Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 106. Xiao Tien


__ADS_3

"Tuan putri!" ucap Mungyi.


"Iya paman," ucap Xiu sedikit kaget.


"Sini kudanya biar paman aja yang bawa ke kandang," ucap Mungyi.


"Iya paman, makasih ya!" ucap Xiu tersenyum dan memberikan kuda itu kepada Mungyi.


"Oh ya, wanita tadi yang dibawa pangeran Lao itu siapa ya putri?" tanya Mungyi.


"Aku juga gak tahu, tapi dia tadi tiba-tiba muncul di depan aku sama Lao dalam keadaan terluka kayak gitu." jawab Xiu.


"Duh, kasihan banget ya itu cewek! Kira-kira dia diserang siapa ya?" ujar Mungyi.


"Mana aku tahu! Yaudah, aku mau masuk dulu ya paman?" ucap Xiu.


"I-i-iya tuan putri.." ucap Mungyi gugup.


Xiu pun pergi ke dalam istana dengan wajah kesal, sepertinya wanita itu cemburu karena Lao lebih perhatian dengan wanita yang terluka tadi.


Saat di dalam, Xiu justru tak sengaja berpapasan dengan ratu Lien alias sang ibu yang sedang panik memikirkan surat ancaman.


"Xiu, kamu sudah pulang sayang?" tanya ratu Lien.


"Iya mom, mommy kenapa gelisah gitu? Ada yang lagi mommy pikirin?" ucap Xiu balik bertanya.


"Begitulah sayang, mommy lagi mikir soal orang yang kirim surat ancaman kesini." jelas ratu Lien.


"Surat ancaman? Maksudnya?" tanya Xiu terkejut.


"Tadi itu ada seseorang yang mengirim surat melalui anak panah, isi surat itu adalah ancaman untuk kita semua agar segera mengosongkan istana." jawab ratu Lien.


"Apa? Terus, mommy udah tahu siapa yang kirim surat ancaman itu?" tanya Xiu.


"Belum sayang, tapi mommy sudah tugaskan Gusion dan Ryu untuk mencarinya." jawab ratu Lien.


"Duh, semoga aja mereka bisa temuin pelakunya deh mom!" ucap Xiu.


"Iya sayang, mommy juga berharap begitu. Oh ya, kamu sendiri kenapa tadi masuk kesini sambil murung begitu?" tanya ratu Lien.


"Eee aku..." Xiu menggantung ucapannya karena belum yakin untuk menceritakan itu kepada ratu Lien.


Ratu Lien semakin menaruh curiga pada putrinya itu, ia mendekat dan menyentuh wajah wanita cantik tersebut seraya berkata, "Kalau ada yang mengganggu pikiran kamu, katakan saja pada ibumu ini!"


Xiu mendongak dengan mata berkaca-kaca, ingin sekali ia mengeluarkan air mata saat ini juga. Namun, tidak ada hal berarti yang mengharuskan ia melakukan itu.


"Kenapa sayang? Benar kan kamu ada masalah?" tanya ratu Lien sekali lagi.


Kali ini Xiu mengangguk sebagai jawaban.


"Lalu, kamu masih belum ingin menceritakannya sama mommy?" tanya ratu Lien yang terus mengusap wajah putrinya.


"Aku sebenarnya cuma lagi jengkel aja sama Lao, mom." jawab Xiu dengan lirih.


"Ada apa sama Lao?" tanya ratu Lien penasaran.


"Lao tadi nolongin perempuan yang terluka di jalan, dia kelihatan panik banget dan bahkan sampai gendong perempuan itu kesini. Aku ngerasa cemburu aja gitu," jelas Xiu.


Penjelasan Xiu justru membuat sang ratu terkekeh pelan, "Kamu ini cemburuan banget sih. Masa cuma gara-gara Lao bantu orang yang terluka, terus kamu cemburu ha?"


"Masalahnya dia perhatian banget sama tuh cewek, kan gak wajar tau mom!" kesal Xiu.


"Iya iya, terus Lao sekarang dimana?" tanya ratu Lien.


"Masih di ruang pengobatan sama cewek itu," jawab Xiu.


"Oke, kita kesana yuk!" ajak ratu Lien.


