Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 66. Ratu datang


__ADS_3

"Kalo gitu aku boleh minta lagi gak?" tanya Zheng.


"Hah??" Xi Mei menganga lebar akibat terkejut dengan perkataan Zheng.


"Eh enggak enggak, aku bercanda kok." ucap Zheng.


"Ohh," ucap Xi Mei singkat.


Tak lama kemudian, Wein Lao muncul disana dan mendekati keduanya dengan wajah serius.


"Xi Mei!" ucap Wein Lao memanggil gadis itu.


Sontak Xi Mei serta Zheng langsung berdiri begitu melihat Wein Lao datang, mereka sama-sama menatap Wein Lao dengan wajah bingung karena pria itu datang secara tiba-tiba.


"Ada apa Lao? Kenapa kamu ngos-ngosan begitu?" tanya Xi Mei penasaran.


"Eee iya Mei, aku tadi lari kesininya. Soalnya aku harus cepat kasih tahu ini ke kamu!" jawab Wein Lao.


"Hah? Kasih tahu apa?" tanya Xi Mei.


"Itu, di depan ada ratu Lien datang. Dia minta buat ketemu sama kamu," jawab Wein Lao.


"Apa??" ucap Xi Mei terkejut bukan main.


"Kamu serius Lao? Gak lagi bercanda atau bohongin aku kan?" tanya Xi Mei tak percaya.


"Serius lah Xi Mei! Ratu Lien udah ada di depan, beliau lagi ditemani paman kamu dan juga guru Felix. Kamu sebaiknya langsung ke depan aja dan temui ratu Lien!" jawab Wein Lao.


"Iya, udah pasti aku bakal temuin ratu! Makasih ya atas infonya, Lao! Kalo gitu aku mau ke depan dulu sekarang," ucap Xi Mei tampak bersemangat.


"Eh eh, terus aku gimana?" tanya Zheng.


"Ya terserah kamu lah Zheng! Kamu mau ikut aku ke depan temuin ratu boleh, mau tetap disini juga gapapa." jawab Xi Mei.


"Eee aku ikut kamu aja deh, gapapa kan?" ujar Zheng.


"Iya, gapapa kok. Pasti ratu juga senang ketemu sama kamu, kan ratu yang tugasin kamu buat kesini." ucap Xi Mei.


"Iya sih, semoga aja deh aku enggak diusir atau dimarahin sama ratu nanti!" ucap Zheng.


"Ya enggak lah, ngapain juga ratu marah sama kamu?" ucap Xi Mei tersenyum lebar.


"Yaudah, ayo kita pergi sekarang!" ucap Xi Mei yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Zheng.


Xi Mei pun bergerak lebih dulu, barulah disusul oleh Zheng dan juga Wein Lao di belakangnya yang sudah seperti para penjaga tuan putri.


Sepanjang perjalanan, Wein Lao terus menatap ke arah Zheng dengan tatapan sinis, entah mengapa dirinya seperti tak suka melihat kedekatan antara Xi Mei dan pria itu.


Merasa dirinya tengah diamati, Zheng langsung merespon dengan menoleh ke arah Wein Lao. Namun, Wein Lao berhasil membuang muka begitu Zheng menatap wajahnya.


"Duh, saya ini apa-apaan sih? Kenapa saya harus punya perasaan kayak gitu? Harusnya saya bisa paham, saya ini bukan siapa-siapa putri!" batin Wein Lao.




Sementara itu, benar saja bahwa sang ratu memang sudah berada di perguruan elang putih ditemani oleh Mungyi selaku kusir pribadinya.


Tak hanya Mungyi, kini ratu Lien juga tengah bersama Ryu serta Felix selaku tuan rumah disana yang sudah menyiapkan jamuan untuk ratu.


"Ratu, kenapa ratu tidak beritahu kami dulu kalau ratu ingin berkunjung ke tempat ini? Jika kami tahu, pasti kami akan persiapkan acara penyambutan dan berbagai persediaan mewah untuk ratu." ucap Felix.


"Kamu tidak perlu melakukan itu, aku juga tak butuh disambut seperti itu. Niatku kesini hanya ingin menemui putriku, aku sudah rindu sekali dengannya." ucap ratu Lien.


