
"Ada apa Lao?" tanya Xiu heran.
"Aku cuma mau tanya sama kamu, soal ucapan kamu tadi siang. Daritadi aku masih kepikiran, maksud kamu bicara begitu apa sih?" ucap Wein Lao.
"Ohh, udah lah gausah dibahas lagi! Aku kan cuma bercanda tau, kamu jangan mikirin itu ya!" ucap Xiu.
"Bercanda? Aku kira kamu lagi serius," ucap Wein Lao.
"Emangnya kenapa? Kamu kepengen pimpin Quangzi beneran? Kalau emang iya, kamu bisa coba bilang ke mommy kok." ucap Xiu.
"Hah? Eee enggak kok, aku cuma penasaran aja tadi. Aku sama sekali gak berharap buat jadi pemimpin di Quangzi, karena itu bukan ranah aku. Justru aku bahagia ngeliat Quangzi sudah kembali dipimpin oleh orang yang benar," ucap Wein Lao.
Xiu mengangguk sambil tersenyum tipis, menatap ke arah Wein Lao tanpa berkedip sedikitpun.
"Andai kamu tahu Lao, sebenarnya aku serius tadi. Aku pengen kamu jadi pemimpin Quangzi, setelah kita menikah nanti." batin Xiu.
"XIU!!"
Mereka berdua kompak menoleh saat ada seseorang yang datang dan memanggil nama Xiu dari belakang.
"Eh paman? Ngapain paman kesini?" tanya Xiu yang sudah berdiri.
"Paman diperintahkan sama mommy kamu buat panggil kamu, katanya kamu disuruh temuin dia di kamar!" jelas Ryu.
"Ohh, emangnya ada apa ya paman? Kenapa mommy minta aku ke kamar?" tanya Xiu.
"Kalau itu paman gak tahu, supaya lebih jelas mending kamu langsung temui aja mommy kamu itu sayang!" jawab Ryu.
"Iya deh, tapi aku kan lagi ngobrol sama Lao. Gimana dong Lao?" ujar Xiu bingung.
"Gapapa tuan putri, urusan ini lebih penting. Sebaiknya tuan putri temui ratu saja sekarang! Obrolan kita kan bisa disambung lagi lain waktu," ucap Wein Lao.
"Nah, benar itu!" sahut Ryu.
"Iya sih, yaudah deh aku pergi. Lao, kamu jangan kemana-mana ya! Nanti aku balik kesini lagi kok, supaya kita bisa lanjutin ngobrolnya." ucap Xiu.
"Eee ba-baik putri!" ucap Wein Lao gugup.
Xiu pun melangkah pergi meninggalkan kedua pria itu disana, ia akan menemui ratu Lien di kamarnya.
Ryu kini beralih menatap Wein Lao, ia penasaran apa sebenarnya yang diobrolkan oleh Wein Lao dan Xiu tadi.
"Lao, kamu ngobrol apa aja tadi sama putri Xiu? Penting banget ya?" tanya Ryu penasaran.
"Ahaha, enggak kok paman. Kita tadi cuma ngobrol biasa sambil bercanda, gak ada yang penting. Aku suka aja kalau ngobrol sama putri Xiu, karena dia orangnya asik dan lucu." jawab Wein Lao.
"Oalah, kirain kalian lagi bahas soal pernikahan." ledek Ryu.
"Hah? Kenapa paman bilang gitu?" tanya Wein Lao.
"Hahaha, bercanda Lao. Kamu ini kenapa serius sekali sih?!" ujar Ryu sambil tertawa.
"Ah paman ini kebiasaan!" ujar Wein Lao kesal.
"Hahaha, jangan terlalu dibawa perasaan Lao! Tapi, kalau memang kamu suka sama Xiu ya tidak ada salahnya jika kalian berdua menikah." kata Ryu.
"Bagaimana mungkin paman? Xiu itu kan putri Quangzi, aku tak mungkin bisa menikah dengannya!" ujar Wein Lao.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Lao. Lagipun, kamu kan juga seorang pangeran. Jadi, pernikahan kalian pasti didukung kok oleh ratu Lien dan masyarakat Quangzi." ucap Ryu.
