
"Oh, menurutmu apa dia akan baik-baik saja selama perjalanan menuju kesana?" tanya ratu Lien.
"Semoga saja begitu ratu! Tapi, aku yakin paman Ryu akan menjaga Xi Mei selama perjalanan itu. Ratu tidak perlu khawatir, mereka pasti akan aman dan dapat kembali kemari." jawab Zheng.
"Baiklah, semoga yang kau katakan benar dan tidak terjadi sesuatu pada mereka!" ucap ratu Lien.
Zheng mengangguk-angguk pelan, sejujurnya ia penasaran mengapa ratu Lien tiba-tiba berbicara mengenai Xi Mei bersamanya.
"Maaf ratu kalau saya lancang! Saya ingin bertanya, mengapa ratu terlihat khawatir sekali dengan Xi Mei? Dan mengapa juga ratu terlihat ingin tahu perihal Xi Mei? Apa ratu mengenal gadis itu sebelumnya?" tanya Zheng penasaran.
"Eee aku..." ratu Lien bingung menjawabnya.
Tanpa disadari oleh mereka, Xavier rupanya tengah menguping dari jarak yang tidak terlalu jauh. Xavier pun juga penasaran mengapa istrinya tampak cemas sekali dengan Xi Mei.
"Aku ingin tahu, apa kiranya jawabanmu Lien. Aku juga penasaran, siapa sebenarnya Xi Mei dan mengapa kau terlihat begitu dekat dengannya?" gumam Xavier dalam hati.
Ratu Lien masih belum tahu bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaan Zheng tadi.
Namun, disaat sedang berpikir tiba-tiba saja ratu Lien merasa bahwa ada yang mengawasinya.
Ratu Lien pun menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan apakah ada orang lain disana.
"Kenapa ratu?" tanya Zheng keheranan.
"Ah tidak, aku hanya merasa kalau kita sedang diawasi oleh seseorang. Tapi, aku tidak tahu siapa orang itu." jawab ratu Lien.
"Tenang ratu! Aku rasa tidak ada orang lain disini kecuali kita berdua, mungkin itu hanya perasaan ratu saja." kata Zheng.
"Iya juga, tapi aku ngerasa yakin aja kalau ada yang lagi awasin kita disini. Sebentar ya Zheng, biar aku pastikan sendiri apa disini ada orang atau tidak." ucap ratu Lien beranjak dari tempat duduknya.
"Eh jangan ratu!" ucap Zheng menahan ratu Lien dan berdiri di depannya.
"Kenapa?" tanya ratu Lien heran.
"Biar aku saja yang mengeceknya untuk ratu, aku tidak enak jika ratu melakukannya sendiri. Sebaiknya ratu kembali duduk disini!" ucap Zheng.
"Ya ampun, kamu terlalu lebay deh! Gapapa kali kalau cuma cek doang mah," ujar ratu Lien.
"Tetap saja ratu, aku tidak enak. Bagaimana jika dugaan ratu benar dan ada yang sedang mengawasi kita disini? Kalau orang itu berniat melukai ratu, pasti dia bisa langsung mencelakai ratu nantinya." kata Zheng.
"Yasudah, cepat kamu cek sekeliling ruangan ini! Biasanya firasat ku tidak pernah salah, mungkin yang kali ini juga sama." ucap ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Zheng menurut.
Zheng pun mulai bergerak, memeriksa sekitar ruangan tersebut untuk memastikan apakah ada yang mengawasi mereka disana atau tidak.
Xavier yang masih berada disana pun merasa khawatir, ia tak mungkin terus berdiam diri disana karena ia bisa ketahuan oleh Zheng.
"Gawat! Kenapa kamu selalu bisa memiliki firasat yang benar, Lien? Aku jadi sulit untuk mengawasi mu dan mencari tahu ada hubungan apa antara kamu dengan Xi Mei," batin Xavier.
Akhirnya karena tak ingin ketahuan, Xavier memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali ke kamarnya dengan cepat.
Zheng kembali menemui ratu Lien setelah pemeriksaan di sekeliling ruangan itu, ia tak menemukan siapapun disana.
