Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 38. Dirampok


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, Xi Mei semakin lancar menguasai jurus-jurus Wushu yang diajarkan oleh pamannya, Ryu.


Bahkan Ryu mengatakan jika Xi Mei telah berhasil menguasai semua jurus yang dapat ia ajarkan dan gadis itu sudah resmi lulus dari perguruan nya.


"Kamu memang hebat Xi Mei! Paman bangga padamu! Kerja keras kamu selama ini membuahkan hasil yang memuaskan, karena kamu dapat menguasai semua jurus yang ku ajarkan dalam waktu singkat!" ucap Ryu.


"Terimakasih paman! Ini juga berkat paman yang selalu bersabar melatih aku!" ucap Xi Mei.


"Kalau begitu, kamu sekarang telah dinyatakan lulus dari perguruan ini. Paman sudah tidak punya ilmu lagi untuk diajarkan kepadamu," ucap Ryu sambil tersenyum puas.


"Benarkah paman?" tanya Xi Mei kaget.


"Tentu saja, kau sudah menguasai semuanya. Kamu memang hebat Xi Mei!" jawab Ryu.


"Tapi paman, aku belum merasa puas dengan semua ilmu yang aku miliki saat ini. Aku masih ingin belajar lagi paman! Tolong ajarkan aku jurus yang lainnya!" pinta Xi Mei.


"Tidak bisa Xi Mei, paman sudah mengajarkan semua yang paman ketahui kepadamu. Kalau kamu ingin lebih, kamu bisa datang ke tempat perguruan yang lain." saran Ryu.


"Oh iya, kalau begitu izinkan aku mengembara ke tempat yang lebih jauh ya paman! Aku ingin mencari guru lain bagiku," ucap Xi Mei.


"Mengembara? Apa kamu serius?" ujar Ryu kaget.


"Tentu paman, aku sangat serius! Aku kan sudah bilang, aku ingin menjadi yang terkuat di tanah ini. Karena untuk dapat merebut kembali hak ku, memang diperlukan sebuah kesaktian yang lebih daripada yang aku miliki saat ini!" jawab Xi Mei.


"Tapi Xi Mei, kamu itu masih terlalu muda untuk melakukannya. Lagipun, kamu adalah seorang wanita. Bagaimana jika kamu terluka di luaran sana?" ucap Ryu cemas.


"Tenang saja paman, aku bisa menjaga diriku sendiri!" ucap Xi Mei.


"Bukan begitu Xi Mei, paman hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu! Biar gimanapun, kamu itu putri istana dan paman diberi amanah untuk melindungi kamu. Jadi, paman tidak mungkin membiarkan kamu pergi mengembara seorang diri!" ucap Ryu.


"Lalu, menurut paman baiknya bagaimana? Aku harus pergi dengan siapa?" tanya Xi Mei heran.


"Eee andai saja Zheng tidak berada di istana, pasti paman akan sarankan kamu pergi sama dia." ucap Ryu juga kebingungan.


"Sudahlah paman, aku bisa sendiri kok. Biarkan aku pergi sendiri, aku sudah besar!" pinta Xi Mei.


"Tidak, jangan! Baiklah, paman akan antar kamu pergi menuju tempat teman paman yang seorang ahli beladiri tingkat tinggi. Kamu bisa belajar disana bersama dia, bagaimana?" saran Ryu.


"Boleh paman, dimana tempat dia berada?" tanya Xi Mei penasaran.


"Diujung teluk sana, kamu sebaiknya pulang ke rumah sekarang dan persiapkan perbekalan yang banyak! Perjalanan kita kesana tidak dekat, kamu juga harus membawa pakaian karena kamu akan tinggal disana!" jawab Ryu.


"Baik paman! Kalau begitu, aku pamit dulu. Sekali lagi terimakasih paman, karena paman sudah mengajariku banyak ilmu yang bermanfaat!" ucap Xi Mei tersenyum.


"Sama-sama Xi Mei, itu sudah tugasku." kata Ryu.


Xi Mei pun pergi dari sana dengan kuda miliknya, ia melaju kencang meninggalkan pamannya karena sudah tidak sabar ingin segera pulang.


