
"Lao!" pria itu terkejut saat tiba-tiba ayahnya muncul dan menepuknya dari belakang.
"Eh ayah?" ucap Wein Lao kaget.
"Kamu lagi cari siapa?" tanya In Lao pada putranya.
"Eee cari Xiu, ayah. Aku udah cek kesana-kemari, tapi Xiu gak ada juga. Apa ayah tau dia dimana?" jelas Wein Lao.
"Kamu sih terlalu sibuk ngurusin perempuan itu, sampai kamu gak mikirin istri kamu sendiri!" ujar In Lao sambil geleng kepala.
"Maaf ayah! Aku cuma mau bantu Xiao aja supaya dia bisa cepat sembuh, aku gak ada niatan buat bikin Xiu sakit hati atau kecewa," ujar Wein Lao.
"Yasudah, kamu susulin saja istri kamu ke desa Fuxiu sana! Minta maaf langsung sama dia, supaya dia gak marah lagi ke kamu!" usul In Lao.
"Ohh, jadi Xiu lagi di desa Fuxiu ayah? Berarti tadi dia izin ke ayah dong?" tanya Wein Lao.
"Ya iyalah, dia juga izin sama ibunya tadi. Kebetulan aja ayah ada disana, makanya ayah tau kemana Xiu pergi. Gak mungkin lah dia pergi tanpa izin dari ibunya," jelas In Lao.
"Loh, terus kenapa dia gak izin sama aku ya? Aku ini kan suaminya," ujar Wein Lao.
"Kamu gausah bingung, dia kan lagi kesel sama kamu! Wajar aja kalau dia gak mau bicara sama kamu dulu, lagian kamu juga sih!" ucap In Lao.
"Iya sih ya," Wein Lao terlihat pasrah.
"Udah, gak ada gunanya kamu sedih-sedih begitu terus! Mending cepat kamu susulin istri kamu itu!" ucap In Lao.
"Iya ayah, tapi aku gak tahu dia ke rumah siapa. Xiu ada bilang gak sama ayah atau ratu tadi?" tanya Wein Lao.
"Dia bilangnya mau ke rumah Chen, anaknya Ryu. Kamu coba tanya aja sama Ryu, dimana rumah dia!" jawab In Lao.
"Oh gitu, iya deh aku temuin paman Ryu dulu. Terimakasih ya ayah!" ucap Wein Lao tersenyum.
"Sama-sama," ucap In Lao singkat.
Bruuukkk...
"Akh awhh sshh!!" kedua pria itu terkejut bukan main mendengar rintihan seorang wanita dari arah tak jauh.
"Hah? Itu suara siapa ya?" ujar Wein Lao.
"Kita cek saja kesana! Siapa tahu ada yang membutuhkan bantuan," ucap In Lao.
"Iya ayah," Wein Lao mengangguk setuju.
Sepasang ayah dan anak itu langsung bergerak cepat menuju asal suara, mereka amat penasaran siapa yang berteriak barusan.
"Ayah, ternyata itu suara Xiao Tien. Sepertinya dia terjatuh lagi," ucap Wein Lao.
"Iya, perempuan itu memang menyusahkan!" ujar In Lao.
"Aku akan menolongnya ayah, aku tidak tega melihat dia kesulitan begitu," ucap Wein Lao.
"Tahan Lao!" In Lao menahan putranya yang hendak menghampiri Xiao Tien.
"Kenapa ayah?" tanya Wein Lao heran.
"Temui istrimu di desa Fuxiu, dia harus segera kamu hibur! Biar ayah yang mengurus gadis disana itu, supaya putri Xiu tidak semakin marah padamu," jelas In Lao.
"Baiklah ayah! Tapi, apa ayah bisa membantu Xiao Tien?" ucap Wein Lao ragu.
"Jangan meragukan ayah! Sudah, cepat sana kamu susul putri Xiu!" ujar In Lao.
"Ba-baik ayah!" ucap Wein Lao gugup.
Wein Lao pun pergi menyusul Xiu, sedangkan In Lao maju mendekati Xiao Tien.
"Aku akan membantumu," ucap In Lao.
•
•
"Baik ratu! Kami berjanji akan terus mencari siapa pelaku itu, beri kami waktu ratu!" ucap Ryu.
