
"Yaudah, sekarang kalian bisa istirahat dulu disana! Aku cuma mau hirup udara segar kok, aku janji gak akan kemana-mana lagi!" ucap Xiu.
"Baik tuan putri!" ucap mereka serentak.
Tiba-tiba saja Alice muncul bersama Wingki dan para pasukan iblisnya.
"Hahaha hahaha.." suara tawa itu terdengar menggelegar di telinga putri Xiu.
Sontak Xiu beserta Ryu dan Chen langsung menoleh ke asal suara, mereka menatap Alice penuh rasa heran.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Xiu geram.
"Aku ingin menghabisi kamu Xiu! Dengan begitu, aku yakin raja Lao akan muncul dan aku bisa membalaskan dendam suamiku kepadanya nanti!" jawab Alice dengan lantang.
"Apa maksudmu? Raja Lao tidak akan mudah untuk dihabisi, begitupun denganku!" ucap Xiu.
"Kamu jangan sombong Xiu! Kamu memang bisa mengalahkan Xavier, tapi tidak denganku. Hari ini adalah terakhir kalinya kamu dapat bernafas Xiu!" ucap Alice.
"Aku sedang malas berkelahi, kamu pergi saja dan kembali lain waktu!" pinta Xiu.
"Kurang ajar! Rasakan ini!" Alice yang kesal akhirnya langsung menyerang Xiu begitu saja.
Slaasshh...
"Akh!" Xiu memekik sakit seraya memegangi lengannya yang terkena serangan dadakan dari Alice itu.
"Tuan putri!" teriak Chen yang langsung menghampiri Xiu dan menolongnya.
"Hahaha, habislah kamu Xiu! Ayo lawan aku atau aku akan jadikan kamu bulan-bulanan ku!" ujar Alice tertawa ria.
"Sial!" Xiu mengumpat kecil dan berusaha bangkit.
"Tuan putri tidak apa-apa?" tanya Chen.
"Iya, aku bisa hadapi dia!" jawab Xiu.
"Tapi tuan putri.." ucapan Chen terhenti saat suara teriakan lantang muncul begitu saja disana.
"HEY RATU IBLIS SIALAN!!" mereka semua kompak menoleh ke asal suara dan tampaklah sosok Wein Lao berdiri disana.
"Hah??" Xiu terkejut melihatnya.
"Kurang ajar! Kenapa suaminya itu harus muncul disini? Mengganggu saja!" umpat Alice kesal.
"Bagaimana ini ratu? Apa kita masih akan meneruskan pertempuran?" tanya Wingki.
"Tentu saja, untuk apa kita takut dengan dia? Ayo kamu maju dan lawan dia!" jawab Alice.
"Ba-baik ratu!" ucap Wingki terbata-bata.
Wingki langsung maju menghampiri Wein Lao dan menyerangnya, namun dengan mudah Wein Lao berhasil membuat Wingki tersungkur ke tanah.
Bruuukkk..
"Aakhhh!!" pekik Wingki memegangi perutnya.
"Apa? Dasar payah kau Wingki! Menghadapi dia saja kamu kalah, memang tidak bisa diandalkan!" ucap Alice.
"Sekarang giliran kau ratu iblis sialan! Akan kubuat kau menyusul teman-teman mu yang lain, agar tidak ada lagi musuh Quangzi yang masih berkeliaran disini!" ucap Wein Lao.
"Cih! Kamu kira semudah itu untuk menghabisi ku? Kamu salah Wein Lao, aku ini ratu iblis dan aku punya kekuatan yang luar biasa!" ucap Alice.
"Baiklah, kalau begitu ayo maju dan lawan aku! Jangan jadi pengecut ratu iblis sialan!" tantang Wein Lao.
"Kaulah yang sialan anak bodoh!" umpat Alice.
Alice pun menyerang Wein Lao secara membabi buta, sedangkan Wingki tampak masih tergeletak di tanah dan kesulitan untuk bangkit.
Putri Xiu hanya bisa menonton dari pinggir saat suaminya berhadapan dengan Alice, ia juga tengah terluka akibat serangan Alice tadi.
"Aku harus bantu Lao! Aku tidak mau dia terluka, lepaskan aku kak Chen!" ucap Xiu.
"Tidak tuan putri, kamu tetap disini saja! Kamu sedang terluka, akan sangat bahaya jika kamu memaksa untuk membantu pangeran Lao saat ini!" ucap Chen.
