagai lokasi pacaran. Tuan putri Xiu dan pangeran Lao terlihat bahagia sekali berduaan disini, mungkin karena suasananya yang sejuk dan indah." ucap Luan.


"Ya Luan, kamu memang benar. Dulu raja Feng juga sering sekali membawaku kesini, sewaktu kami baru menikah. Banyak sekali kenangan kami di kebun ini," ucap ratu Lien sambil tersenyum.


"Lalu, apa sekarang ratu mau kesana dan hampiri mereka?" tanya Luan.


"Oh begitu, baiklah ratu!" ucap Luan.


"Iya, tapi mereka tidak boleh terlalu lama disana. Besok kan acara lamaran mereka dimulai, jadi mereka harus istirahat yang cukup." ucap ratu Lien.


"Benar ratu! Apalagi pangeran Lao juga harus kembali ke istananya malam nanti, pasti dia butuh tenaga yang ekstra." ucap Luan.


"Yasudah, kalian berdua tetap disini ya dan pantau mereka dari jauh! Jika matahari sudah hampir terbenam nanti, kalian hampiri mereka dan minta mereka untuk segera bubar! Aku dan Luan akan pergi ke kolam di belakang, sudah lama aku tidak berendam disana." ucap ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap kedua pelayan itu bersamaan.


"Mari Luan, kita pergi!" ucap ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Luan patuh.


Ratu Lien dan Luan pun pergi dari sana untuk berendam di kolam khusus untuk sang ratu.


Sementara dua orang pelayan yang lain, tetap menunggu disana sembari memantau Xiu dan Wein Lao dari jauh.


"Ratu, kapan kiranya pernikahan tuan putri akan dilaksanakan?" tanya Luan penasaran.


"Umm, aku belum tahu. Semuanya tergantung mereka, sebagai orang tua aku akan selalu dukung setiap keputusan mereka. Mungkin antara Minggu ini atau Minggu depan, yang pasti mereka tidak akan berlama-lama pacaran." jawab ratu Lien.


"Baiklah ratu, aku pun ikut senang jika nantinya tuan putri sudah menikah dengan pangeran Lao. Tapi, apa tuan putri akan pergi dari istana ini dan ikut dengan pangeran Lao ke istananya?" tanya Luan.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Luan? Sudah jelas kalau Wein Lao lah yang akan ikut tinggal disini bersama kita, bukan sebaliknya!" jawab ratu Lien.


"Syukurlah! Aku pikir tuan putri akan pergi lagi dari istana," ucap Luan sambil tersenyum lega.


"Tentu tidak, Luan. Sudahlah, mari kita percepat langkah karena aku sudah tidak sabar ingin berendam dan memanjakan diriku!" ucap ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Luan.




Malam sudah tiba, Xiu sangat sedih karena ia harus berpisah dengan Wein Lao walau hanya untuk sementara.


Wein Lao memang harus pergi dari sana dan kembali ke istananya malam ini untuk mempersiapkan lamaran besok.


"Xiu, kamu tidak perlu sedih! Nanti cantiknya hilang loh kalau kamu sedih terus, udah ya senyum lagi dong sayang! Lagian besok kan aku balik lagi kesini buat lamar kamu," ucap Wein Lao.

__ADS_1


"Iya sih, tapi gak tahu kenapa aku gak bisa pisah dari kamu walau sebentar." kata Xiu.


"Ahaha, kamu itu kayaknya udah nyaman banget ya sama aku. Sampai-sampai kamu gak bisa jauh dari aku, senang banget aku dengarnya!" ucap Wein Lao sembari mencolek pipi putri Xiu.


"Huh kamu mah!" cibir Xiu.


"Loh, aku kenapa? Aku kan cuma mau pulang ke istanaku sebentar, sayang. Besok aku bakal balik lagi kesini kok, aku lamar kamu dan gak lama lagi juga kita akan menikah. Udah ya, kamu gausah sedih cantikku!" ucap Wein Lao.


Xiu mengangguk pelan, mulai mengembangkan senyumnya yang manis itu di hadapan Wein Lao.


"Nah gitu dong! Kamu emang manis banget deh kalo lagi senyum gini, aku suka lihatnya!" ucap Wein Lao sambil mengusap bibir ranum gadisnya dengan lembut.


"Yaudah, kamu hati-hati ya Lao! Besok jangan lupa loh buat datang kesini! Awas aja kalo kamu gak datang-datang!" ucap Xiu.