Ratu Lien mengangguk singkat, sedangkan Gusion menatap Ryu dengan tajam merasa heran karena Ryu selalu mengiyakan saja ucapan ratu.
"Yasudah, kalian pergi sekarang! Temukan pelaku pengirim surat itu dan bawa dia ke hadapanku hidup-hidup!" titah ratu Lien.
"Siap ratu!" ucap Ryu dan Gusion bersamaan.
Kedua lelaki itu pun berbalik, lalu pergi meninggalkan ratu Lien.
"Paman, kenapa paman lagi-lagi mengiyakan ucapan ratu? Kita harus cari kemana lagi paman? Aku sudah capek loh, tugas ini benar-benar berat untuk kita!" ujar Gusion.
"Kamu terlalu payah panglima! Sampai kapan kamu mau terus mengeluh begitu?" ucap Ryu.
"Bukan mengeluh paman, aku hanya capek. Aku bisa pingsan kalau harus terus cari pelaku pengirim surat itu," ucap Gusion.
Mereka menghentikan langkahnya, Gusion terduduk seraya memijat pelipisnya.
"Kalau memang kamu gak sanggup, biar aku saja yang jalankan tugas ratu. Kamu jaga istana dengan baik!" ucap Ryu.
"Apa? Mana bisa begitu paman? Yang ada ratu bakal marah besar sama aku dan hukum aku," ucap Gusion.
"Lalu, kamu maunya gimana?" tanya Ryu.
"Eee..."
"Ada apa ini?" Gusion dan Ryu amat terkejut mendengarnya, mereka menoleh bersamaan ke asal suara.
Gusion sampai harus bangkit dari posisinya saat melihat sang ratu datang menghampirinya.
__ADS_1
"Ratu Lien??" ucap Gusion dengan mulut menganga lebar.
Gusion terlihat panik, dia khawatir jika ratu Lien mendengar keluhannya tadi terhadap Ryu.
"Duh, gimana ini? Kalau ratu dengar apa yang saya bicarakan tadi, pasti ratu marah besar dan bisa kasih hukuman buat saya," batin Gusion.
Ratu Lien mendekat dan menatap tajam ke arah Gusion seakan menaruh curiga.
"Ratu, ada apa? Apa ratu memerlukan bantuan kami dalam hal lain? Atau tugas yang ratu berikan itu masih kurang?" tanya Ryu.
"Eee tidak, aku hanya heran mengapa kalian seperti berdebat disini tadi. Apa yang kalian perdebatkan?" jawab ratu Lien.
"Ka-kami..." Ryu tampak bingung, ia melirik ke arah Gusion dan dibalas dengan menaikkan kedua bahu.
"Mengapa kalian malah diam? Katakan saja padaku, apa yang kalian debatkan tadi!" ucap ratu Lien penasaran.
"Kamu tidak berdebat ratu, kami—"
"Jangan bohong Ryu! Kamu tau kan aku paling tidak suka dibohongi," potong ratu Lien.
"Ya ratu, tadi kami memang berdebat. Panglima mengatakan jika pencarian ini tidak ada hasilnya ratu, karena kami tak mendapat petunjuk apapun," jelas Ryu.
"Kalian memang benar! Tapi, tetaplah teruskan pencarian ini!" titah ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Ryu dan Gusion bersama.
•
•
"Chen!" mereka berdua menoleh ke asal suara.
Chen terkejut saat mendapati putri Xiu sudah berada di halaman rumahnya.
Reaksi sama ditunjukkan oleh Fey Chu, gadis itu bahkan langsung berdiri dan menatap ke arah putri Xiu dengan tajam.
"Tuan putri? Apa yang tuan putri lakukan disini?" tanya Chen dengan heran.
"Aku ingin curhat denganmu, kamu bisa kan dengarkan keluhan aku?" jawab Xiu.
"Tentu saja, silahkan duduk tuan putri! Aku akan sediakan minuman untuk tuan putri, supaya saat bercerita tuan putri tidak kehausan," ucap Chen.
"Baiklah," ucap Xiu singkat.
"Sebentar ya tuan putri! Oh ya, kenalkan ini temanku namanya Fey Chu! Aku bertemu dengannya di hutan kemarin," ucap Chen.
Xiu langsung beralih menatap Fey dengan heran, ia ingat betul siapa wanita yang berdiri di sebelah Chen itu. Ya dialah yang sudah mengancam Xiu dan juga Wein Lao kala itu.
