
Slaasshh...
Xi Mei melesakkan anak panahnya lurus ke depan, dan tepat mengenai buah apel yang menggantung di atas pohon tersebut.
Prok prok prok...
Ryu dan Felix langsung berdiri dan kompak bertepuk tangan setelah Xi Mei menyelesaikan aksinya.
"Waw keren! Sepertinya matamu sangat bersih ya, sampai kamu bisa mengarahkan anak panah itu ke apel di depan sana. Padahal aku saja tidak bisa melihat apel itu dengan jelas," ujar Felix.
"Ya itulah Felix, keponakan ku ini memang sudah terampil dalam memanah. Jadi, apapun yang dia ingin kenai pasti terkena." ucap Ryu.
"Paman terlalu berlebihan, aku masih belum terlalu ahli kok." ucap Xi Mei merendah.
"Baiklah, kamu memang luar biasa Xi Mei! Paman sungguh terpukau dengan kemampuan kamu itu! Lain kali mungkin kamu bisa menunjukkan yang lainnya kepada paman," ucap Felix.
"Tentu paman," ucap Xi Mei tersenyum.
"Mulai sekarang, kamu bisa panggil saya dengan sebutan guru. Lebih tepatnya guru Felix," ucap Felix sambil tersenyum.
"Apa? Jadi, paman udah mau terima aku buat jadi murid paman?" tanya Xi Mei sedikit kaget.
"Ya begitulah, aku cukup tertarik untuk mengajari kamu beberapa ilmu yang aku miliki. Tentu saja itu jika kamu mau, Xi Mei." jawab Felix.
"Sudah pasti aku mau paman, itu kan memang tujuanku datang kesini. Aku ingin menambah ilmu dengan berguru padamu disini," ucap Xi Mei.
"Benar Felix, aku sengaja menyarankan mu pada Xi Mei agar dia bisa mendapat ilmu yang lebih banyak darimu. Karena aku tahu selama ini kau adalah salah satu ksatria yang terhebat di negeri ini," sahut Ryu memuji Felix.
"Ah bisa saja! Padahal kamu juga tidak kalah hebat dariku Ryu, mengapa kamu tidak memberikan ilmu mu yang hebat itu kepada keponakan kamu ini?" tanya Felix heran.
"Sudah dong, malah semua ilmu yang saya kuasai telah saya ajarkan pada Xi Mei." jawab Ryu.
"Oh ya? Lalu, kenapa kamu justru bawa dia ke tempatku? Memangnya ilmu yang kamu ajarkan itu masih kurang?" tanya Felix.
"Xi Mei ini memang anak yang tidak pernah merasa cukup, dia selalu ingin menambah ilmunya agar dia bisa menjadi salah satu pendekar wanita terhebat di muka bumi ini." jawab Ryu.
"Waw! Saya suka dengan semangatnya! Aku jadi makin tidak sabar untuk segera melatih kamu, Xi Mei." ucap Felix tersenyum lebar.
"Nah, udah dapat lampu hijau tuh sayang. Selamat ya, karena kamu bisa menjadi murid guru Felix yang hebat ini!" ucap Ryu.
"Makasih paman! Aku senang banget deh bisa diterima jadi murid guru Felix, aku juga gak sabar buat segera latihan sama guru!" ucap Xi Mei.
"Ya, begitu juga aku." ucap Felix tersenyum.
"Yaudah, gimana kalau kita sekarang istirahat dulu? Lumayan capek juga nih perjalanan kita menuju kesini, kan jauh tau dari rumah kita ke tempat pelatihan kamu ini." kata Ryu.
"Ahaha, iya iya saya minta maaf ya saya lupa ajak kalian istirahat!" ucap Felix merasa tidak enak.
"Gapapa guru, paman aku ini mah emang terlalu lebay. Padahal dia paling sering istirahat dibanding yang lainnya, tapi masih aja ngeluh capek." ucap Xi Mei terkekeh kecil.
"Yeh mana ada begitu!" elak Ryu.
"Oh ya paman, teman-teman kita kan masih pada di luar. Apa mereka gak diajak masuk sekalian biar mereka bisa istirahat juga?" ucap Xi Mei.
