
"Wah kamu memang luar biasa Xi Mei! Jadi, bagaimana keputusan mu kali ini?" ucap Xavier.
Zheng yang sebelumnya berdiam diri di bawah, kini kembali naik ke panggung bersama Ryu serta Chen yang mengikutinya.
Bahkan sang ratu pun turut menghampiri Xi Mei disana, walau tentu saja ia tidak akan membongkar identitas Xi Mei di depan sana.
"Xi Mei.." ucap Zheng berbisik di telinga gadis itu.
"Iya Zheng, ada apa?" tanya Xi Mei padanya.
"Kamu yakin mau terima semua ini? Menjadi prajurit istana bukan suatu hal yang mudah loh, itu bisa bikin kamu terkena masalah juga. Lebih baik kamu pikirkan dulu ini dengan matang!" ucap Zheng memperingati Xi Mei.
"Kamu kenapa Zheng? Apa kamu tertarik untuk menggantikan posisiku ini? Baiklah, aku akan berikan kok buat kamu. Lagipula, memang sudah seharusnya kamu yang memenangkan sayembara ini. Hanya saja kamu dicurangi oleh orang tadi," ucap Xi Mei dengan suara keras.
"Xi Mei, kamu ini apa-apaan sih? Kenapa kamu bicara keras sekali?" ujar Zheng terkejut.
"Ahaha, gapapa Zheng gausah malu. Aku yakin yang mulia juga mau mendengar ucapan kita berdua, tidak enak loh berbisik di hadapan banyak orang!" ucap Xi Mei.
Ryu yang turut berada disana, meminta Zheng untuk mundur sejenak karena ia ingin bicara dengan keponakannya itu.
"Xi Mei, paman mau bicara sama kamu." kata Ryu.
"Iya paman," ucap Xi Mei menurut.
Mereka pun melangkah agak jauh dari kerumunan, karena Ryu tidak mau sang raja mengetahui identitas Xi Mei yang sebenarnya.
"Ada apa paman?" tanya Xi Mei penasaran.
"Kamu seharusnya tidak melakukan ini, Xi Mei! Paman benar-benar khawatir dengan keselamatan kamu! Bagaimana kalau mereka tahu siapa kamu yang sebenarnya?" ujar Ryu.
"Maaf paman! Aku hanya tidak terima dengan perlakuan curang pendekar tadi," ucap Xi Mei.
"Iya Xi Mei, paman ngerti maksud kamu. Tapi, harusnya kamu jangan nekat begini Xi Mei! Ini sama saja membahayakan diri kamu sendiri!" ucap Ryu cukup emosi.
"Tenang saja paman, aku tidak akan ketahuan kok! Mereka semua tidak ada yang mengenaliku, kecuali mommy." ucap Xi Mei.
"Iya, sekarang mereka memang tidak mengenalimu. Bagaimana jika nanti kamu sudah menjadi bagian dari istana?" ucap Ryu.
"Aku gak mau terima itu paman, aku melakukan hal ini semata-mata hanya untuk keadilan. Aku akan menolak tawaran dari raja Xavier itu, paman tidak perlu panik ya!" ucap Xi Mei menggeleng.
"Baguslah, paman lebih suka itu!" ucap Ryu.
Xi Mei tersenyum, kemudian memeluk Ryu dengan erat hingga membuat pria itu terkejut.
"Aku sayang paman!" ucap Xi Mei.
"Eee sudahlah Xi Mei, sebaiknya kamu cepat tolak tawaran dari yang mulia! Agar kita bisa segera pergi dari sini dan selamatkan diri kamu!" ucap Ryu.
"Baik paman! Aku kembali kesana dulu ya? Paman tunggu saja disini, aku akan temui paman lagi nanti!" ucap Xi Mei melepas pelukannya.
"Iya," ucap Ryu mengangguk pelan.
Xi Mei pun kembali ke tempat Xavier serta yang lainnya berada.
"Bagaimana Xi Mei? Apa kamu sudah mendapatkan jawabannya?" tanya Xavier.
"Eee aku..." ucapan Xi Mei terjeda saat ia melihat sang ratu berada di dekatnya.
"Ratu? Salam hormatku!" ucapnya.
Ratu Lien tersenyum, lalu meminta Xi Mei untuk berdiri kembali.
