
raja Ling masih belum terima dengan kekalahannya atas Wein Lao beberapa waktu lalu.
Kini ia tengah menyiapkan pasukannya secara besar-besaran untuk dapat menyerang istana Quangzi dan membalas dendam.
Raja Ling juga sangat yakin bahwa pembunuh ayahnya adalah putri Xiu, walaupun wanita itu terus saja mengelak.
"Lapor raja Ling!" seorang prajurit muncul di hadapannya dan sedikit membungkuk.
"Ada apa?" tanya raja Ling dingin.
"Seluruh pasukan sudah siap, kita bisa berangkat saat ini juga yang mulia." jelas prajurit itu.
"Bagus! Bilang sama mereka, sebentar lagi kita akan berangkat menuju Quangzi!" ucap raja Ling.
"Siap raja Ling!" ucap prajurit itu.
Prajurit itu pun berbalik dan pergi dari istana untuk menemui para pasukan yang lain di luar sana.
Sementara raja Ling juga bangkit dari singgasananya bersiap untuk segera pergi.
"Awas kamu Xiu, aku pastikan kali ini kamu tidak akan selamat dariku!" geram raja Ling.
Setelahnya, raja Ling langsung melangkah pergi menemui pasukannya yang sudah bersiap di depan sana.
Tanpa menunggu lama, raja Ling pun memerintahkan pada seluruh prajurit disana untuk pergi menuju Quangzi.
"Ayo semuanya, kita berangkat sekarang!" teriak raja Ling dengan lantang.
"Siap yang mulia!" jawab seluruh prajurit serentak.
Mereka semua pun berangkat bersama-sama menuju istana Quangzi.
Namun, di tengah perjalanan mereka justru bertemu dengan Xiu serta Wein Lao.
"Hahaha, akhirnya kita bertemu lagi Xiu... sekarang kalian berdua tidak bisa lepas dariku, aku akan habisi kalian saat ini juga!" ucap raja Ling.
"Kamu lagi kamu lagi, mau apa sih kamu? Kenapa kamu belum berhenti juga sih jadi orang jahat? Gak ada kapok-kapok nya ya kamu!" ujar Wein Lao.
"Diam kamu! Ini urusanku dan putri Xiu, jadi kamu sebaiknya tidak usah ikut campur!" ucap raja Ling.
"Apapun yang menyangkut Xiu, itu menjadi urusan saya. Kalau kamu ingin macam-macam dengan dia, maka kamu harus berhadapan dulu dengan saya!" ucap Wein Lao.
"Baiklah, rasakan ini! Seraaaangg!!" teriak raja Ling.
Raja Ling serta pasukannya langsung menyerang Wein Lao dan Xiu secara membabi buta.
Xiu tampak kesulitan meladeni seluruh prajurit yang mengelilinginya saat ini karena luka di perutnya.
"Awhh!! Kalian jangan maju semuanya dong! Masa ngelawan perempuan aja harus keroyokan?" ucap Xiu coba menahan prajurit itu.
"Hahaha, seperti kamu sedang terluka. Ini kesempatan buat kami untuk menghabisi kamu, ayo kita serang dia!" ucap salah seorang prajurit.
"Eh tunggu tunggu, biarin aku obati luka aku dulu dong!" pinta Xiu.
"Ah enak aja minta waktu buat obatin luka! Kita gak bakal kasih kesempatan kamu untuk itu, jadi kamu siap-siap aja buat mati!" ujar prajurit.
"Hah??" Xiu terkejut saat prajurit-prajurit itu mulai mengeluarkan pedang mereka dan bersiap menyerangnya.
"Seraaaangg!!" teriak mereka.
Xiu akhirnya terpaksa melawan mereka semua walau dengan tubuh terluka, ia menghindari serangan prajurit-prajurit itu dan mencoba untuk menyerang balik mereka.
Kelincahan Xiu masih menyelamatkan nyawanya kali ini, biarpun tubuhnya terluka dan sulit untuk bergerak cepat.
Xiu berhasil mengalahkan kelima prajurit yang tadi menyerangnya dan kini ia berlari menjauh dari para prajurit yang coba untuk mengejarnya.
"Aku harus kabur!" ucap Xiu.
•
•
Sliingg... slaasshh...
Wein Lao yang tidak fokus karena terus memperhatikan putri Xiu, akhirnya terkena sabetan pedang milik raja Ling di bagian bahunya.