Biarpun Xi Mei masih sedih memikirkan ibundanya, tapi tetap saja gadis itu tidak mau menyerah untuk merebut kembali istana yang menjadi haknya.




Di tengah perjalanan pulang, Xi Mei dicegat oleh segerombolan pencuri yang memang suka memalak orang-orang di sekitar sana setiap sore hari seperti ini.


Naasnya, tiga orang pencuri itu harus berhadapan dengan Xi Mei yang tentunya memiliki kekuatan untuk bisa menghabisi mereka hanya dengan sekali sentakan.


"Hey, cepat serahkan barang-barang milikmu itu!" ucap seorang pencuri menodongkan pedang ke arah Xi Mei.


Xi Mei sudah dikepung dari tiga arah berbeda, yang mana setiap pencuri menodongkan masing-masing senjata miliknya.


"Kalian telah salah memilih korban, aku pastikan kalian akan menyesal!" ucap Xi Mei.


"Hahaha, jangan banyak bicara kau manis! Cepat serahkan saja semua yang kau punya kepada kami, atau pedang ini akan menembus ke punggung mu!" ucap pencuri itu.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" ujar Xi Mei.


"Sial! Kau ini benar-benar memancing emosi kami, lihat saja gadis manis, kami akan berikan pelajaran berharga untukmu!" ucap si pencuri tampak kesal.


"Waw aku sudah tidak sabar untuk itu!" ucap Xi Mei sembari bertepuk tangan dan terkekeh.


"Kurang ajar!" pencuri itu semakin terpancing emosi, mereka pun mulai menyerang Xi Mei dengan pedang milik mereka.


Xi Mei spontan meloncat dari kudanya agar pedang tersebut tidak menancap di tubuhnya.


Gadis itu berhasil turun ke tanah dengan selamat, ia menatap ketiga pencuri disana sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Kalian mau apa tadi? Berikan pelajaran untuk ku bukan? Ayo dong, aku ingin diberi pelajaran oleh kalian!" tantang Xi Mei.


"Baiklah, rasakan ini gadis nakal!" teriaknya.


Mereka bertiga kembali maju menyerang Xi Mei secara bersamaan, namun kali ini Xi Mei berhasil menahan serangan mereka dan membuat ketiga pria itu tak dapat berbuat apa-apa.


"Bagaimana? Masih ingin memberi aku pelajaran, paman tampan?" ucap Xi Mei menggoda mereka.


"Aaarrgghh kurang ajar! Rasakan ini!" pencuri itu belum menyerah, mereka masih ingin mencoba untuk menyerang Xi Mei.


Blesss..


Satu pedang milik pencuri itu berhasil menancap di perut Xi Mei, dia pun tersenyum smirk dan menarik pedangnya kembali hingga Xi Mei mengeluarkan darah melalui perutnya.


"Ahaha, terima itu gadis nakal! Sudah kubilang, jangan melawan ku!" ujarnya tertawa.


"Uhuk uhuk.." Xi Mei terbatuk-batuk dan mulai tersungkur ke tanah dengan mulut dipenuhi darah.


Sementara ketiga pencuri itu terus tertawa ria merasa puas dengan apa yang sudah mereka lakukan barusan.


Lalu, pencuri pencuri itu pun mengambil barang milik Xi Mei dari atas kuda dan berniat pergi membawa semua barang itu.


Xi Mei tergeletak di atas tanah dengan satu tangan menempel pada perutnya, ia merasa sangat lemah dan sakit.


"Awhh!! Kenapa tubuhku tidak kebal?" ucapnya.


Setelah para pencuri tersebut pergi dari sana, Xi Mei merasakan sakit di perutnya berangsur-angsur menghilang hingga tak terasa apa-apa lagi.


Dia pun bangkit dan meraba-raba bagian perutnya untuk memastikan luka akibat pedang tadi.


Akan tetapi, perutnya sudah pulih seperti semula seakan tidak terjadi apapun disana.


