Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 61. Menikmati sunset


__ADS_3

TOK TOK TOK...


"Mommy, mommy!"


"Uhuk uhuk," ratu Lien tersedak akibat ketukan pintu yang tiba-tiba muncul dari luar sana disertai suara teriakan putranya.


"Ya ampun! An Ming!" geram sang ratu.


Akhirnya ratu Lien meminum air yang juga telah diberikan Mungyi itu untuk menghilangkan rasa sakit pada tenggorokannya, lalu beranjak dari kursi dan melangkah menuju pintu.


"Mommy, buka pintunya mommy!" teriak An Ming.


"Iya sayang..." balas ratu Lien.


Ceklek...


Ratu Lien membuka pintu, tersenyum menemui putranya yang ada disana sembari menyamakan posisinya dengan An Ming dan memegang kedua pundaknya.


"Ada apa An Ming sayang?" tanya ratu Lien.


"Mom, kenapa mommy gak pernah keluar kamar lagi sih? Aku kan kangen tahu sama mommy, aku pengen main bareng mommy lagi!" ucap An Ming.


"Main? Loh, katanya kamu sudah besar kok masih pengen main sama mommy?" ledek ratu Lien.


"Hehe, aku emang udah besar mom tapi kalau di depan mommy itu gak tahu kenapa aku selalu merasa seperti anak kecil lagi." kata An Ming.


"Ahaha, emangnya kamu mau main apa sih sayang?" tanya ratu Lien.


"Eee kalau kita main di luar gimana mom? Sekalian keliling-keliling aja ke kebun istana, kan seru tuh kalau kita jalan berdua seperti kemarin-kemarin." jawab An Ming sambil tersenyum.


"Ohh, jadi kamu mau ajak mommy buat keliling istana?" tanya ratu Lien yang dibalas dengan anggukan An Ming.


"Yah tapi mommy lagi makan sayang, kebetulan mommy lapar banget. Kamu mau gak tungguin mommy sampai selesai makan dulu?" ucap ratu Lien.


"Oh mommy lagi makan? Kenapa gak bilang daritadi sih?" ujar An Ming.


"Iya sayang," ucap ratu Lien tersenyum lebar.


An Ming langsung bergerak masuk ke dalam kamar sang ratu, membuat ratu Lien bingung sekaligus penasaran.


Akhirnya ratu Lien berdiri tegak dan menyusul An Ming ke dalam kamarnya.


"Sayang, kamu ngapain sih?" tanya ratu Lien keheranan.


"Mommy kan lagi makan, jadinya aku mau temenin mommy makan dulu. Terus, aku juga pengen suapin mommy supaya mommy bisa lebih enak makannya." jawab An Ming.


"Oalah, baik banget sih kamu mau suapin mommy. Yaudah deh, kalo gitu kamu boleh suapin mommy sesuai kemauan kamu." kata ratu Lien.


"Oke mom!" ucap An Ming.


An Ming langsung mengambil piring di atas meja, namun ditahan oleh ratu Lien yang khawatir jika piringnya akan pecah.


"Eh eh, tahan dulu sayang! Biar mommy aja yang ambil piringnya, nanti kamu tinggal suapin mommy supaya lebih gampang ya." ucap ratu Lien mengambil alih piring itu.


"Iya deh mom, yang penting aku bisa suapin mommy makan." ucap An Ming tersenyum.


Ratu Lien mengangguk pelan seraya mengusap wajah putranya dengan lembut, hingga tiba-tiba ia teringat pada sosok Xiu alias putrinya.


"Nak, andai yang lagi suapin mommy saat ini itu kamu. Pasti mommy tambah ngerasa bahagia sayang!" batin ratu Lien sambil terus menatap wajah An Ming dan membayangkan Xiu.




Xi Mei baru selesai mandi, ia langsung pergi keluar kamar untuk melihat momen matahari terbenam yang selalu membuatnya merasa nyaman.


Entah mengapa gadis itu tiba-tiba saja teringat pada sosok ibunya, mungkin ia merindukan sang ibu karena telah lama tak bertemu.


"Mom, mommy lagi apa sekarang?" batinnya.


Disaat ia tengah asyik melamun sembari menatap langit, tangannya disentuh oleh seseorang dari samping dan membuat Xi Mei terkejut lalu reflek menarik tangannya itu.


"Eh?" Xi Mei terkejut dan menoleh ke samping menatap pria yang ada di sebelahnya.


"Ah maaf maaf, saya gak ada maksud bikin kamu kaget!" ucap pria itu.


