Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 93. Raja Ling kembali berulah


__ADS_3

Wein Lao membawa putri Xiu alias istrinya itu terbang mengelilingi hutan sekitar Quangzi.


Xiu terus memejamkan matanya dan mencengkeram erat tubuh suaminya karena tak ingin jatuh dari ketinggian.


"Lao, sudah Lao turunin aku! Kamu gak perlu pamerin ke seluruh penghuni hutan kalau aku ini istri kamu, cepat kamu turunin aku Lao! Nanti kalau aku jatuh ke bawa gimana??" ujar Xiu panik.


"Hahaha, takut banget sih kamu Xiu? Masa cuma dibawa terbang kayak gini aja kamu takut? Dasar cemen!" cibir Wein Lao.


"Ih bukan cemen, aku itu takut ketinggian tau. Lagian kamu kurang kerjaan banget pake bawa aku terbang kayak gini, biasanya juga enggak!" ucap Xiu.


"Hah? Takut ketinggian? Ohh, kalo gitu aku jatuhin aja kamu dari sini ya?" ujar Wein Lao.


"Ish, kamu gila ya?!" ucap Xiu ketakutan.


"Hahaha, makanya kamu jangan marah terus sama aku dong cantik! Coba kamu senyum gitu buat aku, jangan cemberut mulu!" goda Wein Lao.


"Aku udah gak marah sama kamu sayang, sekarang ayo turunin aku ah!" ucap Xiu.


"Aku gak percaya, soalnya kamu masih cemberut kayak gitu. Coba dong kamu senyum dulu, baru deh aku turunin kamu nanti!" pinta Wein Lao.


"Iya iya, nih aku senyum nih.." ujar Xiu mengalah.


Akhirnya Xiu tersenyum lebar dengan mata yang masih terpejam, membuat Wein Lao merasa gemas dan langsung mendarat di atas tebing yang cukup tinggi.


"Hah? Kamu berhenti? Kamu udah turun ke bawah kan Lao?" tanya Xiu kaget.


"Iya sayang, kamu bisa buka mata kamu sekarang!" jawab Wein Lao.


"Okay!" Xiu mengangguk singkat dan membuka matanya, namun ia langsung dibuat terkejut hebat saat mengetahui sekarang dirinya tengah berada di atas tebing yang tinggi dan curam.


"Hah? Ih sayang, ini mah sama aja masih tinggi tau! Kamu mah bener-bener ngeselin ya! Cepet turunin aku ke bawah, Lao!!" rengek Xiu.


"Hahaha, kamu gemesin banget sih!" goda Wein Lao.


"Ih gak lucu tau! Cepetan turunin aku Lao, aku takut ih!" cibir Xiu.


"Iya iya.." Wein Lao pun menurunkan tubuh Xiu dari gendongannya, tetapi wanita itu justru tak mau terlepas darinya.


"Kamu kenapa sih? Katanya minta diturunin, kok malah pegangan terus?" tanya Wein Lao heran.


"Ish, maksud aku kamu turunin aku ke bawah, bukan turunin disini." jelas Xiu.


"Ini kan di bawah juga sayang, gimana sih?" ujar Wein Lao terkekeh kecil.


"Maksud aku ke bawah sana Lao, bukan di atas tebing kayak gini." jawab Xiu.


"Iya Xiu cantik, tapi nanti aja ya? Soalnya aku masih mau ada di atas sini sambil peluk kamu kayak gini, gapapa kan?" ucap Wein Lao.


"Huh, ya ya ya terserah kamu aja deh! Tapi, jangan macam-macam loh kamu!" ujar Xiu.


"Macam-macam gimana sih sayang? Aku kan cuma mau peluk kamu, tenang aja!" ucap Wein Lao.


"Yaudah gapapa, tapi awas aja kalau kamu sengaja pengen jatuhin aku ke bawah sana! Aku tuh takut banget tau sama ketinggian," ucap Xiu.


"Hahaha, iya sayang iya.." ujar Wein Lao.


Wein Lao pun memutar tubuh Xiu sehingga kini ia dapat mengendus leher istrinya dari belakang.




Fey Chu baru saja selesai melakukan prosesi pemakaman jenazah gurunya.