"Hah? Kok bisa tiba-tiba sembuh sih? Kenapa gak daritadi coba? Apa emang kesakitan aku tuh begini ya? Jadi, agak ngelag dulu sebentar kayak kilat sama bunyinya." gumam Xi Mei.


"Ah apapun itu aku gak perduli! Gara-gara kesaktian aku yang gak jelas ini, sekarang aku jadi kehilangan barang-barang punyaku! Sial banget sih nasib aku!" umpatnya kesal.




Akhirnya Xi Mei tiba di rumah bibinya, ia menaruh kudanya di samping rumah kemudian masuk ke dalam dengan tampang lesu.


"Ada apa Xi Mei? Kamu kenapa?" tanyanya cemas.


"Eee aku tidak apa-apa, Chen. Aku hanya sedih karena tadi barang-barang ku semuanya diambil sama pencuri, aku sangat menyesal karena aku tidak bisa menjaga diriku sendiri!" jawab Xi Mei.


"Ah Xi Mei, kamu itu terlalu berlebihan! Kalau barang kamu semuanya hilang diambil pencuri, berarti itu bukan salah kamu dong. Sudah ya, kamu tidak perlu bersedih dan menyalahkan diri kamu seperti itu!" ucap Chen menenangkan.


"Ini semua salah aku kak, aku yang gak bisa jaga diri dan lawan perampok itu!" ucap Xi Mei.


"Huh, gimana aku bisa diizinin pergi mengembara sama paman dan bibik kalau lawan perampok aja aku gak bisa?" sambungnya.


"Apa? Mengembara? Memangnya kamu mau mengembara kemana, Xi Mei?" tanya Chen kaget.


"I-i-iya kak, aku mau menambah ilmu kemampuan aku. Kan kakak tahu sendiri, aku harus rebut istana Quangzi dari tangan Xavier! Jadi, aku butuh ilmu yang lebih hebat dari yang aku kuasai sekarang!" jawab Xi Mei menjelaskan pada Chen.


""Aku ngerti Xi Mei, tapi bukannya mengembara itu sesuatu yang sulit dilakukan ya? Apalagi kalau kamu mau sendiri, itu pasti bahaya banget buat kamu Xi Mei!" ucap Chen.


"Itu dia kak, makanya aku bingung." kata Xi Mei.


"Nah, kalo gitu kamu batalin aja niat kamu buat mengembara ya! Kalau kamu mau dapat ilmu tambahan, kamu cari-cari aja yang ada di dekat sini! Aku yakin bapak punya solusi buat kamu, coba nanti kamu tanya ke bapak kalau bapak udah pulang!" ucap Chen.


"Iya kak, tadi paman juga udah bilang kok kalau dia mau antar aku ke tempat temannya. Tapi, enggak tahu kapan deh." kata Xi Mei.


"Itu lebih bagus, jadinya kamu gak perlu pergi mengembara sendirian." ucap Chen tersenyum.


"Yaudah ya kak, aku mau ke kamar dulu dan siapin barang-barang yang bakal aku bawa buat pergi sama paman nanti." ujar Xi Mei.


"Oh oke!" ucap Chen singkat.


Disaat Xi Mei hendak pergi, ia malah berpapasan dengan Luan yang baru muncul dari dapur membawakan sepiring kue hangat di tangannya.


"Eh Xi Mei, kamu udah pulang?" tanya Luan.


"Iya bik," jawab Xi Mei sambil mencium tangan bibinya.


"Kamu kenapa? Kok kayak sedih gitu?" tanya Luan.

__ADS_1


"Eee aku..."


"Xi Mei abis dirampok, Bu." potong Chen.


"Apa? Dirampok? Kamu gak kenapa-napa kan sayang?" ucap Luan cemas terhadap Xi Mei.


"Enggak kok bik, aku baik-baik aja. Tapi, barang aku semuanya diambil sama rampok itu. Aku nyesel deh udah kalah lawan mereka, jadinya aku kehilangan barang aku." kata Xi Mei.


"Duh ya ampun! Gapapa sayang, barang itu kan bisa dibeli lagi nanti. Yang penting kamu baik-baik aja, bibik udah senang kok!" ucap Luan.