"Kamu? Kamu kan..."


"Saya Rai, murid guru Felix juga sama seperti kamu. Masih ingat kan waktu panah kamu kena jambu dan jambu itu jatuhin kepala saya?" potong pria itu sambil terkekeh.


"Iya iya, aku ingat kok. Maaf banget ya soal itu, aku benar-benar gak sengaja dan gak tahu kalau ada orang di bawah pohon itu!" ucap Xi Mei.


"Gapapa, kamu gausah takut gitu! Aku ini orangnya ramah dan gak pendendam, kecuali emang ada orang yang suka cari masalah sama aku." kata pria bernama Rai itu.


"Waw kamu keren!" ucap Xi Mei memujinya.


"Ah biasa aja, itu kan sifat dasar yang harus dimiliki setiap manusia di muka bumi ini. Dendam itu bukan suatu hal yang baik, justru dengan dendam malah bikin hidup kita gak tenang." kata Rai.


"Iya, kamu emang benar." ucap Xi Mei.

__ADS_1


Rai tersenyum, kemudian mengambil posisi berdiri tepat di sebelah Xi Mei dan ikut menatap langit yang cerah itu.


Sementara Xi Mei masih terdiam saja, entah kenapa ia tidak suka saat Rai membahas tentang dendam.


"Nih orang kenapa tiba-tiba jadi bahas dendam sih? Kayak tahu aja kalau aku emang masih punya dendam sama Xavier, tapi mana mungkin coba dia tahu itu semua?" batin Xi Mei.


"Oh ya, kamu lagi apa disini Xi Mei?" tanya Rai kepada Xi Mei.


"Eh eee ini aku lagi pengen lihat matahari terbenam, gak tahu kenapa dari dulu aku paling suka ngeliatin itu." jawab Xi Mei.


"Pasti karena indah ya?" ujar Rai.


"Ya, mungkin begitu." jawab Xi Mei asal.


"Tapi aku heran deh sama kamu, harusnya kamu kalau mau melihat sesuatu yang indah tuh gak perlu tunggu matahari terbenam loh." kata Rai.


"Hah? Maksudnya?" tanya Xi Mei tak mengerti.


"Iya, padahal kan kamu tinggal ngaca aja di depan cermin dan pasti kamu langsung bisa lihat sesuatu yang sangat indah, seindah momen matahari terbenam." jawab Rai sambil tersenyum.


Xi Mei langsung dibuat tersipu dengan ucapan Rai, ia pun tersenyum seraya menundukkan wajahnya hingga membuat Rai gemas.


"Bisa aja kamu, aku jadi malu!" ujar Xi Mei.


"Hehe..."




TOK TOK TOK...


"Permisi ratu! Ini aku Mungyi, ada yang ingin aku sampaikan padamu ratu!" teriak Mungyi dari depan pintu kamar sang ratu.


Sontak ratu Lien pun terkejut, ia menoleh ke arah pintu lalu kembali menatap putranya.


"Sayang, sebentar ya! Itu di depan ada paman Mungyi mau ketemu sama mommy, kamu tunggu disini aja nanti mommy balik lagi kok kesini!" ucap ratu Lien sambil tersenyum.


"Iya mom, tapi aku boleh gak makan makanan mommy ini? Aku lapar soalnya," tanya An Ming seraya mengelus perutnya.


"Ahaha, ya boleh dong sayang. Udah, kamu makan aja semua kamu!" jawab ratu Lien.


"Makasih mom!" ucap An Ming tersenyum dan langsung memakan makanan itu dengan lahap.


"Hati-hati sayang, awas loh keselek!" ucap ratu Lien.


"Tenang aja mom!" ucap An Ming dengan mulut yang penuh makanan.


"Oke mom!" ucap An Ming menurut.


Ratu Lien pun melangkah menuju pintu dengan wajah penasaran, ia ingin tahu mengapa Mungyi terdengar seperti sedang panik.


"Ratu, permisi ratu!" Mungyi kembali berteriak sembari terus mengetuk pintu.


"Iya iya Mungyi, ini aku mau buka pintunya kok." balas ratu Lien dari dalam.


Ceklek...


Ratu membuka pintunya dan menemui Mungyi di depan sana sambil tersenyum bingung.


"Ada apa Mungyi?" tanya ratu Lien penasaran.


"Maafkan hamba ratu, karena hamba telah lancang mengetuk-ngetuk pintu kamar ratu dengan keras tadi!" ucap Mungyi.


"Ah gapapa, lupakan saja. Sekarang kamu beritahu ada keperluan apa kamu datang kembali kesini!" ucap ratu Lien.


