
"Justru aku yang senang, karena aku bisa bantu tuan putri yang cantik ini." kata Wein Lao.
"Hah? Aduh, gombal terus nih kamu!" ujar Xi Mei.
"Hahaha, maaf tuan putri!" ucap Wein Lao.
Disaat Xi Mei sedang tersipu dengan gombalan dari Wein Lao, tiba-tiba saja ia melihat sosok ratu Lien di depan matanya.
Tentu saja Xi Mei langsung bereaksi, ia beranjak dari kursinya dan menatap ke arah depan dimana ratu Lien berdiri sambil tersenyum padanya.
"Mommy? Itu benar kau?" ucapnya.
Sementara Wein Lao ikut berdiri di samping Xi Mei, ia tampak seperti orang kebingungan saat mendengar Xi Mei menyebut kata 'mommy'.
"Xi Mei, maksud kamu apa?" tanya Wein Lao heran.
"Mommy!" Xi Mei justru berteriak dan langsung berlari ke arah sang ratu.
Hugg...
Xi Mei memeluk seseorang yang ia sangka sebagai ibunya itu dengan erat sambil menangis melepas kerinduannya.
"Mommy, aku kangen banget sama mommy!" ucap Xi Mei yang sudah membenamkan wajahnya di dada orang itu.
Masih tak ada reaksi apapun, sehingga Xi Mei terus bebas memeluknya dan mengusap-usap punggung orang yang ia duga sang ratu.
Sementara Wein Lao tetap berdiam di tempatnya, menatap ke arah Xi Mei dengan wajah bingung sembari menggelengkan kepala.
"Hey! Kamu apa-apaan sih, Mei? Ini paman loh, bukan mommy kamu!" ucap orang itu.
"Hah? Paman??" Xi Mei terkejut dengan suara itu, ia langsung melepas pelukannya dan melihat wajah seseorang di depannya.
"Paman Ryu? Loh kok?" ujar Xi Mei terheran-heran.
"Apa loh kok loh kok?" ujar Ryu.
"Ih tadi itu aku lihat mommy tau, terus aku peluk mommy disini. Kenapa malah jadi paman Ryu?" protes Xi Mei.
"Ya mana paman tau! Daritadi paman berdiri disini, bukan mommy kamu. Kayaknya kamu harus cuci muka deh, biar penglihatan kamu segar lagi!" ucap Ryu.
"I-i-iya paman, aku minta maaf ya! Kayaknya aku terlalu rindu sama mommy deh, makanya aku lihat paman seperti mommy aku." ucap Xi Mei menunduk plus cemberut.
Ryu tersenyum sembari menarik dagu Xi Mei ke atas dan mengusapnya lembut.
"Hey, kamu jangan sedih gitu! Kalau kamu rindu sama mommy kamu, kamu harus berdoa sama Tuhan supaya kamu bisa dipertemukan dengan mommy kamu!" ucap Ryu.
"Tapi paman, walau aku berdoa juga kayaknya aku gak mungkin bisa ketemu mommy dalam waktu singkat deh. Sekarang kan aku lagi di lembah parabuan, sedangkan ratu aja ada di istana Quangzi. Gimana bisa aku ketemu sama mommy?" ucap Xi Mei.
"Hahaha, gak ada yang gak mungkin sayang. Mungkin emang bukan dalam waktu dekat ini, tapi pasti kamu akan bertemu dengan mommy kamu nantinya. Sekarang kamu sabar aja dulu, kan ada paman disini." ucap Ryu.
"Ish, paman mah beda dong sama mommy. Aku itu maunya ketemu mommy, kalau paman mah udah sering aku temuin." ujar Xi Mei.
"Ya gapapa dong, kamu peluk aja paman lagi. Siapa tahu itu bisa mengurangi rasa kangen kamu sama mommy kamu, ya kan?" ujar Ryu seraya menaikkan kedua alisnya.
"Ih itu mah maunya paman, bilang aja paman pengen dipeluk sama aku lagi kan!" ujar Xi Mei.
"Iya dong, emangnya kamu gak mau apa peluk paman lagi?" tanya Ryu.
Xi Mei justru tersenyum lebar dan langsung memeluk pamannya dengan erat.
