
Wein Lao melihat pertarungan antara Xiu melawan raja Ling disana, ia pun merasa tidak tega karena Xiu cukup kesulitan.
"Aku harus segera bantu putri Xiu!" ucap Wein Lao.
Disaat ia hendak maju membantu Xiu, tiba-tiba tiga orang prajurit bawaan raja Ling menahannya.
"Kamu tidak boleh ikut campur!" ucap prajurit itu.
"Kalian tidak bisa menghalangi ku! Aku akan menolong putri Xiu, dia bukan lawan yang seimbang bagi raja Ling." ucap Wein Lao tegas.
"Maaf! Tapi, kamu tidak bisa membantunya!" ucap prajurit itu.
"Kalian mau apa? Mau melawanku, ha? Baiklah, akan kuhadapi kalian lebih dulu!" ujar Wein Lao.
Wein Lao pun terpaksa menghadapi ketiga prajurit yang menghalanginya, walau sebenarnya ia sudah tidak sabar ingin segera membantu Xiu.
Suara pertarungan itu juga didengar oleh ratu Lien, ia menoleh dan melihat Wein Lao tengah bertarung dengan tiga prajurit disana.
"Wein Lao...??" ucap sang ratu.
Bruuukkk...
Wein Lao berhasil mengalahkan tiga prajurit itu dengan mudah.
"Sudah kubilang, jangan halangi aku!" ujar Wein Lao.
Lalu, Wein Lao pun beralih menatap Xiu kembali yang tengah menghadapi raja Ling disana.
Ratu Lien berusaha meminta bantuan pada Wein Lao untuk dapat lepas dari genggaman orang-orang itu.
"Lao, tolong aku Lao!" teriak ratu Lien.
"Hah? Ratu??" ucap Wein Lao terkejut.
Wein Lao langsung menghampiri sang ratu, menatap satu persatu wajah prajurit yang sedang menahan ratu Lien disana.
"Hey kalian, cepat lepaskan ratu jika kalian tidak mau bernasib sama seperti teman-teman kalian itu!" perintah Wein Lao.
"Kami tidak takut, kami tidak akan melepaskan ratu Lien!" tegas prajurit itu.
"Kalian benar-benar memancing emosiku! Baiklah, akan kuhabisi kalian semua satu persatu sekarang!" ucap Wein Lao.
Dua orang prajurit itu melotot, Wein Lao langsung maju menyerang mereka secara brutal hingga tak ada kesempatan bagi mereka untuk melawan.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Wein Lao berhasil menumbangkan kedua prajurit itu dengan mudah.
"Rasakan itu!" ujar Wein Lao.
Ratu Lien menatap Wein Lao dan mendekati pria itu.
"Lao, cepat kamu bantu Xiu! Dia butuh bantuanmu sekarang, aku sangat khawatir dengannya!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu! Tapi, ratu sekarang harus menjauh dan pergi dari sini! Saya tidak mau terjadi sesuatu pada ratu, jadi sebaiknya ratu pergi ke tempat yang aman!" ucap Wein Lao.
"Baiklah, aku percayakan keselamatan Xiu padamu. Aku akan pergi dari sini, terimakasih ya Lao!" ucap ratu Lien sambil tersenyum.
"Sama-sama ratu," ucap Wein Lao.
Wein Lao pun bergerak menghampiri Xiu, sedangkan ratu Lien berbalik lalu pergi dari sana menuju tempat yang lebih aman.
•
Xiu terkena serangan raja Ling kembali, ia terdorong ke belakang cukup jauh dan hampir terjatuh.
Untungnya Wein Lao sigap menangkap tubuh gadis itu dari belakang, Xiu pun merasa senang karena ia diselamatkan oleh pria yang ia sukai.
"Lao? Kamu disini?" ucap Xiu terkejut.
"Iya putri, aku akan bantu kamu menghadapi raja itu. Kamu tetap disini saja ya!" ucap Wein Lao.
"Tidak bisa Lao, biar aku saja yang lawan raja itu! Aku bisa kok hadapi dia," ucap Xiu dengan kekeuh.
"Ayolah putri, ini demi kebaikan kamu! Biar kamu bisa selamat dan menjadi putri kerajaan Quangzi, aku tidak mau tuan putri terluka atau kemana-mana!" ucap Wein Lao.
"Emangnya Xavier udah berhasil dikalahkan?" tanya Xiu penasaran.