"Tenang aja! Mana mungkin aku gak datang? Kesempatan ini kan gak akan keulang dua kali, aku gak mau kehilangan kamu cantik!" ucap Wein Lao.


Xiu tersenyum malu-malu dan berusaha menyembunyikan wajahnya dari Wein Lao.


Wein Lao makin gemas dengan tingkah Xiu, jika saja disana tidak ada ratu Lien dan yang lainnya mungkin saja saat ini Wein Lao sudah melumatt habis bibir gadis itu.


"Aku pergi dulu ya? Besok aku pengen lihat kamu pakai baju yang udah aku pilihin tadi, aku penasaran seperti apa jadinya gadis cantikku yang satu ini kalau pakai baju itu. Tapi, kayaknya sih bakal tambah cantik dan manis." ujar Wein Lao.


"Umm, ya udah pasti dong. Aku bakal bikin kamu klepek-klepek besok, makanya kamu datangnya jangan telat!" ucap Xiu.


"Siap tuan putri!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.


Ratu Lien dan Luan kompak tersenyum lebar menyaksikan sepasang kekasih di depan mereka yang sedang berbincang itu.


Tak lama kemudian, Xiu memeluk tubuh Wein Lao dengan erat sebelum mereka akan berpisah.


Wein Lao membalas dengan memberikan kecupan lembut di kening serta pipi Xiu, untuk bagian bibir ia hanya menyentuhnya saja.


Setelahnya, Wein Lao pun pergi bersama para pasukan yang sudah datang untuk mengantarnya pulang ke istana.


Xiu terus melambaikan tangan ke arah Wein Lao sambil terisak, ratu Lien langsung bergerak menghampirinya dan menenangkan gadis itu.


"Sudahlah Xiu, besok kan Lao balik lagi kesini! Kamu gausah sedih gitu ah!" ucap ratu Lien.


"Iya mom, aku tahu kok." ucap Xiu murung.


Ratu Lien pun membawa Xiu ke kamarnya.




Keesokan harinya, tanpa diduga Zheng datang menemui Xiu di depan kamarnya dan meminta gadis itu untuk ikut dengannya.


"Tuan putri, mari ikut denganku sebentar saja!" ucap Zheng sedikit berbisik.


"Ada apa Zheng? Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Xiu keheranan.


"Ada yang ingin aku sampaikan denganmu, aku mohon tuan putri, ayo ikut denganku sebentar saja! Jangan sampai ratu tahu atau lihat keberadaan aku disini!" jawab Zheng.


"Baiklah, aku mau." ucap Xiu.


"Terimakasih tuan putri!" ucap Zheng tersenyum.


Xiu pun pergi mengikuti Zheng, namun ia merasa sangat aneh dan heran karena tak biasanya Zheng bersikap seperti ini.


Mereka tiba di taman belakang istana, Zheng langsung menyuruh Xiu untuk duduk di kursi berdua dengannya.


"Zheng, sebenarnya kamu kenapa?" tanya Xiu.


"Aku cuma mau bicara sesuatu sama kamu, ini tentang perasaan aku. Jujur aja putri, aku ini cinta sama kamu. Sejak kita bertemu pertama kali dulu, aku sudah langsung merasakan cinta itu." jawab Zheng tampak serius.


"Apa? Cinta? Serius?" Xiu sangat terkejut mendengar itu, pasalnya selama ini ia hanya menganggap Zheng sebagai sahabatnya tidak lebih.


"Iya putri, aku cinta banget sama kamu. Bahkan, sewaktu aku belum tahu identitas kamu yang sebenarnya. Aku sulit untuk mengikhlaskan kamu menikah dengan Wein Lao, karena cuma kamu yang bisa bikin aku begini." ucap Zheng.


"Maaf Zheng! Tapi, aku gak ada maksud buat menyakiti kamu. Aku emang gak cinta sama kamu," ucap Xiu.


"Ya, i know that. Aku juga sadar kalau kita berbeda, kamu seorang putri kerajaan dan aku ini cuma anak seorang penggembala yang gak bisa apa-apa." ucap Zheng.


"Aku emang salah karena aku berharap dapat memiliki kamu, tapi jujur sangat sulit buat aku melupakan kamu." sambungnya.


Xiu hanya terdiam dan matanya sudah mulai berkaca-kaca, ia bingung saat ini, ia tidak mau menyakiti hati sahabat setianya itu yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.


"Tapi, aku gak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu akan menikah dengan pangeran Lao, mungkin aku harus mencoba untuk ikhlas." ucap Zheng.


"Zheng.." ucap Xiu lirih.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2