Kini gadis itu kembali ke padepokan guru Tan untuk mengemas semua barang miliknya.


Fey memang memiliki niat untuk meninggalkan tempat itu setelah guru Tan tiada.


Ya Fey akan mulai mengembara dan mencari ilmu lebih banyak lagi di luar sana.


Saat tengah beberes, Fey tak sengaja menemukan foto guru Tan di tas miliknya.


"Terimakasih guru! Guru Tan adalah guru terbaik, aku beruntung dapat bertemu dengan guru sepertimu!" ucap Fey sambil tersenyum dan mengusap foto itu.


Ia pun memasukkan foto tersebut ke dalam tasnya untuk disimpan agar tidak hilang.


"Sekarang aku harus pergi untuk menimba ilmuku di lain tempat, maafkan aku guru karena aku tidak bisa berlama-lama menetap disini!" ucapnya.


"Aku janji akan terus mengenang tempat ini di dalam hatiku! Guru Tan, guru juga akan selalu ada di pikiranku!" ucap Fey meneteskan air mata.


Gadis itu cepat-cepat menghapus air matanya dan melangkah keluar dari tempat itu.


Disaat ia hendak pergi, seorang wanita dewasa tampak datang menghampirinya.


"Eh Fey, kamu mau kemana bawa barang-barang banyak kayak gini? Mau pergi dari sini?" tanya warga tersebut dengan penasaran.


"Ah iya Bu, aku ingin pergi dari sini. Guruku sekarang kan sudah tidak ada, jadi aku ingin menimba ilmu di tempat yang lain. Oh ya, aku minta maaf ya Bu kalau selama ini aku ada salah sama ibu baik disengaja maupun tidak!" ucap Fey.

__ADS_1


"Ah kamu gak perlu minta maaf segala! Kamu itu anak yang baik Fey, kamu selalu bantu ibu dan semua warga disini. Ibu sedih banget kamu mau pergi, tapi ibu cuma bisa doain semoga kamu sehat-sehat terus ya Fey!" ucap ibu itu.


"Aamiin Bu, makasih ya doanya!" ucap Fey.


"Sama-sama Fey, kalau ada waktu bisa dong kamu main lagi kesini buat ketemu ibu sama warga yang lainnya." ucap ibu itu.


"Kita lihat aja nanti Bu, semoga aku ada waktu buat main kesini! Jujur aku juga berat buat pergi dari sini, karena aku kan besar disini!" ucap Fey.


"Nah itu dia Fey, sejak kamu kecil itu kamu udah baik banget sama kita semua. Wajar aja sih, mungkin turunan dari orang tua kamu." ucap ibu itu.


"Ah ibu bisa aja, makasih atas pujiannya ya Bu!" ucap Fey merasa tersipu.


"Ahaha, itu memang benar Fey. Eh ya, kamu gak pamit dulu sama yang lain?" tanya ibu itu.


"Kayaknya enggak deh Bu, aku takut gak kuat. Titip salam aja ya Bu buat yang lain!" jawab Fey.


"Oh iya deh nak Fey, kalau gitu kamu hati-hati ya di jalan! Maaf banget nih ibu gak bisa bawain apa-apa buat kamu!" ucap ibu itu.


"Gapapa Bu, bantu doa aja itu udah bagus kok." ucap Fey sambil tersenyum.


"Siap kalau soal itu mah ibu pasti selalu doain kamu Fey!" ucap ibu itu.


Setelahnya, mereka berpelukan sejenak sebagai salam perpisahan sebelum akhirnya Fey pamit dan pergi meninggalkan kampung itu.




Alice tampak sangat kecewa setelah mengalami kekalahan dari Wein Lao.


Wanita itu terus mengamuk di istananya dan merusak berbagai barang yang ada disana.


Sementara Wingki hanya bisa diam memperhatikan kekesalan ratunya itu.


"Haaahhh!! Kenapa begitu susah untuk menyingkirkan putri Xiu yang menyebalkan itu?! Dari dulu hingga sekarang, aku selalu kesulitan menghabisi nyawa wanita sialan itu!" ujar Alice.


Lalu, Alice pun tampak melirik ke arah Wingki dengan tatapan tajam.


Wingki merasa ketakutan, ia khawatir Alice akan menyalahi nya lagi kali ini.