"Akh!" Wein Lao pun memekik kesakitan sembari memegang bahunya yang terluka itu.
"Hahaha, menyerah lah kamu Lao! Kamu tidak bisa mengalahkan ku kali ini, karena aku sudah datang dalam keadaan siap! Serahkan putri Xiu padaku, dan aku akan membebaskan mu!" ucap raja Ling.
"Kamu kenapa sulit sekali untuk dibilangin? Sudah kubilang berkali-kali, bukan putri Xiu yang sudah membunuh ayahmu! Kamu salah orang, dia hanya difitnah!" ucap Wein Lao.
"Ah aku tidak perduli! Bagiku, putri Xiu itu pembunuh dan dia harus dihabisi!" ujar raja Ling.
"Kamu benar-benar gila raja Ling! Bagaimana bisa kamu menghabisi seseorang tanpa sebab seperti itu?" ucap Wein Lao.
"Kamu jangan bikin aku tambah bingung! Kalau kamu tidak mau menyerahkan Xiu padaku, biarlah para prajurit ku itu yang menangkapnya. Sekarang kamu lawanlah aku, kita bertarung sampai mati!" ucap raja Ling.
Wein Lao menggelengkan kepalanya, bersiap kembali menghadapi serangan raja Ling.
Namun, pandangan matanya masih terus tertuju pada putri Xiu yang sedang diserang disana.
"Xiu, bertahanlah!" batinnya.
"Hiyaaa.." Wein Lao terkejut saat raja Ling sudah melayangkan serangan ke arahnya secara tiba-tiba.
Mereka pun kembali beradu pedang, raja Ling terus menyerang secara membabi buta dan tak memberi kesempatan bagi Wein Lao untuk melawan.
Slaasshh...
Lagi-lagi karena tidak fokus, Wein Lao kembali terkena sabetan pedang raja Ling.
__ADS_1
Slaasshh...
Bukan hanya satu kali, tapi dua kali di lengan serta kakinya yang mengakibatkan Wein Lao kesulitan untuk berdiri tegak.
"Aakhhh!! Awhh.." Wein Lao terus merintih sembari memegangi bagian tubuhnya yang terluka.
"Rasakan ini Lao, kali ini aku tidak akan pernah mengampuni mu!" ucap raja Ling seraya mengangkat pedangnya.
Raja Ling kembali bergerak maju bermaksud menyerang Wein Lao.
Wein Lao yang sudah terluka hanya bisa berdiam diri, karena untuk bangkit pun dirinya kesulitan.
Tiiingg...
Tanpa diduga, pedang milik raja Ling berhasil ditahan oleh In Lao yang datang kesana.
"Benar ternyata firasat ku, kau sedang tidak baik-baik saja, putraku Lao." ucap In Lao.
"Akh! Ayah?" Wein Lao terkejut melihat kehadiran ayahnya disana.
"Kamu istirahat saja! Biar ayah yang hadapi raja Ling disini!" pinta In Lao.
"Baik ayah, terimakasih!" ucap Wein Lao.
"Sial! Beraninya kamu ikut campur dalam urusanku, baiklah akan kuhabisi juga kau!" ucap raja Ling.
"Terserah apa katamu saja, raja Ling! Mari lawan aku dan kita buktikan siapa yang terhebat!" tantang Lao.
"Kurang ajar! Hiyaaa..."
•
•
Disisi lain, An Ming bersama Zheng dan Lu Ching Yao baru tiba di sebuah air terjun yang sangat indah nan menawan.
An Ming cukup terkesan melihatnya, air terjun itu benar-benar membuat matanya sangat nyaman saat pertama kali melihatnya.
"Nah pangeran, kita sudah sampai. Ini dia tempat indah yang paman maksud," ucap Zheng.
"Wah paman, ini luar biasa! Tempat ini indah sekali, aku suka berada disini paman! Kenapa sih paman baru kasih tahu sekarang? Harusnya dari kemarin itu paman udah bawa aku kesini!" ujar An Ming.
"Ya maaf pangeran! Paman tidak tahu kalau pangeran masih bersedih, jadinya paman tidak punya pikiran untuk membawa pangeran kesini." ucap Zheng.
"Yasudah lah tidak apa-apa, yang penting aku sekarang bisa lihat tempat seindah ini. Aku bahagia sekali ada disini!" ucap An Ming.