"Sudah Xi Mei, kamu bisa berdiri sekarang!" ucap ratu Lien.
"Terimakasih ratu!" ucap Xi Mei tersenyum.
"Oh Tuhan! Rasanya begitu bahagia karena aku dapat melihat mommy dari jarak sedekat ini, tapi aku masih heran mengapa mommy mau menikah dengan lelaki yang sudah membunuh Daddy?" gumam Xi Mei dalam hati.
Xavier beralih menatap sang ratu, lalu menggeser posisinya agar ratu Lien bisa lebih dekat dengannya.
"Oh ya yang mulia, saya sudah temukan jawabannya." kata Xi Mei melanjutkan ucapannya.
"Apa itu Xi Mei?" tanya Xavier penuh harap.
"Sebelumnya mohon maaf yang mulia, aku tidak bisa menerima tawaran mu itu! Karena sebetulnya niatku bukan untuk itu, aku hanya ingin membuktikan bahwa pendekar Bowen melakukan kecurangan. Dan aku rasa yang berhak menerima hadiah darimu, itu adalah pendekar Zheng. Dialah pemenang sesungguhnya pada sayembara ini!" jawab Xi Mei.
Xavier terkejut dan beralih menatap Zheng disana, sedangkan Zheng sendiri menundukkan kepalanya merasa tidak enak dengan kata-kata Xi Mei.
"Tidak Xi Mei, jangan bicara begitu! Kamulah yang pantas menerima hadiah itu, karena yang mulia menawarkan itu kepadamu bukan kepadaku." ucap Zheng.
"Yang dikatakan Xi Mei itu benar, dari sekian banyak peserta hanya kau yang mampu bertahan melawan kecurangan Bowen. Jadi, aku rasa kamu pantas menjadi pemenangnya!" ucap ratu Lien.
__ADS_1
"Tapi Lien, aku ingin Xi Mei yang menjadi bagian dari istana!" bisik Xavier.
"Tidak ada salahnya jika kita memberikan hadiah itu kepada Zheng, lagipun dialah yang sudah mengikuti sayembara ini. Sedangkan Xi Mei baru datang disaat-saat terakhir perlombaan, jadi benar kalau Zheng adalah pemenangnya!" ucap ratu Lien.
"Baiklah, aku ikuti saranmu." kata Xavier.
Mereka semua kompak tersenyum, Xi Mei turut merasa senang karena ia bisa membuat Zheng masuk ke istana dan mengabdi disana.
•
•
Singkat cerita, Xi Mei beserta paman dan bibinya kini telah berjalan pulang ke rumah mengingat sayembara sudah selesai dan pemenangnya telah berhasil ditemukan.
Luan dan Ryu tampak bangga dengan apa yang dilakukan Xi Mei tadi, mereka tak menyangka jika Xi Mei dapat melakukan itu dan berhasil membuat pendekar Bowen melarikan diri.
"Kau sungguh luar biasa Xi Mei, paman benar-benar kagum denganmu!" puji Ryu.
"Iya Xi Mei, bibik pun merasakan hal yang sama." sahut Luan.
"Ah paman dan bibik ini terlalu berlebihan, aku biasa saja kok. Aku hanya tidak terima dengan kecurangan," ucap Xi Mei tersipu.
"Kamu memang pandai dalam memanah sayang!" ucap Luan merangkul gadis itu.
"Tapi Xi Mei, kamu sepertinya harus berhati-hati! Bisa saja pendekar Bowen tadi tidak terima dengan apa yang sudah kamu lakukan, mungkin dia bakal balas dendam ke kamu." ucap Chen.
"Benar juga yang dibilang kamu Chen, kita harus lebih waspada dan melindungi Xi Mei dari serangan orang-orang jahat!" ujar Ryu.
"Tenang aja Chen, paman, bibik! Aku bisa jaga diri aku kok, lagian kalaupun pendekar itu mau serang aku ya tinggal aku serang balik kayak tadi!" ucap Xi Mei sambil tersenyum.
"Ahaha, kamu emang hebat cantik!" puji Luan.
"Begitulah bik, sekarang kan aku udah bisa kendalikan kekuatan aku." kata Xi Mei.
"Bagus Xi Mei!" ucap Ryu memujinya.
