
Saat Wein Lao hendak bergerak kembali, tiba-tiba ia berpapasan dengan ratu Lien dari depan.
"Lao! Kamu lagi apa disini?" ucap ratu Lien.
"Eh ratu, maaf ratu tadi aku sedang mencari putri Xiu. Aku ingin bicara dengannya, tetapi aku tidak berhasil menemukan dia dimanapun. Aku khawatir dia kenapa-napa ratu!" ucap Wein Lao.
"Kamu tidak perlu khawatir Lao! Xiu tadi pamit padaku untuk pergi ke desa Fuxiu menemui sahabatnya, dia juga diantar oleh Mungyi kok." ucap ratu Lien sambil tersenyum.
"Huh syukurlah! Aku pikir terjadi sesuatu pada Xiu, tapi ternyata tidak." ucap Wein Lao.
"Iya Lao, kamu tenang saja! Sekarang lebih baik kamu ikut denganku, ada yang ingin aku bicarakan padamu!" ucap ratu Lien.
"Eee ratu mau bicara apa?" tanya Wein Lao penasaran.
"Nanti saja aku bicara langsung padamu di belakang, aku ingin hanya kita berdua dan tidak ada siapapun yang mendengarnya." ucap ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Wein Lao menurut.
"Marilah!" ucap ratu Lien.
"Silahkan ratu!" ucap Wein Lao meminta ratu Lien jalan lebih dulu.
Mereka pun melangkah pergi dari sana.
Sesampainya di taman belakang, kini ratu Lien menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Wein Lao sambil tersenyum.
"Jadi, apa yang ratu ingin bicarakan denganku?" tanya Wein Lao sangat penasaran.
"Soal pernikahan kamu dengan Xiu, apa tidak bisa berjalan seperti sebelumnya saja?" jawab ratu Lien.
"Maksud ratu?" tanya Wein Lao heran.
"Begini Lao, Xiu mengatakan padaku kalau dia belum siap menikah esok hari. Apa kamu bersedia untuk menikahi putriku di waktu yang tepat, yakni Minggu depan?" jelas ratu Lien.
"Eee..." Wein Lao terdiam kebingungan memikirkan perkataan ratu Lien barusan.
"Kenapa? Kamu masih ingin pernikahan kalian dilaksanakan besok?" tanya ratu Lien.
"Sebenarnya iya sih ratu, tapi kalau memang Xiu belum bersedia untuk menikah besok, ya apa boleh buat? Aku tidak mungkin memaksa Xiu untuk menikah kalau dia belum siap," jawab Wein Lao.
"Jadi, apakah kamu setuju untuk mengembalikan waktu pernikahan kalian menjadi Minggu depan?" tanya ratu Lien.
"Iya ratu, aku setuju." jawab Wein Lao.
Ratu Lien tersenyum senang mendengar jawaban Wein Lao, lalu menaruh tangannya di pundak pria itu dan mengusapnya lembut.
"Terimakasih Lao, karena kamu mau mengikuti kemauan putriku!" ucap ratu Lien.
"Sama-sama, ratu. Lagipun, tidak enak rasanya jika aku memaksa Xiu menikah esok hari, sedangkan dia belum bersedia menikah denganku. Aku kan inginnya kita berdua menikah tanpa paksaan," ucap Wein Lao.
"Ya, itu benar. Kamu tidak perlu khawatir, aku yakin Xiu pasti mau menikah denganmu! Hanya saja dia belum siap jika kalian harus menikah besok," ucap ratu Lien.
"Iya ratu, aku mengerti." ucap Wein Lao.
"Yasudah, kamu boleh kok menyusul Xiu ke desa Fuxiu. Kamu bisa minta Gusion mengantar mu, jika kamu tidak tahu tempatnya." ucap ratu Lien.
"Baiklah ratu, kalau begitu aku permisi dulu!" ucap Wein Lao.
"Ya, silahkan!" ucap ratu Lien.
Wein Lao pun pergi ke depan istana untuk menyusul putri Xiu.
•
•
Begitu tiba di gerbang istana bersama panglima Gusion, Wein Lao justru bertemu dengan Xiu yang baru saja kembali dari rumah Chen ditemani oleh Mungyi.