"Iya putri, lagipun aku yakin jika pangeran Lao pasti bisa mengalahkan Alice dengan mudah!" sahut Ryu.
"Aku juga yakin paman, tapi tetap saja aku khawatir dengan Lao!" ucap Xiu.
"Tenanglah putri! Percayakan saja semuanya pada pangeran Lao, dia pasti tidak akan terluka!" ucap Chen.
"Baiklah," ucap Xiu lirih.
•
•
Slaasshh... duaarrr...
Satu ilmu tenaga dalam yang dikerahkan oleh seorang wanita berpenampilan serba biru itu berhasil membuat pohon-pohon di depannya tumbang dan terbakar hebat.
Wanita itu pun menghentikan latihannya, disambut dengan tepukan tangan dari seorang pria dewasa yang kini mendekatinya.
Prok prok prok...
"Luar biasa Fey Chu, kamu memang sangat hebat!" ucap pria itu memujinya.
"Terimakasih guru!" wanita bernama Fey itu membungkuk memberi hormat pada gurunya.
"Sama-sama, yasudah ayo kita istirahat dulu! Kamu pasti haus kan?" ucap pria itu.
"Iya guru," ucap Fey menurut saja.
Mereka pun melangkah menuju kursi yang tersedia dan terduduk santai disana menikmati air yang telah disiapkan oleh sang guru.
__ADS_1
"Kemampuan kamu semakin hari semakin meningkat saja Fey, aku terkesan denganmu! Aku yakin suatu saat nanti kamu akan tumbuh jadi pendekar yang ditakuti semua orang!" ujar guru Tan Lai.
"Guru terlalu berlebihan, aku tidak sehebat itu. Aku melakukan ini semua kan demi misiku untuk menyatukan seluruh kerajaan-kerajaan di negeri ini, hanya itu yang aku inginkan guru." ucap Fey.
"Iya Fey, aku mengerti. Dengan ilmu yang kau kuasai sekarang, pasti kamu bisa melakukan itu. Hanya saja kamu masih harus terus berlatih dan pikirkan strategi yang tepat, karena menaklukkan suatu kerajaan adalah hal yang tidak mudah." ucap guru Tan.
"Tentu saja guru, aku sudah memikirkan itu jauh-jauh hari." ucap Fey.
Tiba-tiba saja guru Tan memegangi dadanya yang terasa sesak, hal itu membuat Fey merasa cemas dan langsung mendekat ke arah gurunya itu.
"Guru, guru tidak apa-apa?" tanya Fey panik.
"Akh! Tolong bawa aku ke dalam, rasanya aku sulit sekali bernafas!" pinta guru Tan.
"Baik guru!" Fey langsung membantu gurunya untuk berdiri dan membawanya ke dalam.
Wanita itu merebahkan tubuh gurunya di atas tempat tidur dan coba untuk mengobati sang guru dengan kekuatannya.
"Aku akan coba mengobati mu guru," ucap Fey.
"Aakhhh!!" guru Tan terus memekik menahan sakit serta rasa sesak di dadanya.
Fey masih terus mencoba untuk menyembuhkan guru Tan, tetapi berkali-kali juga ia gagal dan itu malah menyakiti dirinya sendiri.
Guru Tan yang melihat itu pun meminta Fey untuk berhenti melakukannya, ia tak mau jika Fey terluka karena mengobatinya.
"Sudahlah Fey, hentikan itu!" pinta guru Tan.
"Apa maksudmu? Aku akan coba obati guru, aku tidak mau guru kenapa-napa!" ucap Fey.
"Tidak Fey, itu sangat berbahaya!" ujar guru Tan.
"Fey cukup!" teriak guru Tan cukup keras.
"Tapi guru, kau terluka dan aku harus mengobati mu." ucap Fey merasa sedih.
"Aku baik-baik saja, ini mungkin sudah takdirku. Kamu teruskan berlatih ya Fey, wujudkan mimpimu itu untuk menyatukan seluruh kerajaan-kerajaan di negeri ini! Aku bangga memiliki murid sepertimu!" ucap guru Tan sambil tersenyum.
"Kamu tidak boleh pergi guru, aku masih membutuhkan guru disini!" rengek Fey.
"Jangan menangis Fey, kamu bukan anak kecil lagi!" ucap guru Tan.
Fey menggeleng dan mengusap air matanya, menggenggam tangan guru Tan dengan erat sambil berusaha untuk tenang.