"Ya, dia sudah bukan raja Quangzi lagi. Mahkota miliknya juga telah aku ambil dan aku simpan di tubuhku," jawab Wein Lao.
"Apa? Kamu serius?" ujar Xiu terkejut.
"Iya putri Xiu, aku akan berikan mahkota ini kepada ratu Lien nantinya. Sekarang kamu pergi saja, susul ratu Lien dan yang lainnya!" pinta Wein Lao.
"Tapi Lao, raja Ling masih salah paham tentangku. Dia menyangka ku sebagai pembunuh ayahnya, padahal itu tidak benar. Aku harus meluruskan ini semua!" ucap Xiu.
"Aku tahu itu, tapi dia tidak akan mungkin percaya denganmu walau kamu sudah menjelaskan semuanya sekeras mungkin. Hatinya itu sudah beku, dia tidak akan percaya kalau bukan kamu yang membunuh ayahnya." ucap Wein Lao.
"Aku gak perduli, pokoknya aku mau bersihin nama aku sekarang!" tegas Xiu.
Wein Lao terdiam sejenak, ia cukup pusing menghadapi Xiu yang keras kepala karena ingin tetap bertarung dengan raja Ling disana.
"Kenapa Xiu? Kamu kok diem aja sih? Ayo kita lanjutkan pertarungan ini, jika kamu memang merasa bisa mengalahkan ku!" tantang raja Ling.
Xiu yang terpancing, hendak bergerak maju menyerang raja Ling disana.
Namun, Wein Lao tak membiarkan itu dan menahan Xiu untuk tetap bersamanya.
__ADS_1
"Tahan tuan putri! Dia itu hanya memancing emosi mu, jadi sebaiknya tuan putri tidak boleh terpancing seperti ini! Biarkan aku yang hadapi raja Ling, kamu pergilah temui ratu Lien disana!" ucap Wein Lao.
"Gak bisa Lao, ini urusanku dan aku harus selesaikan semua ini sendirian tanpa bantuan dari siapapun termasuk kamu!" ujar Xiu.
"Tapi putri, aku tidak mungkin membiarkan kamu kembali melawan raja itu. Kamu dan dia itu tidak sebanding, aku khawatir terjadi sesuatu padamu putri!" ucap Wein Lao cemas.
"Kamu tidak usah cemas, aku akan baik-baik saja kok!" ucap Xiu meyakinkan Wein Lao.
"Hey pria muda! Kamu sebaiknya jangan ikut campur ke dalam masalah ini, biarkan kami berdua menyelesaikan semuanya!" ucap raja Ling.
"Dengar ya raja Ling, anda tidak bisa menghalangi saya untuk membantu putri Xiu. Lagipun, apa yang mau diselesaikan ha? Dari awal saja masalah antara anda dengan putri Xiu itu hanya salah paham, bukan putri Xiu pelaku yang sudah membunuh ayahmu!" ujar Wein Lao.
"Aku tidak percaya, aku ingin bukti jika memang Xiu bukan pelakunya." ucap raja Ling.
"Bukti? Bukti apa yang kamu inginkan? Putri Xiu ini selalu bersamaku selama beberapa tahun terakhir ini, dia adalah anak yang baik dan dia tidak pernah pergi ke daerah mu sama sekali!" ujar Wein Lao.
"Lao cukup! Percuma juga dijelaskan, dia tidak mungkin mendengarkan kamu. Biar aku beritahu dia lewat kekuatanku, supaya dia tahu kalau aku bukan pembunuh ayahnya." ucap Xiu.
"Maksudmu bagaimana putri?" tanya Wein Lao.
"Raja Ling bilang jika ayahnya terbunuh karena tusukan pedang, sedangkan aku saja tidak pernah pandai menggunakan pedang." jawab Xiu.
"Yasudah, ayo kita hadapi dia bersama-sama!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.
Xiu mengangguk kecil, lalu bersiap untuk menyerang raja Ling bersama Wein Lao.
"Ohh, mau main keroyokan? Baiklah, saya tidak takut walaupun kalian bersepuluh sekalipun!" ucap raja Ling.
"Hiyaaa..."
•
•
Ratu Lien tiba di perguruan elang putih, terlihat semuanya juga sudah berkumpul disana.
Akan tetapi, ratu Lien cukup heran melihat Gusion turut berada disana bersama prajurit Quangzi.
"Itu dia ratu Lien," ucap Ryu tersenyum lebar.
Mereka semua langsung memberi hormat saat ratu Lien datang kesana, termasuk Gusion.
