
"Yaudah, sekarang kita mau pulang atau masih mau disini buat lakuin hal yang asyik?" tanya Wein Lao seraya merengkuh pinggang Xiu.
"Umm, pulang aja deh. Lagian emang kita mau lakuin apa lagi disini?" jawab Xiu.
"Apa aja bisa, misalnya berburu lagi buat latih kemampuan memanah kamu. Atau kalau kamu bosan, aku bisa tidurin kamu di tanah terus tindih kamu sampai kamu hamil." ucap Wein Lao.
Xiu hanya menatap kesal ke wajah Wein Lao, yang justru dibalas dengan sebuah tawa lebar dari pria tersebut.
"Hahaha hahaha.."
"Jangan ketawa! Gak lucu tau!" ujar Xiu.
"Iya iya, maafin aku ya cantik!" ucap Wein Lao.
Saat Wein Lao hendak mencium bibir Xiu kembali, tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat dan tertancap di pohon dekat mereka.
Slaasshh...
"Hah??" Xiu terkejut bukan main.
"WOI SIAPA ITU??!!" teriak Wein Lao geram.
"Lao, siapa ya yang nyerang kita ini? Aku takut!" ucap Xiu cemas.
"Gausah takut sayang!" ucap Wein Lao.
Wein Lao pun mendekap erat tubuh Xiu dan menenangkannya agar gadis itu tidak ketakutan.
"Aku ada disini buat kamu, aku pasti jagain kamu kok! Siapapun orang itu, dia gak mungkin bisa lukain kamu!" ucap Wein Lao.
"Iya Lao, aku juga ngerasa aman kalau ada di dekat kamu. Tapi, kira-kira siapa yang tadi nyerang kita? Kok dia gak mau nunjukin mukanya sih?" ujar Xiu.
"Entahlah, mungkin dia takut sama aku." ucap Wein Lao sambil tersenyum.
"Ih kepedean kamu!" cibir Xiu.
"Yaudah, kita lanjut pulang aja yuk! Kayaknya si penyerang udah pergi, kita udah aman sekarang." ucap Wein Lao.
"Beneran? Gimana kalau dia tiba-tiba nyerang kita lagi kayak tadi?" tanya Xiu.
"Gak perlu takut! Ada aku kan di samping kamu sayang, jangan cemas ya cantik!" jawab Wein Lao sambil mencolek dagu gadisnya.
"Iya iya.." ucap Xiu menurut.
Disaat mereka hendak melangkah, tiba-tiba saja seseorang muncul di hadapan mereka dan menghalangi langkah mereka.
"Heh! Siapa kamu? Mau apa kamu halangi langkah kita?" tanya Wein Lao dengan lantang.
"Hahaha hahaha..." orang itu justru tertawa sembari mengangkat kedua tangannya.
"Kok dia malah ketawa sih? Apa jangan-jangan dia orang gak waras?" ujar Xiu keheranan.
Wein Lao menggeleng pelan, ia juga tak mengerti apa yang membuat orang di depannya itu tertawa tanpa alasan.
Lalu, orang itu pun membalikkan badannya sambil terus tertawa keras.
Xiu membelalakkan matanya disertai mulut terbuka lebar, ia melihat sosok Terizla yang sudah lama tak pernah ia lihat lagi sebelumnya.
"Terizla??" ucap Xiu pelan.
"Kamu tahu dia?" tanya Wein Lao heran.
"Iya Lao, dia orang jahat yang pernah kerjasama dengan Xavier buat bunuh ayahku." jawab Xiu.
"Kurang ajar!" umpat Wein Lao.
"Hahaha, apa kabar kamu putri Xiu? Lama kita tidak berjumpa, aku senang dapat melihat kamu kembali ke istana seperti dulu!" ucap Terizla.
"Mau apa kamu datang lagi kesini? Kamu itu udah gak ada urusan lagi di Quangzi, jadi kamu harusnya jangan pernah menginjakkan kaki kamu disini!" ucap Xiu kesal.
"Kamu kenapa sih putri Xiu? Jangan marah-marah begitu dong! Oh ya, siapa laki-laki yang ada di sebelah kamu itu? Aku belum pernah lihat dia sebelumnya," ucap Terizla.