"Aku pamit Fey, jaga dirimu baik-baik!" ucap guru Tan.
"Enggak guru, ini gak boleh terjadi! Guru!!" teriak Fey histeris.
"Uhuk uhuk, aakhhh!!" guru Tan terbatuk dan memejamkan matanya.
"Guru!!" teriak Fey sangat keras.
•
•
Alice terpental dan terjatuh ke tanah setelah terkena serangan dari Wein Lao.
"Akh! Dasar sialan!" umpat Alice.
"Hahaha, wanita sepertimu tidak pantas menjadi lawan ku Alice! Kamu itu hanya seorang pecundang, dan selamanya kamu tidak mungkin bisa mengalahkan ku!" ucap Wein Lao.
"Kurang ajar! Aku belum kalah, akan kubalas kau dilain waktu!" ucap Alice.
Wanita itu bangkit dan menghilang begitu saja bersama Wingki.
Wein Lao yang hendak mengejarnya, ditahan oleh Xiu karena tak mau suaminya itu pergi.
"Tunggu Lao, jangan dikejar!" teriak Xiu.
"Xiu?" Wein Lao menatap istrinya dan bergerak mendekati wanita yang tengah kesakitan itu.
"Xiu, kamu gapapa sayang? Mana yang sakit?" tanya Wein Lao cemas.
"Enggak kok, kamu tenang aja ya Lao! Luka aku ini cuma luka kecil, kamu gak perlu terlalu khawatir kayak gitu!" jawab Xiu cuek.
"Kamu kok begitu sih sama aku?" ujar Wein Lao.
"Begitu gimana?" tanya Xiu tak mengerti.
"Ya itu tadi, masa kamu bicaranya kayak gitu sama aku? Aku ini cemas loh sama istri aku, harusnya kamu senang dong sayang!" ucap Wein Lao.
"Iya iya, aku minta maaf! Aku masih kesel aja sama kamu soal tadi pagi," ucap Xiu membuang muka.
Wein Lao tersenyum dan memberi kode pada Chen untuk membiarkan dirinya yang memegangi istrinya itu.
Chen mengerti lalu menjauh dari Xiu, namun lengannya ditahan oleh Xiu yang tak ingin Chen pergi.
"Kamu mau kemana Chen?" tanya Xiu.
"Eee sekarang kan udah ada suami kamu, jadi biar dia aja ya yang pegangin kamu." jawab Chen.
"Hah? Gak ah, aku mau sama kamu aja Chen!" ucap Xiu.
"Jangan gitu lah tuan putri! Kasihan tuh pangeran Lao, dia kelihatannya khawatir banget sama kamu!" ucap Chen.
"Iya tuan putri, memangnya tuan putri gak mau dapat perhatian dari suaminya?" sahut Ryu.
"Tuh sayang, kamu dengerin dong kata mereka! Udah ya, sini kamu sama aku aja! Aku antar kamu kembali ke istana," ucap Wein Lao.
"Gak perlu, aku bisa sendiri!" ucap Xiu kekeuh.
Xiu melepaskan diri dari pegangan Chen dan hendak pergi, namun rasa sakit di tubuhnya membuat ia justru hampir terjatuh.
__ADS_1
"Eh eh Xiu!" Wein Lao langsung sigap menangkap tubuh istrinya, seketika Xiu pun berada dalam dekapan suaminya itu.
Mereka saling bertatapan selama beberapa menit hingga Wein Lao tersenyum seakan tak mau melepaskan tubuh istrinya itu.
"Kamu cantik banget sayang!" ucap Wein Lao.
"Ih apaan sih? Lepasin aku gak?!" Xiu coba berontak dari dekapan suaminya itu, tetapi gagal.
"Gak mau! Biar kayak gini aja terus sampai nanti ya, aku suka soalnya." ucap Wein Lao.
"Ish, malu tau sama Chen dan paman Ryu!" ucap Xiu dengan wajah yang sudah memerah.
"Gapapa, mereka ngerti kok." ucap Wein Lao.
Pria itu tersenyum lebar, kemudian mengangkat tubuh Xiu ala bridal style.
"Ih apa-apaan sih? Turunin aku Lao!" pinta Xiu.
"Gak akan, aku mau bawa kamu pergi dengan cara seperti ini. Kecuali kamu udah mau maafin aku, baru deh aku bakal turunin kamu." ucap Wein Lao.
"Ih Lao, jangan kayak gini ah!" ujar Xiu.