"Ini ada apa? Kenapa kalian terlihat senang sekali? Dan Gusion, apa yang kamu lakukan disini? Bukankah..." tanya ratu Lien terhenti.
"Iya ratu, hamba saat ini sudah kembali memihak ratu Lien dan tidak lagi bersama Xavier." jelas Gusion.
"Mengapa begitu?" tanya ratu Lien bingung.
"Xavier sudah berhasil dikalahkan oleh pangeran Wein Lao, bahkan mahkota miliknya juga telah diambil oleh Wein Lao." jelas Gusion.
"Benar ratu! Tadi Wein Lao sendiri yang mengatakan itu kepada kami," ucap Ryu.
"Huh syukurlah! Tapi, bukannya kamu adalah orang kepercayaan Xavier? Kenapa kamu tidak bantu dia sekarang?" tanya ratu Lien pada Gusion.
"Hamba memang diangkat sebagai panglima Quangzi oleh Xavier, tetapi jiwa hamba ini setia kepada Quangzi. Hamba hanya akan mengabdi pada pemimpin istana Quangzi, bukan dengan Xavier." jawab Gusion.
"Baiklah, itu bagus jika memang kamu masih ingin mengabdi pada Quangzi. Semoga saja kamu dapat dipercaya dan tidak akan tumbuh sebagai pengkhianat!" ucap ratu Lien.
"Hamba berjanji akan setia kepada Quangzi, ratu!" ucap Gusion.
"Yasudah, sekarang kita semua harus menolong putri Xiu! Kita hadapi pasukan Sidhagat disana, aku berharap kalian mau membantuku kali ini!" ucap ratu Lien.
"Tentu saja ratu, kami pasti siap membantu ratu dan juga tuan putri!" ucap Ryu.
"Ya ratu, kami semua disini akan membela Quangzi sampai titik darah penghabisan!" sahut Felix.
"Terimakasih ya!" ucap ratu Lien tersenyum.
"Tidak perlu berterimakasih ratu, ini sudah menjadi kewajiban kami untuk membela dan mempertahankan kedaulatan Quangzi. Apalagi nyawa putri Xiu berada dalam bahaya saat ini," ucap Felix.
"Kalau begitu, sekarang kita kumpulkan seluruh pasukan dan mulai menyerang Sidhagat untuk membantu putri Xiu!" titah Ryu.
"Baik! Aku akan meminta bantuan seluruh anak muridku disini untuk menyerang Sidhagat," ucap Felix.
"Ya, itu memang harus dilakukan. Cepatlah kumpulkan mereka disini!" ujar Ryu.
Felix mengangguk kecil, lalu masuk ke dalam perguruan nya dan meminta pada seluruh anak muridnya disana untuk membantu putri Xiu.
"Ryu, aku kesana dulu ya?" ucap ratu Lien.
"Tidak ratu! Itu sangat berbahaya, kita akan kesana bersama-sama nanti!" ucap Ryu.
"Aku hanya ingin melihat situasi, aku cemas pada putriku Xiu!" ratu Lien.
"Tapi ratu—"
"Tidak apa-apa paman, biar aku temani ratu Lien untuk mengecek kesana. Paman dan yang lainnya tetap disini dulu kumpulkan pasukan, supaya kalian bisa menyusul nantinya." potong Gusion.
"Apa kamu bisa dipercaya Gusion?" tanya Ryu.
"Tentu saja paman, aku akan melindungi ratu Lien sebaik mungkin!" jawab Gusion.
"Baiklah, aku percayakan ini padamu!" ucap Ryu.
"Terimakasih paman!" ucap Gusion.
__ADS_1
"Ratu, mari kita pergi!" ucap Gusion sembari menghadap ke arah sang ratu.
"Ya," ucap ratu Lien singkat dan dingin.
Ratu Lien pun langsung berbalik, melangkah pergi dari sana dengan tergesa-gesa.
Gusion mengikuti langkah kaki sang ratu tepat di belakangnya sambil terus tersenyum.
"Semoga saja Gusion bisa dipercaya!" ucap Ryu.
"Tuan, apa perlu saya ikuti mereka?" tanya Rube.
"Eee mungkin perlu, karena jujur aku juga masih belum bisa mempercayai Gusion sepenuhnya. Dia itu kan bekas orang kepercayaan Xavier, jadi aku takut dia akan melukai ratu." jawab Ryu.
"Baiklah tuan, kalau begitu biar saya ikuti mereka!" ucap Rube.