"Benar kamu, paman aja sampai lupa kalau kita kesini bukan cuma berdua." kata Ryu.
"Waduh, parah banget kamu Ryu! Masa teman sendiri dilupain begitu?" ujar Felix.
"Yaudah, biar paman aja yang temui mereka di luar. Tapi sebentar nih, kamu ada tempat cukup gak buat istirahat mereka semua Felix?" ujar Ryu.
"Tenang aja, disini banyak tempat kok!" jawab Felix.
"Okelah, kalo gitu saya ke depan dulu. Titip Xi Mei ya disini Felix?" ucap Ryu.
"Siap Ryu!" ucap Felix menurut.
•
•
Singkat cerita, Xi Mei telah berada di kamar tempat ia akan beristirahat selama menjadi murid guru Felix disana.
Xi Mei sedikit merasa tidak nyaman, ya ini adalah kali pertama ia tidur di kasur yang sempit dan dalam ruangan yang ramai.
Gadis itu harus tertidur bersama dua orang murid Felix lainnya, yakni Yun Su dan Ah Lam.
Xi Mei pun kembali terbangun, ia duduk di atas ranjangnya yang kecil itu dan mengusap-usap sprei sembari melihat ke arah dua teman barunya.
"Aku heran deh, kok bisa ya mereka tidur nyenyak begitu?" gumam Xi Mei. "Padahal disini banyak nyamuk seliweran, apa mereka gak merasa keganggu ya?" sambungnya.
Akhirnya Xi Mei bangkit dan menyibakkan selimut tebal dari tubuhnya.
Ia melangkah keluar kamar dengan perlahan, tentu ia tidak mau membangunkan dua gadis itu.
Di luar, Xi Mei menghampiri Wein Lao yang sedang bersandar sembari memandangi awan di langit.
"Wein Lao!" sapa Xi Mei dengan lembut.
__ADS_1
Sontak pria itu terkejut, ia reflek menoleh dan memberikan senyum tipis ke arah Xi Mei yang mendekat ke arahnya.
"Tuan putri, mengapa kau belum tidur?" tanya Wein Lao sedikit bingung.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu saat disini, Wein Lao! Aku tidak mau orang-orang disini curiga dan identitas ku bisa terbongkar," pinta Xi Mei.
"Baik Xi Mei, maafkan aku!" ucap Wein Lao.
"Tak apa, yang penting kamu jangan ulangi itu lagi! Bilang juga sama anak buahmu untuk melakukan hal yang sama!" titah Xi Mei.
"Siap!" ucap Wein Lao menurut.
Xi Mei tersenyum singkat, kemudian mengarahkan tubuhnya ke samping dengan wajah mendongak.
"Bulannya indah ya?" ucap Xi Mei.
Wein Lao spontan menoleh ke arah gadis itu, ia tersenyum lebar saat menatap wajah Xi Mei yang secerah bintang di langit.
"Ya, seindah dirimu Xi Mei." ucap Wein Lao.
"Apa?" Xi Mei terkejut dan reflek menatap Wein Lao dengan tatapan bingung.
"Memang benar kan? Bulan di langit itu seindah dirimu, bahkan mungkin masih kalah jika dibanding denganmu Xi Mei." jawab Wein Lao.
"Kamu ternyata pandai berkata-kata juga ya? Aku gak sangka werewolf sepertimu bisa menggombal," ucap Xi Mei tersipu.
"Itu bukan gombalan atau rayuan, tapi sebuah kalimat fakta tentang dirimu." kata Wein Lao.
"Ya ya ya, terserah apa katamu saja Wein." ucap Xi Mei tersenyum dan kembali menatap langit untuk menghilangkan rasa malunya.
"Lalu, mengapa kamu belum tidur sekarang? Ini sudah larut loh, bukannya kamu besok sudah mulai berlatih?" tanya Wein Lao penasaran.
"Memangnya kenapa kalo aku belum tidur? Kamu khawatir ya sama aku? Cie yang udah mulai perhatian sama aku," goda Xi Mei.
