Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 107. Kitab emas


__ADS_3

"Sabar dulu Tachi! Kamu tidak bisa main serang begitu saja, pangeran An Ming ini orang Quangzi dan kalian akan mendapat masalah besar jika berani melukai beliau!" ucap Shi Yuqi.


"Kami gak takut, kami berani menghadapi apapun demi bisa mendapatkan Feng Lian!" ujar Tachi.


"Ya benar itu!" sahut pemuda lainnya.


"Kalian ini sudah benar-benar tidak waras! Hanya karena cinta, kalian rela melakukan ini?!" ucap Lee Wei sambil menggeleng pelan.


"Itu sudah kewajiban kami, karena Feng Lian hanya boleh dimiliki oleh pemuda di desa ini. Pangeran An Ming harus cari perempuan lain, jika dia tidak mau ada peperangan disini!" tegas Tachi.


"Kalaupun memang aku harus berperang untuk mendapatkan Lian, aku tidak akan takut menghadapi kalian semua!" tantang An Ming.


"Kurang ajar! Jangan memandang remeh kami, karena kami bukan warga desa biasa!" ujar Tachi.


"Mau siapapun kalian, aku sama sekali gak takut! Ayo serang saja aku jika kalian mampu!" ucap An Ming dengan pedenya.


"Sial!" umpat Tachi kesal.


"Hey tahan!" teriak Shi Yuqi menahan Tachi dan pasukannya yang ingin menyerang An Ming.


"Kalian ini apa-apaan? Kalian sebaiknya bubar, jangan bikin malu!" tegas Shi Yuqi.


"Maaf paman Shi, tapi kami semua akan terus berjuang disini!" ucap Tachi.


"Ya itu benar!" sahut yang lainnya.


An Ming tersenyum smirk sembari menggelengkan kepalanya dengan perlahan, sungguh ia tak menyangka urusannya akan sebesar ini.


"Pangeran, sebaiknya kita segera pergi dan tinggalkan tempat ini!" bisik Zheng.


"Tidak paman, aku hanya akan pergi sesudah aku mendapat restu dari paman Shi Yuqi," ucap An Ming.


"Tapi pangeran, ini semua akan semakin parah jika pangeran tidak pergi," ujar Zheng.


"Biarlah, aku pasti bisa menyelesaikan semua ini paman!" ucap An Ming percaya diri.


"Sabar dulu pangeran! Kita lebih baik menghindar dulu dari mereka sekarang," usul Felix.


An Ming menatap heran ke wajah guru Felix, pasalnya ia sebelumnya tidak mengajak pria itu untuk ikut bersamanya kesana.


"Sebentar paman guru, bagaimana bisa paman guru ada disini?" tanya An Ming bingung.


"Eee ceritanya panjang pangeran, intinya sekarang kita harus pergi dari sini!" jawab Felix.


"Tidak bisa paman, aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan yang kuinginkan!" tegas An Ming.


Felix terlihat kebingungan saat ini, ia melirik Zheng di sampingnya, namun hanya mendapat respon geleng-geleng dari Zheng.


"Lian, kamu mau kan ikut denganku?" tanya An Ming kepada gadisnya.


"Jangan sekarang pangeran! Situasinya sedang gawat, yang ada kita berdua bisa dihadang oleh mereka. Sebaiknya pangeran ikuti saja perkataan paman Zheng dan guru Felix barusan," ucap Feng Lian.


"Mengapa begitu, Lian? Kamu tidak mencintaiku?" tanya An Ming tampak kecewa.


"Bukan begitu pangeran, aku hanya tidak mau ada keributan disini," jelas Feng Lian.


"Tidak akan ada keributan lagi, setelah kita berdua menikah nanti. Kamu bisa percaya padaku Lian!" ucap An Ming berusaha meyakinkan gadisnya.


Feng Lian terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Pak, sudah lah jangan halangi kami! Biarkan kami menghabisi pangeran sombong itu! Kami tidak takut sama sekali padanya!" teriak Tachi.


"Kamu benar-benar keras kepala, Tachi! Cepat bubar atau kalian akan menerima akibatnya!" geram Shi Yuqi.