"Iya bik, tapi tetap aja aku ngerasa gak berguna. Masa lawan rampok aja aku kalah? Gimana aku bisa rebut istana Quang,zi nantinya?" ucap Xi Mei cemberut.


Luan terdiam menatap ke arah Chen dengan wajah cemasnya pada Xi Mei.




Slaasshh...


Zheng mengarahkan anak panahnya ke pohon tua di belakang istana, dan dengan segera pohon tersebut terbakar akibat panah miliknya.


An Ming yang menyaksikan itu dengan mata kepalanya cukup terkejut, ia tak menyangka Zheng bisa memiliki kemampuan seperti itu.


"Wah kau luar biasa paman! Aku sungguh kagum pada kemampuan mu!" ucap An Ming memujinya.


"Biasa saja pangeran, kau pun dapat melakukannya jika mau." kata Zheng.


"Benarkah paman? Apa paman bisa mengajariku untuk melakukan itu?" tanya An Ming.


"Tentu, tugasku di istana ini adalah mengajari seluruh punggawa istana terkait ilmu-ilmu memanah yang aku miliki. Kalau pangeran berkenan, aku bisa mengajarkannya saat ini juga." jawab Zheng sambil tersenyum.


"Baiklah paman, aku siap berlatih dengan paman! Tapi, jangan sekarang ya paman! Aku masih lelah setelah berlatih pedang tadi, aku melihat kau memanah saja." ucap An Ming.


"Okay!" ucap Zheng mengangguk setuju.


Zheng kembali menarik busurnya, memfokuskan pandangan ke arah target di depannya yang ingin ia bidik kali ini.


Slaasshh...


Lagi-lagi ia berhasil mencapai targetnya, kali ini anak panahnya menyebabkan api yang tengah membakar pohon itu terpadam.


"Waw keren paman! Paman bisa bikin api sama air begitu, aku jadi gak sabar mau latihan dan bisa ngelakuin apa yang paman lakuin tadi!" ucap An Ming tersenyum renyah.


"Iya pangeran, pasti paman nanti akan latih pangeran sampai bisa menguasai ilmu ini!" ucap Zheng.


Tak lama kemudian, ratu Lien bersama dua orang pelayannya muncul disana.


Sang ratu tampak tersenyum bahagia melihat putranya yang sudah akrab dengan Zheng.


"An Ming, Zheng, syukurlah kalian berdua sudah dapat akrab! Aku senang melihat kalian dekat seperti ini, aku harap kau dapat mengajarkan banyak hal kepada putraku ini, Zheng." ucap Lien.


"Baik ratu! Hamba memang berniat melakukan itu, barusan kami juga sedang membahas hal tersebut." ucap Zheng.


"Iyakah putraku?" tanya Lien pada An Ming.


"Iya ratu, aku lihat-lihat kemampuan paman Zheng itu luar biasa mom. Jadi, aku tertarik untuk belajar dengan paman Zheng!" jawab An Ming.


"Baguslah, mommy harap kamu bisa menjadi seorang raja yang sakti dan mampu menjaga kedaulatan istana ini dengan baik!" ucap ratu Lien.


An Ming dan Zheng kompak mengangguk, sedangkan sang ratu tampak memeluk putranya itu sembari mengusap rambutnya perlahan.


"Yasudah, mommy tinggal kalian berdua disini ya? Semangat berlatihnya!" ucap ratu Lien melepas pelukannya.


"Iya mom," ucap An Ming singkat.


"Zheng, aku titip putraku padamu! Bimbing dia agar bisa menjadi penerus yang berwibawa di istana ini!" ucap ratu Lien pada Zheng.


"Siap ratu! Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk itu!" jawab Zheng.


Ratu Lien tersenyum lebar, lalu pergi dari sana meninggalkan putranya bersama Zheng.


Setelah sang ratu pergi, An Ming meminta pada Zheng untuk kembali menunjukkan keahlian memanahnya disana.


Tentu saja dengan senang hati Zheng melakukannya itu, karena ia memang ingin membuat sang pangeran terpesona padanya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2