"Iya, tapi tetap saja kamu harus hati-hati dan jangan meremehkan lawan-lawan kamu itu!" ucap Luan mengingatkan Xi Mei.
"Baik bik!" ucap Xi Mei menurut.
"Oh ya Xi Mei, berarti sekarang kamu lagi sedih dong ya?" ujar Chen.
"Ya kan mulai sekarang Zheng bakal tinggal di istana, udah gak ada lagi deh yang temenin kamu ke hutan atau latihan Wushu." jawab Chen.
"Ih apa sih kak?! Aku justru senang kalau Zheng bisa mengabdi ke istana, jadi nanti begitu aku kembali kesana aku bisa bareng-bareng sama Zheng deh disana!" ucap Xi Mei.
"Loh, emang kamu udah pasti bakal balik ke istana?" tanya Chen.
"Ya jelas dong kak! Aku akan perjuangkan yang menjadi hak ku, istana itu kan punya Daddy aku. Aku juga bakal usir semua orang yang gak berhak ada disana, dan aku gantikan sama kalian semua!" jawab Xi Mei tersenyum.
"Yasudah Xi Mei, semoga apa yang kamu bicarakan itu jadi kenyataan ya! Bibik selalu dukung apapun keputusan kamu!" ucap Luan.
"Iya bik, aku tinggal cari waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan ke istana." kata Xi Mei.
"Kalau kamu butuh bantuan paman, bilang aja ya sayang! Paman pasti siap untuk membantu kamu, apapun itu!" ucap Ryu.
"Iya paman, makasih!" ucap Xi Mei.
Mereka berpelukan disana, tanpa sadar bahwa ada orang yang tengah memperhatikan mereka dari jauh.
Ya terdapat dua orang yang tak lain ialah Terizla dengan Alice, mereka tampak mengamati Xi Mei dari balik semak-semak di dekat sana.
"Sialan! Rupanya gadis itu bukan gadis sembarangan, dia punya hubungan dengan keluarga istana. Tapi, siapa dia sebenarnya?" ujar Terizla keheranan.
"Dari yang aku tangkap, bisa jadi kalau Xi Mei itu adalah putri Xiu yang lama hilang, Terizla." ucap Alice.
"Apa??" Terizla terkejut mendengarnya.
•
•
"Zheng, selamat ya karena kamu sekarang sudah menjadi pimpinan prajurit memanah di istana!" ucap ratu Lien sambil tersenyum.
"Terimakasih ratu! Hamba benar-benar merasa terhormat dapat menerima ini semua, menjadi bagian dari istana dan mengabdi untuk istana adalah sebuah impian hamba dari kecil!" ucap Zheng tampak senang.
"Baguslah Zheng, semoga kamu dapat melaksanakan tugas dengan baik!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu! Kalau begitu, saya mohon izin pamit dulu ratu! Sekali lagi terimakasih atas kehormatan ini, saya berjanji akan mengabdi sebaik mungkin kepada istana Quangzi ini!" ucap Zheng.
"Iya Zheng, silahkan!" ucap ratu Lien tersenyum.
__ADS_1
"Yang mulia, hamba permisi!" ucap Zheng.
Xavier mengangguk saja tanpa ekspresi, membuat ratu Lien menatapnya dengan tajam seperti tidak suka.
Setelahnya, Zheng pun pergi dari sana dan kembali ke halaman istana menemui para pemanah istana yang sedang berlatih.
Sementara ratu Lien tampak ingin menegur Xavier atas sikapnya barusan, ia tak suka jika Xavier bersikap seperti itu pada Zheng.
"Yang mulia, kenapa engkau begitu dingin kepada Zheng?" tanya ratu Lien heran
"Apa salahku Lien? Sikap seorang raja itu kan harus tegas dan tidak boleh lembek, nantinya yang ada aku malah dianggap tidak benar!" jawab Xavier.
"Tapi, gak gitu juga dong yang mulia!" ucap Lien.
"Yasudah, maafkan aku ya Lien! Aku hanya tidak suka pria itu yang menjadi ketua prajurit disini, karena aku lebih menginginkan Xi Mei. Aku juga heran mengapa Xi Mei menolak tawaranku!" ucap Xavier kebingungan.
