Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 70. Kedatangan raja Ling


__ADS_3

"Dengar sayang, dalam bertarung itu kita harus menggunakan senjata yang sama dengan lawan kita. Kalau dia memakai pedang, maka kita juga harus memakai pedang. Selain itu, panah ini juga tidak akan berguna jika lawan kamu berada di posisi yang dekat denganmu." jelas ratu Lien.


"Ta-tapi mom, aku ingin mengalahkan dia. Kalau aku gak bisa pake busur ini, yasudah aku juga akan pakai pedangku." ucap Xiu.


"Jawab dulu pertanyaan mommy! Kamu bisa menggunakan pedang sayang?" ujar ratu Lien.


Xiu menggeleng pelan, sedangkan Xavier reflek tersenyum tipis di depan sana dan menganggap bahwa Xiu tak akan mungkin dapat mengalahkannya untuk saat ini.


"Hahaha, memang kamu itu payah Xiu! Kamu tidak lebih dari seorang anak kecil, jadi sebaiknya kamu pergi saja dari sini!" ujar Xavier.


Xiu kembali emosi, tangannya terkepal hebat dan hendak maju menghampiri Xavier.


Akan tetapi, ratu Lien kembali menahannya dengan mencengkeram pundak gadis itu.


"Tahan sayang!" pinta ratu Lien.


"Kenapa lagi mom? Percaya aja sama aku, pasti aku bisa habisi dia dengan mudah!" ujar Xiu.


"Tidak Xiu, kamu tetap disini dan jangan coba-coba untuk maju menyerangnya!" tegas ratu Lien.


"Tapi kenapa mom?" tanya Xiu heran.


"Mommy gak mau kamu terluka, ini semua demi kebaikan kamu sayang. Nurut ya sama mommy, kamu disini aja!" jawab ratu Lien.


"Dengarkan saja perkataan ibumu, Xiu. Aku pun juga tidak ingin mengotori tanganku untuk melawan anak kecil sepertimu, jadi sebaiknya kamu jangan mencari masalah denganku!" ucap Xavier dengan nada sombongnya.


"Sial! Aku pastikan kamu akan mati di tanganku Xavier!" ucap Xiu.


"Hahaha, apa kamu yakin Xiu? Sepertinya itu adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi, kamu jangan mimpi bisa mengalahkan aku, Xiu!" ucap Xavier tersenyum mengejek.


"Cukup Xavier! Kamu tidak bisa merendahkan putriku seperti itu, dia adalah calon ratu di Quangzi yang akan melengserkan mu!" ucap ratu Lien.


"Iyakah?" ledek Xavier.


"Mom, bagaimana kalau kita hadapi saja dia berdua? Aku sudah tidak tahan dengan sikapnya yang sok sombong itu!" geram Xiu.


"Sabar putriku! Biar mommy lanjutkan semuanya sendiri dahulu, kamu tunggu saja disini ya!" ucap ratu Lien.


"Baik mom!" ucap Xiu menurut saja.


Akhirnya ratu Lien kembali maju mendekati Xavier, ia menatap tajam ke arah pria itu dan sudah mengambil kembali pedang miliknya yang sebelumnya terjatuh.


"Kamu mau apa lagi, Lien? Tidak kapok kah kamu dengan apa yang terjadi tadi?" ujar Xavier.


"Diam lah kau Xavier!" bentak ratu Lien.


Ratu Lien pun kembali maju menyerang Xavier dengan pedangnya, ia melayangkan serangan demi serangan ke arah Xavier walau tak ada yang tepat mengenai tubuhnya.


Xiu masih berdiam di tempatnya, menyaksikan pertarungan antara ibunya dan Xavier disana.


Sejujurnya Xiu ingin sekali membantu sang ratu, namun ia tak berani lantaran khawatir ibunya akan marah jika ia tetap memaksa membantunya.


Selain itu, Xiu juga belum mahir menggunakan pedang sehingga kemungkinannya untuk menang hanya sedikit.


"Duh, bagaimana ini?" gumam Xiu.


Tak lama kemudian, Wein Lao datang menghampiri Xiu setelah berhasil menghabisi beberapa prajurit bawaan Xavier tadi.


"Tuan putri, ternyata kamu disini. Kenapa kamu nekat sekali putri? Aku kan sudah bilang, kamu tunggu saja di tempat tadi." ujar Wein Lao dengan nafas ngos-ngosan.


