Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 84. Penyerangan Terizla & Xavier


__ADS_3

"Ehem ehem.." ratu Lien berdehem pelan hingga membuat Xiu terkejut dan melepas pelukannya.


"Eh mom, maaf mom! Aku gak ada maksud buat bikin mommy iri sama kita," ucap Xiu.


"Hah? Apa kata kamu barusan? Buat apa mommy harus iri sama kalian? Mommy ini udah sering begituan, malahan mommy lebih berpengalaman daripada kamu Xiu." elak ratu Lien.


"Hehe, iya mom aku tau kok. Yaudah, kalo gitu aku sama Lao mau pergi dulu ya mom?" ucap Xiu.


"Eh eh, kalian mau kemana?" tanya ratu Lien.


"Kita mau bersih-bersih, soalnya tadi kita abis dari hutan." jawab Xiu.


"Barengan?" tanya ratu Lien terkejut.


"Ya ampun! Enggak dong mom, yakali aku mandi bareng sama Lao? Kita ini kan belum nikah, jadi mandinya ya sendiri-sendiri." ucap Xiu.


"Oh syukurlah! Yaudah, kalian boleh pergi!" ucap ratu Lien.


"Iya mom," ucap Xiu singkat.


"Permisi ratu!" ucap Wein Lao.


Mereka berdua pun pergi dari sana dan hendak menuju ke kamar masing-masing.


Akan tetapi, mereka dihadang oleh Zheng yang berdiri tepat di hadapan mereka.


"Tunggu tuan putri!" ucap Zheng dingin.


"Zheng?" Xiu pun terkejut dan terus menatap tajam ke arah Zheng dengan bingung.


"Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu menghalangi jalanku?" tanya Xiu pada Zheng.


"Bukan cuma kamu sayang, tapi jalan aku juga." bisik Wein Lao di telinga kekasihnya.


"Iya iya, maksudnya jalan kita." ucap Xiu.


"Maaf tuan putri! Tapi, dalam situasi genting seperti ini, ada baiknya pangeran Lao ikut membantu menjaga keamanan Quangzi. Bukan cuma terus-terusan bermesraan dengan tuan putri begini," ucap Zheng terus terang.


"Maksud kamu apa sih? Lao ini calon suami aku, dan dia juga lagi lindungin aku. Lagipun, bukan tugas seorang pangeran untuk menjaga istana. Tapi, ini tugas kalian para penjaga yang sudah disumpah untuk melindungi istana!" ujar Xiu.


"Hey hey, sabar cantik! Kamu kok emosi gitu sih? Zheng kan cuma minta bantuan aku buat jaga istana, jangan marah-marah dong!" ucap Wein Lao langsung mendekap gadisnya.


"Aku gak emosi, aku bingung aja kenapa Zheng bicara begitu ke kamu." ucap Xiu.


"Iya iya, mungkin dia lagi panik karena kondisi istana gak kondusif. Justru bagus dong sayang, itu artinya Zheng perduli dengan istana." ucap Wein Lao.


Xiu manggut-manggut kecil, Wein Lao terus mengusap tubuhnya lembut untuk menenangkan gadisnya yang sempat emosi itu.


"Maafkan aku tuan putri!" ucap Zheng.


"Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf? Kamu sadar kalau kata-kata kamu tadi itu gak pantas diucapkan oleh seorang prajurit seperti kamu?" ucap Xiu.


"Ya tuan putri, aku sadar aku salah. Gak seharusnya aku bicara seperti itu pada tuan putri dan pangeran Lao." ucap Zheng.


"Yasudah, gak perlu diperpanjang lagi. Sekarang kamu lebih baik pergi ke depan, perketat penjagaan istana supaya tidak ada penyusup lagi yang masuk kesini!" ucap Wein Lao.


"Baik pangeran! Kalau begitu hamba permisi dulu!" ucap Zheng.


"Ya silahkan!" ucap Wein Lao.


Zheng melirik sekilas ke arah Xiu, lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa.


"Aku heran deh sama dia," ucap Xiu.


"Sudah sudah, ayo kita ke kamar!" ucap Wein Lao.


Xiu mengangguk setuju, kemudian mereka pun pergi bersama-sama menuju kamar untuk membersihkan diri.




Keesokan harinya, pernikahan antara Xiu dan Wein Lao telah resmi dilaksanakan.