"Maaf ratu! Aku sudah memeriksa seluruh penjuru ruangan ini, tetapi aku tidak menemukan siapapun disini. Mungkin saja firasat ratu kali ini salah, atau orang itu sudah pergi lebih dulu." ucap Zheng.
"Huft, yasudah tidak apa. Semoga saja tadi itu tidak benar!" ucap ratu Lien.
"Iya ratu, lalu apa masih ada yang ingin ratu bicarakan dengan saya?" tanya Zheng.
"Ah tidak ada, aku hanya meminta padamu untuk mengabari aku jika ada berita mengenai pendekar Xi Mei." jawab ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Zheng.
Setelahnya, ratu Lien pun pergi dari sana meninggalkan Zheng yang masih penasaran.
•
•
Bruuukkk...
"Lapor yang mulia! Kami telah menemukan gadis ini memasuki area hutan Sidhagat, dia sepertinya hendak berbuat jahat disini yang mulia!" ucap seorang prajurit memberi laporan pada rajanya.
Ya Xi Mei telah berhasil ditaklukkan oleh prajurit-prajurit tersebut, karena senjata andalannya yakni busur telah hilang.
Terdapat cukup banyak luka-luka di sekujur tubuh Xi Mei, akibat perkelahiannya tadi dengan enam prajurit di hutan.
Kini Xi Mei dibawa oleh dua orang prajurit tadi untuk menemui raja mereka, tidak lain adalah raja Ling sang pemimpin Sidhagat.
Setelah mendapat laporan itu, raja Ling langsung beranjak dari singgasananya dan melangkah menghampiri Xi Mei disana.
"Duh, aku mau diapain ya?" batin Xi Mei.
Raja Ling kini sudah berdiri tepat di depan Xi Mei, menundukkan wajahnya menatap Xi Mei dengan menelisik.
"Terimakasih prajurit! Sekarang kau boleh pergi, biar aku yang urus dia!" ucap raja Ling.
__ADS_1
"Baiklah yang mulia!" ucap prajurit itu.
Kedua prajurit tersebut pun pergi dari sana meninggalkan raja mereka berduaan dengan Xi Mei yang masih tersungkur di lantai istana.
"Hey, bangunlah!" perintah raja Ling pada Xi Mei.
Xi Mei mendongak ke atas, menatap raja Ling dengan sedikit jengkel.
"Akh!" Xi Mei memekik kecil ketika hendak berdiri sesuatu perintah sang raja.
"Kenapa?" tanya raja Ling heran.
"Apa kau buta? Kakiku terluka, ini semua ulah prajuritmu yang sialan itu! Bagaimana caranya aku bisa berdiri dengan keadaan seperti ini?" jawab Xi Mei ketus.
"Mau aku bantu?" tanya raja Ling.
"Hah??" Xi Mei menganga lebar karena terkejut.
Tanpa basa-basi, raja Ling membungkuk dan mengangkat tubuh Xi Mei ala bridal style, membuat gadis itu terus menganga tak percaya.
"Hey, turunkan aku! Kau mau bawa aku kemana?" protes Xi Mei.
"Akan aku bawa kamu ke ruang pengobatan, disana kakimu bisa disembuhkan." ucap raja Ling.
"Tidak usah, aku tidak butuh diobati. Aku hanya ingin keluar dari sini, tolong turunkan aku!" ucap Xi Mei meronta-ronta.
"Aku tak akan melepaskanmu. Seorang wanita asing yang berani masuk ke area ini, jika cantik maka akan menjadi selir ku." ucap raja Ling.
"Apa maksudmu?" tanya Xi Mei ketakutan.
"Iya, kau akan kunikahi setelah kakimu sembuh. Bersyukurlah gadis muda, karena kau dapat menjadi bagian dari istana ini." jawab raja Ling.
"Tidak, aku tidak mau!" ucap Xi Mei menolak.
"Kamu tak bisa menolak, ini perintah raja!" tegas raja Ling.
"Turunkan aku sekarang juga!" bentak Xi Mei.
Bukannya menurut, raja Ling justru terus melangkah dan membawa tubuh Xi Mei ke ruang pengobatan untuk segera diobati.
Raja Ling pun meletakkan tubuh Xi Mei di atas ranjang, terdapat banyak benda-benda aneh disana yang membuat Xi Mei bingung.