Wein Lao diam saja dan pamit pada Ryu serta Chen untuk membawa Xiu pergi.
"Paman Ryu, Chen, kita permisi ya? Kalian berdua boleh pulang sekarang, Xiu urusan saya!" ucap Wein Lao.
"Baik pangeran!" ucap Ryu mewakili putrinya.
Setelahnya, Wein Lao pun membawa Xiu terbang menjauh dari sana.
•
•
Raja Lao bersama pasukannya justru datang ke Quangzi menemui ratu Lien.
Saat ini mereka tengah berbincang bersama-sama di ruang singgasana.
"Aku datang kesini, karena aku tidak mau merepotkan Wein Lao untuk berangkat ke istana serigala. Aku tahu dia masih ingin bersama istrinya disini, jadi biar aku saja yang temui dia dan bicara dengannya." jelas raja Lao.
"Ya raja Lao, terimakasih kamu sudah mau mengerti keadaan mereka! Tadi saja aku lihat sepertinya putriku kecewa karena tau suaminya akan pergi dari sini," ucap ratu Lien.
"Oh ya?" In Lao terkejut mendengarnya.
"Iya raja Lao, maklumlah putriku itu sifatnya memang masih agak kekanak-kanakan. Jadi, masalah seperti itu saja dia sampai harus marah pada suaminya." jawab ratu Lien.
"Gapapa ratu, memang wajar saja kalau putri Xiu kecewa. Dia mungkin masih ingin menghabiskan waktu bersama suaminya disini," ucap In Lao.
"Hahaha, ya begitulah.." ratu Lien tertawa kecil.
"Eee lalu, apa aku bisa bertemu dengan Wein Lao sekarang? Dia dimana?" tanya In Lao sambil celingak-celinguk.
"Itu dia yang aku bingung, aku tidak tahu Wein Lao ada dimana sekarang. Tapi, sepertinya tadi dia keluar menyusul Xiu yang ngambek. Mungkin sebentar lagi mereka kembali," jawab ratu Lien.
"Oh begitu, baiklah aku akan tunggu saja disini. Boleh kan ratu?" ucap In Lao tersenyum lebar.
"Tentu saja boleh, kamu kan sekarang juga bagian dari Quangzi. Kamu bisa anggap istana ini seperti istanamu sendiri raja Lao!" ucap ratu Lien.
"Terimakasih ratu! Kamu itu memang baik sekali, sama seperti raja Feng dulu. Aku sangat beruntung bisa menjadi bagian dari Quangzi saat ini!" ucap In Lao.
"Kamu terlalu berlebihan raja Lao, aku yang beruntung karena putriku bisa menikah dengan putramu yang luar biasa itu!" ucap ratu Lien.
"Hahaha, yasudah bagaimana kalau kita berdua sama-sama beruntung saja?" ujar In Lao.
"Hahaha.." mereka pun tertawa bersamaan, suasana keduanya tampak lebih akrab saat ini.
"Mommy!" mereka berdua dikejutkan dengan suara anak lelaki yang datang kesan dan memanggil ratu Lien dengan sebutan 'mommy'.
"An Ming?" ucap ratu Lien.
"Mom, aku izin pergi keluar ya?" ucap An Ming.
"Tunggu dulu sayang! Kamu beri hormat dulu dong sama raja Lao!" pinta ratu Lien.
An Ming langsung menatap In Lao dan membungkuk ke arahnya.
"Salam hormatku padamu, raja Lao!" ucap An Ming.
"Ya pangeran," ucap In Lao tersenyum tipis.
"Lalu, apa mommy ratu mengizinkan aku untuk pergi sekarang?" tanya An Ming pada ibunya.
"Kamu pergi dengan siapa, nak?" tanya ratu Lien.
"Aku meminta ditemani sama guru Yao dan paman Zheng, mom." jawab An Ming.
"Baiklah, kamu boleh pergi!" ucap ratu Lien.
"Terimakasih mommy! Raja Lao, aku permisi ya! Salam hormat semuanya!" ucap An Ming.
"Silahkan pangeran!" ucap In Lao.
"Hati-hati ya putraku!" ucap ratu Lien.
Setelah An Ming pergi, In Lao kembali menatap ke arah ratu Lien dengan wajah penasaran.
"Ratu, apa nantinya kamu akan menjadikan An Ming sebagai pengganti kamu?" tanya In Lao.
"Umm..." ratu Lien terlihat kebingungan saat hendak menjawab pertanyaan In Lao.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1