Wein Lao pun mengecup kening Xiu yang kini sudah menjadi istrinya itu dengan lembut.


Xiu tersenyum tipis sembari menundukkan kepalanya, ia tak menyangka bahwa saat ini ia sudah resmi menjadi istri dari Wein Lao.


Cupp!


Tak hanya kening, pria itu juga memberi kecupan di bibir ranum istrinya sekilas. Ia langsung tersenyum sembari membelai bekas ciuman di bibirnya itu.


"Seperti biasa, rasanya manis. Aku jadi gak sabar buat nanti malam," ucap Wein Lao.


"Lao, kamu jangan bahas itu sekarang ya! Kita kan lagi ngadain pesta, gimana sih?!" ujar Xiu.


"Gak masalah dong sayang, lagian kan kita udah resmi jadi suami-istri. Malam pertama itu adalah sesuatu yang paling ditunggu-tunggu setiap pasangan di luar sana," ucap Wein Lao.


"Ya ya ya, tapi gak dibahas sekarang juga kali. Malu tuh ada mommy aku sama papa kamu, kamu mah gak mikir!" ucap Xiu.


"Yeh sembarangan aja kamu!" ujar Wein Lao.


Xiu tersenyum lebar, sedangkan Wein Lao mencubit pipi gadis yang sudah menjadi istrinya itu dengan lembut.


Lalu, ratu Lien pun tampak menghampiri mereka berdua disana sambil tersenyum, membuat Wein Lao merasa sedikit malu.


"Aduh! Kalian berdua benar-benar cocok deh jadi suami-istri, mommy senang lihatnya." ucap Lien.


"Ah mommy bisa aja! Tapi, emang iya sih kita berdua cocok. Apalagi kita ini kan saling mencintai, ya gak Lao?" ucap Xiu menempelkan wajahnya di bahu sang suami.

__ADS_1


"Iya benar," jawab Wein Lao.


"Yaudah, selamat ya buat kalian berdua karena sudah resmi jadi suami-istri! Mommy doakan semoga kalian bahagia terus!" ucap ratu Lien.


"Aamiin makasih mommy!" ucap Xiu.


"Makasih ratu!" sahut Wein Lao.


Kini giliran raja In Lao yang menghampiri mereka untuk memberi selamat.


"Xiu, selamat ya! Kamu sekarang sudah menjadi bagian keluarga Lao juga, saya senang karena memiliki menantu seperti kamu!" ucap In Lao.


"Makasih yang mulia! Aku juga senang bisa menjadi bagian keluarga Lao yang terkenal kuat dan hebat itu," ucap Xiu sambil tersenyum.


"Ah bisa aja kamu!" ujar In Lao terkekeh kecil.


"Yaudah, sekarang saatnya kita nikmati pesta! Mumpung suasananya masih enak, belum ada tanda-tanda penyerangan juga dari luar." ucap Wein Lao memberi usul.


"Kamu memang benar! Tapi, tetap saja kita harus waspada dan tidak boleh lengah!" ucap In Lao.


"Iya, aku juga sudah perintahkan para prajurit Quangzi untuk berjaga di luar sana." ucap ratu Lien.


Setelahnya, pesta pun dimulai dan banyak masyarakat menikmati makanan serta minuman yang sudah disediakan oleh istana.


Wein Lao kembali menatap wajah Xiu, mengulurkan tangannya ke depan gadis itu bermaksud mengajaknya menari.


"Mau menari denganku sayang?" ucap Wein Lao.


"Hah? Aku tidak bisa menari, kamu nari aja sendiri, biar aku melihat dari sini." ucap Xiu.


"Mana bisa menari sendirian? Aku maunya nari sama kamu, ayolah sayang!" ucap Wein Lao.


"Eee tapi aku..."


"Sudahlah, kamu jangan banyak menolak! Cuma kali ini aja kok, mumpung masih suasana pesta. Mau kan sayang?" potong Xiu.


"Iya deh, aku mau nari sama kamu." ucap Xiu sambil tersenyum dan meraih tangan suaminya.


Mereka pun turun ke lantai dansa dan berdiri saling menghadap satu sama lain sambil terus berpegangan tangan.


"Aku cinta kamu, putri Xiu!" ucap Wein Lao.


"Aku juga," balas Xiu.




"SERAANGGG!!!"


Slaasshh...


