Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 60. Tawaran kerjasama


__ADS_3

Tak terasa tiga hari telah berlalu sejak Xavier mengetahui bahwa putri Xiu yang selama ini ia cari ternyata menyamar sebagai pendekar yang diberi nama Xi Mei.


Kini Xavier pun terus mencari cara untuk dapat membawa putri Xiu ke istana, ia tidak mau terus-terusan berselisih dengan istrinya dan membuat dirinya kelimpungan sendiri.


"Saya harus bisa temui Xiu dan bawa dia kesini apapun caranya!" batin Xavier.


"Lapor yang mulia!"


Tiba-tiba saja ada dua orang prajurit yang datang kesana menghadap Xavier dengan berjongkok dan memberi hormat.


"Ya, ada apa?" tanya Xavier singkat.


"Maaf yang mulia! Kami hanya ingin melapor bahwa ada seseorang yang datang dan ingin bertemu dengan yang mulia," jawab prajurit itu.


"Siapa dia?" tanya Xavier penasaran.


"Beliau menyebut dirinya sebagai pendekar Bowen," jawab prajurit itu.


"Pendekar Bowen? Bukankah itu..."


"Benar yang mulia! Beliau adalah orang yang dulu mengikuti sayembara di istana," potong si prajurit.


"Yasudah, suruh dia masuk!" titah Xavier.


"Baik yang mulia!" ucap prajurit itu.


Setelahnya, dua orang prajurit tadi pergi dari sana dan mempersilahkan pendekar Bowen untuk masuk menemui sang raja.


Tak lama kemudian, mereka kembali lagi bersama seorang pria yang tidak lain adalah pendekar Bowen.


"Permisi yang mulia! Ini dia orang yang ingin menemui yang mulia," ucap prajurit itu.


"Baiklah, kalian bisa pergi sekarang!" ucap Xavier.


"Baik yang mulia!" ucap prajurit itu.


Kedua prajurit itu kembali pergi dari sana dan berjaga di luar, sedangkan pendekar Bowen tampak terus menatap Xavier.


"Silahkan maju lebih dekat dan duduk di tempat yang tersedia!" perintah Xavier.


"Siap yang mulia!" ucap pendekar Bowen sambil tersenyum tipis.


Pendekar itu pun melangkah maju dan duduk di dekat sang raja, ia kembali menatap Xavier sambil sedikit mengambil nafasnya.


"Ada apa kamu datang kesini?" tanya Xavier.


"Yang mulia masih ingat saya kan?" ucap pendekar Bowen sambil tersenyum smirk.


"Ya, saya ingat kamu. Lantas apa tujuan kamu datang kesini?" ujar Xavier keheranan.


"Saya ingin membantu yang mulia untuk membawa kembali putri Xiu ke istana ini, dengan satu syarat." ucap pendekar Bowen.


"Apa maksud kamu? Memangnya darimana kamu tahu mengenai putri Xiu?" tanya Xavier bingung.


"Hadeh, yang mulia tidak perlu banyak tanya soal itu. Saya ini tahu semua hal yang menyangkut tuan putri Xiu, dan saya pastikan putri Xiu bisa kembali kesini secepatnya." jawab pendekar Bowen.


"Baiklah, apa syarat yang kamu berikan agar putri Xiu bisa kembali ke istana?" tanya Xavier.


"Mudah saja, yang mulia harus usir Zheng dari sini dan digantikan dengan saya." jawab Bowen.


"Apa? Kamu sudah tidak waras ya? Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu di depan saya, sudah jelas saya tidak akan melakukan itu! Lebih baik saya usaha sendiri, daripada harus menuruti syarat kamu itu!" ucap Xavier.


"Mengapa begitu yang mulia? Memangnya apa sih yang kamu dapatkan dari mempertahankan Zheng disini? Dia itu gak bisa apa-apa raja, mana mungkin dia bisa ajak putri Xiu kesini?" ujar Bowen.


"Mungkin dia tidak bisa, tapi setidaknya dia kenal dan akrab dengan putri Xiu. Jadi, ada kemungkinan juga kalau dia bisa diandalkan untuk membawa putri Xiu kesini. Sedangkan kau, aku saja tidak tau pasti siapa dirimu. Bagaimana aku bisa percaya padamu, pendekar Bowen?" ucap Xavier.