"Mungkin saja dia tidak tertarik untuk menjadi prajurit di istana ini, kita tidak bisa memaksanya." kata ratu Lien.
"Iya sih, tapi aku sangat menyukai kemampuan memanahnya itu!" ucap Xavier.
"Kamu suka dengan kemampuan dia atau kau menyukai dirinya? Ingat yang mulia, kamu akan bersaing dengan putramu sendiri jika kamu menyukai Xi Mei!" ucap ratu Lien.
"Kamu bicara apa sih? Kamu cemburu ya sama Xi Mei?" goda Xavier.
"Aku? Cemburu? Buat apa??" elak ratu Lien.
"Ah gak mau ngaku, padahal aku tahu kalau kamu cemburu. Sudahlah sayang, kamu gak perlu cemburu begitu! Aku hanya suka dengan pendekar seperti Xi Mei, karena kalau istana memiliki prajurit seperti dia maka istana ini bisa semakin aman sayang!" ucap Xavier.
"Iya, tapi bila kau tahu siapa Xi Mei yang sebenarnya pasti kau tidak akan mau menjadikan dia prajurit disini lagi!" batin ratu Lien.
"Kamu masih marah sayang?" tanya Xavier pada ratu Lien di sampingnya.
"Tidak kok, aku hanya ingin kamu bersikap baik pada Zheng. Kamu jangan bikin Zheng tidak betah di istana ini!" pinta ratu Lien.
"Tenang saja sayang, aku akan berusaha bersikap baik sama dia! Asalkan dia bisa memuaskan aku dengan kemampuan memanahnya itu, aku tidak mau saja jika Zheng justru gagal untuk memperkuat pasukan istana!" ucap Xavier.
"Baiklah, kita lihat saja nanti!" ucap ratu Lien.
Tak lama kemudian, An Ming putra mereka tiba disana dan menghampiri kedua orangtuanya.
An Ming memberi hormat pada sang raja dan ratu, lalu naik ke atas mendekati mereka.
"Mom, dad, aku mau bicara." kata An Ming.
"Bicaralah putraku!" ucap ratu Lien tersenyum.
"Kenapa mom dan Daddy tidak memaksa Xi Mei buat menetap disini? Padahal aku sudah sangat berharap akan hal itu," tanya An Ming.
"Hah? Kamu kenapa masih saja membahas itu putraku? Mommy kan sudah bilang, kamu belum boleh menikah! Usia kamu masih terlalu kecil, jadi fokuslah pada pendidikan mu!" tegas ratu Lien.
"Aku tahu mom, aku kan hanya ingin berlatih memanah dengannya." elak An Ming.
"Kamu pikir mommy tidak tahu maksud kamu yang sebenarnya? Sudahlah An Ming, kamu kan bisa berlatih dengan paman Zheng!" ucap ratu Lien.
"Tidak mom, aku tidak mau." tolak An Ming.
"Loh, kenapa?" tanya ratu Lien heran.
"Paman Zheng itu tidak sehebat Xi Mei, kemampuan mereka berbeda jauh." jawab An Ming.
Ratu Lien menggelengkan kepalanya.
"Benar juga yang dibilang An Ming, memang Zheng tak memiliki kemampuan memanah sehebat Xi Mei. Tuh kan Lien sayang, harusnya kamu jangan langsung terima Zheng buat jadi punggawa istana!" ucap Xavier.
"Yang mulia, kenapa kamu malah jadi nyesel kayak gitu? Kita gak bisa menilai Zheng terlalu dini, kan dia belum teruji. Lagipun, selain Xi Mei memang hanya Zheng yang pantas berada disini." ucap ratu Lien masih membela Zheng.
"Baiklah, aku tidak akan pernah menang berdebat denganmu sayangku. Jadi, untuk urusan kali ini semuanya aku serahkan ke kamu. Aku yakin kamu lebih tahu tentang ini!" ucap Xavier.
"Itu lebih bagus, kalau begitu An Ming kamu sekarang pergi temui paman Zheng dan minta untuk berlatih dengannya!" ujar ratu Lien.
"Tapi mom—"
"Tidak ada tapi tapi!" potong ratu Lien tegas.
"Baik mom!" ucap An Ming menurut.
An Ming pun berjalan pergi dari sana sesuai perintah ibunya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1