Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 64. Mimpi buruk


__ADS_3

Xi Mei pun memalingkan wajahnya sambil menunduk, sedangkan Wein Lao menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah Xi Mei dan memberanikan diri menarik wajah gadis itu.


"Kamu kok buang muka sih? Gak suka ya lihat wajah saya?" tanya Wein Lao.


"Ah eee gak gitu kok, aku tadi cuma bingung aja harus bicara apa." elak Xi Mei.


"Ohh, kalo gitu aku boleh tanya satu hal gak sama kamu?" ucap Wein Lao.


"Apa?" Xi Mei nampak heran dan penasaran.


"Kamu sama Zheng itu ada hubungan apa sih?" tanya Wein Lao menatap Xi Mei dengan serius.


Gadis itu tersentak kaget mendengar pertanyaan Wein Lao, ia terdiam beberapa saat dengan mulut yang terbuka sedikit.


"Kamu kenapa tanya gitu?" ucap Xi Mei.


"Eee ah enggak kok, aku cuma pengen tau aja." ucap Wein Lao gugup.


"Aku sama Zheng itu gak ada hubungan apa-apa, kita cuma temenan kok." jawab Xi Mei.


"Ohh, kirain." ucap Wein Lao.


"Kirain apa?" tanya Xi Mei penasaran.


"Bukan apa-apa, kamu gak perlu mikir yang enggak-enggak! Anggap aja pertanyaan aku tadi itu gak ada!" ucap Wein Lao.


"Kamu kenapa sih? Kok jadi gugup kayak gitu?" ujar Xi Mei terheran-heran.


"Hah? Siapa yang gugup? Aku biasa aja tau, gak ada yang gugup." elak Wein Lao.


"Iya deh iya, aku percaya. Tapi, kelihatan kok dari ekspresi kamu tadi." kata Xi Mei.


"Eee katanya tadi kamu mau jengukin Zheng sama Rai, kok gak jadi?" ucap Wein Lao mengalihkan pembicaraan.


"Loh, kamu gimana sih? Tadi kan kamu yang bilang sendiri, aku gak boleh pergi karena kamu masih pengen ngobrol sama kamu." ucap Xi Mei.


"Eh emang iya?" ucap Wein Lao.


"Iya dong Lao, kamu kok jadi pelupa kayak gini sih? Aneh banget deh kamu!" ujar Xi Mei.


"Hehe, gak tahu kenapa tiap ada di dekat kamu aku jadi ngerasa bingung sendiri. Jadinya aku gak bisa fokus deh," ucap Wein Lao.


"Ya gapapa, terus gimana ini? Aku boleh gak jenguk Zheng sama Rai?" tanya Xi Mei.


"Loh, kok kamu tanya ke aku sih? Aku emang punya hak apa buat larang-larang kamu? Aku aja bukan siapa-siapa kamu, kalau kamu mau jenguk mereka ya silahkan aja gausah pake izin sama aku!" jawab Wein Lao.


"Kamu kenapa ngomong gitu sih? Kamu itu teman aku loh, kata siapa bukan siapa-siapa aku?" ucap Xi Mei sambil geleng-geleng kepala.


"Teman kan gak mungkin bisa atur-atur temannya, kecuali kalau kita jadi pasangan, baru deh aku bisa larang kamu buat enggak jenguk mereka." ucap Wein Lao tersenyum singkat.


"Emang kamu mau jadi pasangan aku?" ucap Xi Mei bertanya sambil tersenyum lebar.


"Hah? Kamu salah bicara apa gimana sih, Xi Mei?" tanya Wein Lao tak percaya.


"Hadeh, orang ditanya benar-benar malah nanya balik. Kamu jawab dulu dong, Lao!" ucap Xi Mei.


"Ya abisnya pertanyaan kamu aneh kayak gitu, aku kan jadi tambah bingung." kata Wein Lao.


"Gak ada yang aneh, sekali lagi aku tanya kamu emang mau jadi pasangan aku?" ucap Xi Mei.


"Kayaknya kita bahas yang lain aja deh, bahaya kalau terus-terusan bahas soal itu!" ucap Wein Lao.


"Hah? Apanya yang bahaya?" tanya Xi Mei heran.