Pendekar itu beranjak dari kursinya, menghadap ke arah Xavier sambil tersenyum lebar.


"Apa kau yakin benar-benar tidak mengetahui diriku yang mulia?" tanya pendekar Bowen.


"Ya, tentu saja." jawab Xavier singkat.


"Hahaha... hahaha..."


Xavier tampak kebingungan mendengar Bowen yang malah tertawa di hadapannya.


"Cukup! Apa kau sudah gila?" bentak Xavier.


"Kamu benar-benar bodoh, Xavier! Bisa-bisanya kamu tidak mengenaliku," ucap pendekar Bowen dengan mata hijaunya.


"Hah??" Xavier terkejut dan spontan berdiri begitu melihat sorotan mata pendekar itu.




Ratu Lien masih terus mengurung diri di kamar, ia tidak mau keluar dan sudah hampir tiga hari ia melakukan aktivitas di dalam sana.


Ratu Lien belum mau menemui Xavier atau siapapun di luar sana, terkecuali Mungyi yang setiap hari mengantar makanan padanya.


TOK TOK TOK...


"Permisi ratu, ini saya Mungyi!"

__ADS_1


Sang ratu langsung menyeka air mata di pipinya begitu mendengar suara tersebut, ia turun dari ranjang dan melangkah ke dekat pintu.


Ceklek...


"Ya Mungyi, ada apa?" tanya ratu Lien.


"Seperti biasa ratu, aku bawakan makanan untuk ratu." jawab Mungyi sambil tersenyum.


"Aku belum lapar," ucap ratu Lien.


"Ini sudah waktunya makan ratu, lebih baik ratu makan dulu supaya tidak sakit!" ucap Mungyi menyodorkan piring ke arah sang ratu.


"Baiklah, terimakasih!" ucap ratu Lien menampani piring tersebut dan berniat masuk.


"Eee tunggu sebentar ratu! Ada yang aku ingin bicarakan denganmu," ucap Mungyi menahan sang ratu masuk ke dalam.


"Iya, apa itu?" tanya ratu Lien penasaran.


"Sebenarnya mengapa beberapa hari ini ratu memilih mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar?" ucap Mungyi bertanya pada sang ratu.


"Eee aku hanya ingin menenangkan diriku disini, kamu tidak perlu tau apa masalah yang terjadi dengan diriku. Mungkin sebentar lagi juga semuanya akan selesai," ucap ratu Lien.


"Baiklah ratu, maaf kalau aku terlalu ikut campur dalam masalah ratu!" ucap Mungyi.


"Gapapa, ada lagi yang mau kamu tanyakan?" ucap ratu Lien.


"Ah tidak ada ratu, itu saja." kata Mungyi.


"Yasudah, lalu sekarang Xavier sedang apa?" tanya ratu Lien penasaran.


"Eee yang mulia sedang menemui tamunya di ruang raja, ratu." jawab Mungyi.


"Tamu? Siapa?" tanya ratu Lien.


"Entahlah ratu, aku juga tidak tahu pasti. Tapi, kalau ratu mau nanti aku bisa cari tahu itu semua secara langsung." kata Mungyi.


"Boleh, kamu tolong lihat ya siapa tamu yang sedang bersama Xavier! Jika kamu sudah tahu, jangan lupa kembali kesini dan beritahu padaku siapa tamunya!" titah sang ratu.


"Siap ratu! Kalau begitu aku permisi dulu! Ratu juga jangan lupa untuk makan makanan itu ya!" ucap Mungyi.


"Iya, kamu tenang aja!" ucap ratu Lien tersenyum.


Setelahnya, Mungyi pun berbalik dan pergi dari sana untuk mencari tahu siapa tamu yang sedang bersama Xavier disana.


Sementara ratu Lien masuk lagi ke dalam kamarnya, membawa piring berisi makanan itu dan tak lupa menutup pintu.


"Huft, aku jadi penasaran siapa tamu itu. Apa jangan-jangan dia orang suruhan Xavier untuk menangkap Xiu?" gumam ratu Lien.


"Semoga saja dugaanku itu salah! Aku tidak mau Xiu ditangkap oleh Xavier!" ucapnya lagi.


"Eum, makanan ini lezat juga. Aku jadi menyesal tadi sempat menolaknya," ucap ratu Lien.


TOK TOK TOK...


"Mommy, mommy!"