"Nikmati saja pemandangan ini pangeran!" ucap Zheng sambil tersenyum.
"Tentu paman, aku sepertinya akan tinggal selama beberapa waktu di tempat ini. Paman dan guru tunggu saja disini, aku ingin mendekat ke air terjun itu!" ucap An Ming.
"Baik pangeran!" ucap Zheng menurut.
"Eee pangeran, berhati-hatilah! Arus disana cukup deras, jadi pangeran jangan lengah!" ucap guru Yao.
An Ming pun bergerak menyusuri sungai yang deras itu sendirian, ia mendekati air terjun tersebut dan ingin merasakan guyuran dari atas sana ke tubuhnya.
Sementara Zheng dan Lu Ching Yao hanya berdiam di tempat mereka berdiri saat ini sambil terus mengawasi An Ming, tentu mereka tak mau terjadi sesuatu pada pangeran kecil itu.
"Paman, guru, ayo turun juga kesini! Disini asyik loh!" teriak An Ming dari sungai.
"Hah? Bagaimana ini guru Yao?" tanya Zheng.
"Kita ikuti saja perintah pangeran," jawab guru Yao yang langsung turun ke sungai.
"Baik pangeran, kita menyusul!" teriak guru Yao kepada An Ming.
"Oke guru!" balas An Ming sambil tersenyum.
Mereka bertiga akhirnya sama-sama bermain air di sungai itu, An Ming tampak sangat bersemangat ketika tubuhnya diguyur oleh air terjun yang deras.
"Wah segar sekali paman! Rasanya pikiran ku jadi jernih kembali," ucap An Ming.
"Baguslah pangeran! Itu artinya ide paman berhasil, buktinya pangeran sudah tidak sedih lagi." ucap Zheng.
"Ya paman, tapi aku punya pertanyaan deh untuk paman dan guru." ucap An Ming.
"Apa itu pangeran?" Zheng terlihat penasaran.
"Kalau aku memberontak dari Quangzi, apa kalian mau tetap setia padaku?" tanya An Ming.
"Hah??" Zheng serta guru Yao kompak terkejut hebat mendengar pertanyaan An Ming.
•
•
Xiu yang sedang berusaha kabur dari kejaran para prajurit raja Ling, akhirnya menyerah saat ia dicegat oleh sang panglima perang kerajaan Sidhagat.
"Mau kemana lagi, tuan putri Xiu? Kamu tidak akan bisa pergi dariku!" ucapnya.
Xiu pun nampak panik, pasalnya di belakangnya saat ini juga terdapat cukup banyak prajurit yang menghadangnya.
"Akh! Bagaimana ini?" batin Xiu.
Perlahan sang panglima itu mendekat ke arah putri Xiu sambil terus tersenyum lebar.
Wanita itu pun merasa ketakutan, kini ia sudah terkepung dan sulit untuk melarikan diri.
"Menyerah lah putri Xiu!" ucap panglima itu.
"Tidak akan! Aku tidak akan pernah menyerah, meskipun aku harus mati di tangan kalian semua!" ucap Xiu dengan lantang.
__ADS_1
"Baiklah jika itu maumu, ayo kita serang dia dan bawa dia ke hadapan raja Ling!" ucap panglima itu memerintahkan prajuritnya menangkap putri Xiu.
"Hah??" Xiu terkejut saat seluruh pasukan Sidhagat itu semakin mengepungnya.
Mereka semua kembali menyerang putri Xiu, membuat wanita itu kewalahan untuk menahan serangan mereka.
Slaasshh...
"Akh!" Xiu memekik keras saat bagian pahanya terkena sabetan pedang salah satu prajurit.
Darah segar mengalir di pahanya itu sampai menembus pakaian yang dikenakannya.
"Hahaha, bagaimana putri Xiu? Masih ingin melawan kami? Atau kamu sudah menyerah dan mau ikut dengan kami bertemu raja Ling?" ujar si panglima.
"Tidak akan! Aku akan terus melawan kalian, lagipun aku belum kalah!" jawab Xiu dengan lantang.
"Baiklah, ayo cepat tangkap dia!" perintah panglima itu kepada para prajuritnya.
Seluruh prajurit itu mendekat dan menangkap tubuh putri Xiu secara paksa.
"Ah lepasin aku! Kalian jangan pegang-pegang aku dan paksa aku buat ikut sama kalian! Lepasin aku cepat!" ucap Xiu mencoba berontak.