"Jelas mau dong paman!" jawab Xi Mei.
Ryu pun mengusap punggung serta rambut Xi Mei dan memperdalam pelukan mereka, hingga ia sadar bahwa ada Wein Lao disana.
"Eee kamu ngapain disini sama Lao, sayang?" tanya Ryu terheran-heran.
"Itu loh paman, tadi aku mimpi buruk. Aku mimpi kalau aku ditangkap dan ditahan sama raja Xavier," jawab Xi Mei.
"Hah? Oh ya ampun, kasihan banget sih gadis paman yang cantik ini!" ujar Ryu.
•
•
Keesokan harinya, Xi Mei bangun lebih awal dari biasanya dan langsung keluar kamar seusai membersihkan tubuhnya.
Xi Mei tampak berjalan di sekitaran bangunan perguruan itu, ia melihat ke sekeliling seraya menikmati pemandangan yang ada disana.
Hingga tiba-tiba saja, seseorang menarik tangannya dari belakang dan membuat Xi Mei kehilangan keseimbangan lalu terjatuh.
Beruntung orang itu langsung sigap menahan tubuh Xi Mei, sehingga Xi Mei pun terjatuh di dalam pelukannya saat ini.
Dalam posisi saat ini, Xi Mei dapat melihat dengan jelas wajah Zheng yang kini tengah memeluk tubuhnya sambil tersenyum.
"Hai, selamat pagi!" ucap Zheng singkat.
"Zheng?" ucap Xi Mei terbelalak.
Xi Mei langsung bangkit dari posisinya dan berdiri seperti semula, ia masih tidak percaya jika barusan ia dipeluk oleh Zheng.
"Ka-kamu udah baikan? Kok malah kesini sih?" tanya Xi Mei penasaran.
__ADS_1
"Iya Xi Mei, aku udah pulih kok. Aku ini cowok kuat, jadi aku gak mungkin lah lama-lama ada di ruang pengobatan. Lagian luka aku juga sedikit, jadi ngapain aku kelamaan disana?" jawab Zheng.
"Oh gitu, ya syukur deh! Tapi, Rai gimana? Dia udah pulih juga kan?" tanya Xi Mei khawatir.
"Rai masih dirawat, kayaknya luka dia lebih parah daripada aku." jawab Zheng.
"Duh, kasihan juga si Rai ya!" ucap Xi Mei.
"Ya gitu deh, masih untung kemarin ada Lao sama pasukannya yang datang selamatin kita. Kalau enggak, pasti aku sama Rai udah abis sama orang-orang itu. Yang lebih parahnya, mungkin kamu juga udah dibawa sama mereka." ujar Zheng.
"Iya Zheng, aku juga takut banget semalam. Lain kali aku gak mau keluar dari perguruan ini lagi deh, soalnya bahaya banget!" ucap Xi Mei.
"Yah berarti kamu gak mau ke festival lagi dong?" ujar Zheng.
Xi Mei menggeleng pelan, entah mengapa itu membuat Zheng gemas dan langsung mencubit pipinya.
"Aw kok dicubit sih?!" protes Xi Mei.
"Maaf ya! Aku gak tahan sama ekspresi kamu tadi, gemesin banget soalnya!" ujar Zheng.
"Haish, kamu mah!" cibir Xi Mei.
"Eh ya, kamu mau gak jalan-jalan pagi sama aku? Kita keliling-keliling di sekitar sini aja, sambil nunggu waktu latihan." ucap Zheng.
"Umm gimana ya...??" ujar Xi Mei berpikir seraya mengetuk-ngetuk telunjuknya di dagu.
"Udah gausah mikir, biasanya juga kamu mau jalan sama aku!" ucap Zheng memaksa.
Zheng langsung saja menggenggam tangan Xi Mei dan membawa gadis itu pergi dari sana secara paksa.
"Eh eh, aku kan belum jawab Zheng!" ujar Xi Mei.
"Gapapa Xi Mei, kita kan cuma keliling sebentar. Abis itu aku pasti bawa kamu balik kok!" ucap Zheng.
"Iya deh iya..." ucap Xi Mei pasrah.