"Hey Wingki! Kenapa kamu diam saja disitu? Apa kamu tidak punya ide untuk kita habisi putri Xiu?" tanya Alice dengan tegas.


"Eee tidak ada ratu.." jawab Wingki gugup.


"Dasar payah! Kamu memang tidak bisa diandalkan dan selalu membuatku susah! Aaarrgghh dasar tidak berguna!" umpat Alice kesal.


"Maaf ratu! Tapi, untuk menghabisi nyawa putri Xiu ataupun pangeran Lao bukanlah suatu hal yang mudah. Kita tidak mungkin bisa melawan mereka dengan kekuatan kita yang sekarang," ujar Wingki.


"Kalau memang ratu merasa mampu, silahkan saja ratu buat rencana sendiri untuk bisa menghabisi mereka berdua! Aku sudah tidak yakin lagi bahwa kita bisa mengalahkan mereka, terbukti tadi kita dikalahkan sangat mudah oleh pangeran Lao." ucap Wingki pesimis.


"Kamu itu memang benar-benar payah Wingki! Dimana keberanian mu itu, ha? Masa baru segitu saja kamu sudah menyerah?" cibir Alice.


"Bukan menyerah ratu, aku hanya tidak ingin mencari masalah dengan mereka. Menyerang mereka itu sama saja kita menjemput ajal kita sendiri, aku tidak mau menyusul Terizla dan Xavier secepat ini ratu." ucap Wingki.


"Haish, dasar pengecut! Kalau begitu kamu keluar saja dari istana ini! Aku tidak memerlukan sosok pengecut seperti dirimu Wingki! Cepat pergi!!" bentak Alice sangat kesal.


"Baiklah ratu, jika itu yang ratu inginkan. Aku akan pergi sekarang juga, permisi!" ucap Wingki.


"Ya, sudah sana pergi!" ucap Alice.


Wingki pun melangkah pergi meninggalkan Alice bersama seorang prajurit lainnya di ruangan itu dengan perasaan jengkel.


Alice menggeram kesal disertai tangan yang sudah terkepal, tubuhnya terus bergetar menahan emosi yang hendak meletup-letup.


"Hey kau Elzan! Kau dengar kan yang aku ucapkan tadi?" ucap Alice.


"Ya ratu, aku dengar semuanya. Lantas ada apa ratu?" tanya prajurit bernama Elzan.


"Kamu sekarang kuangkat sebagai pengganti Wingki, jadi kamu harus bisa berikan ide-ide terbaikmu untukku!" jawab Alice.


"Baiklah ratu, aku akan usahakan yang terbaik untuk ratu!" ucap Elzan.


"Bagus! Tolong jangan kecewakan aku, Elzan! Aku tidak mau memiliki prajurit yang lemah dan pengecut seperti Wingki!" ucap Alice.


"Aku tidak begitu ratu, aku ini cerdas dan pemberani." ucap Elzan.


"Baguslah!" puji Alice.


Alice pun mulai membahas mengenai rencana yang harus mereka lakukan untuk bisa menghabisi Xiu dan juga keluarga Lao.




An Ming sudah berada di hutan bersama guru Yao dan juga Zheng.


Mereka berdua terus menyusuri hutan itu, sampai An Ming meminta berhenti.

__ADS_1


"Berhenti!" Zheng dan guru Yao terkejut saat tiba-tiba An Ming menghentikan langkahnya.


"Ada apa pangeran? Mengapa kau menyuruh kamu berhenti secara tiba-tiba begini?" tanya Zheng penasaran.


"Tidak ada apa-apa paman, kita sudah sampai. Aku hanya ingin mengajak paman dan guru kesini," jawab An Ming santai.


"Hah? Memangnya pangeran mau apa disini?" tanya Zheng terheran-heran.


"Aku cuma mau jalan-jalan paman, aku bosan di istana terus. Aku jadi keinget sama Daddy melulu, makanya aku ajak paman dan guru ke hutan ini supaya aku bisa lebih tenang." jelas An Ming.


"Oh begitu, yang sabar ya pangeran! Ditinggal ayah pasti sangat menyakitkan, tapi pangeran harus bisa sabar dan tabah!" ucap Lu Ching Yao.


