
An Ming bersama Wingki dan beberapa prajurit tiba di sebuah hutan yang agak jauh dari istana berada, mereka akan berburu disana sesuai keinginan An Ming yang memang hobi berburu.
"Paman, kita sampai disini aja ya. Kayaknya ini udah lumayan dalam, pasti banyak rusa di sekitar sini." kata An Ming.
"Baiklah pangeran! Ayo semua kita berhenti disini dan lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, kita akan berburu untuk makan malam hari ini!" ucap Wingki dengan nada lantang.
Mereka semua berhenti dan turun dari kuda yang mereka tunggangi, memarkir kuda tersebut disana dengan cara mengikatnya pada pohon lalu mulai mengambil senjata berupa busur panah agar bisa mudah berburu.
An Ming jalan lebih dulu bersama Wingki di sampingnya, pria kecil itu memang sangat menyukai kegiatan ini sejak dulu.
"Pangeran, kenapa pangeran suka banget berburu?" tanya Wingki heran.
"Entahlah paman, tapi aku udah suka memanah sejak kecil. Sewaktu prajurit-prajurit itu belajar memanah di istana, aku kan juga sering ngintip paman." jawab An Ming.
"Hahaha... baiklah, kalo gitu hari ini paman minta kamu buat bisa tangkap satu buruan. Kira-kira kamu bisa gak?" ucap Wingki.
"Ohh paman tantang aku? Itu mah kecil paman. Jangankan satu, sepuluh juga bisa!" ujar An Ming penuh percaya diri.
"Siap den pangeran!" ucap Wingki.
Tiba-tiba saja sebuah burung muncul dan bertengger di atas pohon yang tidak begitu tinggi.
"Nah pangeran, itu ada burung disana. Ayo coba pangeran arahin panahnya kesana, terus tangkap burung itu! Kalau pangeran berhasil, baru deh paman kasih applause buat pangeran." ucap Wingki.
"Oke paman, siapa takut!" ujar An Ming.
Wingki tersenyum, membiarkan An Ming bergerak maju dan bersiap menarik busur panahnya ke arah burung tersebut.
Slaasshh...
Satu anak panah dilepaskan oleh An Ming, melesat dengan cepat dan tepat mengenai jantung burung itu hingga terjatuh.
"Aku berhasil paman! Paman lihat sendiri kan?" ucap An Ming bergembira.
"Iya pangeran, kamu memang hebat! Yasudah, coba kamu cek burungnya kesana! Terus kamu bawa burung itu kesini!" ucap Wingki.
"Oke paman!" ucap An Ming menurut.
An Ming dengan busur panahnya mulai berlari cepat ke arah jatuhnya burung tadi, untuk mengambil burung tersebut sesuai dengan perintah dari Wingki.
Sementara Wingki tetap disana menunggu An Ming kembali sembari bersandar pada pohon.
"Maaf tuan! Apa baik-baik saja kalau pangeran pergi seorang diri ke dalam hutan itu?" tanya seorang prajurit mencemaskan An Ming.
__ADS_1
"Biarkan saja." jawab Wingki santai.
Wingki tersenyum smirk dengan kedua tangan ia lipat di depan.
"Hahaha... semoga saja anak itu bertemu dengan binatang buas disana, supaya dia terluka atau mati sekalian! Anak dari Xavier dan Lien tidak pantas disebut seorang pangeran, karena hanya anak raja Terizla dan ratu Alice lah yang pantas!" batinnya.
•
•
Sementara itu, Xi Mei dan Zheng juga baru sampai di hutan yang sama untuk berburu sekaligus melatih kemampuan memanah mereka disana.
Xi Mei turun dari kudanya, begitupula dengan Zheng yang dipinjamkan kuda oleh Ryu tadi karena ia tak memiliki kendaraan.
"Zheng, siap buat berburu banyak hewan disini?" tanya Xi Mei pada Zheng sambil tersenyum.
"Siap dong! Kamu sendiri gimana Xi Mei?" jawab Zheng penuh semangat.
"Aku pun sama, aku lebih dari siap karena aku emang udah lama banget gak memanah! Kali ini aku bakal tangkap banyak hewan supaya bisa buktiin ke paman kalau aku jago panahan!" ucap Xi Mei sama semangatnya.