"Aku memang pangeran, tapi aku berbeda dengan tuan putri Xiu." ucap Wein Lao.
"Perbedaan bukan menjadi sebuah masalah, asalkan kalian saling mencintai." ucap Ryu.
"Entahlah paman, kita jangan bicarakan ini lagi ya!" pinta Wein Lao.
"Ya ya ya, baiklah Lao.." ucap Ryu.
"Kenapa rasanya aku bingung ya saat ini? Jujur, aku memang mencintai putri Xiu. Tapi, aku tidak yakin jika putri Xiu juga mencintai aku." batin Wein Lao.
•
•
"Mommy!" teriak Xiu.
Kini Xiu sudah tiba di kamarnya, menghampiri ratu Lien yang tengah terduduk di atas ranjang sambil melamun.
Xiu tampak heran melihat kesedihan di wajah ibunya saat ini, ia pun langsung terduduk di sebelah sang ratu dan coba menghiburnya.
"Mom, mommy kenapa? Kok mommy sedih gitu? Ada yang bikin mommy sedih ya?" tanya Xiu.
"Eh sayang, enggak kok nak, mommy gapapa. Tadi mommy cuma kepikiran aja sama ayah kamu, gak tahu kenapa tiba-tiba mommy teringat lagi sama mendiang ayah kamu itu." jawab ratu Lien.
"Ohh, mommy kangen ya sama Daddy? Tenang aja mom, Daddy kan udah tenang di atas sana! Daddy pasti baik-baik aja kok, mommy jangan sedih ya!" ucap Xiu sambil tersenyum.
"Iya sayang, mommy gak sedih lagi kok. Asalkan kamu selalu ada disisi mommy," ucap ratu Lien.
"Mommy gak perlu takut! Aku akan selalu ada di dekat mommy kok, kita gak mungkin kepisah lagi seperti dulu!" ucap Xiu.
__ADS_1
"Makasih sayang! Kalo gitu kamu mau dong peluk mommy sekarang?!" ucap ratu Lien.
"Jelas mau dong mom!" jawab Xiu sembari memeluk ibunya dengan erat.
Ratu Lien tersenyum lebar dan mengusap punggung putrinya dengan lembut seraya menghirup aroma tubuh putri Xiu.
"Mommy benar-benar suka sama wangi kamu sayang!" ucap ratu Lien.
"Yang benar mom? Kalo gitu mulai sekarang, aku bakal mandi terus deh supaya aku bisa wangi kayak gini setiap kali mommy mau aku peluk." ucap Xiu sambil tersenyum.
"Iya, bagus itu!" ucap ratu Lien.
"Oh ya mom, aku mau tanya deh sama mommy. An Ming itu beneran anak mommy sama si Xavier?" tanya Xiu keheranan.
"Benar sayang! Dia memang masih darah daging mommy, dia adik kamu juga." jawab ratu Lien.
"Berarti yang selama ini suka aku temuin di hutan sewaktu latihan memanah, itu adik aku sendiri. Aku kira dia bukan anak mommy juga," ujar Xiu.
"Dia anak mommy sayang, kamu mau ketemu lagi gak sama dia?" ucap ratu Lien.
"Boleh mom, seru juga kayaknya kalo aku sama dia main di istana nanti." ucap Xiu.
"Yaudah, nanti kalian main aja ya berdua kalau udah tiba di istana. An Ming itu baik dan lucu kok, dia gak seperti papanya." ucap ratu Lien.
"Iya mom, aku tahu. Kan aku udah sering ketemu sama An Ming dulu," ucap Xiu.
Ratu Lien tersenyum senang, mengeratkan pelukannya dan terus membenamkan wajahnya di pundak putri Xiu.
"Sayang, sekarang giliran mommy ya yang tanya sama kamu." ucap ratu Lien.
"Umm, mommy mau tanya apa?" ucap putri Xiu penasaran.
"Kamu suka ya sama pangeran Lao?" tanya ratu Lien sambil menatap wajah Xiu.
"Hah??" Xiu terbelalak lebar sambil menganga akibat pertanyaan mamanya tadi.
