
"Iya iya, serahkan saja itu ke paman. Sekarang kamu istirahat ya sayang!" ucap Ryu.
Xi Mei mengangguk setuju, Ryu menuntunnya untuk beristirahat di belakang agar gadis itu tidak semakin kesakitan akibat terlalu sering bergerak dan emosi.
Setelahnya, Ryu pun kembali menemui raja Ling seraya pasukannya disana dan bersiap untuk melawan mereka semua.
"Ayo raja Ling, kita buktikan siapa yang terhebat diantara kita!" tantang Ryu.
"Hahaha, baiklah. Tapi, kalau aku berhasil mengalahkan mu serahkan Xi Mei kepadaku dan beri aku izin untuk menikahinya!" ucap Ling.
"Kita lihat saja nanti," ucap Ryu santai.
"SERAANGGG!!!" teriak Ryu.
Ryu beserta tiga ninja pasukannya pun maju menyerang raja Ling bersama prajurit-prajuritnya yang tentunya berjumlah sangat banyak.
Sementara Xi Mei hanya menyaksikan dari jauh pertempuran itu, ia khawatir pamannya tidak akan mampu menghadapi raja Ling.
"Duh, aku harus bantu paman!" ucap Xi Mei.
Gadis itu mengambil busurnya, mencoba menarik busur itu secara perlahan untuk turut membantu paman serta para ninja yang sedang bertarung dengan pasukan raja Ling disana.
"Awhh! Ini kenapa lukanya gak bisa sembuh sendiri sih? Dimana kemampuan aku?" ujar Xi Mei.
Dikala Xi Mei sedang kesulitan dengan busurnya sendiri, Ryu masih berusaha untuk mengalahkan raja Ling yang lumayan tangguh itu.
"Hahaha, tidak semudah itu kau untuk dapat mengalahkan ku. Aku adalah raja Ling, penguasa di wilayah Sidhagat!" ucap raja Ling.
"Kamu bisa sombong sekarang Ling, tapi jangan harap setelah ini kamu dapat berbicara seperti itu lagi!" ucap Ryu.
"Coba saja kalau kau bisa! Tapi jika tidak, maka kamu harus serahkan Xi Mei padaku!" ucap Ling.
"Jangan harap kamu bisa memiliki Xi Mei! Dia tidak akan pernah menikah denganmu, selagi aku masih hidup!" tegas Ryu.
"Baiklah, kalau begitu aku memang harus menghabisi orang sepertimu!" ujar raja Ling.
Terlihat raja Ling mulai mengeluarkan dua pedang andalannya, pedang-pedang itu tampak berkilau dan mengeluarkan warna biru yang membuat Ryu terkejut sekaligus menganga lebar.
"Pedang naga suci? Bagaimana kamu bisa memiliki pedang itu? Senjata itu sangat sakral, tak sembarang orang bisa memilikinya." ujar Ryu.
"Ya, dan aku termasuk salah satu orang yang mampu mengendalikan pedang ini. Kau tidak akan mungkin bisa mengalahkan ku, Ryu. Bersiaplah menerima kematian mu kali ini!" ucap raja Ling.
"Cih!" Ryu berdecih kesal.
Seakan tak mau kalah, Ryu juga mengeluarkan senjata andalannya dan bersiap untuk menghadapi raja Ling disana.
"Ayo serang aku Ryu! Kita bertarung sekarang juga!" tantang Ling.
"Hiyaaa..." Ryu bergerak maju membawa pedang miliknya dan mulai menyerang raja Ling.
Sliingg sliingg sliingg...
Suara pedang mereka saling beradu terdengar di telinga Xi Mei, gadis itu tampak khawatir melihat pamannya yang tengah bertarung dengan Ling di depan matanya.
"Paman!" teriak Xi Mei penuh kecemasan.
"Aku harus bantu paman!" sambungnya.
Xi Mei memaksakan dirinya untuk memanah satu persatu pasukan raja Ling dari posisinya saat ini.
Slaasshh...
Anak panah yang dilesakkan oleh Xi Mei berhasil mengenai cukup banyak prajurit milik raja Ling dan menewaskan mereka.
"Yes kena!" ucapnya spontan.
"Hey!" tiba-tiba saja seorang prajurit muncul di dekatnya dan hendak menghajarnya.