Wein Lao pun tersenyum lebar melihat calon istrinya itu telah kembali, sedangkan putri Xiu juga langsung turun dari kereta kudanya dan menghampiri Wein Lao disana.
"Lao, kamu mau kemana? Giliran aku datang, kok kamu malah pergi sih?" tanya Xiu.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa kamu pergi gak bilang-bilang dulu sama aku tadi kalau kamu mau pergi?!" ujar Wein Lao ketus.
"Eee iya aku minta maaf ya! Aku—" Xiu menghentikan ucapannya saat Wein Lao menatap tajam ke arahnya.
Wein Lao mendekati Xiu dan memegang wajahnya seraya berkata, "Kamu gak anggap aku sebagai calon suami kamu apa gimana sih?"
"Sabar dulu Lao! Aku itu cuma ketemu sama teman aku, lagian juga gak lama." ucap Xiu.
"Ya sama aja, walau cuma sebentar juga kamu harus tetap bilang sama aku dulu dong sebelum kamu pergi! Asal kamu tahu, aku nyariin kamu daritadi. Pokoknya lain kali kamu gak boleh begitu lagi, paham?!" tegas Wein Lao.
"I-i-iya Lao, aku paham kok. Kamu jangan marah begitu dong! Aku minta maaf ya karena tadi aku gak izin dulu sama kamu kalau aku mau pergi, jangan marah ya sayang!" ucap Xiu berusaha membujuk kekasihnya.
"Ya, kali ini aku maafin kamu. Sekarang kamu ikut sama aku yuk!" ucap Wein Lao menggandeng tangan gadisnya.
"Kemana?" tanya Xiu penasaran.
"Ke luar sebentar, ada yang mau aku bicarakan sama kamu soal pernikahan kita." jawab Wein Lao.
"Eee iya aku mau.." ucap Xiu gugup.
__ADS_1
"Yaudah, ayo kita pergi sekarang!" ucap Wein Lao.
Sebelum melangkah, Wein Lao pun menatap ke arah Gusion dan Mungyi sejenak.
"Panglima Gusion, paman Mungyi, kalian boleh kembali ke dalam istana! Aku dan putri Xiu akan pergi sebentar, aku pastikan putri Xiu baik-baik saja dan aman bersamaku!" ucap Wein Lao.
"Baik pangeran!" ucap Gusion dan Mungyi.
Setelahnya, Gusion dan Mungyi pun sama-sama kembali ke dalam istana sesuai perintah Wein Lao tadi.
Sementara Wein Lao beralih menatap Xiu dan merangkul pundak gadis itu, menarik dagu Xiu lalu mengecup bibirnya lembut.
Cupp!
"Hah? Kenapa kamu cium aku?" tanya Xiu.
"Apa salahnya aku cium pasangan aku sendiri? Kamu gak suka dicium sama aku?" ujar Wein Lao.
"Bukan gitu, aku cuma heran aja." elak Xiu.
"Heran kenapa?" tanya Wein Lao.
"Tadi kan kamu marah-marah sama aku, tapi kenapa kamu malah cium aku?" ujar Xiu.
"Udah, gausah dipikirin!" pinta Wein Lao.
Pria itu langsung menarik tubuh Xiu dan membawanya pergi dari sana.
•
•
Wein Lao membawa gadisnya ke hutan, mendorong tubuh Xiu hingga menyentuh pohon besar disana.
Wein Lao terus menahan dua pundak Xiu dan sedikit menekannya, membuat Xiu merasa bingung sekaligus cemas.
"Kamu itu mau apa sih? Disini sepi tau, mau ngapain hayo?" tanya Xiu.
"Gak ada kok, aku cuma lapar. Aku pengen cari hewan buruan dulu di dalam, kamu tunggu sini aja ya sayang! Tapi sebelum itu, aku mau bicara sebentar sama kamu." jawab Wein Lao.
"Ohh, yaudah bicara aja kali!" ucap Xiu.
"Soal pernikahan kita, aku—"
"Eee Lao, maaf sebelumnya kalau aku lancang! Tapi, aku cuma mau bilang sama kamu, aku udah setuju kok sama usulan kamu buat kita nikah besok." potong Xiu.
"Hah? Kamu serius?" tanya Wein Lao kaget.