"Yasudah, ayo kita masuk! Aku juga yakin kamu pasti bisa dapat banyak hewan buruan, kamu itu kan jago banget manahnya. Walau aku gak tahu berapa banyaknya," ucap Zheng tersenyum.
"Gimana kalau kita taruhan? Yang paling banyak dapat hewan buruan dia yang menang?" tanya Xi Mei hendak membuat taruhan.
"Umm... yang kalah harus traktir makan yang menang. Gimana? Setuju gak?" usul Xi Mei.
"Setuju deh! Tapi, kamu gak takut kalah apa? Aku ini kan jago banget loh. Jangankan hewan, hati kamu aja bisa kecantol di panah aku." kata Zheng memberi gombalannya pada Xi Mei.
"Eee buat apa takut? Aku kan lebih jago dari kamu, lihat aja nanti siapa yang menang kali ini!" ucap Xi Mei tersenyum menantang Zheng.
Gadis itu melangkah lebih dulu memasuki hutan yang lebat tersebut, sedangkan Zheng sempat terkekeh sejenak sebelum akhirnya ikut menyusul Xi Mei masuk ke hutan sana.
•
•
"Aduh! Ini burungnya kemana ya..??" An Ming terlihat kebingungan mencari dimana burung yang tadi berhasil ia panah, karena burung itu seperti hilang ditelan bumi.
An Ming terus mencari dan mencari, tanpa sadar kalau ia sudah memasuki kawasan hutan lebih dalam lagi dan jauh dari Wingki.
Sampai pada akhirnya, An Ming berhasil menemukan burung buruannya itu tengah terkapar di tepi jurang depan matanya.
"Nah itu dia!" ujarnya bahagia.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, An Ming berlari menuju ke arah burung tersebut dan langsung mengambilnya.
"Hahaha... aku berhasil dapetin kamu! Sekarang kamu udah jadi milik aku burung," ucap An Ming.
Disaat An Ming hendak kembali, ia baru sadar kalau dirinya sudah terlalu jauh dari tempat Wingki berada.
An Ming pun kebingungan dan coba mencari dimana Wingki dengan cara celingak-celinguk.
"Loh, paman dimana ya? Aku kok bisa sampai kesini?" ujarnya bingung.
"Paman! Paman Wingki...!! Prajurit!" An Ming terus berteriak dan juga berusaha untuk menemukan keberadaan Wingki serta para prajurit.
Namun, An Ming tidak tahu ia harus melalui jalan yang mana karena dirinya lupa jalan mana yang tadi ia lalui untuk menuju kesana.
"Duh, ini gimana dong?" ujarnya panik.
Bruuukkk...
Tanpa disengaja, An Ming justru tersandung sebuah akar pohon yang besar hingga ia tersungkur ke tanah dan mengalami luka kecil di kakinya.
"Awhh sakit!" pekik An Ming merasa kesakitan, ia memegangi kakinya dan merintih keras.
"Hiks hiks... mommy sakit..!!" An Ming mulai menangis sesenggukan merasakan sakit sekaligus ketakutan karena kesasar di hutan itu.
❤️
Para prajurit yang bersama Wingki mulai cemas karena An Ming tak kunjung kembali.
"Maaf tuan! Tapi, pangeran belum juga kembali dari mengambil hasil buruannya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan pangeran di hutan sana?" ujar salah seorang prajurit.
"Tenanglah! Pangeran An Ming itu anak yang kuat dan pemberani, dia tidak mungkin kenapa-napa!" jawab Wingki santai.
"Tapi tuan—"
"Sudahlah cukup! Kalian tidak perlu cemaskan dia! Kalau saya bilang dia akan baik-baik saja, itu artinya dia tidak akan kenapa-napa!" potong Wingki.
"Baik tuan!" ucap prajurit itu menurut dan kembali ke barisannya.
Wingki menatap ke depan coba menyusuri area hutan tersebut dengan matanya.
"Apa yang terjadi sama anak itu? Apa dia sudah bertemu dengan ular, atau hewan buas mengerikan lainnya disana? Hahaha.." batinnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...