"Jangan ikut campur, atau kamu akan saya habisi!" ucap prajurit itu.
"Hah??" Xi Mei menganga lebar dibuatnya.
Saat prajurit itu hendak menyerangnya, satu orang ninja lebih dulu menendang punggung prajurit itu hingga tersungkur ke tanah.
Bughh...
"Jangan ganggu dia!" teriak si ninja.
"Huh syukurlah!" ucap Xi Mei mengelus dada.
Ninja itu pun kembali menghadapi para prajurit milik raja Ling, sedangkan Xi Mei tetap disana memantau pertarungan tersebut sambil berjaga-jaga dengan memegang busurnya.
Bruuukkk...
Ryu terdorong ke belakang hingga terjatuh dengan posisi terlentang setelah terkena tebasan pedang milik raja Ling.
"Paman!" teriak Xi Mei langsung melotot lebat saat menyaksikan pamannya terjatuh.
•
•
"Ayolah Mungyi! Apa kau tidak kasihan padaku? Aku ini hanya ingin bertemu dengan putriku, aku khawatir padanya!" potong ratu Lien.
Mungyi terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk mengikuti kemauan ratu Lien.
"Baiklah ratu, aku bersedia mengantarmu." ucap Mungyi.
__ADS_1
Ratu Lien pun tampak senang mendengarnya, ia mengusap wajahnya dan ingin segera pergi menuju desa Fuxiu untuk menemui Luan.
Tanpa disadari oleh mereka, Gusion tanpa sengaja melihat kebersamaan mereka dari jauh dan tampak penasaran.
"Itu kan ratu, mau apa ya ratu berduaan dengan Mungyi? Mereka mau kemana?" gumam Gusion.
Tampak Mungyi mengeluarkan kuda dari kandang dan menyiapkan kereta untuk mengantar ratu Lien, sesuai permintaan sang ratu sebelumnya.
Gusion semakin penasaran melihat itu, ia heran mengapa ratu Lien pergi tanpa sepengetahuan darinya.
"Saya harus ikuti mereka! Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk lagi pada ratu!" ucap Gusion.
Setelah semuanya siap, kini ratu Lien naik ke atas kereta kuda tersebut dan meminta Mungyi untuk segera pergi.
"Ayo Mungyi, kita pergi sekarang!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Mungyi mengangguk pelan.
Mereka berdua pun pergi keluar dari istana, sedangkan Gusion mengambil kudanya dan segera mengikuti mereka dari jauh.
"Kira-kira mereka mau kemana ya?" ujar Gusion.
Singkat cerita, mereka telah tiba di desa Fuxiu. Mungyi langsung menghentikan keretanya tepat di depan rumah Luan.
"Ratu, kita sudah sampai." kata Mungyi.
"Iya Mungyi, terimakasih ya! Kalau begitu aku turun dulu dan temui Luan di dalam, kamu tunggu sebentar disini! Aku tidak akan lama kok, jangan khawatir ya!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Mungyi menurut.
Ratu Lien pun turun dari kereta itu, ia segera melangkah ke dalam rumah itu dan menemui Luan di dalam sana.
"Permisi! Luan, kamu ada di rumah kan? Ini aku Lien, aku mau bicara." teriak ratu Lien.
"Iya.." suara balasan dari dalam.
Ceklek...
Pintu pun terbuka, seorang gadis yang tak lain ialah Chen putri dari Luan muncul menemui sang ratu.
"Ratu?" ucap Chen terkejut.
"Salam hormat hamba, ratu!" Chen langsung menunduk dan memberi hormat pada ratu Lien.
"Ya, sudahlah! Kamu pasti anaknya Luan kan?" ucap ratu Lien.
"Benar ratu! Namaku Chen," jawab Chen.
"Baiklah! Lalu, apa ibumu ada di dalam?" tanya ratu Lien.
"Ada ratu," jawab Chen.
"Bisa ratu! Sebentar ya ratu! Eee silahkan ratu duduk dulu!" ucap Chen.
"Iya, terimakasih!" ucap ratu Lien tersenyum singkat dan duduk di kursi yang tersedia.
Chen pun masuk ke dalam rumahnya, ia tak sengaja berpapasan dengan Luan saat hendak membuatkan minuman dan memanggil ibunya itu.