"Iya Lao, aku mau nikah sama kamu besok. Aku siap kok!" jawab Xiu.
"Sekarang aku udah siap, aku gak mau tunda-tunda lagi pernikahan kita." ucap Xiu.
"Yakin? Kalau kamu terpaksa, aku gak mau. Biarin aja kita nikah Minggu depan," ucap Wein Lao.
"Gak kok, aku gak terpaksa.
"Bener nih?" tanya Wein Lao memastikan.
"Iya Lao sayang, aku beneran siap buat nikah sama kamu besok. Lagian kalau kita lama-lama tunda pernikahan ini, yang ada kamu susah buat tahan keinginan kamu itu. Aku tahu kok, kamu bawa aku kesini supaya kamu bisa bebas buat cium aku kan?" ucap Xiu sengaja menggoda kekasihnya.
"Sok tahu kamu! Kan aku udah kasih tau tadi, aku kesini karena aku lapar." ujar Wein Lao.
"Iya iya, intinya kita nikah besok aja ya?" ucap Xiu.
"Siap sayang! Sekarang kamu merem deh!" pinta Wein Lao.
"Buat apa?" tanya Xiu penasaran.
"Udah merem aja!" ujar Wein Lao.
"Hadeh, iya iya.." ucap Xiu menurut.
Xiu pun memejamkan matanya sesuai perintah Wein Lao, sesekali ia mengintip untuk mencari tahu apa yang ingin dilakukan kekasihnya itu.
"Jangan ngintip!" ucap Wein Lao.
"Yah elah, pelit banget sih!" cibir Xiu.
Wein Lao hanya tersenyum singkat, kemudian memajukan wajahnya dan melumatt bibir Xiu secara tiba-tiba.
Xiu yang kaget tampak kesulitan mengimbangi irama bibir Wein Lao, namun lambat laun ia dapat membalas ciuman pria itu.
Suara decakan bibir mereka terdengar jelas disana, Wein Lao memperdalam ciumannya seraya menahan tengkuk gadisnya.
"Mmhhh Lao akh!" ucap Xiu terhalang bibir Wein Lao yang menciumnya.
Pria itu semakin bergairah, membuat nafas Xiu mulai habis akibat perbuatan Wein Lao yang terus menciumnya dengan rakus.
•
•
__ADS_1
Setelah merasa puas berciuman dengan Xiu serta memakan hewan buruannya, kini Wein Lao pun mengajak Xiu untuk kembali ke istana.
"Xiu, ayo kita pulang!" ucap Wein Lao.
"Udah itu aja? Kamu kesini cuma buat ajak aku ciuman, terus nontonin kamu makan hewan buruan kamu? Gak ada sesuatu yang istimewa apa gitu?" tanya Xiu agak kecewa.
"Kamu maunya diapain lagi? Dihamilin? Emang udah siap?" ujar Wein Lao.
"Ish, ya gak gitu juga! Maksudnya kamu ajak aku ngapain kek gitu, jangan cuma kayak gitu doang! Gak ada seru-serunya perjalanan kita kali ini, gak asik tau!" ucap Xiu.
"Kalau mau yang asik mah bukan di hutan, tapi di ranjang." bisik Wein Lao.
"Ih apa sih? Jangan dekat-dekat deh! Kamu itu masih bau darah, aku gak suka!" ucap Xiu.
"Terus, kenapa kamu mau nikah sama aku kalau kamu gak suka aku?" tanya Wein Lao.
"Ini permasalahan yang beda, aku mau nikah sama kamu ya karena aku cinta sama kamu. Lagian aku gak sukanya itu sama bau darah kamu, bukan kamunya sayang." jawab Xiu sambil mencubit pipi Wein Lao.
"Ohh, berarti aku gak boleh makan hewan liar kayak tadi lagi dong biar aku gak bau darah?" tanya Wein Lao pada Xiu.
"Ya gak gitu juga lah sayang, kalo gak makan nanti kamu sakit dong. Maksud aku, lain kali kalo kamu mau berburu tuh gausah ajak aku ya! Aku gak tahan sama baunya," ucap Xiu.
"Iya deh, aku minta maaf ya!" ucap Wein Lao.
"Gak perlu minta maaf, kamu kan gak salah. Aku emang rada-rada gak suka sama bau begitu, jadi harusnya aku yang minta maaf." ucap Xiu.