"Ya begitu deh, mending sekarang kita coba lihat kondisi Zheng sama Rai. Aku juga penasaran nih pengen tahu kondisi mereka udah membaik atau belum," ucap Wein Lao.


"Yaudah, tapi nanti kita ngobrol lagi ya soal rencana buat nyerang istana!" ucap Xi Mei.


"Kamu tenang aja! Aku kan udah bilang, kapanpun kamu butuh bantuan, aku siap kok buat bantu kamu!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.


"Makasih Lao!" ucap Xi Mei.


Mereka pun sama-sama beranjak dari sana dan pergi menuju tempat Zheng berada.




Xavier keluar dari istana menemui Gusion yang masih terdiam di pintu depan istana.


Gusion pun menyampaikan dugaannya mengenai sang ratu yang pergi bersama Mungyi.


"Gusion, bagaimana?" tanya Xavier dingin.


"Iya yang mulia, barusan hamba menemukan tiga prajurit tergeletak disini. Mereka sudah tidak bernyawa, diduga pelakunya adalah ratu Lien." jawab Gusion menunduk.


"Apa? Kamu tidak salah duga kan Gusion? Benar ratu Lien yang melakukannya?" tanya Xavier kaget.


"Iya yang mulia, seperti itulah dugaan hamba. Selain itu, hamba juga memiliki informasi lain." ucap Gusion.


"Apa itu?" tanya Xavier penasaran.


"Ratu Lien pergi bersama Mungyi dengan kuda istana," jawab Gusion.

__ADS_1


"Haish, lagi-lagi Mungyi! Dia itu sudah seperti pengkhianat bagiku!" ujar Xavier.


"Memang begitu yang mulia, sepertinya Mungyi sudah beberapa kali tertangkap sedang berusaha memengaruhi ratu Lien untuk pergi dari istana." ucap Gusion.


"Yasudah, kalau begitu kita harus bisa cari dan temukan mereka! Perintahkan seluruh pasukan mu dan bergerak lah sekarang!" ujar Xavier.


"Baik yang mulia!" ucap Gusion patuh.


Gusion pun mulai mengumpulkan hampir seluruh pasukan Quangzi untuk mencari sang ratu.


Xavier yang tidak sabaran, langsung bergerak keluar dari gerbang istana dengan senjatanya.


Slaasshh....


Namun, tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan hampir mengenai tubuhnya.


"Sial! Siapa itu?" umpat Xavier.


"Hahaha..."


Suara tawa muncul dari arah depan, terlihatlah cukup banyak pasukan berkuda yang mendatangi istana Quangzi malam ini.


Xavier pun dibuat tercengang dengan itu semua, ia benar-benar tak mengira akan didatangi oleh musuhnya saat ini.


"Kurang ajar! Berani sekali kalian menyerang Quangzi, kalian ingin cari mati ha?!" ujar Xavier.


"Hahaha, omong kosong! Bukan kami yang akan mati, tapi kau raja bodoh!" ucap pemimpin pasukan berkuda itu yang tak lain ialah raja Ling.


"Mau apa kau membawa pasukan mu kesini, raja Ling yang angkuh?" ucap Xavier.


"Tentu saja untuk menghabisi kalian semua!" jawab raja Ling sambil tersenyum smirk.


"Apa sebenarnya masalah kalian? Kenapa kalian ingin menyerang istana Quangzi? Kami tidak merasa memiliki salah pada kalian, jadi jangan cari gara-gara disini!" ujar Xavier.


"Oh ya? Ternyata orang-orang Quangzi memang semuanya sama ya, kalian semuanya jahat dan kejam!" ucap raja Ling.


"Apa maksudmu?" tanya Xavier keheranan.


"Putri Xiu dari Quangzi telah menyerang ayahku sampai dia tewas, apa itu bukan suatu kesalahan? Kalian lah yang memancing keributan, bukan kami." jawab raja Ling.


"Hah? Benarkah? Itu tidak mungkin, putri Xiu tak mungkin melakukan itu!" ucap Xavier.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak! Yang pasti, aku akan tetap menyerang dan meratakan bangunan istana ini termasuk menghabisi kalian semua!" ujar raja Ling.


"Tu-tunggu dulu Ling, kita bisa bicarakan semuanya secara baik-baik! Kamu tidak perlu membawa pasukan dan ingin menyerang kami seperti itu!" ucap Xavier tersenyum lebar.