"Kamu tak perlu khawatir Lao, aku baik-baik saja! Aku hanya ingin membantu ibuku," ucap Xiu


"Hah? Ratu?" Wein Lao tampak syok melihat ratu Lien tengah berkelahi dengan Xavier disana.


"Lao, tolong lakukan sesuatu! Aku tidak mau mommy kenapa-napa!" pinta Xiu pada Wein Lao.


"Aku akan berusaha putri, tapi kamu tetap disini dan jangan kemana-mana!" ucap Wein Lao.


"I-i-iya, aku janji aku tidak akan kemana-mana! Asalkan kamu bisa membantu ibuku," ucap Xiu.


"Aku akan lakukan sebisaku, semoga saja kekuatanku mampu menandingi kekuatan milik raja Xavier!" ucap Wein Lao.


"Ya, aku yakin kamu pasti bisa!" ucap Xiu.


Wein Lao pun memegang wajah putri Xiu sejenak dan mengelusnya, ia tersenyum lebar hingga membuat Xiu terheran-heran dan hanya bisa diam di tempatnya.


"Ka-kamu kenapa tatap aku kayak begitu? Cepat kamu bantu mommy ku!" ucap Xiu.


"Ah iya, maafkan kelancangan ku putri!" ucap Wein Lao langsung melepas tangannya.


"Tidak apa-apa," ucap Xiu.


Wein Lao pun menarik pedangnya, bergerak maju untuk membantu ratu Lien yang sedang bertarung dengan Xavier.

__ADS_1




Cetaasshh....


Ayunan pedang milik Xavier berhasil mengenai tubuh sang ratu dengan cukup kuat.


Akibatnya, ratu Lien pun terhempas ke belakang dan hampir saja terjatuh.


Untungnya Wein Lao dengan sigap mampu menahan tubuh ratu Lien agar tak terjatuh.


"Ratu, ratu tidak apa-apa?" tanya Wein Lao.


"Uhuk uhuk, aku baik-baik saja. Kamu kenapa ada disini Lao? Harusnya kamu jaga putriku, dia butuh bantuan mu!" ucap ratu Lien.


"Maaf ratu! Tapi, hamba disini untuk menolong mu terlebih dahulu atas permintaan tuan putri. Lagipun, dapat kupastikan kalau putri Xiu pasti akan baik-baik saja. Ratu tidak perlu khawatir, biar aku yang hadapi raja jahat itu!" ucap Wein Lao.


"Hahaha, bisa apa kau manusia serigala? Kamu tidak akan mampu menghadapi ku, justru kamu akan mati di tanganku serigala bodoh! Sebaiknya kau cepat pergi dan kembalilah ke istana mu yang jelek itu!" ucap Xavier dengan sombongnya.


"Siapapun tidak berhak mengusirku, terkecuali sang ratu. Kamu sudah mengambil keputusan salah raja Xavier, karena kamu berani menghina istanaku!" geram Wein Lao.


"Oh ya? Lalu kamu mau apa? Menyerang ku dengan cakar mu yang lemah itu?" ledek Xavier.


"Tidak, aku akan menghabisi mu hanya dengan tangan manusia ku. Lihatlah Xavier, kali ini kamu pasti akan mati!" ujar Wein Lao.


"Hahaha..." Xavier justru tertawa mengejek.


Wein Lao pun beralih menatap ratu Lien dan meminta sang ratu untuk beristirahat lebih dulu.


"Ratu, beristirahat lah disana!" pinta Wein Lao.


"Baiklah, kamu hati-hati Lao! Dia itu sangat kuat dan mustahil untuk dapat mengalahkannya, saat ada mahkota itu di kepalanya." ujar ratu Lien.


"Iya ratu, aku mengerti." ucap Wein Lao.


Ratu Lien pun menuruti kemauan Wein Lao, ia pergi menjauh untuk membiarkan pria itu menghadapi Xavier.


"Sekarang mari kita bertarung, Xavier!" ucap Wein Lao menantang Xavier.


"Aku tidak akan memberi kamu kesempatan untuk bisa melawanku, kamu pasti akan terbunuh di tanganku serigala bodoh!" ujar Xavier.