Felix mengangguk-angguk kecil sembari menoleh ke arah Ryu yang langsung menaikkan alisnya.


"Oh ya, dimana putriku saat ini? Aku sudah tidak sabar ingin menemuinya, dia baik-baik saja kan selama disini?" tanya ratu Lien cemas.


"Tenang saja ratu! Putri Xiu aman kok di tempat ini, dia juga belajar banyak hal dari Felix dan berhasil menambah wawasannya." jawab Ryu.


"Iya ratu, benar yang dikatakan Ryu! Putri Xiu itu gadis yang pintar dan penurut, saya senang dapat memiliki murid seperti dirinya!" sahut Felix.


"Oh syukurlah! Aku kira Xiu membuat masalah disini, tapi ternyata tidak." ucap ratu Lien lega.


"Tentu saja itu tak mungkin terjadi, ratu. Putri Xiu kan gadis yang baik, ratu tidak perlu khawatir soal itu! Saya bisa pastikan, putri Xiu sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas." kata Ryu.


"Aku bahagia mendengarnya, terimakasih ya Ryu dan Felix karena kalian sudah mau mengajari banyak hal pada putriku!" ucap ratu Lien.


"Sama-sama, ratu." ucap dua pria itu bersamaan.


"Lalu, dimana putriku sekarang? Dia tidak kelihatan daritadi, apa dia masih tertidur?" tanya ratu Lien sambil celingak-celinguk.

__ADS_1


"Sabar lah ratu, mungkin sebentar lagi tuan putri akan datang! Saya tadi sudah perintahkan pangeran Wein Lao untuk memanggil putri Xiu," jawab Ryu.


"Pangeran Wein Lao? Siapa itu?" tanya ratu Lien sambil menyipitkan matanya.


"Dia pangeran serigala dari wilayah parabuan, aku yakin ratu pasti mengenalinya." jawab Ryu.


"Hah? Pangeran serigala ada disini juga? Apa dia ikut berlatih disini dan menjadi muridmu, Felix?" tanya ratu Lien terkejut.


"Eee tidak ratu, tapi pangeran Lao datang kesini untuk membantu menjaga tuan putri. Beliau mengatakan, akan selalu setia untuk melindungi keluarga kerajaan Quangzi." jawab Felix.


"Ya, begitulah ratu." sahut Ryu.


"Aku sungguh tak menyangka, ternyata pangeran Lao benar-benar meneruskan sumpah dan janji ayahnya dahulu." ucap ratu Lien.


"Iya ratu, kalau begitu silahkan dinikmati hidangan yang sudah kami siapkan! Kau juga Mungyi, nikmatilah!" ucap Ryu.


"Ah iya, terimakasih!" ucap ratu Lien tersenyum.


Akhirnya ratu Lien dan Mungyi sama-sama menikmati hidangan disana.


Namun, tiba-tiba saja suara seorang wanita muncul memanggil sang ratu.


"Ratu!"


Sontak ratu Lien langsung menoleh ke asal suara, ia tersenyum lebar begitu melihat sosok gadis yang tak lain ialah Xi Mei alias putri Xiu.


"Xiu? Akhirnya aku bisa melihat kamu lagi secara langsung!" ucap ratu Lien terharu.




Xi Mei, Zheng, dan juga Wein Lao kompak tersenyum ke arah sang ratu seraya melangkah mendekati ratu Lien disana.


Gadis itu memang berjalan lebih dulu dan lebih cepat dibanding kedua temannya, tentu karena ia sudah sangat rindu dengan ibunya.


Kejadian itu pun membuat Zheng bingung, ia tak mengerti mengapa Xi Mei tampak antusias sekali ingin bertemu dengan sang ratu.


"Lao, itu Xi Mei kenapa ya? Dia kok kelihatannya girang banget pengen ketemu ratu?" tanya Zheng.


"Kamu nanti tanyakan saja pada Xi Mei atau ratu langsing, jangan ke saya!" jawab Wein Lao.


"Yasudah, sebaiknya kamu diam dan perhatikan saja!" ucap Wein Lao.


"Iya iya.." kata Zheng menurut.