"Eh ibu," ucap Chen.
"Chen, siapa yang datang nak?" tanya Luan.
"Eee anu, di depan ada ratu Lien. Katanya ratu mau ketemu sama ibu," jawab Chen.
"Ratu Lien ada di depan?" tanya Luan kaget.
"Iya Bu, mending ibu temuin ratu deh! Biar aku bikinin minum dulu buat ratu," ucap Chen.
"Iya sayang, tolong bikin minuman yang enak ya! Jangan sampai ratu gak suka!" ucap Luan.
"Baik Bu!" ucap Chen menurut.
Luan pun melangkah ke depan berniat menemui ratu Lien, sedangkan Chen lanjut ke dapur membuatkan minuman.
•
•
Kini Luan tiba di luar rumahnya, ia memberi hormat pada sang ratu yang saat ini juga tengah berdiri begitu melihat Luan muncul disana.
Barulah mereka sama-sama duduk di kursi yang tersedia, Luan tampak penasaran mengapa ratu Lien sampai datang ke rumahnya kali ini.
"Ratu, ada apa gerangan sampai ratu datang kemari?" tanya Luan penasaran.
"Begini Luan, aku ingin menanyakan padamu mengenai kondisi putriku. Aku benar-benar khawatir padanya, aku bermimpi bahwa putriku sedang mengalami masalah di luar sana. Itu sebabnya aku datang kemari, karena aku ingin memastikan bahwa putriku baik-baik saja." jelas ratu Lien dengan nada cemas.
"Eee maafkan hamba ratu! Bukannya hamba tidak ingin memberitahu pada ratu, tetapi hamba juga tidak tahu dimana dan bagaimana kondisi putri Xiu saat ini. Karena putri Xiu sedang pergi bersama suami hamba menuju tempat pelatihan barunya," ucap Luan.
"Iya, sebenarnya Zheng juga sudah memberitahu padaku sebelumnya. Namun, aku berpikir jika mungkin saja putriku sudah kembali kesini. Tapi ternyata dugaan ku salah ya," ujar ratu Lien.
"Iya ratu, putri Xiu belum kembali." kata Luan.
"Lalu, apa kau tau kemana mereka pergi?" tanya ratu Lien cemas.
"Memangnya mengapa ratu? Apa ratu hendak menyusul mereka? Hamba mohon jangan ratu, itu sangat berbahaya!" ujar Luan.
"Tidak Luan, aku hanya ingin tahu mereka kemana. Aku tidak akan pergi sendiri kesana, tetapi aku akan mengutus seseorang untuk menyusulnya. Aku benar-benar khawatir padanya, aku tidak mau dia kenapa-napa!" ucap ratu Lien.
__ADS_1
"Baiklah ratu, aku bisa memberitahu ratu kemana mereka pergi." kata Luan.
"Yasudah, cepat kamu beritahu padaku sekarang!" pinta ratu Lien.
"Putri Xiu dan suamiku sedang pergi menuju lembah parabuan, ratu. Mereka akan menemui teman dari suamiku yang membuka tempat pelatihan beladiri disana," jawab Luan.
"Apa nama tempat itu?" tanya ratu Lien.
"Perguruan elang putih, ratu." jawab Luan.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya! Kalau begitu aku harus segera kembali ke istana, sebelum suamiku curiga nantinya!" ucap ratu Lien.
"Sama-sama ratu, apa ratu tidak mau minum lebih dulu?" tanya Luan.
"Ah tidak usah, aku akan minum di rumah saja. Kau tahu kan bagaimana raja Xavier jika dia tahu aku tidak ada di istana, pasti dia akan sangat khawatir!" jawab ratu Lien.
"Iya ratu, kalau begitu berhati-hatilah!" ucap Luan.
"Tentu saja," ucap ratu Lien.
Ratu Lien pun pamit pada Luan untuk segera kembali menuju istana, ia langsung melangkah menghampiri Mungyi yang masih terduduk di atas kudanya.
Setelah ratu Lien dan Mungyi pergi, Luan hendak masuk ke dalam rumahnya. Namun, wanita itu justru berpapasan dengan Chen yang nampaknya baru selesai membuatkan minuman.