"Mari kita lihat, apakah kesombongan mu itu juga sebanding dengan kekuatan mu?! Karena belum ada sejarahnya manusia dapat mengalahkan ku, raja Xavier!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.


Xavier maju dan menyerang Wein Lao terlebih dahulu, namun Wein Lao mampu menghindar dari tebasan pedang itu.


Xavier tak berhenti sampai disitu, ia terus menyerang Wein Lao secara membabi buta walau lagi-lagi Wein Lao mampu menghindarinya.


"Sial! Ternyata dia lincah sekali," batin Xavier.


"Mengapa terdiam raja? Sudah lelah?" ujar Wein Lao.


"Oh baiklah, kini giliran ku!" sambungnya.


Wein Lao bergerak cepat dan memukul tubuh Xavier dengan tangannya.


Bughh...




Putri Xiu membantu ibunya untuk beristirahat dan duduk di bawah, ia sangat cemas melihat kondisi sang ratu yang tampak terluka.


"Mom, mommy duduk dulu ya disini! Biarin Lao aja yang lawan Xavier sekarang, dia pasti bisa kok kalahin Xavier! Aku tahu kalau Lao itu pangeran serigala yang sakti," ucap putri Xiu.


"Iya mommy tau, tapi pasti ini tidak mudah bagi dia untuk melawan Xavier." ucap ratu Lien.


Xiu mengangguk setuju, memang kemampuan Xavier tidak bisa diremehkan biarpun Wein Lao juga kuat dalam berkelahi.


Disaat mereka sedang berduaan, tiba-tiba saja raja Ling bersama rombongannya datang kesana dan mengelilingi mereka.


"Hahaha, akhirnya aku dapat bertemu lagi denganmu putri Xiu! Aku masih tidak menyangka, ternyata kau adalah putri Xiu yang selama ini aku cari. Jika aku tahu semua itu, maka aku tak mungkin biarkan kau lepas sebelumnya." ucap raja Ling.


Sontak saja putri Xiu dan ratu Lien terkejut bukan main melihat kehadiran pasukan raja Ling disana, mereka tak menyangka jika raja Ling mampir menemukan keberadaan mereka.


"Raja Ling?" ucap putri Xiu.


"Kamu mau apa dengan putriku? Jangan pernah kamu berani menyentuh dia!" ucap ratu Lien langsung sigap melindungi putrinya.


"Mom, mommy gak perlu takut! Aku bisa hadapi mereka sendiri kok!" ucap putri Xiu.


"Ya, dia benar. Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur ratu Lien! Ini urusanku dengan putrimu, aku akan habisi dia karena dia sudah membunuh ayahku dengan keji!" ujar raja Ling.

__ADS_1


"Apa? Putriku tidak mungkin melakukan itu, dia bukan pembunuh. Kamu jangan asal bicara ya Ling!" geram ratu Lien.


"Terserah apa katamu ratu, tapi memang begitu kenyataannya. Aku menemukan benda ini di tempat ayahku tergeletak saat kematiannya, dan ini hanya dimiliki oleh putri Xiu selaku putri kerajaan Quangzi." ucap raja Ling.


Raja Ling menunjukkan sebuah lencana dan pita rambut milik putri Xiu yang memang ia temukan sebelumnya, terdapat juga tanda bahwa benda itu adalah milik tuan putri.


"Xiu, ini milikmu kan?" ucap raja Ling.


Putri Xiu menggeleng cepat, ia saja tak mengenali pita rambut maupun lencana itu. Bahkan, ia juga tidak pernah memakai lencana seperti itu sebelumnya.


"Itu bukan punyaku, kamu telah salah kira. Aku saja tidak pernah memakai pita atau lencana ini, selama ini aku juga tinggal di kampung bersama paman dan bibiku. Benda-benda itu bukanlah milikku," ucap putri Xiu.


"Kau pikir aku bisa semudah itu percaya denganmu? Tentu tidak putri, aku yakin ini adalah milikmu dan kamu yang sudah membunuh ayahku!" ucap raja Ling.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu hanya karena terdapat tulisan namaku disitu?" ujar Xiu.


"Tentu saja ini sudah cukup untuk menandakan bahwa kamu memang pelakunya, jadi kamu tidak bisa menolak lagi Xiu!" ujar raja Ling.


