Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 32. Ikut sayembara


__ADS_3

An Ming kembali ke istana menemui Xavier serta ratu Lien di singgasana.


Li Fan selaku jenderal yang menemani An Ming pergi ke hutan pun turut memberi hormat pada sang raja serta ratu.


"Kalian sudah kembali?" ucap ratu Lien.


"Iya mom, kami kembali lebih cepat karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu dan Daddy." jawab An Ming begitu bersemangat.


"Eee apa yang kamu ingin katakan sayang? Kenapa kamu terlihat sangat gembira?" tanya ratu Lien penasaran.


"Iya An Ming, ada apa?" sahut Xavier ikut penasaran.


"Paman, tolong jelaskan pada mom dan dad mengenai wanita itu!" pinta An Ming kepada Li Fan.


"Maaf pangeran! Kenapa tidak pangeran saja yang menceritakan kepada raja dan ratu? Hamba takut salah ucap pangeran," ucap Li Fan.


"Ada apa ini sebenarnya? Wanita itu siapa?" tanya Xavier sangat penasaran.


Akhirnya Li Fan terpaksa menjelaskan pada Xavier dan ratu Lien, biarpun sebelumnya ia merasa ragu untuk mengatakan itu.


"Jadi begini yang mulia, tadi di hutan pangeran An Ming bertemu dengan seorang gadis cantik yang jago memanah. Mereka sempat beradu dan dimenangkan oleh gadis itu, pangeran pun terpesona dengannya yang mulia." jelas Li Fan.


"Apa?" Xavier terkejut dan menganga lebar.


Begitupun dengan ratu Lien yang ikut tak menyangka kalau putranya sudah bisa tertarik dengan lawan jenis.


"An Ming, kamu masih sebelas tahun. Kamu seharusnya tidak boleh begitu!" ucap ratu Lien.


"Biarlah Lien sayang, putra kita kan hanya terpesona. Lagipun, wajar saja kalau An Ming begitu, mungkin wanita yang dilihatnya lumayan cantik dan jago memanah." kata Xavier.


"Tidak Daddy, aku bukan hanya sekedar terpesona. Aku juga mau meminangnya dan membawa dia ke istana untuk tinggal bersamaku," ucap An Ming.


"An Ming, kamu belum boleh membawa wanita untuk tinggal disini. Usia kamu masih di bawah umur sayang, dengarkan mommy ya!" ucap ratu Lien sangat terkejut dengan ucapan putranya.


"Kenapa mom? Apa salahnya kalau aku ajak dia buat tinggal disini?" tanya An Ming.


"Jelas saja itu salah besar sayang, kamu harus dewasa dulu kalau ingin meminang perempuan! Untuk lelaki seusia kamu, sebaiknya kamu belajar dulu yang pintar! Baru nantinya kamu bisa ajak wanita untuk tinggal disini," jawab ratu Lien.


"Iya An Ming, benar yang dikatakan ibumu. Sekarang belum waktunya kamu meminang wanita, belajar dulu yang rajin ya!" ucap Xavier.


An Ming terlihat murung dan menundukkan wajahnya, ia bersedih mendengar perkataan kedua orangtuanya tadi.


"Jangan sedih sayang! Nanti kalau kamu dewasa, kamu bisa meminang banyak wanita sekaligus untuk dibawa ke istana ini. Yang terpenting, kamu harus jadi anak pintar dulu!" ucap Xavier.


"Benar begitu dad?" tanya An Ming.


"Iya sayang, itu benar." jawab Xavier tersenyum.


"Oke dad!" ucap An Ming bersemangat.


"Kalau gitu, aku mau lanjut latihan lagi. Ayo paman ajari aku memanah!" sambungnya.


"I-i-iya pangeran," ucap Li Fan gugup.


An Ming pun menarik tangan Li Fan dan pergi dari sana dengan tergesa-gesa.


Sementara ratu Lien terlihat menatap tajam ke arah Xavier seperti emosi.


"Eee ada apa?" tanya Xavier bingung.


"Kamu kenapa tadi bilang begitu sama An Ming? Kamu mau ajarin dia punya banyak perempuan gitu?" ujar ratu Lien kesal.