Wein Lao dan Xiu sedang terbaring lelah di atas ranjang kamar mereka berdua.


Keduanya tampak sangat lelah setelah melakukan aktivitas panas di ranjang empuk itu.


Nafas Xiu juga masih tersengal-sengal, ia tak bisa bergerak banyak untuk saat ini.


Wein Lao menoleh ke samping, menatap sang istri sambil tersenyum tipis dan membelai rambutnya.


"Kamu capek banget kelihatannya," ujar Wein Lao.


Akibat itu, Wein Lao pun mendapat sorotan tajam dari putri Xiu.


"Eh, kenapa?" tanya Wein Lao bingung.


"Pake nanya lagi! Kamu kan udah tahu aku capek, ngapain ditanya segala?! Lagian aku begini juga gara-gara kamu," kesal Xiu.


"Hahaha, gemesin banget sih istri aku ini! Maaf ya Xiu, abisnya kamu terlalu cantik dan sayang untuk dilewatkan!" ucap Wein Lao.


"Ih emangnya aku apaan?!" protes Xiu.


"Yaudah, kamu istirahat aja dulu! Aku mau mandi, terus cek kondisi perempuan yang tadi kita tolong. Aku cuma mau mastiin aja, dia udah sembuh atau belum," ucap Wein Lao sembari memakai kembali pakaiannya.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu perhatian banget sama dia? Gak bisa apa gitu diem disini aja sama aku?" tanya Xiu dengan raut kesal.


"Bisa kok sayang, tapi resikonya kita harus lanjut ronde dua. Gimana nih, kamu mau apa enggak?" ujar Wein Lao.


"Ih kan udah tadi, emangnya kamu belum puas kita udah main lama?! Masa kamu masih mau lanjut lagi sih?" geram Xiu.


"Kalau main sama kamu mah gak ada puasnya sayang, aku selalu pengen terus. Makanya mending aku keluar aja dulu, supaya kamu bisa istirahat," ucap Wein Lao.


"Terserah deh, tapi awas ya kalo kamu godain perempuan itu! Aku gak akan pernah mau kasih jatah lagi ke kamu," ancam Xiu.


"Enggak lah sayang, mana berani aku godain perempuan lain? Mendingan aku sama kamu aja, lagian kamu gak ada duanya kok," ujar Wein Lao.


"Yaudah, sana kamu mandi gih! Aku mau tidur sebentar, capek banget tau! Terus kalau nanti kamu keluar, tolong bilangin sama mommy kalau aku lagi tidur!" ucap Xiu.


"Siap sayang! Udah, kamu tidur aja yang nyenyak disini dan gausah mikirin aku!" ucap Wein Lao.


Xiu mengangguk kecil dan perlahan kedua matanya mulai tertutup karena sangking lelahnya sehabis melayani suaminya tadi.


"Gemesin banget sih kamu!" goda Wein Lao.


Tak ada jawaban dari Xiu, wanita itu sudah lebih dulu tertidur.


Wein Lao pun tersenyum lebar, memandangi wajah wanitanya secara intens sambil terus mencubit dan mencolek pipi istrinya itu.


"Kamu itu cantik banget sih, aku selalu gak bisa berpaling dari kamu!" puji Wein Lao.




Sementara itu, ratu Lien masih kebingungan mencari dimana putri Xiu dan juga Wein Lao.


Sudah hampir seluruh wilayah istana ia telusuri, namun tak berhasil menemukan keberadaan Xiu.


"Luan, kira-kira Xiu sama Lao pada kemana ya? Ini kok daritadi kita muter-muter istana, tapi malah gak ketemu sama mereka?!" ujar ratu Lien.


"Saya gak tahu juga ratu, mungkin aja mereka lagi berduaan di kamar. Maklumlah ratu, namanya juga pasangan muda," ucap Luan.


"Ah iya sih, berarti kita gak boleh ganggu mereka. Yaudah deh, nanti sore aja aku bicara sama Xiu kalau dia udah keluar kamar," ucap ratu Lien.


"Baik ratu! Kalo gitu mari saya antar ratu ke kamar, sepertinya ratu juga butuh istirahat karena kelihatan lelah!" ucap Luan.