"Sudah, jangan banyak bicara! Kamu ikut saja dengan kami atau kami akan habisi kamu saat ini juga!" tegas prajurit.
"Ih gak mau! Aku gak mau ikut kalian! Cepat lepasin aku dan jangan paksa aku!" ucap Xiu terus mencoba melepaskan diri.
Akan tetapi, tenaga Xiu tidak mampu membuat dirinya lepas dari cengkraman para prajurit itu.
"Diam kamu! Ayo prajurit, bawa dia untuk bertemu dengan raja Ling!" teriak panglima Sidhagat dengan keras.
"Baik panglima!" ucap prajurit itu menurut.
Akhirnya mereka membawa Xiu yang terluka itu secara paksa untuk menemui raja Ling.
Sesampainya di tempat raja Ling berada, mereka terkejut karena raja Ling tengah bertarung dengan In Lao serta Wein Lao sekaligus.
"Hentikan pertarungan kalian! Lihatlah, kami sudah berhasil menangkap putri Xiu. Jika kalian tidak berhenti, maka kami akan memenggal kepala putri Xiu saat ini juga!" teriak panglima itu.
"Apa? Xiu??" Wein Lao tersentak kaget melihat istrinya tertangkap disana.
•
•
"Paman, guru, ayo turun juga kesini! Disini asyik loh!" teriak An Ming dari sungai.
"Hah? Bagaimana ini guru Yao?" tanya Zheng.
"Kita ikuti saja perintah pangeran," jawab guru Yao yang langsung turun ke sungai.
"Baik pangeran, kita menyusul!" teriak guru Yao kepada An Ming.
"Oke guru!" balas An Ming sambil tersenyum.
Mereka bertiga akhirnya sama-sama bermain air di sungai itu, An Ming tampak sangat bersemangat ketika tubuhnya diguyur oleh air terjun yang deras.
"Wah segar sekali paman! Rasanya pikiran ku jadi jernih kembali," ucap An Ming.
"Baguslah pangeran! Itu artinya ide paman berhasil, buktinya pangeran sudah tidak sedih lagi." ucap Zheng.
"Ya paman, tapi aku punya pertanyaan deh untuk paman dan guru." ucap An Ming.
"Apa itu pangeran?" Zheng terlihat penasaran.
"Kalau aku memberontak dari Quangzi, apa kalian mau tetap setia padaku?" tanya An Ming.
"Hah??" Zheng serta guru Yao kompak terkejut hebat mendengar pertanyaan An Ming.
"Sebentar pangeran, apa kata-kata pangeran itu benar adanya?" ucap Zheng tak percaya.
"Enggak lah paman, itu kan aku bilang kalau." ucap An Ming.
"Tapi, apa pangeran punya keinginan buat memberontak dari Quangzi?" tanya Zheng.
"Tidak juga, tapi gak tahu kalau di lain waktu." jawab An Ming.
"Duh pangeran, kenapa pangeran bisa punya pikiran kayak gitu?! Istana Quangzi itu kan tempat tinggal pangeran, disana juga ada ibu dan saudara pangeran. Masa pangeran tega mau berkhianat dari mereka?" ujar Zheng.
"Iya pangeran, sebaiknya pangeran lupakan saja niat pangeran itu! Jangan pernah punya pikiran seperti itu lagi ya!" ucap guru Yao.
An Ming mengangguk pelan, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tanpa diduga, An Ming menemukan sosok wanita yang sedang mencuci wajahnya disana.
Tiba-tiba saja An Ming tersenyum dan terus menatap ke arah wanita itu.
"Cantik sekali dia!" ucapnya spontan.
Sontak Zheng dan guru Yao kompak terkejut mendengar ucapan An Ming, mereka juga menoleh ke arah yang ditatap oleh pangeran kecil itu.
"Ya ampun! Jadi, daritadi pangeran ngeliatin perempuan itu?" ujar Zheng.
"Iya paman, dia cantik ya? Aku jadi mau samperin dia dan kenalan sama dia, boleh kan paman?" ucap An Ming.
"Ah eee gimana ya..??" ujar Zheng bingung.
Tanpa menunggu jawaban dari Zheng, An Ming langsung pergi begitu saja mendekati wanita yang ada di depan sana itu.
"Eh eh pangeran, tunggu!" teriak Zheng.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...