"Yaudah, sekarang kita mau pulang atau masih mau disini buat lakuin hal yang asyik?" tanya Wein Lao seraya merengkuh pinggang Xiu.
"Umm, pulang aja deh. Lagian emang kita mau lakuin apa lagi disini?" jawab Xiu.
"Apa aja bisa, misalnya berburu lagi buat latih kemampuan memanah kamu. Atau kalau kamu bosan, aku bisa tidurin kamu di tanah terus tindih kamu sampai kamu hamil." ucap Wein Lao.
Xiu hanya menatap kesal ke wajah Wein Lao, yang justru dibalas dengan sebuah tawa lebar dari pria tersebut.
"Hahaha hahaha.."
"Jangan ketawa! Gak lucu tau!" ujar Xiu.
"Iya iya, maafin aku ya cantik!" ucap Wein Lao.
Saat Wein Lao hendak mencium bibir Xiu kembali, tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat dan tertancap di pohon dekat mereka.
Slaasshh...
"Hah??" Xiu terkejut bukan main.
"WOI SIAPA ITU??!!" teriak Wein Lao geram.
•
•
Ryu dan para prajurit yang bersamanya amat terkejut saat melihat tiga orang penjaga di penjara bawah tanah semuanya tergeletak di tanah.
Sontak saja mereka bergegas menghampiri ketiga prajurit tersebut untuk memastikan apa yang terjadi pada ketiganya.
"Sial! Apa yang bikin mereka bertiga jadi seperti ini?" ucap Ryu.
"Tuan, gawat tuan! Tahanan utama kita berhasil meloloskan diri, sepertinya dia sudah kabur dari istana ini tuan. Barusan saya cek kondisi sel, dan disana kosong." ucap salah seorang prajurit.
"Apa? Kurang ajar Xavier, berani-beraninya dia kabur dari penjara!" geram Ryu.
"Ampun tuan! Lalu, apa yang harus kami lakukan saat ini?" tanya prajurit itu.
"Kalian bawa tiga orang prajurit ini ke ruang pengobatan! Mereka sepertinya masih ada harapan hidup, jangan sampai kita kehilangan prajurit!" perintah Ryu.
"Baik tuan Ryu!" ucap prajurit itu.
Prajurit-prajurit tersebut pun membawa tubuh tiga orang prajurit yang sedang pingsan itu ke dalam ruang pengobatan.
Sementara Ryu pergi dari sana, melapor kepada Gusion selaku panglima perang istana bahwa tahanan mereka kabur.
"Apa? Bagaimana Xavier bisa kabur? Bukannya dia dijaga sangat ketat?" tanya Gusion terkejut.
"Maaf panglima Gusion! Aku pun tidak tahu, tadi saat aku dan para prajurit datang ke penjara, kami menemukan tiga orang prajurit penjaga disana terkapar penuh luka. Lalu, kondisi sel tahanan juga sudah kosong dan tidak ada Xavier disana." jawab Ryu menjelaskan.
"Sialan! Ini semua diluar dugaan! Aku tidak mengira Xavier bisa kabur dari sini. Tapi, kapan kiranya dia kabur? Aku tidak menemukan apapun saat berjaga di luar sini," ucap Gusion.
"Entahlah, aku pun tidak mendengar ada suara keributan sebelumnya dari tempat tahanan. Mungkin saja Xavier sudah merencanakan ini dengan baik, sehingga dia bisa kabur tanpa ketahuan." ucap Ryu.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus cari Xavier sampai dapat! Ratu Lien pasti akan sangat kecewa, jika tahu Xavier kabur dari penjara." ucap Gusion.
"Ya panglima, untuk itu sebaiknya kita jangan beritahu ratu Lien dulu mengenai ini!" ucap Ryu.
"Kau benar! Sekarang mari kita cari dia dan telusuri seluruh wilayah Quangzi! Bawa prajurit yang banyak untuk membantu kita!" perintah Gusion.
"Baik panglima!" ucap Ryu menurut.
Disaat Ryu hendak berbalik dan pergi memanggil para prajurit, ia terkejut karena ternyata ratu Lien ada di belakangnya sedari tadi.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya sang ratu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...