"Bicara baik-baik bagaimana? Putri Xiu sudah membunuh ayahku, aku tidak terima dengan itu!" ucap raja Ling dengan lantang.


"Sabarlah raja Ling! Kami juga sedang mencari putri Xiu dan ingin membawanya kemari, bekerja samalah denganku untuk menangkap putri Xiu! Dengan begitu, kamu bisa lebih mudah membalaskan dendam ayahmu!" jelas Xavier.




"Enggak, jangan! Jangan tangkap aku!"


"JANGAAANN!!!"


Xi Mei terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal-sengal setelah mengalami mimpi buruk.


Teriakannya tadi pun membangunkan dua teman sekamarnya yang sedang tertidur pulas disana.


"Hah! Hah! Hah!"


Xi Mei mengambil nafas dalam-dalam seraya memegangi dadanya dan masih belum bisa mencerna apa yang barusan ia alami.


"Duh, Xi Mei! Kamu itu kenapa sih? Ini udah tengah malam loh, kamu ngapain teriak-teriak kayak gitu? Ngagetin aja deh, untung aku sama Yun Su gak jantungan." protes Ah Lam.


"Eee ma-maaf ya! Aku tadi abis mimpi buruk, sekali lagi aku minta maaf karena udah ganggu waktu tidur kalian!" ucap Xi Mei merasa bersalah.


"Ohh, kamu mimpi buruk? Wajar aja sih itu mah, emang biasanya kalo ada murid baru disini pasti suka begitu. Dulu aku sama Yun Su juga pernah ngalamin kejadian kayak kamu kok," ucap Ah Lam.


"Oh ya?" tanya Xi Mei.


"Iya Xi Mei, malahan aku sampai tiga hari berturut-turut mimpi buruk. Tapi, untungnya pas udah dikasih ramuan rahasia sama guru Felix, sekarang aku udah enggak mimpi buruk lagi deh." jawab Ah Lam.


"Umm, berarti kalo gitu aku harus minta ramuan juga dong sama guru Felix?" ujar Xi Mei.


"Nah bener tuh, besok pagi kamu minta aja langsung ke guru! Pasti bakal dikasih deh, guru itu gak pelit orangnya!" ucap Ah Lam.


"Iya tuh, guru Felix kan selalu baik dan perhatian sama semua muridnya yang ada disini." sahut Yun Su.


"Yaudah deh, besok aku minta ke guru Felix ramuannya. Makasih ya atas informasinya!" ucap Xi Mei sambil tersenyum.


"Iya, sama-sama. Kalo gitu kamu mending lanjut tidur lagi gih biar gak telat besok!" ujar Ah Lam.


"Eee kayaknya aku mau keluar sebentar deh tenangin diri, maklum lah aku masih kepikiran sama mimpi tadi." ucap Xi Mei.


"Oalah, ya terserah kamu aja. Tapi, jangan lama-lama nanti masuk angin loh!" ujar Yun Su.


"Iya Yun Su, gak lama kok. Sekali lagi aku minta maaf ya sama kalian berdua, karena aku tadi udah bikin tidur kalian keganggu!" ucap Xi Mei.


"Gapapa Xi Mei," ucap Ah Lam sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya, kan kamu gak sengaja." sahut Yun Su.


"Yaudah, aku mau keluar dulu ya? Kalian lanjut aja lagi istirahatnya!" ucap Xi Mei.


"Siap!" ucap Yun Su dan Ah Lam bersamaan.


Xi Mei pun beranjak dari kasurnya sambil terus mengusap dadanya dan mengambil nafas untuk menenangkan diri.


Lalu, gadis itu bergegas keluar dari kamarnya meninggalkan dua sohibnya yang sudah kembali terbaring di atas ranjang mereka masing-masing.


Baru saja Xi Mei hendak melangkah, tiba-tiba ia sudah dipanggil oleh seseorang dari belakang sana yang membuatnya kebingungan.


"Xi Mei!"


Sontak Xi Mei menoleh, ia tersenyum lebar menyaksikan Wein Lao lah yang muncul dan memanggil namanya.


"Ya Lao, kenapa?" tanya Xi Mei lembut.