"Eee bukan begitu Xi Mei, aku hanya bertanya saja. Barangkali ada masalah yang membuatmu tidak bisa tidur malam ini, siapa tahu juga aku bisa bantu." kata Wein Lao.
"Iya, memang ada masalah. Aku belum terbiasa tidur di ranjang yang kecil seperti itu, dan disini juga banyak sekali nyamuk." ucap Xi Mei.
"Oh ya? Baiklah, biar aku usir nyamuk itu dari kamarmu Xi Mei." ucap Wein Lao.
"Apa kamu bisa?" tanya Xi Mei.
"Tentu saja," jawab Wein Lao yakin.
Tanpa disadari oleh mereka, Ryu mengintip dari jauh dan tersenyum tipis saat mengetahui Xi Mei tengah bersama Wein Lao disana.
"Mereka kelihatannya makin akrab, sepertinya benar kalau Xi Mei sedang jatuh cinta. Tapi gapapa sih, itu bagus juga agar Xi Mei bisa bahagia dan tidak terus bersedih." gumam Ryu.
•
•
Kegelisahan ratu Lien disadari oleh Xavier yang tertidur di sebelahnya.
Xavier ikut membuka matanya, menatap ratu Lien dan langsung memeluknya dari samping.
"Ada apa sayang?" tanya Xavier lembut.
"Kamu kok bangun sih?" ratu Lien terkejut.
"Iya dong, aku kan khawatir sama kamu. Aku takut kamu kenapa-napa sayang, coba dong cerita sama aku apa yang terjadi sama kamu!" ucap Xavier.
"Gak ada apa-apa kok, aku cuma kebangun aja karena mimpi buruk." jawab ratu Lien berbohong.
"Mimpi soal apa?" tanya Xavier penasaran.
"Putriku, aku mimpi bertemu dengannya di sebuah tempat. Tapi, dia terlihat sedang dalam bahaya karena dia bersama seorang makhluk yang menyeramkan." jawab ratu Lien mengarang cerita.
"Kamu tidak perlu panik! Itu kan hanya mimpi, kamu gausah khawatir ya sayang!" ucap Xavier.
Xavier berusaha menenangkan istrinya itu, mengusap lembut wajah serta mengecup leher sang ratu dengan lembut.
Ratu Lien mengangguk pelan, merapatkan tubuhnya pada Xavier sembari membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Yaudah, kamu tidur lagi ya!" pinta Xavier.
"Aku kayaknya gak bisa tidur deh, aku mau cek An Ming aja ke kamarnya. Boleh kan mas?" ucap ratu Lien mendongakkan wajahnya.
"Loh, jangan dong sayang! Ini kan masih jam tidur, gimana kalau An Ming kebangun nanti? Biarin aja dia istirahat di kamarnya ya!" ucap Xavier.
"Iya juga ya, yaudah gak jadi deh." kata ratu Lien.
"Eee gini aja, kalau emang kamu gak mau tidur gimana kalau kita makan aja?" usul Xavier.
"Makan apa?" tanya ratu Lien.
"Kamu maunya makan apa? Di dapur pasti banyak makanan, tinggal kamu pilih aja nanti." ucap Xavier.
__ADS_1
"Enggak deh, aku gak lapar." tolak ratu Lien.
"Ohh, terus kamu maunya ngapain sayang? Disini aja pelukan sama aku sampai pagi?" tanya Xavier seraya mengeratkan pelukannya.
"Boleh, abisnya aku juga gak tahu mau ngapain." jawab ratu Lien mengangguk singkat.
"Yaudah gapapa, nanti juga lama-lama kamu bakal ngantuk sendiri kalau aku peluk terus kayak gini." ucap Xavier tersenyum tipis.
"Iya," ucap ratu Lien singkat.
"Oh ya sayang, kamu kenapa suruh Zheng buat pergi ke lembah parabuan? Memangnya disana ada apa?" tanya Xavier penasaran.
"Eee aku minta dia buat jaga-jaga aja disana, gak salah kan?" jawab ratu Lien berbohong.
"Ya enggak sih, tapi mau ngapain juga mereka harus jaga-jaga disana? Emangnya terjadi masalah di lembah parabuan itu?" ucap Xavier.