"Kau? Bukannya kamu yang waktu itu pernah menemui ku dan Lao di hutan?" ujar Xiu.
"Eee..." Fey Chu langsung menunduk bingung.
"Ya Chen, aku tahu betul siapa wanita ini. Dia yang sudah mengancam ku dan suamiku waktu itu, bagaimana bisa kamu malah berteman dengan dia?!" jelas Xiu.
"Mengancam?" Chen tampak kaget dan tak percaya jika Fey melakukan itu pada Xiu.
"Benar Chen! Kamu tanyakan saja pada dia jika kamu tidak percaya!" jawab Xiu.
"Apa benar begitu Fey?" tanya Chen pada Fey.
"Eee iya Chen.." Fey menjawab dengan pelan dan menunduk.
"Mengapa kamu melakukan itu, Fey? Ancaman apa yang kamu katakan pada putri Xiu? Apa kamu tidak tahu jika dia tuan putri Quangzi?" tanya Chen lagi.
"Aku hanya bercanda, aku tidak benar-benar mengancam tuan putri Xiu," jawab Fey berbohong.
"Bohong! Kamu tidak usah mengelak atau berbohong di hadapan Chen! Mengaku saja dan katakan yang sejujurnya!" bentak Xiu.
"Kamu ini kenapa tuan putri? Takut ya dengan ancaman aku waktu itu?" tanya Fey mengejek.
"Sial! Jangan pikir aku takut denganmu wanita aneh! Aku hanya tidak suka jika wanita sepertimu berteman dengan Chen, dia itu saudaraku dan kamu bukan orang baik!" kesal Xiu.
"Kamu salah paham tuan putri, aku tidak seperti yang kamu kira. Aku ini baik dan justru kamu yang jahat!" ucap Fey Chu.
"Kurang ajar!" Xiu menggeram kesal dan hendak menyerang Fey, tetapi dicegah oleh Chen.
"Sabar tuan putri! Aku mohon jangan berkelahi disini!" cegah Chen.
"Lihat kan? Kamu yang jahat tuan putri, bukan aku," kekeh Fey.
•
•
"Prajurit, ini ada apa?" tanya Akai dengan panik.
"Uhh tadi ada serangan mendadak dari luar yang bikin kita semua kaget dan terluka begini, tapi kita gak tahu siapa orang yang melakukan serangan itu, semuanya terjadi begitu saja," jelas prajurit itu.
"Apa? Kurang ajar! Berani sekali orang itu menyerang Sidhagat diam-diam!" umpat Akai.
Tak lama kemudian, raja Ling tiba menyusul Akai dan ikut bertanya pada pria itu.
"Bagaimana Akai?" tanya raja Ling.
"Eee menurut penjelasan prajurit, tadi ada serangan dadakan dari luar. Tapi, mereka juga gak tahu siapa yang menyerang," jelas Akai.
"Sial! Ini menandakan pertahanan kita mulai lemah, kamu harus perketat penjagaan dan ini tidak boleh terjadi lagi!" geram raja Ling.
"Baik yang mulia! Hamba akan lakukan itu semua sesuai perintah anda!" ucap Akai patuh.
"Sejak Reiner tidak ada, Sidhagat jadi kacau dan mudah ditembus musuh. Tidak seperti dahulu, mana ada yang berani begini," ucap raja Ling.
__ADS_1
"Benar yang mulia! Sepertinya kita memang butuh sosok panglima seperti Reiner, tapi tentu orangnya harus setia dan bertanggung jawab," ucap Akai.
"Ya, aku percayakan padamu Akai untuk mencari siapa yang pantas menjadi panglima di istana kita!" ucap raja Ling.
"Siap yang mulia!" ucap Akai lantang.
Slaasshh...
Tiba-tiba saja, sebuah anak panah melesat ke dekat mereka dan hampir mengenai raja Ling.
"Siapa itu?!" ujar raja Ling kesal.
"Hahaha, hey raja lemah!"
Suara tawa dan hinaan itu terdengar di telinga mereka, raja Ling benar-benar dibuat kesal dengan perkataan tersebut.
"Siapa kau? Tunjukkan wajahmu dasar pengecut!" bentak raja Ling.