Mereka akhirnya berkeliling tempat itu berdua, Zheng tampak bahagia dan senang sekali karena bisa menikmati waktu berdua dengan Xi Mei kali ini tanpa ada gangguan dari siapapun.
"Mei, aku senang deh! Akhirnya setelah sekian lama, bisa juga aku ajak kamu jalan berdua kayak gini." ucap Zheng tersenyum tipis.
"Ah lebay! Padahal kita udah sering jalan berdua tau," ujar Xi Mei.
"Ya emang iya, tapi untuk sekarang-sekarang ini kan jarang banget." ucap Zheng.
"Iya sih," ucap Xi Mei.
"Xi Mei..." panggil Zheng.
•
•
TOK TOK TOK...
Chen terkejut saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar rumahnya.
Akhirnya ia meninggalkan tempat duduknya dan melangkah ke depan untuk memastikan siapa yang datang kesana.
Saat ia mengintip melalui jendela, Chen cukup terkejut melihat banyaknya pasukan Quangzi di depan sana.
"Hah? Orang-orang istana itu pada mau ngapain ya ke rumah aku?" gumam Chen.
Tak lama kemudian, Luan sang ibu pun muncul setelah ia juga mendengar suara ketukan saat tengah memasak di dapur tadi.
"Ada apa Chen? Siapa yang datang?" tanya Luan.
"Eee itu Bu, di depan banyak pasukan istana Quangzi yang datang. Malahan aku lihat juga ada yang mulia raja Xavier, aku heran deh mereka mau apa ya sayang kesini?!" jawab Chen.
"Hah? Orang kerajaan datang ke rumah kita?" ujar Luan terkejut bukan main.
"Iya Bu, ibu kenapa kaget gitu sih? Ya sebenarnya aku juga kaget sih tadi, tapi gak sampai begitu juga kagetnya." tanya Chen heran.
"Ibu bingung aja nak, mau apa mereka pada datang kesini? Apalagi sampai ada yang mulia segala, kan ibu jadi takut sayang!" ujar Luan.
"Oalah, pasti ini penting sih Bu. Gak mungkin juga yang mulia datang kesini kalau gak ada urusan penting," ucap Chen.
"Iya benar, tapi urusan penting apa coba?" ucap Luan.
Chen hanya menggeleng seraya menaikkan kedua bahunya secara bersamaan tanda tidak tahu.
TOK TOK TOK...
"Luan, keluar kamu! Aku tahu kamu ada di dalam, cepat keluar dan temui aku! Ini perintah raja, kamu tidak bisa menghindar!" teriak Xavier.
Luan semakin panik mendengar teriakan serta ketukan yang bertambah keras itu.
"Aduh! Gimana ini Chen?" ujar Luan panik.
"Tenang aja Bu! Coba deh ibu buka dulu pintunya, terus ibu temuin deh yang mulia!" ucap Chen.
"Tapi, kalau ibu ditangkap dan dibawa ke istana gimana Chen? Siapa yang kasih makan kamu nantinya?" ujar Luan.
__ADS_1
"Oh iya ya.." ujar Chen.
"Luan, ayo cepat keluar! Jangan bersembunyi dariku! Kamu tidak perlu takut, aku hanya ingin bicara sesuatu padamu!" teriak Xavier dari luar.
"Tuh Bu, yang mulia cuma mau bicara. Ibu mending keluar aja deh dulu, daripada nanti yang mulia maksa masuk ke dalam sini." ucap Chen.
"Yasudah, ibu ke depan dulu sebentar ya? Kamu tunggu aja disini!" ucap Luan.
"Iya Bu," ucap Chen menurut.
Luan pun mengambil nafas panjang dan berdoa sejenak sebelum mulai keluar membuka pintu menemui raja Xavier serta pasukannya.
Ceklek...
Luan membuka pintu, ia reflek memberi hormat pada sang raja dan terus menunduk takut.
"Maaf yang mulia! Tadi hamba sedang memasak di dapur, jadi hamba baru bisa temui yang mulia sekarang." ucap Luan gugup.
"Tidak apa, yang penting kamu sudah keluar. Sekarang ayo kamu ikut kami!" ucap Xavier.
"Eee ikut kemana ya raja?" tanya Luan penasaran.