"Ahaha, kamu cemburu ya sayang? Tenang aja, itu kan cuma gurauan. Lagian belum tentu juga An Ming bisa seperti itu, toh dia kan anak yang baik." ucap Xavier terkekeh.


"Ah sudah lah, aku tidak mau membahas ini lagi!" ucap ratu Lien.


"Tapi aku penasaran, siapa wanita yang dimaksud An Ming itu? Seperti apa rupanya sampai bisa membuat An Ming terpesona?" ujar Xavier.




Xi Mei pun juga pulang ke rumah, ia berpapasan dengan Ryu yang baru kembali dari tempat pelatihannya.


"Xi Mei, darimana kamu?" tanya Ryu.


"Eh paman, ini aku abis latihan panah di hutan. Paman baru selesai ngajar ya?" ucap Xi Mei.


"Iya nih, kamu mau latihan Wushu lagi gak?" tanya Ryu.


"Boleh paman, tapi emang paman gak capek apa?" ucap Xi Mei.


"Ya capek sih," ucap Ryu sambil nyengir.


"Ih paman ini, kalo gitu ngapain tadi paman nawarin mau latihan?" ucap Xi Mei cemberut.


"Ahaha, paman bercanda sayang. Kalau kamu mau latihan sekarang, ya paman bakal ajarin kamu. Buat ajarin pemula seperti kamu, itu gak perlu terlalu capek kok." ucap Ryu.

__ADS_1


"Nyebut pemulanya biasa aja kali paman, gausah kayak ngeledek gitu! Nanti juga lama-lama aku bisa jadi jago, bahkan lebih jago daripada murid-murid paman itu!" ucap Xi Mei.


"Oke Xi Mei, paman tagih ya nanti janji kamu. Sekarang kamu tunggu paman di samping rumah, paman mau bersih-bersih dulu!" ucap Ryu.


"Iya paman," ucap Xi Mei mengangguk singkat.


"Yaudah, paman ke dalam dulu ya?" ucap Ryu.


Xi Mei mengangguk saja sambil tersenyum tipis, sedangkan Ryu melangkah ke dalam rumah setelah mengusap puncak kepala Xi Mei.


Xi Mei pun pergi ke samping rumah, ia meletakkan busur panahnya di meja lalu mulai melakukan pemanasan sebelum memulai latihannya.


Tanpa diduga, Zheng muncul disana dan tersenyum memperhatikan Xi Mei dari dekat.


"Kamu benar-benar cantik Xi Mei, aku suka melihat mu saat sedang melakukan pemanasan seperti ini." ucap Zheng sambil tersenyum.


"Hah?" Xi Mei terkejut dan reflek menoleh ke arah Zheng.


"Kamu ngapain disini?" tanya Xi Mei pada Zheng.


"Aku pengen ketemu kamu, kebetulan aku baru selesai latihan tadi dan gak ada kamu disana. Makanya aku datang aja ke rumah kamu, eh ternyata kamu lagi latihan juga." jawab Zheng.


"Iya, aku tadi habis latihan memanah di hutan. Terus paman minta aku buat latihan Wushu sekarang," ucap Xi Mei.


"Waw hebat kamu Xi Mei! Emangnya kamu gak capek?" ujar Zheng.


"Tentu tidak, aku justru senang bisa latihan dua ilmu sekaligus. Dengan begitu, aku kan bisa menguasai ilmu panah dan juga Wushu." ucap Xi Mei sambil tersenyum.


"Iya sih, kamu memang hebat Xi Mei! Aku salut sama kamu!" ucap Zheng.


"Terimakasih!" ucap Xi Mei singkat.


Tak lama kemudian, Ryu muncul dan langsung mendorong pelan tubuh Zheng agar menjauh dari Xi Mei.


"Zheng, kamu tidak boleh terlalu dekat dengan Xi Mei!" ucap Ryu tegas.


"Ma-maaf guru!" ucap Zheng gugup.


"Paman, sudah lah jangan terlalu seperti itu sama Zheng!" ucap Xi Mei.


"Ini harus paman lakukan, Xi Mei! Paman kan gak mau kamu sampai disentuh sama laki-laki, jadi kalian itu gak boleh terlalu dekat!" ucap Ryu.