Akhirnya Xiu mengangguk setuju, mereka pun melangkah menuju ruang pengobatan untuk menemui Wein Lao serta perempuan yang tadi dia tolong.




Sementara itu, Wein Lao masih bersama seorang gadis yang ia tolong sebelumnya.


Tampak gadis itu tengah berjuang untuk hidup karena lukanya yang cukup parah.


"Bertahanlah!" ucap Wein Lao cemas.


Sang tabib istana juga berusaha keras untuk mengobati luka di tubuh gadis itu, ia cukup kesulitan dan hampir menyerah.


"Bagaimana?" tanya Wein Lao pada tabib itu.


"Saya akan berikan dia obat tradisional, semoga saja dengan itu dia bisa terselamatkan!" jawab sang tabib.


"Ya, lakukan saja apa yang menurutmu baik!" pinta Wein Lao.


Tabib itu pun mulai mengobati si wanita dengan obat tradisional buatannya, sedangkan Wein Lao terus menatap cemas ke arah tubuh wanita itu.


"Lao!" panggil Xiu yang baru datang.


Sontak Wein Lao terkejut, ia menoleh lalu tersenyum begitu mengetahui istri serta ibu mertuanya ada disana.


"Xiu, ratu?" ucap Wein Lao.


"Gimana keadaan perempuan itu? Udah diobatin kan?" tanya Xiu.


"Udah kok, itu dia lagi dikasih obat." jawab Wein Lao.

__ADS_1


"Lao, kamu ke depan aja ya sama Xiu! Biar aku yang disini jagain wanita itu," ucap ratu Lien.


"Eee ratu serius?" tanya Wein Lao ragu.


"Kapan aku pernah bercanda soal ini? Kamu lebih baik temani saja istri kamu, dia gak suka loh lihat kamu perhatian sama perempuan lain." jawab ratu Lien sambil melirik ke arah Xiu.


"Ih mommy kenapa bilang gitu sih?! Aku kan jadi malu tau di depan Lao," protes Xiu.


"Gapapa, biar suami kamu tau kalau kamu cemburu sekarang," ujar ratu Lien.


"Oalah, jadi istri aku yang cantik dan imut ini cemburu? Pantas aja tadi sikapnya kayak gitu sama aku, maaf ya sayang!" ucap Wein Lao.


Xiu justru membuang muka menahan rasa malunya.


Wein Lao semakin gemas dengan tingkah istrinya, ia terus menggoda Xiu dengan mencolek dan mengelus wajah wanita itu.


"Jangan marah terus dong Xiu! Iya iya, aku temenin kamu ya sekarang?" bujuk Wein Lao.


Ratu Lien yang menyaksikan itu dibuat senyum-senyum sendiri, ia jadi merasa rindu pada sosok suami yang dahulu sangat ia cintai.


"Yaudah, ayo ke depan!" ujar Xiu.


"Siap sayangku!" ucap Wein Lao patuh.


Xiu langsung menggandeng lengan suaminya dan mengajak pria itu pergi dari sana.


"Mom, aku sama Lao pergi dulu ya?" ucap Xiu.


"Iya sayang," ucap ratu Lien.


Setelah Xiu dan Wein Lao pergi, kini ratu Lien menghampiri si wanita yang sedang terluka.


"Semoga cepat sembuh ya!" ucap ratu Lien.




Wein Lao membawa putri Xiu ke kamar, tak lupa ia mengunci pintu dengan rapat lalu mendorong tubuh wanitanya sampai ke dekat tembok.


Xiu terus memasang wajah kesalnya, namun ia tidak dapat berbuat banyak karena Wein Lao mengungkungnya disana.


"Lao, kamu mau apa sih bawa aku ke kamar?" tanya Xiu terheran-heran.


"Masa kamu gak tahu sih? Jelas lah aku mau bujuk kamu supaya kamu bisa maafin aku dan gak marah lagi sama aku, abisnya daritadi kamu cemberut terus!" ujar Wein Lao.


"Ih ya tapi gak gini juga kali! Tangan aku sakit Lao, lepasin!" pinta Xiu.


"Gak mau, kamu senyum dulu buat aku makanya!" tegas Wein Lao.