"Enggak usah, aku gak mau ke kamar. Kamu temani saja aku ke taman belakang ya, soalnya aku butuh udara segar!" pinta ratu Lien.


"Oh gitu, iya siap ratu!" ucap Luan menurut.


Namun, tiba-tiba saja ratu Lien kepikiran dengan An Ming, hingga kini putranya itu belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk pulang.


"Oh iya, kamu ada lihat An Ming gak tadi? Dia udah pulang belum ya?" tanya ratu Lien.


"Eee kayaknya belum deh ratu, soalnya daritadi saya gak lihat pangeran An Ming di sekitar istana. Emang kenapa ya ratu?" jawab Luan.


"Itu anak kemana sih? Udah mau sore begini, dia belum pulang juga. Apa aku cari aja dia kali ya?" ujar ratu Lien.


"Eh jangan ratu! Biar suami saya aja yang susulin pangeran An Ming, lebih baik ratu tetap disini aja!" ucap Luan.


"Gak bisa, Ryu udah ada tugas dari saya. Sekarang yang ada di istana ini ya cuma aku, jadi memang aku yang harus cari An Ming!" ucap ratu Lien.


"Duh, mending jangan deh ratu! Itu bahaya tau, kalau terjadi sesuatu sama ratu di luar sana gimana?!" ucap Luan.


"Gak akan kok, aku bisa jaga diri. Kamu tunggu aja disini ya, barangkali nanti An Ming pulang!" ucap ratu Lien.


"Ta-tapi ratu..."


"Sudah, aku pergi ya? Aku titip istana sama kamu, Luan!" potong ratu Lien.


Ratu Lien langsung mempercepat langkahnya meninggalkan Luan, pelayan itu tidak bisa berbuat banyak untuk menahan sang ratu karena ia sudah tertinggal cukup jauh.


Saat di gerbang, ratu Lien bertemu dengan pasukan serigala yang dipimpin raja In Lao.


Ratu Lien pun menghentikan langkahnya sejenak untuk menyambut kedatangan pasukan serigala.


"Ratu Lien, mau kemana?" tanya In Lao.


"Eee..."




Wein Lao kini tiba kembali di ruang pengobatan untuk mengecek kondisi Xiao Tien yang sebelumnya dibawa kesana.


Pria itu cukup heran lantaran ruang tersebut kosong dan hanya ada Xiao Tien seorang tanpa ada siapapun yang menemaninya.


"Loh, ini ratu Lien sama tabib pada kemana ya? Kok cewek ini ditinggal sendiri?" gumam Wein Lao.


Wein Lao langsung menghampiri gadis itu, ia menatap kasihan ke arahnya karena kondisi Xiao Tien memang masih belum membaik.


"Kasihan sekali dia!" ucap Wein Lao lirih.

__ADS_1


"Uhuk uhuk.." tiba-tiba Xiao Tien terbangun dan batuk-batuk, membuat Wein Lao terkejut.


"Eh eh, kamu kenapa? Butuh bantuan?" tanya Wein Lao cemas.


"Eee enggak kok, aku cuma batuk aja. Kamu yang tadi nolong aku kan ya?" ucap Xiao Tien.


"Ah iya, aku Wein Lao, pangeran serigala," ucap Wein Lao mengenalkan diri.


"Ohh, namaku Xiao Tien. Aku ini cuma warga biasa, bukan siapa-siapa," ucap Xiao Tien.


"Tidak apa, pada dasarnya semua manusia itu sama saja kok," ucap Wein Lao.


"Terimakasih ya karena kamu udah mau bantu aku tadi! Kalau gak ada kamu, gak tahu deh aku bakal gimana tadi," ucap Xiao Tien.


"Sama-sama, udah tugas kita sesama manusia untuk saling membantu satu sama lain," ucap Wein Lao tersenyum.


"Kamu baik sekali! Aku gak nyangka, ternyata masih ada orang istana yang baik seperti kamu! Aku pikir semua bangsawan itu gak punya hati nurani," ucap Xiao Tien.


"Artinya kamu salah kira, karena gak semuanya kayak gitu. Yasudah, kondisi kamu sekarang gimana? Udah baikan?" ujar Wein Lao.