"Perkenalkan, saya Wein Lao. Saya pangeran dari kerajaan serigala, sekaligus calon suami tuan putri Xiu. Kami sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan," jawab Wein Lao dengan ramah.
"Ohh, jadi kalian sepasang kekasih? Waw luar biasa!" ucap Terizla.
"Sudahlah, tidak usah banyak basa-basi! Kamu katakan saja apa kemauan kamu temui aku disini, aku tidak punya banyak waktu!" ucap Xiu.
"Aku cuma pengen sampaikan ke kamu, berhati-hatilah cantik! Sebentar lagi akan ada serangan dahsyat yang bisa menghancurkan kerajaan Quangzi, termasuk kamu." ucap Terizla.
Xiu terbelalak mendengarnya, ia benar-benar dibuat kesal oleh perkataan Terizla barusan.
"Kurang ajar! Apa maksud kamu bicara begitu, ha? Kamu mau mengancam ku?!" geram Xiu.
"Xiu, sabar Xiu!" ucap Wein Lao menenangkan.
"Gimana aku bisa sabar? Dia itu nyebelin, bisa-bisanya dia ancam aku kayak gitu! Dipikir aku bakal takut apa!" ujar Xiu.
"Iya aku ngerti, tapi kamu jangan emosi dulu kayak gitu!" ucap Wein Lao.
"Abisnya aku kesel, dia tuh—"
__ADS_1
"Sssttt udah udah! Biar aku aja yang hadapi dia!" potong Wein Lao seraya membungkam mulut gadisnya itu dengan telapak tangannya.
"Heh! Kalau kamu mau nyerang istana Quangzi, kamu hadapi dulu saya! Dan yang pasti, kamu juga gak akan bisa menghancurkan istana Quangzi dengan mudah!" ucap Wein Lao pada Terizla.
"Hahaha, kamu pikir saya ini lemah? Saya sudah siap sepenuhnya dan saya yakin serangan kali ini pasti akan membuat Quangzi rata!" ujar Terizla.
"Silahkan saja jika kamu ingin menyerang Quangzi! Tapi, itu juga kalo kamu mampu." ucap Wein Lao.
"Kita lihat saja nanti, siapa diantara kita yang akan terkalahkan. Bersiaplah, karena serangan kali ini tidak mungkin bisa kalian halau lagi!" ucap Terizla.
"Baiklah, saya tunggu!" tantang Wein Lao.
Terizla tersenyum tipis, kemudian melangkah pergi meninggalkan Wein Lao dan Xiu disana.
"Lao, kenapa kamu malah nantangin dia? Kalau dia beneran nyerang kita gimana? Kan serem tau, apalagi besok acara nikahan kita." tanya Xiu.
"Biarin aja, aku bakal bawa banyak pasukan dari istanaku buat berjaga besok. Kamu gak perlu takut, mereka tiga kali lebih kuat dari prajurit biasa!" jawab Wein Lao.
"Iya deh, aku percaya sama kamu. Tapi, bener ya kamu bakal jagain aku dan istana Quangzi?" ucap Xiu memastikan.
"Pasti dong cantik!" ucap Wein Lao tersenyum.
Pria itu memeluknya, mengusap tubuh Xiu dengan lembut untuk berusaha meyakinkan gadis itu bahwa dia akan baik-baik saja.
"Kamu pasti akan baik-baik aja sayang! Aku jamin itu!" batin Wein Lao.
•
Tanpa sepengetahuan mereka, Terizla tampaknya masih ada di sekitar sana menatap dan mengawasi Xiu serta Wein Lao dari jauh.
Tampak seseorang juga turut berada di dekatnya, dialah Xavier si mantan raja Quangzi yang saat ini baru terbebas dari penjara.
"Bagaimana kelanjutan rencanamu?" tanya Xavier.
"Mudah saja. Kita lakukan serangan disaat mereka sedang berpesta besok, aku yakin itu adalah momen yang pas untuk menyerbu Quangzi!" jawab Terizla.
"Cerdas! Tapi, memangnya kamu sudah mengumpulkan pasukan?" tanya Xavier.
"Tidak perlu kamu kasih tahu, aku juga sudah mengerti apa yang harus aku lakukan." jawab Terizla.
"Baiklah, aku percaya denganmu." ucap Xavier.