Kedua pria itu pun berhenti melangkah, mereka berdiam menyaksikan momen pertemuan antara ibu dan buah hatinya disana.


"Mommy, aku kangen banget sama mommy! Aku boleh kan peluk mommy?" ucap Xi Mei yang kini telah tiba di depan ibunya, ia menangis seraya mengangkat dua tangannya.


"Tentu sayang, kamu boleh peluk mommy sepuasnya. Justru mommy datang kesini, karena mommy juga rindu sama kamu. Mommy pengen dipeluk sama kamu lagi," ucap ratu Lien.


Xi Mei menghapus air matanya, kemudian bergerak maju dan memeluk sang ratu.


"Mommy!" ucap Xi Mei sedikit keras.


Tentunya teriakan Xi Mei itu membuat Zheng makin terheran-heran, ia tak mengerti apa maksud Xi Mei memanggil ratu dengan sebutan mommy.


"Ini ada apa sih? Kok Xi Mei panggil ratu mommy sih? Saya makin bingung deh," gumam Zheng.


"Sudahlah Zheng, sesuai yang tadi saya bilang sebaiknya kamu diam saja dan jangan banyak mikir!" ujar Wein Lao.


"Iya, tapi ini masalahnya aneh banget loh. Masa seorang Xi Mei panggil ratu Lien dengan dengan mommy? Apa emang Xi Mei itu anaknya ratu Lien?" ujar Zheng heran.


"Kamu jangan ambil spekulasi sendiri! Nanti kamu kan bisa tanya langsung ke Xi Mei, untuk sekarang kamu diam dulu!" ucap Wein Lao.


"Hadeh, kenapa kamu bisa santai begini sih? Apa kamu udah tahu semuanya? Kalau emang iya, ayo dong kasih tahu ke saya juga!" ujar Zheng.


"Enggak, saya gak tahu apa-apa." elak Wein Lao.


"Jangan bohong deh kamu! Pasti kamu tahu sesuatu kan? Buktinya kamu daritadi santai aja, udah buruan kasih tahu deh ke saya!" ujar Zheng.


"Kamu ini kenapa sih? Jangan bicara yang enggak-enggak deh!" ucap Wein Lao.


Zheng terdiam dan tidak lagi memaksa Wein Lao untuk bicara, namun tetap saja pikirannya masih belum bisa tenang.


"Siapa Xi Mei sebenarnya?" batin Zheng.



__ADS_1


Hari sudah petang, Xi Mei dan sang ratu kini berbincang berdua di sebuah gazebo yang terletak di perguruan tersebut.


Xi Mei pun tampak bahagia karena ia dapat berdekatan lagi dengan ibunya setelah sekian lama tanpa ada gangguan apapun itu.


Saat ini Xi Mei berbaring di atas paha sang ratu, ia amat menikmati posisi ini terlebih saat wajahnya diusap lembut oleh sang bunda.


"Mom, aku senang deh bisa kayak gini lagi sama mommy!" ucap Xi Mei sedikit mendongak.


"Sama sayang, mommy juga senang karena bisa kumpul bareng kamu disini. Semoga setelah ini, kita berdua bisa terus kayak gini ya sayang!" ucap ratu Lien sambil tersenyum lebar.


"Aamiin!" ucap Xi Mei mengaminkan.


"Eh ya, tapi sebenarnya aku masih bingung deh. Kok mommy tiba-tiba datang kesini sih? Emangnya mommy gak dicariin sama Xavier?" tanya Xi Mei.


"Kalau itu sih mommy kurang tahu, tapi mommy gak perduli juga sama dia. Mau dia nyariin mommy atau enggak, ya biarin aja terserah dia. Yang penting mommy bisa ketemu sama kamu!" jawab ratu Lien.


"Berarti mommy kesini cuma karena kangen sama aku kan? Gak ada masalah yang gawat atau apa gitu?" tanya Xi Mei masih merasa belum puas dengan jawaban ibunya.


"Iya sayang, cuma itu kok. Emang kamu pikir ada masalah apa sih sayang?" ujar ratu Lien.


"Ya enggak tahu sih, tapi semalam aku abis mimpi buruk mom." ucap Xi Mei.