"Iya paman, aku ngerti kok. Lagian daritadi juga aku sama Zheng gak ada sentuhan," ucap Xi Mei.


"Yasudah, mau apa kamu kesini Zheng? Ada urusan penting atau tidak?" tanya Ryu pada Zheng.


Zheng pun berbalik dan pergi dari sana, sedangkan Xi Mei serta Ryu sama-sama keheranan.




Hari telah berganti, persiapan sayembara memanah yang diselenggarakan istana pun semakin dipercepat mengingat waktu juga semakin dekat menuju hari dilaksanakannya.


Xavier terlihat memantau persiapan itu di halaman istana bersama sang ratu, ia ingin semuanya berjalan dengan lancar karena sayembara itu juga bertujuan memilih pemanah terbaik untuk istana.


"Begitulah semua persiapan yang kami lakukan, yang mulia." ucap Gusion setelah selesai memberi laporan kepada Xavier.


"Baiklah, aku rasa ini sudah cukup baik. Ingat Gusion, semuanya harus sudah selesai pada waktu Minggu besok!" ucap Xavier.


"Siap yang mulia!" ucap Gusion menurut.


"Kalau begitu kau bisa pergi dan lanjutkan persiapan sayembara ini!" titah Xavier.


"Baik yang mulia!" ucap Gusion.


Gusion pun pergi dari sana dan kembali memantau persiapan sayembara itu, sedangkan Xavier tetap disana bersama ratu Lien.


"Lien, menurut kamu gimana dengan diadakannya sayembara ini?" tanya Xavier pada ratu Lien.


"Eee aku sih bagus-bagus aja yang mulia, karena kan kita bisa menemukan pemanah hebat untuk memperkuat pasukan istana." jawab ratu Lien.


Cupp!


Xavier justru menarik dagu ratu Lien dan mengecup bibirnya secara tiba-tiba.


"Manis sekali, aku suka!" ucap Xavier.


Ratu Lien menunduk malu, seketika wajahnya dibuat memerah akibat ulah Xavier yang tidak tahu tempat itu.


Tak cukup sampai disitu, Xavier kembali menarik lengan ratu Lien dan mendekapnya erat. Ia menaikkan dagu sang ratu lalu tersenyum menatap wajahnya.


"Jangan sembunyikan wajah cantikmu dariku, Lien!" ucap Xavier.


"Eee yang mulia, tolong jangan begini! Disini banyak orang, aku malu!" pinta ratu Lien.


Xavier tak menggubris ucapan ratu Lien, ia justru mengusap rambut ratu Lien dan mengecup kening sang ratu berkali-kali.

__ADS_1


Kecupan itu turun ke hidung, dagu sampai bibir ratu Lien. Membuat sang ratu hanya bisa diam dan menutup matanya.


Kecupan singkat itu berubah menjadi lumatann yang lembut dan dalam, ratu Lien membuka mulutnya memberi akses bagi Xavier untuk menjelajahi rongga mulutnya.


"Mom, dad!" mereka terkejut saat mendengar suara An Ming disana.


Xavier reflek melepas pagutannya dan menoleh ke asal suara, terlihat An Ming tengah terkekeh sembari berjalan ke arah mereka.


"Eee An Ming, lain kali kamu jangan langsung datang kesini ya sayang!" ujar Xavier.


"Kenapa dad? Ini kan di halaman istana, bukan kamar Daddy." kata An Ming.


Xavier terdiam dibuatnya, kata-kata An Ming memang benar kalau saat ini mereka berada di halaman istana dan Xavier lah yang sudah melakukan kesalahan.


"Haish, aku kan sudah peringati kamu tadi!" bisik ratu Lien di telinga Xavier.


"Tidak apa istriku," ucap Xavier tersenyum lebar.


"Daddy sama mommy tadi lagi ngapain? Kok tempelin bibir kayak gitu?" tanya An Ming heran.


"Eee kamu masih kecil sayang, jadi belum boleh tahu soal itu!" jawab Xavier gugup.


Sementara ratu Lien terus menatap tajam ke arah Xavier dengan wajah marahnya.