Xiao Tien mengangguk disertai senyuman.


"Syukurlah, semoga kamu bisa cepat sembuh! Jujur aja aku gak tega lihat perempuan seperti kamu harus menahan sakit kayak gini!" ucap Wein Lao.


"Terimakasih atas perhatiannya, Wein Lao!" ucap Xiao Tien.


"Tapi, sebenarnya apa penyebabnya sampai kamu bisa terluka parah seperti ini?" tanya Wein Lao.


"Aku diserang oleh orang yang tidak ku kenali, dia memakai topeng dan aku tak bisa mengetahui seperti apa rupanya," jawab Xiao Tien.


"Apa kamu sebelumnya pernah mempunyai masalah dengan orang lain?" tanya Wein Lao.


"Tidak, aku saja jarang berinteraksi dengan orang-orang. Bagaimana bisa aku memiliki musuh?" jawab Xiao Tien.


"Coba kamu ingat-ingat lagi, barangkali kamu pernah berbuat sesuatu yang tidak disukai oleh orang itu!" ujar Wein Lao.


"Eee setahu aku sih enggak ada ya, tapi sebelum ini emang aku pernah tolong seseorang yang lagi dikejar-kejar rampok sih," jelas Xiao Tien.


"Nah itu dia, bisa aja perampok itu dendam sama kamu," ucap Wein Lao.




Fey Chu memutuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon rindang setelah ia hampir seharian berjalan mengelilingi hutan.


Gadis itu membuka tas yang selalu ia bawa, mengambil bekal makanan serta minuman, lalu melahapnya.


"Duh, bekal aku udah mau habis lagi. Aku harus cari makan kemana lagi ya?" ujar Fey Chu.


Fey Chu menyingkirkan sejenak kotak bekalnya ke pinggir, mengambil sesuatu yang lain dari dalam tasnya untuk ia pegang.


Fey Chu tampak memegang sebuah kitab kuno pemberian gurunya dahulu, ia menatap kita tersebut dan mengusapnya lembut.


"Ini satu-satunya kenangan dari guru, aku harus jaga dan pelajari semua isinya dengan baik! Aku yakin, begitu aku selesai mempelajarinya, pasti aku bisa mewujudkan impianku itu!" ucap Fey Chu.


Akhirnya Fey Chu membuka kitab tersebut dengan perlahan dan hati-hati, ia tak mau merusak barang pemberian gurunya tentu.


"Kitab rajawali emas? Apa ini?" gumamnya.


Fey Chu terus membuka kitab itu selembar demi selembar, ia membaca isinya secara perlahan sembari memahaminya.


"Jurus sayap emas tingkat satu? Kenapa guru belum pernah mengatakan tentang jurus ini padaku? Apa aku bisa mempelajarinya sendiri?" ujar Fey Chu.


Gadis itu pun bangkit dari duduknya tanpa melepas kitab di tangannya.


"Ya, aku harus bisa pelajari jurus ini!" ucap Fey Chu.


"Hey wanita sialan!" Fey Chu terkejut saat seseorang tiba-tiba meneriakinya dengan lantang dari depan sana.


"Siapa kalian?" tanya Fey Chu pada sekumpulan orang yang mendekatinya itu.


"Kamu jangan pura-pura lupa! Aku yakin, pasti kamu masih mengenali kami!" ujar orang itu.


Gadis itu terdiam sejenak, barulah ia menyadari bahwa orang-orang di hadapannya kini adalah rombongan perampok yang sebelumnya ingin merebut barang bawaannya.


"Ternyata kalian lagi, mau apa ha? Apa kalian tidak puas dengan apa yang aku berikan tadi? Masih ingin dihajar lagi?" tanya Fey Chu.


"Jangan sombong kau wanita sialan! Sekarang serahkan semua barang-barang kamu, atau kami akan menghabisi kalian!" ancam pria itu.


"Aku tidak mau!" tegas Fey Chu.


"Baiklah, ayo kita serang dia dan rebut semua barang miliknya!" ucap pria itu.


"Tunggu!" suara teriakan menghentikan tindakan yang hendak dilakukan oleh mereka.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2