"Loh Bu, ratu Lien kemana?" tanya Chen heran.
"Ratu sudah pulang, kamu sih lama banget buatin minumannya!" jawab Luan ketus.
"Ya maaf Bu! Tadi kan aku harus rebus air dulu buat bikin minuman ini," ucap Chen.
"Yasudah gapapa, kamu bawa lagi aja minuman itu ke dapur ya!" pinta Luan.
"Iya Bu," ucap Chen menurut.
Mereka pun sama-sama masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, tanpa sadar jika Gusion masih ada di sekitar sana memandangi rumah mereka.
"Jadi, tuan putri Xiu masih hidup dan dia sekarang sedang berada di lembah parabuan." batinnya.
•
•
Xavier tampak kelimpungan mencari ratu Lien di sekeliling istana, ia bingung karena sang ratu tidak terlihat disana bahkan di kamarnya juga tak dapat ditemukan.
Xavier pun menemui seluruh prajurit serta pelayan istana untuk menanyakan mengenai ratu Lien, namun diantara mereka tidak ada yang mengetahui kemana sang ratu.
"Bagaimana sih? Masa kalian tidak tahu kemana ratu Lien? Kalian itu kan yang melayani ratu, harusnya kalian tahu dong!" ujar Xavier emosi.
"Maafkan kami raja! Tapi, kami memang tidak tahu ratu kemana. Coba nanti biar kami temui dayang ratu, karena mereka yang selalu ada di samping sang ratu." ucap pelayan itu.
"Baiklah, biar saya yang temui mereka. Kalian bantu saya keliling cari ratu!" ucap Xavier.
"Baik yang mulia!" ucap mereka bersamaan.
Xavier pun melangkah menemui dayang-dayang yang selalu menemani ratu Lien, ia berharap mereka tahu kemana perginya sang ratu.
"Hey kalian!" ucap Xavier menyapa tiga gadis itu.
"Iya yang mulia," ucap dayang itu.
"Kalian tahu dimana ratu Lien?" tanya Xavier.
"Eee kami..." mereka tampak saling pandang dan bingung menjawab pertanyaan Xavier.
"Jawab!" bentak Xavier.
"I-i-iya yang mulia... tadi kami mengantar ratu Lien menemui Mungyi di belakang istana, tapi kami tidak tahu lagi kemana ratu pergi bersama Mungyi." jawab dayang itu.
"Apa? Jadi, istriku pergi bersama Mungyi?" ujar Xavier terkejut.
"Benar yang mulia! Kami sebenarnya sudah melarang ratu, tetapi ratu bilang kalau sudah mendapat izin dari yang mulia." kata dayang itu.
"Sial! Dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa padaku, aaarrgghh seharusnya kalian cegah dia dan jangan biarkan dia pergi tanpa sepengetahuan ku!" ucap Xavier emosi.
"Maafkan kami yang mulia! Kami benar-benar mengira jika ratu Lien sudah mendapat izin dari yang mulia, jadi kami tidak berani melarang ratu pergi dari istana." ucap dayang itu ketakutan.
"Sudahlah, aku akan mencari ratu keluar istana. Kalian berjaga-jaga saja disini, barangkali ratu pulang nantinya!" ucap Xavier.
"Baik yang mulia!" ucap mereka bersamaan.
Setelahnya, Xavier pun pergi dari sana dengan perasaan kesal menuju halaman istana.
"*Lien, kamu kemana sih sayang?" batin Xavier.
"Kenapa kamu hobi sekali pergi-pergi dari istana? Apa kamu tidak kapok dengan kejadian waktu itu?" sambungnya*.
Xavier bertemu dengan Zheng, ia langsung meminta bantuan pada pria itu untuk mengantarnya mencari ratu Lien.
"Zheng, ayo antarkan aku mencari ratu Lien!" pinta Xavier.
"Eee memangnya kemana sang ratu, yang mulia?" tanya Zheng bingung.
"Ratu pergi keluar istana tanpa sepengetahuan ku, kita harus cari dia sampai ketemu!" jawab Xavier.
"Ba-baik yang mulia!" ucap Zheng menurut.
Lalu, mereka pun pergi dengan tergesa-gesa menggunakan kuda kesayangan sang raja dan melaju cepat meninggalkan istana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...