"Siapa namamu gadis muda?" tanya raja Ling pada Xi Mei sambil tersenyum manis.
Xi Mei yang kesal justru membuang muka, ia tak ingin berbicara dengan raja Ling apa lagi memberitahu siapa namanya.
"Kau tidak perlu tahu namaku!" ucap Xi Mei.
"Mengapa? Sebentar lagi kamu akan menjadi selir ku, jadi aku harus tahu namamu!" ucap raja Ling.
"Itu tak akan pernah terjadi," ucap Xi Mei.
"Ya ampun, aku gak mau jadi selir raja ini!" batin Xi Mei.
•
•
Ryu bersama ketiga ninja yang ada di sebelahnya masih terus melakukan pencarian terhadap Xi Mei.
Ryu tak ingin menyerah, ia harus bisa menemukan Xi Mei karena gadis itu adalah tanggung jawabnya.
"Hey kalian! Apa benar keponakanku masuk kesini? Kalian sedang tidak membohongiku kan?" ujar Ryu bertanya pada ketiga ninja tersebut.
"Benar tuan! Buat apa kami bohong? Keponakan anda memang masuk kesini, itu sebabnya kami tidak berani mengejarnya." jawab ninja itu.
"Baiklah, aku percaya. Tapi, dimana dia sekarang? Mengapa kita tidak dapat menemukannya?" tanya Ryu keheranan.
"Kalau itu kami pun tidak tahu, tuan. Ada kemungkinan kalau keponakan kamu sudah dibawa oleh para prajurit yang menjaga hutan ini, atau dia masih terus berjalan di sekitar sini." jawab ninja itu.
"Sial! Tidak mungkin Xi Mei tertangkap, aku tahu dia adalah pemanah yang hebat." kata Ryu.
"Eee sepertinya mungkin saja, tuan. Karena busur panah yang digunakan keponakan kamu itu ada bersama kami, jadi dia tidak bisa melakukan perlawanan lagi." ucap ninja itu.
"Apa? Serius kamu??" ujar Ryu kaget.
"Iya tuan, itu memang benar. Lihatlah, ini adalah busur panah milik keponakan kamu yang sebelumnya kami sita." jawab ninja itu.
Si ninja pun menunjukkan busur panah milik Xi Mei kepada Ryu.
Sontak Ryu menganga tipis melihatnya, benar itu adalah busur milik Xi Mei.
"Benar, itu adalah busur milik Xi Mei keponakanku. Dasar kurang ajar kalian! Seharusnya kalian tidak mengambil senjata itu dari Xi Mei, sekarang pasti Xi Mei kesulitan untuk menghadapi lawan-lawan di sekitar sini!" ujar Ryu emosi.
"Maaf tuan! Kami memang biasa melakukan ini, mengambil senjata milik tawanan kami agar dia tidak bisa melawan kami." ucap ninja itu.
"Haish, berikan busur itu padaku!" pinta Ryu.
__ADS_1
Ninja itu pun menyerahkan busur milik Xi Mei kepada Ryu, tampak Ryu bersedih memandangi busur tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Xi Mei, dimana kamu sekarang sayang? Paman tahu pasti kamu akan kesulitan tanpa busur panah kesayanganmu ini. Paman benar-benar bingung harus mencari kamu kemana lagi," ujar Ryu.
Terlihat ketiga ninja tersebut ikut merasa sedih dan menyesal melihat Ryu bersedih seperti itu.
"Tidak perlu bersedih, tuan. Kami akan membantu kamu untuk menemukan keponakan kamu itu, kami berjanji!" ucap si ninja.
"Mengapa kalian jadi berubah begitu?" tanya Ryu.
"Kami merasa bersalah aja tuan, karena kami sudah mengambil busur panah milik gadis itu. Harusnya kami memang tidak melakukan itu, maafkan kami tuan Ryu!" jawab ninja itu.
"Tak apa, penyesalan memang selalu datang belakangan. Jadi, saya sudah maafkan kalian. Sekarang ayo bantu saya cari dan temukan Xi Mei! Sekalian tunjukkan pada saya, dimana letak kerajaan Sidhagat itu?!" ucap Ryu.
"Baik tuan! Ikuti saja kami, di depan sana kita akan sampai pada perkampungan Sidhagat." kata ninja.