"Kamu kok keluar lagi? Ada masalah?" ucap Wein Lao mencemaskan Xi Mei.


"Gak ada kok, aku baik." ucap Xi Mei.


"Terus, kamu ngapain keluar?" tanya Wein Lao lagi.


"Kita bicara disana yuk! Aku pengen cerita sesuatu sama kamu," pinta Xi Mei.


"Eee..."


"Udah ayo!" Xi Mei langsung menarik lengan Wein Lao menuju tempat duduk di dekat sana.




Singkat cerita, Xi Mei dan Wein Lao sudah duduk di kursi yang tersedia sambil saling bertatapan satu sama lain.


Wein Lao masih bingung apa yang hendak diceritakan oleh gadis itu, sedangkan Xi Mei sendiri juga belum bisa melupakan mimpinya tadi.


"Kamu itu kenapa, Xi Mei? Tadi katanya mau cerita, kok malah diam aja?" tanya Wein Lao bingung.


"Aku sebenarnya pengen bilang ke kamu, kalau aku tadi abis mimpi buruk." jawab Xi Mei.


"Hah? Mimpi buruk?" ujar Wein Lao terkejut.


"Iya Lao, itu alasan aku kebangun tengah malam begini." jawab Xi Mei.


"Memangnya kamu mimpi apa, Xi Mei? Dikejar hantu?" tanya Wein Lao sedikit terkekeh.


"Bukan, ini lebih parah daripada itu." jawab Xi Mei.


"Emang ada ya yang lebih parah daripada mimpi dikejar hantu?" tanya Wein Lao bingung.


"Ada dong, contohnya mimpi aku ini." jawab Xi Mei.


"Apa tuh?" tanya Wein Lao penasaran.


"Jadi Gini Lao, aku itu mimpi dikejar-kejar sama pasukan raja Xavier. Mereka paksa aku buat ikut mereka ke istana, dan akhirnya aku berhasil ketangkap deh sama mereka." jelas Xi Mei.


"Oalah, pantas aja kamu bilang mimpi kamu lebih serem daripada dikejar setan. Eh ternyata kamu dikejar sama orang jahat itu," ucap Wein Lao.


"Iya Lao, makanya aku takut banget. Aku khawatir kalau mimpi itu benar-benar jadi kenyataan, aku belum siap harus kembali ke istana sebagai tahanan!" ucap Xi Mei.


"Tidak Xi Mei, itu tidak akan terjadi selama ada aku di samping kamu." ucap Wein Lao tegas.


Sontak Xi Mei terkejut bukan main dengan ucapan Wein Lao barusan, ia reflek menatap wajah pria itu seakan tak percaya.


Sementara Wein Lao langsung memalingkan wajahnya, tiba-tiba ia salah tingkah sendiri karena ucapannya tadi.


"Kamu serius bilang begitu, Lao?" tanya Xi Mei.


"Eee ya tentu saja aku serius, aku kan sudah berjanji akan bantu kamu kapanpun dibutuhkan. Aku juga siap buat jaga kamu, jadi kamu gak perlu khawatir ya!" jawab Wein Lao.


"Ohh, iya deh makasih ya! Aku senang banget bisa dibantu sama kamu!" ucap Xi Mei tersenyum.


"Justru aku yang senang, karena aku bisa bantu tuan putri yang cantik ini." kata Wein Lao.


"Hah? Aduh, gombal terus nih kamu!" ujar Xi Mei.


"Hahaha, maaf tuan putri!" ucap Wein Lao.


Disaat Xi Mei sedang tersipu dengan gombalan dari Wein Lao, tiba-tiba saja ia melihat sosok ratu Lien di depan matanya.


Tentu saja Xi Mei langsung bereaksi, ia beranjak dari kursinya dan menatap ke arah depan dimana ratu Lien berdiri sambil tersenyum padanya.


"Mommy? Itu benar kau?" ucapnya.


Sementara Wein Lao ikut berdiri di samping Xi Mei, ia tampak seperti orang kebingungan saat mendengar Xi Mei menyebut kata 'mommy'.


"Xi Mei, maksud kamu apa?" tanya Wein Lao heran.


"Mommy!" Xi Mei justru berteriak dan langsung berlari ke arah sang ratu.


Hugg...

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2