"Enggak ada lah sayang, jangan sampai ada masalah juga disana! Kamu ini gimana sih, emang pengen disana ada masalah?" ujar ratu Lien.
"Justru itu, kalau gak ada masalah terus kenapa kamu minta mereka berjaga disana?" tanya Xavier.
"Udah lah sayang, jangan bahas soal itu dulu! Aku lagi pusing tau, aku masih cemas sama Xiu!" ucap ratu Lien mengalihkan pembicaraan.
"Iya iya, aku minta maaf ya!" ucap Xavier.
Xavier kembali mendekap erat istrinya, ia usap punggung wanita itu dengan lembut sembari mengecup bibirnya singkat.
Cupp!
"Saya sebenarnya masih curiga dengan sikap kamu ini Lien, tapi saya juga gak mau kamu marah sama saya karena saya terlalu banyak tanya. Yasudah lah, biar waktu saja yang menjawab kecurigaan saya ini nantinya." batin Xavier.
•
•
Keesokan harinya, Xi Mei terbangun dengan lega setelah tidur nyenyaknya semalam.
Xi Mei cukup senang dengan kinerja Wein Lao yang telah berhasil mengusir nyamuk-nyamuk disana.
"Huh akhirnya pagi juga! Aku masih gak nyangka deh, ternyata Wein Lao bisa usir semua nyamuk disini sampai gak ada yang tersisa. Keren juga itu werewolf!" batin Xi Mei.
Disaat Xi Mei hendak bangkit dan merapihkan kasurnya, tiba-tiba dua teman sekamarnya muncul dan menghampirinya.
"Xi Mei, kamu baru bangun?" tanya Yun Su.
"Iya, kenapa ya?" ucap Xi Mei terheran-heran.
"Kamu ini gimana? Hari ini kan kamu mulai latihan bersama guru Felix, harusnya kamu sudah bangun lebih awal!" ucap Yun Su.
"Benar itu, latihan akan dimulai sebentar lagi. Sebaiknya kamu cepat persiapkan diri kamu sebelum guru Felix datang!" sahut Ah Lam.
"Baik, kalau begitu aku akan mandi sekarang. Terimakasih ya infonya!" ucap Xi Mei.
"Sama-sama," jawab dua gadis itu bersamaan.
Xi Mei langsung beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, kini Xi Mei melangkah keluar kamar untuk mencari keberadaan pamannya.
Akhirnya gadis itu berhasil menemukan Ryu di depan sana, tampak Ryu juga tengah bersama Felix dan Wein Lao.
"Paman!" ucap Xi Mei sedikit berteriak.
Ryu menoleh ke asal suara, ia tersenyum melihat Xi Mei sedang berlari menghampirinya karena sedari tadi ia memang menunggu kehadiran Xi Mei.
"Xi Mei? Kamu sudah bangun?" tanya Ryu.
"Iya paman, maaf aku terlambat!" ucap Xi Mei.
"Enggak kok, ini guru kamu juga baru mau persiapkan latihannya. Tapi, lain kali mungkin kamu harus bangun lebih awal supaya gak buru-buru kayak gini!" ucap Ryu.
"Iya, jadi kamu gak keringetan begitu deh gara-gara lari-larian." sahut Felix.
"Hahaha, maaf guru! Soalnya semalam aku gak bisa tidur karena banyak nyamuk, jadinya aku telat deh tidurnya." kata Xi Mei ngos-ngosan.
"Yaudah, kamu duduk dulu gih sana! Istirahat sebentar sebelum mulai latihan, sambil nunggu yang lain juga." ucap Ryu.
"Emangnya boleh guru?" tanya Xi Mei ke Felix.
"Boleh Xi Mei, tapi nanti kalau yang lainnya udah siap kamu harus ikutan baris di lapangan ya buat pemanasan!" jawab Felix.
"Siap guru!" ucap Xi Mei menurut.
Xi Mei pun duduk di bangku yang tersedia, mengipas-ngipas lehernya dan mengambil nafas.
"Capek banget ya?" ujar Wein Lao.
"Hah? Eee..." Xi Mei langsung gugup dan salah tingkah saat didekati oleh pria itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...