"Mommy bilang apa sih? Mana ada aku suka sama pangeran Lao? Mommy ngada-ngada aja deh!" elak putri Xiu.
"Kamu gausah ngelak lagi dari mommy sayang! Mommy tahu kok perasaan kamu, pasti kamu suka kan sama pangeran Lao?!" ucap ratu Lien.
"Mommy kata siapa sih?" ujar putri Xiu.
"Gak kata siapa-siapa, mommy tahu sendiri. Setiap kali kamu berduaan sama Wein Lao, mommy lihat kamu selalu senyum-senyum sendiri dan sering curi-curi pandang ke wajahnya." ucap ratu Lien.
"Itu artinya kamu suka kan sama dia, sayang?" sambung sang ratu.
"Apaan sih mom?! Enggak kok, aku gak suka sama Wein Lao!" ucap putri Xiu terus mengelak.
•
•
"Terimakasih Gusion!" ucap ratu Lien.
"Ratu, marilah! Hamba dan para pasukan Quangzi sudah bersiap mengantar ratu serta tuan putri kembali ke istana, kereta kuda juga telah kami siapkan dengan baik." ucap Gusion.
"Iya Gusion, terimakasih! Ayo putriku, kita naik ke kereta itu!" ucap ratu Lien.
"Sebentar mom!" pinta Xiu.
"Kenapa?" tanya ratu Lien bingung.
Xiu melirik ke arah Ryu, Luan dan juga Felix. Ia kembali menatap ibunya seperti meminta izin untuk menemui mereka.
Ratu Lien mengangguk setuju, ia paham apa yang ingin putrinya lakukan saat ini.
Xiu pun tersenyum senang, lalu berjalan mendekati Ryu serta yang lainnya disana untuk pamitan.
"Paman, bibik, guru, aku mau pamit pergi sama mommy ya! Terimakasih karena selama ini paman sama bibik udah mau rawat dan ajari aku banyak hal! Aku pasti gak akan lupain kalian bertiga!" ucap Xiu sambil tersenyum.
"Iya tuan putri, kami—"
"Enggak paman, bukan tuan putri. Tapi, aku ini Xi Mei keponakan paman dan bibik." potong Xiu.
Sontak Ryu dan Luan langsung tersenyum dibuatnya.
Xiu pun bergerak begitu saja dan memeluk mereka berdua dengan erat.
Sementara Felix juga ikut tersenyum, ia terharu melihat momen tersebut. Apalagi dirinya juga akan berpisah dengan putri Xiu nantinya.
"Sekali lagi makasih ya paman, bibik!" ucap Xiu.
"Sama-sama Xi Mei, bibik pasti bakalan rindu banget sama kamu!" ucap Luan.
"Aku juga bik," ucap Xiu.
Lalu, putri Xiu beralih menatap Felix alias gurunya di perguruan elang putih itu.
"Paman guru Felix!" ucap Xiu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya, ada apa Xi Mei?" tanya Felix.
"Aku mau bilang makasih ya sama paman guru, karena paman guru udah sempat ajari aku ilmu yang belum pernah aku pelajari! Aku senang banget bisa jadi murid paman guru!" jawab Xiu.
"Bukan cuma kamu, tapi saya juga senang bisa memiliki murid seperti kamu. Saya merasa bangga karena berhasil menjadi guru dari tuan putri kerajaan yang terhormat," ucap Felix.
"Ahaha, paman guru bisa aja ah! Aku mau peluk paman guru boleh?" ucap Xiu.
"Eee.." belum sempat Felix bicara, namun Xiu sudah langsung memeluknya disana.
Ratu Lien turut merasa sedih melihat momen perpisahan itu, ia pun memiliki pikiran untuk mengajak mereka bertiga pergi ke istana.
"Umm, Ryu dan Luan, mengapa kalian tidak ikut kamu ke istana? Disana kalian bisa menjadi punggawa istana seperti dulu," ucap ratu Lien.
"Bukan hanya kalian, tapi guru Felix juga." sambungnya.
"Hamba ratu?" tanya Felix terheran-heran.
"Iya Felix, kamu bisa ikut kami juga ke istana dan menjadi guru bagi para prajurit disana. Termasuk juga mengajari putriku dan putraku," jawab ratu Lien.