"Hah? Mimpi apa sayang?" tanya ratu Lien.


"Iya mom, jadi aku mimpi kalau aku itu ditangkap dan ditahan sama Xavier. Makanya aku langsung mikir yang enggak-enggak sewaktu mommy datang kesini," jelas Xi Mei.


Ratu Lien terdiam sesaat, ia heran bagaimana bisa Xi Mei bermimpi seperti itu.


"Apa itu merupakan pertanda bagi Xi Mei, kalau dia akan segera tertangkap?" batin ratu Lien.


Melihat ibunya tiba-tiba diam, Xi Mei pun bangkit dan duduk di hadapan sang ratu sambil menatap wajahnya penuh heran.


"Mom, mommy kenapa?" tanya Xi Mei bingung.


"Eh sayang, kok kamu bangun sih? Udah, ayo kamu tiduran lagi!" ujar ratu Lien.


"Tapi mom, mommy itu kenapa tiba-tiba diam? Ada yang salah ya sama cerita aku?" tanya Xi Mei.


"Enggak dong sayang, mommy tadi kepikiran aja sama mimpi kamu. Mommy takut itu bisa jadi sebuah kenyataan nantinya," jawab ratu Lien.


"Ohh, kalo gitu sama dong kayak aku mom. Aku juga takut itu benar-benar kejadian," ucap Xi Mei.


Ratu Lien mendadak merasa sedih, ia pun langsung memeluk putrinya dengan erat dan menangis selama beberapa saat.




"Hah? Apa??" Zheng berteriak heboh dan terkejut hebat setelah mendengar penjelasan dari Ryu mengenai identitas Xi Mei.


"Jadi, Xi Mei itu putri Xiu, paman? Berarti selama ini aku temenan sama tuan putri kerajaan dong?" tanya Zheng masih tak percaya.


"Iya, itulah kenyataannya Zheng. Kamu sebaiknya bersyukur sekarang, karena kamu bisa akrab dan berkawan dengan putri kerajaan yang cantik jelita itu!" ucap Ryu sambil tersenyum.


"Duh paman! Kalau kayak gini sih ceritanya aku bukan bersyukur, aku justru gugup banget! Aku benar-benar gak tahu kalau Xi Mei itu putri Xiu, itu artinya selama ini aku udah banyak lakuin hal gak sopan ke tuan putri dong." ujar Zheng.


"Nah iya tuh, kamu sebaiknya minta maaf nanti ke tuan putri karena kamu sudah banyak salah sama dia!" usul Ryu.


"Waduh! Tapi paman, kenapa tuan putri harus menyamar sebagai warga biasa sih? Dia kan bisa tinggal di istana seperti putri-putri lainnya," tanya Zheng heran.


"Ada alasannya Zheng, ini terkait raja Xavier yang sekarang berkuasa di Quangzi." jawab Ryu.


"Maksud paman?" tanya Zheng tak mengerti.


"Ya begitulah, sisanya kamu pikir sendiri saja! Paman tidak bisa jelaskan semuanya padamu," ucap Ryu langsung berbalik badan.


"Tunggu paman! Apa aku masih bisa jadi teman Xi Mei lagi setelah ini?" tanya Zheng.


"Paman juga gak bisa jawab pertanyaan kamu yang ini, karena semua itu tergantung pada keputusan tuan putri sendiri. Dia mau temenan lagi sama kamu atau enggak, ya paman gak bisa atur dong." jawab Ryu.


"Iya juga ya, terus gimana dong paman? Aku udah terlanjur dekat dengan tuan putri, masa iya aku harus menjauh gitu aja mulai sekarang?" ujar Zheng tampak bersedih.


"Gak harus gitu juga, tapi mulai sekarang ada baiknya kamu bertingkah sopan di depan Xi Mei! Jangan seperti sebelumnya, kamu main peluk dan gandeng tangan dia aja!" ucap Ryu.


"Hehe iya ya.." ujar Zheng sambil nyengir.


Ryu menggeleng pelan, sedangkan Zheng masih menggaruk kepalanya dan tak mengira jika selama ini ia berteman dengan putri kerajaan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2