"Iya guru," ucap An Ming singkat.


Zheng pun mendekati An Ming dan menaruh tangannya di kedua pundak pangeran kecil itu.


"Pangeran, kalo gitu aku tahu tempat yang paling bagus untuk menenangkan diri. Pangeran mau gak ikut aku kesana?" ucap Zheng.


"Dimana itu paman?" tanya An Ming penasaran.


"Ada di depan sana, pokoknya tempat itu cocok banget deh buat pangeran tenangin diri. Soalnya suasana disana tuh sejuk dan nyaman banget. Gimana pangeran, mau kan?" ujar Zheng.


"Boleh deh paman, aku penasaran sama tempatnya. Guru juga ikut ya!" ucap An Ming.


"Siap pangeran!" ucap Lu Ching Yao.


Mereka bertiga akhirnya sama-sama pergi menuju tempat yang dibicarakan Zheng.


An Ming tampak penasaran dan sudah tidak sabar ingin segera sampai disana.


"Pelan-pelan pangeran!" pinta Zheng.


"Ayo cepatlah paman! Aku ingin cepat-cepat sampai di tempat itu, aku penasaran sama tempat itu paman!" ucap An Ming.


"Iya pangeran, tapi kita pelan-pelan aja ya! Kasihan guru Yao kalau harus berlari cepat, nanti badannya bisa sakit-sakitan." ucap Zheng.


"Kenapa jadi bawa-bawa saya?" ujar Lu Ching Yao tak terima.


"Gapapa dong guru Yao, kan memang benar begitu." ucap Zheng sambil tersenyum renyah.




Disisi lain, raja Ling masih belum terima dengan kekalahannya atas Wein Lao beberapa waktu lalu.


Kini ia tengah menyiapkan pasukannya secara besar-besaran untuk dapat menyerang istana Quangzi dan membalas dendam.


Raja Ling juga sangat yakin bahwa pembunuh ayahnya adalah putri Xiu, walaupun wanita itu terus saja mengelak.


"Lapor raja Ling!" seorang prajurit muncul di hadapannya dan sedikit membungkuk.


"Ada apa?" tanya raja Ling dingin.


"Seluruh pasukan sudah siap, kita bisa berangkat saat ini juga yang mulia." jelas prajurit itu.


"Bagus! Bilang sama mereka, sebentar lagi kita akan berangkat menuju Quangzi!" ucap raja Ling.


"Siap raja Ling!" ucap prajurit itu.


Prajurit itu pun berbalik dan pergi dari istana untuk menemui para pasukan yang lain di luar sana.


Sementara raja Ling juga bangkit dari singgasananya bersiap untuk segera pergi.


"Awas kamu Xiu, aku pastikan kali ini kamu tidak akan selamat dariku!" geram raja Ling.


Setelahnya, raja Ling langsung melangkah pergi menemui pasukannya yang sudah bersiap di depan sana.


Tanpa menunggu lama, raja Ling pun memerintahkan pada seluruh prajurit disana untuk pergi menuju Quangzi.


"Ayo semuanya, kita berangkat sekarang!" teriak raja Ling dengan lantang.


"Siap yang mulia!" jawab seluruh prajurit serentak.


Mereka semua pun berangkat bersama-sama menuju istana Quangzi.


Namun, di tengah perjalanan mereka justru bertemu dengan Xiu serta Wein Lao.


"Hahaha, akhirnya kita bertemu lagi Xiu... sekarang kalian berdua tidak bisa lepas dariku, aku akan habisi kalian saat ini juga!" ucap raja Ling.


"Kamu lagi kamu lagi, mau apa sih kamu? Kenapa kamu belum berhenti juga sih jadi orang jahat? Gak ada kapok-kapok nya ya kamu!" ujar Wein Lao.


"Diam kamu! Ini urusanku dan putri Xiu, jadi kamu sebaiknya tidak usah ikut campur!" ucap raja Ling.


"Apapun yang menyangkut Xiu, itu menjadi urusan saya. Kalau kamu ingin macam-macam dengan dia, maka kamu harus berhadapan dulu dengan saya!" ucap Wein Lao.


"Baiklah, rasakan ini! Seraaaangg!!" teriak raja Ling.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2