"Ya, terimakasih! Kamu saja yang pergi, yang lain tetap disini bersamaku!" ucap Ryu.
"Baik tuan!" ucap tiga ninja itu bersamaan.
Setelahnya, Rube pun pergi menyusul ratu Lien dan Gusion.
Sementara Rulli dan Ah Shin tetap disana bersama Ryu menunggu pasukan mereka terkumpul.
•
•
Bruuukkk...
Tubuh raja Ling terpental hebat ke atas tanah dengan posisi terlentang akibat serangan gabungan dari Wein Lao dan putri Xiu.
Xiu pun tersenyum puas melihat raja Ling tergeletak tak berdaya di bawahnya, ia melirik ke arah Wein Lao dengan penuh kebahagiaan.
"Lao, kamu memang hebat!" ucap Xiu.
"Tidak putri, kamu yang hebat bukan aku. Tadi itu kekuatanmu sungguh luar biasa!" ucap Wein Lao.
"Kamu ini selalu suka merendah ya?" ujar Xiu.
Wein Lao menundukkan wajahnya sambil tersenyum tipis, sedangkan Xiu masih terus memandangi Wein Lao yang membuatnya kagum.
"Putri, ayo kita dekati raja Ling! Siapa tahu kali ini dia sudah mau mengakui kesalahannya dan tidak lagi menuduh tuan putri sebagai pelaku yang sudah membunuh ayahnya." ucap Wein Lao.
"Semoga saja! Tapi, aku tidak yakin dengan itu." ucap putri Xiu.
"Kita coba saja dulu, walau sangat kecil kemungkinannya tetapi tidak ada yang tidak mungkin." ucap Wein Lao.
Xiu mengangguk pelan, lalu melangkah bersama Wein Lao menuju raja Ling yang masih tergeletak menahan sakit disana.
"Awhh akkhh!!" pekik raja Ling cukup keras.
"Raja! Raja tidak apa-apa?" tanya seorang prajurit yang datang menghampirinya.
"Sshh sakit!" jawab raja Ling sedikit meringis.
"Hahaha, segitu saja kemampuan kamu raja Ling? Tadi kau bilang kau bisa menghadapi kami walau sepuluh sekalipun, tapi kenapa kamu malah kalah raja Ling?" ujar Wein Lao dengan sombong.
"Hey diam kamu! Jangan dekati raja Ling lagi, kalian benar-benar keterlaluan!" ucap prajurit itu penuh emosi.
"Kenapa? Bukan kami yang keterlaluan, tetapi raja kalian itu. Karena dia sudah menuduh putri Xiu membunuh ayahnya, padahal itu semua tidak benar." ucap Wein Lao.
"Iya, lagipun kami hanya membela diri. Raja kalian yang menyerang kami lebih dulu," sahut Xiu.
"Apapun alasannya, tetap saja kalian sudah melukai raja kami. Kami tidak akan tinggal diam, kami akan habisi kalian!" ucap prajurit itu.
Prajurit-prajurit itu mengangkat pedang mereka, bersiap menyerang Wein Lao dan putri Xiu.
Tentu saja mereka berdua juga mengambil ancang-ancang untuk menahan serangan mereka.
"Cukup!!" teriak raja Ling.
Hal itu membuat pertarungan mereka tidak jadi terlaksana, para prajurit pun menatap raja mereka yang masih tergeletak disana.
"Kalian tidak usah menyerang mereka, bawa saja aku pergi dari sini!" pinta raja Ling.
"Baik raja!" ucap prajurit itu menurut.
Mereka pun membawa raja Ling pergi dari sana untuk segera kembali menuju istana Sidhagat.
"Kenapa kamu pergi raja Ling? Apa kamu sudah tidak menuduh tuan putri sebagai pembunuh ayahmu lagi?" tanya Wein Lao mengejek.
"Diam kau! Ini belum berakhir, aku akan kembali untuk menyelesaikan semuanya!" ucap raja Ling.
"Baiklah, kami akan selalu menunggu kehadiran kamu kembali. Cepat sembuh raja Ling!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.
Xiu hanya ikut tersenyum tanpa berbicara, mereka kini membiarkan raja Ling dan para pasukannya pergi dari sana.
"Xiu!!"
Mereka terkejut mendengar suara teriakan itu, Xiu langsung menoleh ke asal suara dan melihat ibunya disana.
"Mommy? Gusion...??" ucap Xiu terheran-heran.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...