"Itu saja? Kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih padaku? Aku sudah membebaskan mu dari penjara loh," ujar Terizla.
"Untuk apa? Aku kan tidak memintamu melakukan itu, semuanya atas kehendak kamu sendiri. Kalau kamu tidak ikhlas, lalu kenapa kamu membantuku?" ucap Xavier.
"Kurang ajar! Dari dulu sampai sekarang, kamu masih saja seperti itu Xavier. Untung saja aku bisa sabar menghadapi kamu," ucap Terizla.
"Kita pergi dulu ke istana Rofusha! Disana kita akan berkumpul untuk membahas rencana penyerbuan kita besok," jawab Terizla.
"Kamu yakin mereka sudah memaafkan ku dan mau menerima ku disana? Kamu kan tahu, waktu itu aku hampir saja membunuh mereka karena Fredison sudah menodai istriku." tanya Xavier.
"Tenang saja! Mereka sudah melupakan itu, karena sekarang kita satu tujuan. Kami hanya ingin menghancurkan istana Quangzi, dan mendirikan kerajaan baru disana." jawab Terizla.
"Yasudah, aku ikut saja denganmu." ucap Xavier.
"Mari kita pergi!" ucap Terizla.
"Baik!" jawab Xavier mengangguk kecil.
Mereka pun pergi bersama-sama dari tempat itu.
•
•
Singkat cerita, Xiu dan Wein Lao tiba di istana Quangzi setelah selesai menikmati waktu mereka di hutan.
Xiu tampak heran melihat kondisi istana yang begitu ramai, banyak sekali prajurit berlarian kesana-kemari seperti orang panik.
"Lao, ini ada apa ya? Kok banyak prajurit pada lari-larian begitu?" tanya Xiu bingung.
"Sabar cantik! Kalau kamu mau tahu, kamu bisa tanyakan langsung aja sama mereka! Yuk kita dekati salah satu dari mereka, aku juga penasaran ada apa sebenarnya!" ucap Wein Lao.
"Iya Lao.." ucap Xiu menurut.
Mereka pun berjalan menghampiri salah seorang prajurit yang tengah panik itu.
"Eee maaf! Ini kenapa ya semuanya panik kayak gini? Apa ada masalah?" tanya Wein Lao pada prajurit itu.
"Begini pangeran, tahanan penting istana berhasil melarikan diri. Kami semua sedang berusaha mencari dan menemukan dia," jawab prajurit itu.
"Apa? Tahanan penting kabur? Siapa yang kamu maksud?" ujar Wein Lao kaget.
"Ampun pangeran! Tahanan yang kabur itu adalah Xavier," jawab prajurit itu.
"Hah??" Xiu pun ikut terkejut mengetahui bahwa Xavier telah kabur dari penjara.
"Ini gimana sih kerja kalian? Kok bisa Xavier kabur dari penjara? Apa kalian semua gak pada jagain dia dengan benar?" ujar Xiu emosi.
"Maaf tuan putri! Kami tidak menyangka kalau akan ada serangan dari luar secara mendadak, ada seseorang yang membawa kabur Xavier, tuan putri." jawab prajurit itu.
__ADS_1
"Hah? Kamu serius?" tanya Xiu.
"Benar tuan putri! Begitulah menurut info yang kami dapatkan dari para prajurit penjaga di penjara sana yang terluka," jawab prajurit itu.
"Sial! Siapa yang berani menyusup ke Quangzi dan membebaskan Xavier?!" geram Xiu.
"Kita bicarakan ini di dalam bersama ratu! Ayo Xiu kita masuk!" ucap Wein Lao.
Xiu mengangguk setuju, mereka pun melangkah masuk ke dalam istana dengan saling bergandengan tangan.
"Lao, aku gak nyangka Quangzi selemah ini. Masa bisa ada penyusup yang masuk sih?" ucap Xiu.
"Sabar Xiu! Kita memang harus perkuat sisi pertahanan istana, karena nampaknya masih ada celah bagi para penyusup itu untuk masuk ke dalam sini!" ucap Wein Lao.
"Iya Lao, aku benar-benar kesal banget dengan apa yang terjadi ini! Aku khawatir Xavier akan kembali membuat kericuhan disini! Kita harus bisa temukan dia secepatnya, Lao!" ucap Xiu.