Anak-anak panah berterbangan meluncur ke arah istana Quangzi dan membuat seluruh prajurit yang berjaga terkejut.


"Gawat! Serangan sudah datang!" teriak prajurit itu.


Gusion yang berjaga tepat di depan gerbang istana pun ikut terkejut, ia memerintahkan semua prajurit untuk terus bersiaga.


"Semuanya, terus siaga dan jangan sampai ada yang lengah! Awasi sekitar, panah-panah itu tidak boleh masuk ke dalam istana! Kita perkuat penjagaan!" teriak Gusion.


"Baik panglima!" ucap seluruh prajurit itu menurut dengan perintah dari Gusion.


Tak lama kemudian, segerombolan pasukan Terizla mulai mendatangi mereka dan bersiap untuk menyerang istana Quangzi.


"Hiyaaa..."


"Sial! Ayo serang!" teriak Gusion.


Sliingg sliingg sliingg...


Peperangan pun dimulai, seluruh prajurit disana termasuk Gusion terlibat dalam pertarungan itu.


Dari belakang, tampak Terizla dan Xavier tengah tersenyum lebar memantau pertarungan tersebut.


"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Xavier.


"Biarkan bagian depan itu diurus oleh pasukan Rofusha, kita langsung saja masuk ke dalam bersama ratu Alice dan pasukannya." jawab Terizla.


"Baiklah! Berarti kita tidak punya banyak waktu, ayo kita segera masuk ke dalam mumpung mereka semua masih sibuk bertarung disini!" ucap Xavier.


"Ya, kau benar. Ayo kita masuk!" ucap Terizla.


Terizla, Xavier, Alice serta para pasukannya pun mulai bergerak masuk ke dalam istana Quangzi.


Gusion sempat melihat itu, namun ia tak dapat berbuat apa-apa karena saat ini ia sedang bertarung melawan pasukan Rofusha.


Bugghhh slaasshh...


Gusion berhasil menumpas tiga orang prajurit Rofusha yang ia hadapi dan berniat mengejar Terizla ke dalam sana.


"Hey tunggu!" sebuah teriakan menghentikan langkah Gusion, itu adalah suara dari Fredison, pangeran Rofusha.


"Mau kemana kamu panglima bodoh? Sini hadapi aku!" ujar Fredison.


"Kurang ajar! Kenapa kamu selalu cari masalah dengan Quangzi? Apa kamu tidak kapok, ha?" ucap Gusion.


"Tentu tidak, karena kali ini kamu lah yang akan mati di tanganku panglima bodoh!" ujar Fredison.


"Tidak usah banyak bicara kamu! Hiyaaa.." ucap Gusion yang langsung bergerak maju.

__ADS_1


Gusion akhirnya terpaksa menghadapi Fredison, biarpun sebenarnya ia ingin mencegah Xavier dan yang lainnya masuk ke dalam.


Kini Terizla beserta pasukannya telah berhasil menerobos pertahanan istana dan tinggal sedikit lagi mampu masuk ke dalam sana.


Namun, mereka dicegah oleh Zheng dan para prajurit serigala yang muncul di depannya.


Sontak saja Terizla merasa kesal, ia pun terpaksa meladeni Zheng walau sebenarnya ia sudah ingin masuk ke dalam.


"Mau kemana kalian, ha?" ujar Zheng.


"Jangan ikut campur kamu anak muda! Atau kamu mau mati di tangan kami, ha?" ucap Terizla.


"Ya, sebaiknya kamu menyingkir saja daripada nantinya kamu akan menjadi mayat!" sahut Xavier.


"Hahaha, aku tidak akan pernah menyingkir. Aku selalu berdiri di barisan paling depan untuk melindungi putri Xiu dan sang ratu, camkan itu!" ucap Zheng lantang.


"Oh baiklah, kesetiaan mu itu akan berujung pada kematian. Bersiaplah menerima kematian mu anak muda!" ujar Terizla.


"SERAANGGG!!!" teriak Zheng emosi.


"Hiyaaa..." Zheng dan pasukan serigala pun maju menyerang pasukan Terizla serta Alice secara membabi buta.


Zheng harus berhadapan dengan Terizla, orang yang kekuatannya jauh di atas dirinya itu.


Namun, Zheng sama sekali tidak memperdulikan itu dan tetap terus melawan Terizla.