"Baiklah," ucap Ryu singkat.
Disaat mereka hendak kembali melangkah, tiba-tiba saja empat orang berpakaian prajurit kuno muncul dan mencegat jalan mereka.
"Berhenti!" teriak prajurit itu.
Ryu serta tiga ninja yang bersamanya pun terkejut, mereka langsung bersiap-siap untuk menghadapi serangan dari prajurit itu.
"Kalian tau siapa mereka?" tanya Ryu.
"Ya, mereka adalah prajurit istana Sidhagat. Kita harus berhati-hati tuan, karena mereka cukup ahli dalam bertarung!" jawab ninja itu.
"Baiklah, kita pasti bisa hadapi mereka bersama!" ucap Ryu.
Akhirnya mereka saling berkelahi disana, Ryu tampak brutal dan ingin segera menghabisi prajurit-prajurit tersebut.
•
•
Tabib istana telah selesai mengobati luka di tubuh Xi Mei, terlihat gadis itu juga sudah mulai merasa lebih enak biarpun masih kesakitan.
Raja Ling yang turut berada disana, langsung menghampiri Xi Mei serta tabib istana untuk mengetahui kondisi gadis itu.
"Bagaimana kondisinya?" tanya raja Ling.
"Beliau sudah membaik, yang mulia. Hanya butuh istirahat beberapa waktu ke depan, agar luka-luka di dalam tubuhnya dapat sembuh benar." jawab tabib itu.
"Baiklah, terimakasih tabib! Kalau begitu, kau bisa pergi sekarang!" titah raja Ling.
"Baik yang mulia! Hamba permisi dulu," ucap tabib itu berbalik lalu pergi.
Setelah tabib tersebut pergi dari sana, raja Ling pun beralih menatap Xi Mei dan perlahan maju mendekatinya.
"Hey, kau masih tidak ingin bicara padaku dan beritahu namamu?" tanya raja Ling.
Xi Mei hanya memalingkan wajahnya, ia tidak sudi jika harus memberitahu namanya kepada raja itu apalagi menikah dengannya.
"Gadis cantik..."
Xi Mei dengan cepat menepis tangan raja Ling yang hendak menyentuh tubuhnya.
"JANGAN SENTUH AKU!" bentak Xi Mei.
"Kenapa? Sebentar lagi kita akan menikah, wajar kan kalau aku sentuh kamu. Lagipun, kamu sendiri yang memaksaku untuk menyentuhmu karena kamu hanya diam sedari tadi." kata raja Ling.
"Kamu gausah mimpi deh! Aku gak akan pernah mau nikah sama kamu! Sekarang lepaskan aku dari tempat ini, aku mau pergi!" geram Xi Mei.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja dari sini, sebelum kamu menikah denganku. Aku juga tak akan pernah mau melepaskan gadis secantik dirimu," ucap Ling seraya mengelus pipi Xi Mei.
"Jangan kurang ajar ya kamu! Sudah aku bilang tadi, jangan sentuh aku!" tegas Xi Mei.
"Baiklah, aku tidak akan menyentuh kamu lagi. Asalkan kamu mau memberitahu namamu padaku," ucap raja Ling tersenyum tipis.
"Namaku Zhao Xi Mei, puas kan?" jawab Xi Mei.
Sontak raja Ling makin terpesona dengan gadis itu setelah ia mengetahui siapa namanya.
"Wah nama yang cantik, secantik orangnya!" ucap raja Ling memuji gadis itu.
"Tidak usah memujiku!" ujar Xi Mei.
"Aku tetap ingin melakukan itu, karena aku akui kau memang cantik Xi Mei. Kamu sangat cocok menjadi selirku. Oh ya, berapa usiamu gadis cantik?" ucap raja Ling.
"Dua puluh tahun, kenapa? Kamu masih tetap ingin menikahi ku sekarang?" ucap Xi Mei.
"Tentu saja, aku sangat menyukai gadis muda sepertimu. Kita akan segera melangsungkan pernikahan kita dalam waktu singkat," ucap Ling.
Xi Mei menggeleng pelan, ingin sekali rasanya ia menghabisi raja tersebut jika saja saat ini ia tidak sedang terluka.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...