"Benar itu guru! Sebaiknya guru ikut saja dengan kami ke istana, pasti seru deh!" sahut Xiu.
"Maafkan hamba, ratu! Tapi, hamba tidak bisa ikut ke istana untuk sekarang ini. Hamba masih harus bertanggung jawab pada perguruan ini, serta murid-murid yang hamba latih disini." ucap Felix.
"Yah berarti guru gak mau ikut sama kita ke istana?" tanya Xiu tampak kecewa.
"Iya tuan putri, maafin paman guru ya!" jawab Felix.
"Huh yaudah deh gapapa, tapi nanti kapan-kapan bisa kan guru main ke istana dan kita latihan bareng lagi?" ujar Xiu.
"Iya tuan putri, paman akan usahakan itu." ucap Felix.
"Baiklah guru Felix, aku hargai keputusan kamu. Semoga perguruan ini semakin maju dan banyak orang yang datang kesini!" ucap ratu Lien.
"Aamiin ratu, terimakasih doanya!" ucap Felix.
"Yasudah, ayo Xiu kita pergi!" ucap ratu Lien.
"Sebentar mom! Aku mau tanya dulu sama paman Ryu dan bik Luan, mereka ikut sama kita ke istana atau enggak." ucap Xiu.
"Tuan putri, kita pasti ikut kok ke istana Quangzi. Sekarang kan disana sudah tidak ada penjahat lagi, jadi kita bisa tinggal dengan senang hati." jawab Luan sambil tersenyum.
"Betul itu tuan putri!" sahut Ryu.
"Nah kan, kamu udah dengar jawaban mereka kan Xiu?" ucap ratu Lien.
"Iya mom, aku seneng banget! Tapi, Wein Lao kemana ya? Kok dia gak kelihatan disaat-saat terakhir aku disini?" ucap Xiu kebingungan.
"Eee mommy juga gak tahu sayang, mungkin aja Lao masih di dalam." ucap ratu Lien.
"Kalo gitu aku mau cari Wein Lao dulu ya mom? Sebentar aja kok, tunggu aku ya!" ucap Xiu.
"Iya sayang, kamu cari aja Wein Lao dan temuin dia!" ucap ratu Lien.
"Makasih mom!"
Xiu langsung bergerak cepat mencari Wein Lao di dalam sana, sedangkan yang lain menunggu disana.
•
•
Setelah mencari kesana-kemari, akhirnya Xiu berhasil menemukan keberadaan Wein Lao di samping air mancur.
Tampak pria itu tengah melamun memandangi pemancuran dengan wajah sedihnya.
Xiu pun tersenyum, lalu melangkah perlahan untuk mendekati Wein Lao disana. Ia menghentikan langkahnya begitu sampai di samping si pria.
"Ehem ehem.." Xiu berdehem pelan.
Wein Lao pun terkejut, ia reflek menoleh dan menatap wajah Xiu.
"Tuan putri? Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kamu kembali ke istana bersama ratu?" tanya Wein Lao.
"Gimana bisa aku kembali ke istana tanpa pamit dulu sama kamu, Lao? Lagian kamu ngapain sih malah disini, bukannya ke depan sana?! Emang kamu gak mau ucapin kalimat perpisahan buat aku atau ratu gitu?" ujar Xiu.
"Justru itu tuan putri, aku belum siap berpisah denganmu. Kalau aku ada di depan, itu akan lebih menyedihkan buatku." ucap Wein Lao.
"Ohh, jadi ceritanya kamu lagi sedih-sedih plus galau ya disini? Yah elah Lao, kan kita masih bisa ketemu lagi lain waktu. Kamu gausah sedih, aku bakal tetap anggap kamu sebagai sahabat terbaik aku kok!" ucap Xiu.
Wein Lao melongok lebar sambil menatap wajah Xiu yang sedang tersenyum.
"Sahabat? Aku maunya lebih, tuan putri." batinnya.
Tiba-tiba saja Xiu meraih tangan Wein Lao dan menggenggamnya, ia menarik tangan pria itu ke atas lalu bertatapan dengannya.
"Kita ke depan yuk!" ucap Xiu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...