"Ya, tenanglah sayang!" ucap Wein Lao.
"Eee apa kira-kira ini ada hubungannya gak ya sama perkataan Terizla tadi? Bisa aja kan kalau Terizla yang udah bebasin Xavier? Secara mereka itu sempat bekerjasama dulu, gak menutup kemungkinan mereka kerjasama lagi." ucap Xiu.
"Bisa jadi, tapi kita harus cari tau dulu! Sebaiknya sekarang kita masuk dan diskusikan semua ini dengan ratu Lien!" ucap Wein Lao.
Xiu mengangguk setuju, mempercepat langkahnya karena sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan masalah itu.
•
•
"Baiklah, kalau begitu aku minta kamu untuk cari tahanan kita sampai dapat, panglima Gusion! Bawalah prajurit sebanyak yang kau mau, dan dapatkan Xavier!" perintah ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Gusion.
"Yasudah, sampai disini saja dulu pertemuan kita. Semuanya bisa kembali berjaga sesuai posisi masing-masing, jangan sampai ada yang lengah! Ingat, besok adalah hari besar bagi kerajaan dan kita harus sama-sama menjaga keamanan Quangzi dari para penjahat di luar sana!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap semuanya dengan kompak.
Setelah itu, seluruh orang disana pun bubar terkecuali Xiu dan Wein Lao.
Keduanya masih tetap ada disana bersama sang ratu untuk membahas mengenai Xavier.
"Mom, aku boleh bicara?" ucap Xiu.
"Tentu putriku, bicara saja!" ucap ratu Lien.
"Umm, apa pernikahan aku dan Lao besok bisa berjalan lancar tanpa ada gangguan sedikitpun dari luar?" tanya Xiu.
"Mommy belum bisa jamin itu sekarang, tapi mommy akan usahakan kalian dapat menikah dengan tenang dan lancar!" jawab ratu Lien.
"Tenanglah tuan putri! Pasukan serigala sedang dalam perjalanan kemari, mereka akan membantu berjaga di sekitar istana. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi!" sahut Wein Lao.
"Iya Lao, aku hanya cemas kalau pernikahan kita batal gara-gara serangan Terizla." ucap Xiu.
"Kamu tidak perlu cemas begitu! Sebagai calon suamimu, aku akan selalu melindungi kamu sekuat tenaga! Jika mereka ingin mengincar mu, maka mereka harus berhadapan terlebih dahulu denganku!" ucap Wein Lao.
Xiu tersenyum mendengar itu, ia memeluk Wein Lao dari samping dengan erat dan mengucap terimakasih pada pria itu.
"Makasih Lao!" ucap Xiu singkat.
"Kamu gausah bilang makasih begitu! Apapun akan aku lakukan demi keselamatan kamu, jadi kamu tenang aja ya!" ucap Wein Lao.
"Ehem ehem.." ratu Lien berdehem pelan hingga membuat Xiu terkejut dan melepas pelukannya.
"Eh mom, maaf mom! Aku gak ada maksud buat bikin mommy iri sama kita," ucap Xiu.
"Hah? Apa kata kamu barusan? Buat apa mommy harus iri sama kalian? Mommy ini udah sering begituan, malahan mommy lebih berpengalaman daripada kamu Xiu." elak ratu Lien.
"Hehe, iya mom aku tau kok. Yaudah, kalo gitu aku sama Lao mau pergi dulu ya mom?" ucap Xiu.
"Eh eh, kalian mau kemana?" tanya ratu Lien.
"Kita mau bersih-bersih, soalnya tadi kita abis dari hutan." jawab Xiu.
"Barengan?" tanya ratu Lien terkejut.
"Ya ampun! Enggak dong mom, yakali aku mandi bareng sama Lao? Kita ini kan belum nikah, jadi mandinya ya sendiri-sendiri." ucap Xiu.
"Oh syukurlah! Yaudah, kalian boleh pergi!" ucap ratu Lien.
"Iya mom," ucap Xiu singkat.
"Permisi ratu!" ucap Wein Lao.
Mereka berdua pun pergi dari sana dan hendak menuju ke kamar masing-masing.
Akan tetapi, mereka dihadang oleh Zheng yang berdiri tepat di hadapan mereka.
"Tunggu tuan putri!" ucap Zheng dingin.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1