Suara pertarungan tersebut rupanya didengar oleh Ryu yang berada di dalam istana, ia pun langsung mengabarkan hal tersebut kepada sang ratu.


"Maaf ratu! Sepertinya penyerangan sudah tiba, hamba mohon izin keluar untuk membantu prajurit menghadang penyerang tersebut agar tidak sampai kesini." ucap Ryu.


"Baiklah, berhati-hatilah Ryu!" ucap ratu Lien.


"Siap ratu!" ucap Ryu.


"Ah Ryu, aku akan ikut denganmu!" ucap Felix.


"Baiklah, ayo kita ke depan!" ucap Ryu.


"Ya, permisi ratu!" ucap Felix.


"Silahkan guru Felix!" ucap ratu Lien.


Ratu Lien mulai cemas saat ini, ia menatap ke arah putrinya yang tengah asyik menari bersama Wein Lao di depan sana diiringi musik yang indah.


"Oh astaga! Apa yang harus aku lakukan untuk melindungi mereka saat ini?" gumam ratu Lien.


"Ratu!" sang ratu dibuat terkejut saat In Lao memanggil namanya secara tiba-tiba.


"Hah? Raja Lao, kenapa kamu mengagetkan ku?!" ucap ratu Lien sedikit kesal.


"Maaf ratu!" ucap In Lao.


"Tidak apa, kenapa kamu memanggilku raja Lao?" tanya ratu Lien penasaran.


"Aku penasaran, mengapa kamu terlihat sangat cemas? Apa ada yang sedang terjadi di luar sana?" ucap In Lao dengan wajah bingung nya.


"Eee iya raja Lao, sepertinya penyerangan itu sudah terjadi disana. Barusan Ryu dan guru Felix menyusul ke depan untuk memeriksanya sekaligus menahan para penyerang itu agar tidak masuk kesini," jelas sang ratu.


"Apa? Itu artinya pesta pernikahan anak-anak kita ini terancam, sebaiknya aku ikut ke depan dan halau mereka semua!" ucap In Lao.


"Tidak raja Lao, kamu jangan pergi dari sini!" pinta ratu Lien menahan In Lao.


"Kenapa ratu? Aku tidak bisa diam saja disini, sementara di luar sana bahaya mengancam. Aku harus keluar dan bantu mereka menghadapi para penyerang itu!" ucap In Lao.


"Tapi, kalau kamu keluar, maka kekuatan disini akan berkurang. Bagaimana jika ada penyusup yang berhasil masuk kesini?" ucap ratu Lien.


In Lao pun terdiam memikirkan ucapan ratu Lien, ia jadi ragu untuk keluar dan membantu pasukannya.


"Kamu benar juga, para penjahat itu memang tidak bisa diduga. Baiklah, aku akan tetap disini menjaga kalian semua." ucap In Lao.


"Terimakasih raja Lao atas pengertiannya! Maafkan aku, kalau aku terlalu cemas!" ucap ratu Lien.


"Tidak apa, kamu itu benar ratu! Aku memang seharusnya tetap disini, lantaran tempat ini tidak boleh kosong." ucap In Lao.


"Ya raja Lao," ucap ratu Lien sambil tersenyum.


Tanpa sadar, Xiu sudah ada di dekat mereka dan menatap mereka dengan wajah kebingungan.


"Apa maksud yang mulia barusan? Memangnya kenapa tempat ini tidak boleh kosong? Apa sudah ada penyerangan dari luar?" tanya Xiu.


"Eee Xiu, kenapa kamu kesini? Sudah, kamu nikmati saja pestanya bersama suamimu itu ya!" ucap ratu Lien.


"Gimana aku bisa menikmati pesta, kalau mommy sama yang mulia aja kelihatan panik begini? Ada apa sih mom? Cerita dong sama aku!" ujar Xiu.


"Gak ada apa-apa Xiu, semuanya aman terkendali. Ya kan raja Lao?" ucap ratu Lien.


"Benar tuan putri! Kamu tidak perlu khawatir begitu, kami disini akan menjaga kalian supaya tidak terjadi sesuatu pada kalian!" ucap In Lao.


"Ta-tapi..."


Duaarrr...


Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dahsyat dari arah luar yang membuat mereka bertiga kaget secara bersamaan.


"Hah? Apa itu?!" ucap Xiu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2