"Ah Lao lepasin!" Xiu terus berontak dari cengkraman suaminya, tetapi gagal.


"Aku lepasin, tapi abis itu kamu harus kasih jatah buat aku ya!" ucap Wein Lao.


"Aku maunya sekarang, bukan nanti malam. Kalau kamu gak mau, ya aku paksa!" ucap Wein Lao.


"Paksa? Kamu mau paksa aku gitu buat kasih jatah ke kamu?" tanya Xiu.


Wein Lao mengangguk disertai senyum yang membuat Xiu agak merinding, apalagi pria itu menekan tubuhnya cukup kuat.


"Iya, yaudah kamu udah siap kan cantik?" ucap Wein Lao seraya mencolek dagu wanitanya.


"Si-siap apa coba? Aku gak mau Lao, kamu gak bisa paksa aku kayak gitu!" ucap Xiu.


"Kata siapa gak bisa? Taklukin kamu itu gampang, buktinya ini aja aku bisa," ujar Wein Lao.


"Lao, kamu jangan macam-macam ya! Aku laporin nanti ke mommy!" ancam Xiu.


"Justru aku yang bakal laporin ke ratu, aku kasih tau kalau kamu gak mau kasih jatah buat aku. Aku yakin banget, pasti ratu Lien bakalan bela aku dan malah marahin kamu!" balas Wein Lao.


Xiu terdiam tak berkutik, kata-kata Wein Lao memang sulit untuk dibantah.


Akhirnya karena sudah tidak tahan, Wein Lao pun menarik paksa tubuh Xiu menuju ranjang.


"Ahh Lao pelan-pelan!" rengek Xiu.


Wein Lao tersenyum tipis, kemudian membaringkan tubuh Xiu di atas ranjang dengan dirinya menindih wanita itu.


"Lao, kamu benar-benar ngeselin deh!" ujar Xiu.


"Suruh siapa kamu gak mau mulu kasih aku jatah?!" tegas Wein Lao.


"I-i-iya, nanti aku kasih kok. Sekarang kamu lepasin aku dulu ya, aku mau keluar!" ucap Xiu.


"Belum diapa-apain kok udah keluar?" goda Wein Lao.


"Hah? Bukan keluar itu yang aku maksud ih, dasar aneh!" ujar Xiu.


"Hahaha.." Wein Lao tertawa puas dan mulai menciumi wajah serta leher istrinya.




Sementara itu, An Ming datang bersama Zheng serta Feng Lian dan ayahnya ke tempat dimana pasukan pemuda desa hendak berdemo.


Melihat kedatangan mereka disana, sontak membuat Tachi dan seluruh pasukannya semakin merasa emosi.


"Nah, itu dia tuh orang yang udah bikin kita kayak gini!" ujar Tachi menunjuk ke arah An Ming.

__ADS_1


"Maaf! Ini ada apa ya? Kenapa kamu salahin saya?" tanya An Ming tak mengerti.


"Jelas ini emang salah kamu, karena kamu sudah merebut Lian dari kami!" jawab Tachi.


"Maksudnya apa? Aku gak ngerasa merebut Lian dari siapapun," ucap An Ming santai.


"Heh! Kamu itu orang baru disini, tapi kamu sudah bikin keributan di desa kita. Sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah kembali lagi kesini! Atau kami tidak akan segan-segan menghabisi kalian semua!" ancam Tachi.


"Sabar dulu Tachi! Kamu tidak bisa main serang begitu saja, pangeran An Ming ini orang Quangzi dan kalian akan mendapat masalah besar jika berani melukai beliau!" ucap Shi Yuqi.


"Kami gak takut, kami berani menghadapi apapun demi bisa mendapatkan Feng Lian!" ujar Tachi.


"Ya benar itu!" sahut pemuda lainnya.


"Kalian ini sudah benar-benar tidak waras! Hanya karena cinta, kalian rela melakukan ini?!" ucap Lee Wei sambil menggeleng pelan.


"Itu sudah kewajiban kami, karena Feng Lian hanya boleh dimiliki oleh pemuda di desa ini. Pangeran An Ming harus cari perempuan lain, jika dia tidak mau ada peperangan disini!" tegas Tachi.