"Uhuk uhuk," ratu Lien tersedak akibat ketukan pintu yang tiba-tiba muncul dari luar sana disertai suara teriakan putranya.


"Ya ampun! An Ming!" geram sang ratu.


Akhirnya ratu Lien meminum air yang juga telah diberikan Mungyi itu untuk menghilangkan rasa sakit pada tenggorokannya, lalu beranjak dari kursi dan melangkah menuju pintu.


"Mommy, buka pintunya mommy!" teriak An Ming.


"Iya sayang..." balas ratu Lien.




"Hahaha... hahaha..."


Xavier tampak kebingungan mendengar Bowen yang malah tertawa di hadapannya.


"Cukup! Apa kau sudah gila?" bentak Xavier.


"Kamu benar-benar bodoh, Xavier! Bisa-bisanya kamu tidak mengenaliku," ucap pendekar Bowen dengan mata hijaunya.


"Hah??" Xavier terkejut dan spontan berdiri begitu melihat sorotan mata pendekar itu.


"Kau? Mau apa kau datang lagi kesini?" ujar Xavier seraya menunjuk ke wajah Bowen.


"Kenapa yang mulia? Apa kau sudah mampu mengenali siapa diriku sekarang?" ujar Bowen.


"Ya, aku tahu betul siapa kau. Jadi, selama ini kau menyamar menjadi pendekar Bowen untuk dapat mengelabui ku dan menyusup ke dalam istana. Untung saja aku tidak jadi mengangkat mu sebagai punggawa istana kala itu," ucap Xavier.


"Hahaha, baguslah kalau kamu sudah tau. Aku tidak perlu repot-repot menyamar lagi seperti ini dan menjelaskan padamu," ucap Bowen.


Tanpa basa-basi, Bowen langsung berubah ke wujud aslinya yakni Terizla.


"Kamu memang pandai Xavier! Kamu bisa tahu kalau aku ini Terizla, ternyata kamu lumayan mengenal diriku." kata Terizla.


"Sudahlah, tidak usah banyak bicara lagi! Kamu katakan saja apa mau mu!" bentak Xavier.

__ADS_1


"Aku kan sudah bilang, aku ingin tinggal di istana. Singkirkan saja Zheng dari sini, dia itu tidak berguna Xavier!" ucap Terizla.


"Kamulah yang tidak berguna Terizla! Jangan harap kamu bisa tinggal lagi istana ini, karena istana ini adalah milikku seutuhnya!" ujar Xavier.


"Hahaha, apa iya begitu? Aku rasa tidak. Sebentar lagi putri Xiu akan bergerak menyerang istana ini dan menghabisi mu, saat itu terjadi maka kau tidak akan bisa berbuat apa-apa Xavier." kata Terizla.


"Kamu jangan menakut-nakuti ku! Itu tidak mungkin terjadi, karena putri Xiu akan menjadi bagian keluargaku!" ucap Xavier.


"Oh ya? Kau pikir semudah itu menaklukkan hati putri Xiu? Tentu tidak Xavier, itu akan sangat sulit. Maka dari itu, aku tawarkan sebuah kerjasama padamu untuk menangkap gadis itu." ujar Terizla.


"Aku tak butuh bekerjasama denganmu!" ucap Xavier menolak mentah-mentah tawaran Terizla.


"Pikirkanlah dengan matang Xavier! Kamu bisa hancur jika tidak mengikuti saran dariku," ucap Terizla sambil tersenyum smirk.


Xavier terdiam sejenak, ia berpikir apakah mungkin ia harus menerima tawaran Terizla atau tidak.


"Bagaimana? Kamu mau kan bekerjasama denganku Xavier?" tanya Terizla.


"Baiklah, aku mau. Tapi, kamu hanya bisa tinggal di istana sebagai seorang prajurit. Kamu bukan lagi seorang raja disini, paham?" jawab Xavier.


"Hahaha, itu lebih baik. Setidaknya aku bisa tinggal di istana ini kembali, tempatkan saja aku sebagai pengganti Zheng." ucap Terizla.


"Aku akan turuti kemauanmu, asalkan putri Xiu dapat ditangkap dan dibawa kesini." kata Xavier.


"Itu hal mudah bagiku Xavier, kau tidak usah khawatir! Putri Xiu akan tertangkap hanya dalam beberapa hari setelah obrolan kita hari ini," ucap Terizla.