Tak lama, seseorang muncul dan berdiri tepat di hadapan raja Ling. Dia tersenyum lebar dengan sorot mata tajam ke arah sang raja.
"Buka topeng mu! Jangan jadi pengecut!" pinta raja Ling emosi.
"Hahaha, belum saatnya kamu tau siapa diriku raja lemah! Sekarang matilah kau di tanganku!" ucap orang itu.
Tanpa basa-basi lagi, orang itu langsung maju menyerang raja Ling secara brutal.
Beruntung raja Ling dalam posisi siap sehingga dia dapat menghindari serangan orang itu.
Akai yang ada disana hendak ikut membantu sang raja, tetapi ditahan olehnya.
"Tahan Akai! Aku bisa mengatasi makhluk sialan ini sendiri, kamu mundur saja bersama para prajurit yang terluka!" titah raja Ling.
"Ba-baik yang mulia!" ucap Akai patuh.
Perlahan Akai memundurkan langkahnya, jujur dia ragu meninggalkan raja Ling disana karena dia khawatir terjadi sesuatu pada sang raja.
"Kamu terlalu percaya diri, bersiaplah menerima kematian mu raja bodoh!" ucap orang itu.
"Di dalam mimpimu," balas raja Ling.
Pertarungan itu kembali terjadi dengan sengit.
•
•
Bruuukkk...
Tachi terkapar di tanah, tangannya terletak di atas dada dan nafasnya tampak sesak akibat pukulan keras An Ming tadi.
"Segitu saja, ha? Ini yang kau katakan ingin mengalahkan ku?" cibir An Ming.
"Dasar lemah!" pangeran itu mengumpat dan berniat menginjak tubuh lemah Tachi.
"Pangeran hentikan!" suara teriakan sang wanita membuat An Ming terkejut dan mengurungkan niatnya.
"Lian?" ucap An Ming begitu melihat gadisnya ada di hadapannya kini.
"Pangeran, tolong jangan teruskan ini! Aku tidak mau Tachi terbunuh," pinta Feng Lian.
"Ya, aku akan menurut denganmu. Tapi, kamu ikutlah denganku sekarang!" ujar An Ming.
"Kemana pangeran?" tanya Feng Lian bingung.
"Kita akan ke istana, aku ingin mengenalkan mu pada ibuku, ratu Lien." Feng Lian terkejut mendengar penjelasan An Ming itu.
"Apa??" ucap Feng Lian disertai mulut menganga.
"Iya Lian, kenapa kamu terdengar kaget begitu? Apa kamu tidak mau menemui ibuku di istana?" tanya An Ming.
"Bukan begitu pangeran, aku hanya belum siap jika harus bertemu ratu sekarang," jawab Feng Lian.
"Kamu tidak perlu khawatir! Aku janji akan membantumu untuk siap bertemu ibuku nanti!" ucap An Ming meyakinkan gadisnya.
"Tapi pangeran, aku—"
"Ayolah Lian! Kalau kamu emang cinta sama aku, kamu harusnya mau aku ajak ke istana sekarang menemui ibuku!" potong An Ming.
"Aku mengerti maksudmu pangeran, baiklah aku akan menuruti kemauan kamu! Tapi, tolong biarkan aku pulang dulu dan bersiap-siap sebelum berangkat ke istana!" pinta Feng Lian.
"Tentu saja, mari aku temani kamu pulang!" ucap An Ming menggandeng tangan Feng Lian.
Gadis itu mengangguk kecil, lalu mereka pun melangkah bersamaan menuju rumah Feng Lian.
"Tunggu!"
Langkah An Ming dan Feng Lian terhenti saat Tachi kembali berteriak menahan mereka.
"Mau apa lagi kau sialan?!" umpat An Ming.
"Aku belum kalah pangeran, aku akan menghabisi mu kali ini dan membawa Lian pergi dari sini!" ucap Tachi yang terlihat lemas.
"Hahaha, kasihanilah tubuhmu Tachi bodoh! Apa kau tidak lihat jika sekarang dirimu benar-benar payah?!" ledek An Ming.
"Kurang ajar! Rasakan ini!!" geram Tachi, perlahan dia maju mendekati sang pangeran.
"Tahan Tachi, hentikan!" teriak Feng Lian cukup keras membuat langkah Tachi terhenti.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1