"Ratu Lien telah melarikan diri dari istana bersama Mungyi, mereka diduga pergi ke lembah parabuan tempat putri Xiu berada. Jadi, sekarang aku minta kamu untuk ikut bersama kami menyusul ratu Lien kesana! Hanya kamu yang tahu dimana lokasi putri Xiu saat ini," jelas Xavier.
Luan pun tampak syok dan terbelalak lebar, ia tak menyangka jika Xavier telah mengetahui identitas putri Xiu.
"Kenapa? Kamu kaget ya? Aku memang sudah tahu bahwa pendekar Xi Mei adalah putri Xiu yang menyamar, dan dia selama ini tinggal bersama kamu disini. Sekarang ini Xiu sedang berlatih di lembah parabuan bersama seseorang, jadi ayo kamu antar kami kesana!" ucap Xavier.
"Ta-tapi yang mulia, hamba..." ucap Luan gugup.
"Tidak ada tapi tapi! Jika kamu menolak, maka aku tidak akan segan-segan menghancurkan rumah ini!" potong Xavier mengancam Luan.
"Hah? Ja-jangan yang mulia! Baiklah, hamba mau ikut dengan yang mulia!" ucap Luan menurut.
"Bagus! Sekarang kamu bersiap, kita berangkat saat ini juga!" perintah Xavier.
"Baik yang mulia!" ucap Luan pasrah.
•
•
Setelah berhasil mencuri satu kecupan di bibir Xi Mei, kini Zheng justru tampak gugup dan bingung sendiri harus mengatakan apa.
Sementara Xi Mei juga masih tak menyangka bahwa barusan ia dicium oleh Zheng, rasanya sungguh aneh memang karena Xi Mei belum pernah merasakan yang namanya ciuman.
"Zheng, tadi itu kamu kenapa cium aku?" tanya Xi Mei menatap Zheng penuh keheranan.
"Hah? Eee a-aku sebenarnya gak sengaja Xi Mei, maafin aku ya!" jawab Zheng gugup plus panik.
"Hah? Gak sengaja?" ujar Xi Mei.
"I-i-iya Xi Mei, tadi itu aku gak tahu kenapa tiba-tiba bibir aku kayak kedorong buat maju sendiri gitu. Maaf banget ya Xi Mei!" ucap Zheng.
"Kamu ngomong apa sih? Mana ada coba yang kayak gitu? Ngaku aja kali kalau emang kamu sengaja pengen cium aku, gapapa kok!" ujar Xi Mei.
"Ah beneran? Yaudah, kalo gitu iya deh aku ngaku emang aku pengen cium bibir kamu." ucap Zheng.
"Nah kan, ngapain tadi pake segala bohong kayak gitu?" ujar Xi Mei terkekeh kecil.
"Hehe, kan biar gak dibenci sama kamu Xi Mei. Tapi, kalau kamu gak permasalahin itu ya bagus deh!" ucap Zheng.
"Tenang aja!" ucap Xi Mei tersenyum tipis.
"Kalo gitu aku boleh minta lagi gak?" tanya Zheng.
"Hah??" Xi Mei menganga lebar akibat terkejut dengan perkataan Zheng.
"Eh enggak enggak, aku bercanda kok." ucap Zheng.
"Ohh," ucap Xi Mei singkat.
Tak lama kemudian, Wein Lao muncul disana dan mendekati keduanya dengan wajah serius.
"Xi Mei!" ucap Wein Lao memanggil gadis itu.
Sontak Xi Mei serta Zheng langsung berdiri begitu melihat Wein Lao datang, mereka sama-sama menatap Wein Lao dengan wajah bingung karena pria itu datang secara tiba-tiba.
"Ada apa Lao? Kenapa kamu ngos-ngosan begitu?" tanya Xi Mei penasaran.
"Eee iya Mei, aku tadi lari kesininya. Soalnya aku harus cepat kasih tahu ini ke kamu!" jawab Wein Lao.
"Hah? Kasih tahu apa?" tanya Xi Mei.
"Itu, di depan ada ratu Lien datang. Dia minta buat ketemu sama kamu," jawab Wein Lao.
"Apa??" ucap Xi Mei terkejut bukan main.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1