"Bukan aku pelakunya! Sudah berapa kali aku katakan padamu, aku tidak membunuh ayahmu! Bahkan aku saja tak tahu seperti apa rupa ayahmu, bagaimana bisa aku membunuhnya? Lagipun, aku tidak memiliki masalah dengan dia." ujar Xiu.


"Sekeras apapun kamu mengelak, tetap saja aku tidak akan percaya denganmu! Kamu akan kuhabisi putri Xiu, bersiaplah menerima kematian mu!" geram raja Ling.


"Percuma saja kamu membunuhku, bukan aku yang sudah membunuh ayahmu. Jadi, ayahmu tidak akan bisa tenang di atas sana meskipun kamu telah membunuhku." ucap Xiu.


"Tidak usah banyak bicara kau!" ucap raja Ling.


Raja Ling menarik pedang andalannya, itulah yang sempat membuat Ryu kesulitan untuk melawan raja Ling sebelumnya.


"Xiu, kamu hati-hati! Pedang itu sangat berbahaya, tidak sembarang orang bisa mengalahkannya!" ucap ratu Lien memperingati Xiu.


"Mommy tidak perlu khawatir, aku tahu bagaimana cara mengalahkannya!" ucap Xiu percaya diri.


"Kamu yakin sayang?" tanya ratu Lien cemas.


"Iya mom, mommy disini saja!" jawab Xiu.


Ratu Lien mengangguk dan membiarkan Xiu maju mendekati raja Ling dengan busur panah di tangannya.


"Kamu memang cantik Xiu, aku akui aku terpesona denganmu. Tapi sayang, ternyata dibalik kecantikan kamu itu kamu adalah seorang pembunuh." ucap raja Ling.


"Aku bukan pembunuh, aku tidak pernah membunuh selama hidupku." ucap Xiu.


"Omong kosong! Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu," ucap raja Ling.


Xiu menggeleng dan bersiap-siap mengangkat senjatanya, ia sangat yakin dapat mengalahkan raja Ling walau hanya menggunakan busurnya.




Bruuukkk...


Serangan dari Wein Lao berhasil membuat mahkota milik Xavier itu terlepas dan terjatuh ke tanah sesuai keinginannya.


Wein Lao pun tersenyum senang, dengan cepat ia mengambil mahkota itu sebelum Xavier dapat bergerak memakainya kembali.


"Hey, dasar kurang ajar! Kembalikan mahkota ku! Kamu tidak berhak memakainya!" ujar Xavier.


"Aku tidak akan memakai ini, tapi aku juga tak mau membiarkan kau memakai mahkota ini lagi. Sudah cukup Quangzi dipimpin oleh raja jahat dan rakus sepertimu, sekarang saatnya istana Quangzi kembali berjaya seperti dulu!" ucap Wein Lao.


"Kamu memang payah! Kamu pikir siapa yang bisa memimpin Quangzi selain aku, ha?! Ratu Lien itu tidak tahu apa-apa, dia tak mungkin bisa memimpin Quangzi dengan benar!" ujar Xavier.


"Setidaknya dia lebih berhak memimpin Quangzi dibanding kau, karena kau bukan siapa-siapa dan kau juga yang sudah membunuh raja Feng!" ucap Wein Lao.


"Dengar Wein Lao, kamu itu juga bukan siapa-siapa disini. Kamu gak berhak mengambil mahkota itu, jadi ayo kembalikan itu padaku!" ucap Xavier.


"Aku hanya akan berikan ini kepada ratu Lien, tidak padamu. Kamu jangan berharap untuk bisa menjadi pemimpin lagi di Quangzi, karena itu tak akan pernah terjadi!" ucap Wein Lao.


"Kurang ajar! Kamu memang benar-benar ingin dihabisi!" geram Xavier.


"Silahkan saja jika kau bisa! Kini kamu sudah tidak menggunakan mahkota ini lagi, jadi aku bisa mengalahkan kamu lebih mudah!" ucap Wein Lao.


"Oh ya? Jangan harap!" ujar Xavier.


"Kamu berteriak, tapi aku gak lihat sorot keberanian di mata kamu. Apa kamu takut sama aku, ha?" ucap Wein Lao tersenyum tipis.


"Berani sekali kamu bicara begitu! Rasakan ini!" Xavier kembali berteriak dan maju menyerang Wein Lao dengan senjatanya.


Pertarungan pun kembali terjadi disana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2