"Kalaupun memang aku harus berperang untuk mendapatkan Lian, aku tidak akan takut menghadapi kalian semua!" tantang An Ming.


"Kurang ajar! Jangan memandang remeh kami, karena kami bukan warga desa biasa!" ujar Tachi.


"Mau siapapun kalian, aku sama sekali gak takut! Ayo serang saja aku jika kalian mampu!" ucap An Ming dengan pedenya.


"Sial!" umpat Tachi kesal.


"Hey tahan!" teriak Shi Yuqi menahan Tachi dan pasukannya yang ingin menyerang An Ming.


"Kalian ini apa-apaan? Kalian sebaiknya bubar, jangan bikin malu!" tegas Shi Yuqi.


"Maaf paman Shi, tapi kami semua akan terus berjuang disini!" ucap Tachi.


"Ya itu benar!" sahut yang lainnya.


An Ming tersenyum smirk sembari menggelengkan kepalanya dengan perlahan, sungguh ia tak menyangka urusannya akan sebesar ini.


"Pangeran, sebaiknya kita segera pergi dan tinggalkan tempat ini!" bisik Zheng.


"Tidak paman, aku hanya akan pergi sesudah aku mendapat restu dari paman Shi Yuqi," ucap An Ming.


"Tapi pangeran, ini semua akan semakin parah jika pangeran tidak pergi," ujar Zheng.


"Biarlah, aku pasti bisa menyelesaikan semua ini paman!" ucap An Ming percaya diri.




Ratu Lien masih berada di ruang pengobatan bersama tabib untuk mengecek kondisi seorang perempuan yang terluka itu.


Ratu Lien tersenyum saja saat perempuan tersebut melirik ke arahnya, ia sebenarnya merasa curiga pada wanita di hadapannya itu.


Namun, ratu Lien masih belum bisa mencari tahu kecurigaan apa yang timbul di hatinya karena ia juga tak tahu siapa perempuan itu.


"Bagaimana kondisi kamu? Apa sudah baikan?" tanya ratu Lien.


"A-aku sudah membaik, ratu. Terimakasih atas pertolongannya!" jawab wanita itu lirih.


"Sama-sama, syukurlah kalau kamu memang sudah membaik!" ucap ratu Lien.


"Ya ratu, pengobatan di Quangzi memang yang terbaik!" puji wanita itu.


"Baguslah, semoga kamu juga bisa cepat pulih sepenuhnya!" ucap ratu Lien.


Wanita itu mengangguk pelan.


"Oh ya, siapa nama kamu? Lalu, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?" tanya ratu Lien.


"A-aku Xiao Tien, aku diserang tiba-tiba oleh orang bertopeng saat aku berjalan di hutan," jawab wanita itu terbata-bata.


"Namamu Xiao Tien? Darimana asal kamu?" tanya ratu Lien lagi.


"Eee sebenarnya aku masih termasuk warga Quangzi, aku tinggal di desa Xianyi yang terletak di pinggiran Quangzi," jawab wanita bernama Xiao Tien itu.


"Oh begitu, yasudah kamu bisa lanjutkan istirahat kamu dan jangan banyak bergerak!" ucap ratu Lien.


"Baik ratu, terimakasih!" ucap Xiao Tien.


"Kalau begitu aku pergi dulu, selamat beristirahat! Tabib, lanjutkan pengobatannya sampai dia pulih benar!" ucap ratu Lien.


"Tentu saja ratu," ucap tabib itu.


Setelahnya, ratu Lien pun keluar dari ruang pengobatan tersebut dan berjalan ke depan istana.


Ia mencari putri Xiu kesana-kemari, namun tak berhasil menemukannya.


Justru ratu Lien bertemu dengan Luan sang pelayan disana.


"Ratu, ratu mau kemana?" tanya Luan.


"Eee aku mau cari putri Xiu, apa kamu melihat dia?" jawab ratu Lien.


"Enggak sih ratu, daritadi hamba tidak melihat putri Xiu ataupun pangeran Lao," ucap Luan.


"Yasudah, kalo gitu kamu temani aku cari putriku sampai dapat ya!" pinta ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Luan menurut.


Luan pun menemani ratu Lien untuk mencari keberadaan putri Xiu di sekitar istana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2