"Tapi dad, itu kan—"


"Sudah ya sayang, jangan dibahas lagi! Daddy kan sudah bilang, kamu belum boleh tahu tentang itu! Atau kamu mau Daddy marah?" potong Xavier.


"Tidak dad, baiklah aku akan bicara hal yang lain saja." kata An Ming tersenyum.


"Nah itu bagus!" ucap Xavier merasa lega.




Xi Mei, Luan, Ryu serta Chen tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.


Kali ini Xi Mei tidak bisa lagi merasakan makanan istana, karena dirinya sendiri yang meminta pada Mungyi untuk berhenti membawakan makanan istana ke rumah itu.


Ryu pun merasa heran lantaran makanan yang ada disana semuanya tak ada satupun yang berasal dari istana, padahal sebelumnya pasti selalu ada.


"Luan, kenapa ini tidak ada makanan dari istana? Apa kusir Mungyi tak mau membawakan makanan itu kesini lagi?" tanya Ryu pada Luan.


"Bukan begitu suamiku, tapi Xi Mei sendiri yang meminta pada Mungyi untuk berhenti membawa makanan istana kemari. Dia tidak mau Mungyi dalam bahaya nantinya," jawab Luan.


"Oh begitu," ucap Ryu mengangguk pelan.


"Iya paman, lagipun masakan bibik juga tidak kalah enak kok dari masakan di istana. Aku lebih suka sama masakan bik Luan!" ucap Xi Mei tersenyum.


"Ah kamu bisa aja Xi Mei!" ujar Luan tersipu.


"Kan emang benar begitu bik, tanya aja sama Chen!" ucap Xi Mei.


"Iya mah, bener tau!" sahut Chen.


"Yaudah yaudah, lanjut lagi aja makannya! Kalau kalian mau nambah lagi juga boleh, masih banyak tuh makanannya!" ucap Luan.


"Iya bik," ucap Xi Mei mengangguk kecil.


Xi Mei baru teringat kalau ia mendapat undangan untuk mengikuti sayembara memanah di istana, ia pun menceritakan itu kepada paman dan bibinya disana.


"Oh iya bik, paman, aku baru ingat kalau kemarin aku diundang buat ikut sayembara di istana." kata Xi Mei dengan penuh semangat.


"Sayembara? Sayembara apa Xi Mei? Dan siapa yang undang kamu?" tanya Ryu terheran-heran.


"Eee sayembara memanah, paman. Jadi kemarin itu, aku ketemu sama pangeran istana pas di hutan. Dia malah tantang aku buat adu panah, terus karena aku menang lawan dia jadinya aku dapat undangan deh buat ikut sayembara itu." jawab Xi Mei menjelaskan.


"Pangeran? Di hutan?" ujar Ryu terkejut.


"Iya paman, namanya pangeran An Ming. Aku juga gak tahu dia kenapa suka sekali datang ke hutan itu, tapi kayaknya sih dia emang hobi memanah juga sama kayak aku." ucap Xi Mei tersenyum.


"Sayang, sebaiknya kamu jangan ikuti sayembara itu ya! Bibik gak mau kamu kenapa-napa disana," pinta Luan pada Xi Mei.


"Kenapa bik? Istana itu kan punya Daddy aku dulu, jadi harusnya gapapa dong aku ikut kesana. Lagian seharusnya tuh si pangeran itu yang gak boleh ada disana, dia kan bukan keluarga kerajaan!" ucap Xi Mei terheran-heran.


"Iya sayang, bibik ngerti. Tapi, tolong kamu jangan ikuti sayembara itu ya sayang!" ucap Luan.


"Aku mau ikut bik, aku yakin aku bisa menang kok di sayembara itu!" ucap Xi Mei.


"Bukan itu masalahnya sayang, tapi kalau kamu pergi ke istana yang ada kamu bisa ketahuan sama raja Xavier. Kalau kamu ditangkap dan ditahan disana bagaimana?" ucap Luan.


"Benar Xi Mei, itu sangat bahaya buat kamu! Jadi, sebaiknya kamu tidak usah mengikuti sayembara itu kalau kamu masih ingin bertemu dengan ratu Lien nantinya!" sahut Ryu.


"Tapi paman, aku...."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2