"Apa aku bisa memegang ucapanmu itu?" tanya Xavier ragu.


"Tentu saja, sangat bisa." jawab Terizla mantap.


Xavier tersenyum lebar, begitupun dengan Terizla yang merasa senang karena rencananya berhasil.


Mereka tak sadar jika ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka dari jauh.


Itu adalah Mungyi, pengabdi setia sang ratu.


"Jadi, ternyata tamu yang mulia itu adalah Terizla. Gawat, aku harus segera laporkan ini pada sang ratu!" batin Mungyi.




Disisi lain, Xi Mei masih merasa sedih karena kepergian Wein Lao.


Ia bahkan sampai tidak sadar jika Zheng telah berada di sampingnya saat ini.


Pria itu terus memandangi tubuh Xi Mei, mendekat secara perlahan dan merengkuh pinggangnya.


"Hey! Kamu lagi apa disini? Kenapa kamu selalu melamun belakangan ini, Xi Mei? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Zheng penasaran.


Xi Mei sedikit kaget dengan kemunculan Zheng, namun dengan cepat ia kendalikan ekspresi itu.


"Tidak ada, aku hanya lelah setelah berlatih seharian tadi. Kamu sendiri kenapa susulin aku kesini? Memangnya kamu gak lelah?" jawab Xi Mei berbohong.


"Aku tidak akan pernah lelah jika bersama kamu, Xi Mei. Itulah alasanku ingin ikut berlatih bersamamu, karena aku juga ingin selalu ada di dekatmu." ucap Zheng sambil tersenyum.


"Kamu terlalu banyak gombal!" ucap Xi Mei.


"Tidak apa dong, wanita seperti kamu memang pantas untuk digombali. Aku yakin beribu pria di luar sana setuju dengan perkataan ku barusan!" ucap Zheng sembari mengecup leher Xi Mei.


"Kamu jangan begini! Aku belum mandi loh, apa kamu tidak merasa bau?" ucap Xi Mei agak menjauh dari tubuh Zheng.


"Mengapa begitu? Tubuhmu ini sangat indah dan wangi Xi Mei, tidak mungkin kamu bau." ucap Zheng.


"Biar gimanapun, aku tetap aja bisa kena bau badan Zheng. Kamu tidak usah berlebihan begitu dong memujiku! Setiap manusia di bumi ini pasti memiliki bau badan," ucap Xi Mei.


"Iya, terkecuali kamu. Kamu itu selalu wangi dan selamanya akan terus begitu," ucap Zheng.


"Haish, kamu ini! Sudahlah, tidak enak jika ada yang melihat nantinya!" ucap Xi Mei.


Zheng pun melepaskan tangannya dari pinggang Xi Mei dan sedikit menjauh, ia tidak ingin memaksa gadis itu untuk bertahan di posisinya.


"Apa kamu tidak ingin bercerita padaku mengenai masalahmu saat ini, Xi Mei?" tanya Zheng.


"Untuk apa? Aku sudah bilang, aku tak memiliki masalah. Jadi, apa yang harus aku ceritakan padamu Zheng?" ucap Xi Mei.


"Baiklah, terserah katamu saja." ucap Zheng.


"Iya, kalau begitu aku ingin mandi sekarang. Kamu boleh tetap disini, atau ikut pergi bersamaku." ucap Xi Mei tersenyum tipis.


"Hah? Memangnya aku boleh mandi bersamamu?" tanya Zheng agak terkejut.


"Kamu ini bicara apa? Yang aku maksud itu, kita pergi bersama dari sini, bukan kita mandi bersama. Kamu sebaiknya perbaiki lagi kinerja otak kamu itu deh!" jawab Xi Mei ketus.


"Ahaha, maafkan aku Xi Mei! Tadi itu aku hanya bercanda, aku juga tahu kok maksud kamu. Lagian mana mungkin kamu mengizinkanku untuk mandi bersamamu?" ucap Zheng tertawa kecil.


Xi Mei menggeleng pelan, lalu melangkah begitu saja meninggalkan Zheng disana.


Zheng pun terkekeh geli melihat ekspresi Xi Mei, gadis itu memang sungguh menggemaskan.


"Xi Mei, aku tak mengerti mengapa kamu bisa sangat menggemaskan seperti itu?!" gumam Zheng dalam hati.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2