"Baiklah ratu! Jadi, hamba baru saja mengecek ke depan untuk mengetahui siapa tamu yang datang. Sekarang hamba sudah tahu siapa tamu tersebut, ratu." jawab Mungyi.


"Oh ya? Lalu, siapa dia? Ada urusan apa dia temui Xavier disini?" tanya ratu Lien penasaran.


"Tamu yang ada di depan adalah Terizla, ratu. Orang yang dahulu bekerjasama dengan raja Xavier untuk merebut istana ini darimu." jelas Mungyi.


"Apa? Terizla? Untuk apa dia datang lagi kesini?" ucap ratu Lien amat terkejut dan syok.


"Iya ratu, dari yang hamba dengar sepertinya Terizla dan raja Xavier sedang mengatur rencana untuk menangkap tuan putri Xiu." jawab Mungyi.


"Menangkap putriku?" ucap ratu Lien.


"Benar ratu, itulah yang hamba dengar." ucap Mungyi.


Ratu Lien terdiam dan memalingkan wajahnya, ia menggeleng pelan kembali menyesali perbuatannya karena sudah mengaku pada Xavier mengenai identitas putrinya itu.


"Benar kan dugaanku, Xavier pasti akan melakukan segala cara untuk menangkap Xiu." batin ratu Lien.




"Xi Mei!"

__ADS_1


Gadis cantik yang sedang menikmati momen matahari terbenam bersama Rai itu pun terkejut saat ada seseorang menyebut namanya.


Ia menoleh dan mendapati sosok Zheng tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum, tentu saja ia membalas senyuman Zheng dengan senang hati.


"Kenapa Zheng?" tanya Xi Mei.


"Kamu kok gak bilang aku sih kalau mau kesini? Tahu gitu kan aku temenin kamu buat berdiri disini," ucap Zheng langsung menetap di sebelah gadis itu.


"Eee iya Zheng, maaf! Abisnya aku gak tau kamu ada dimana tadi, jadinya aku sendirian aja deh kesini daripada telat nanti ngeliat mataharinya." kata Xi Mei.


"Oh gitu, katanya sendirian tapi kok malah sama dia sih?" tanya Zheng agak sinis.


"Tadinya aku emang sendirian kok, tapi terus Rai datang dan katanya mau ikutan ngeliat matahari terbenam disini." jawab Xi Mei.


"Iya Zheng, kamu gak perlu cemburu gitu aku ini cuma mau lihat matahari terbenam kok gak ada maksud lain!" sahut Rai.


"Ahaha, buat apa juga aku cemburu? Aku gak ada hak untuk itu," kata Zheng sambil tersenyum.


"Ya baguslah kalau kamu gak cemburu, jadi kita bisa menikmati momen matahari terbenam ini bersama-sama supaya lebih seru." ucap Rai.


"Ah benar juga, memang momen seperti ini paling asik dan sayang banget buat dilewati!" ucap Zheng seraya merangkul pundak Xi Mei dari samping.


Xi Mei pun terkejut, namun ia hanya bisa diam tanpa memberi perlawanan.


Rai yang melihatnya senyum-senyum saja, lalu mengalihkan pandangan ke langit.


"Oh ya, nanti malam kita pergi festival yuk! Pasti seru tuh kalau kita nonton festival ramai-ramai," ucap Zheng sambil tersenyum.


"Festival apa?" tanya Xi Mei.


"Umm, aku lupa deh namanya festival apa. Intinya nanti disana banyak deh orang-orang yang bakal bikin pertunjukan keren, siapa tahu kamu bisa terpukau lihatnya." jawab Zheng.


"Yaudah, aku mau deh. Bosan juga aku kalau disini terus-terusan," kata Xi Mei.


"Nah bagus! Terus, kamu mau ikut juga gak Rai?" tanya Zheng pada Rai.


"Ya aku sih kalo diajak mah ayo aja, tapi kiranya aku bakal jadi nyamuk buat kalian berdua gak nih?" ucap Rai.


"Hahaha, ya enggak lah. Kita kan pergi bertiga, jadi harus seru-seruan bertiga dong!" ucap Zheng.


"Oh gitu, yaudah lah aku ikut aja sama kalian. Udah lama aku gak nonton pertunjukan kayak gitu," ucap Rai sambil tersenyum.


"Oke cakep!" ucap Zheng terkekeh kecil.


Zheng beralih menatap Xi Mei sembari merapatkan rangkulannya, ada raut kecewa di wajahnya itu.


"Ah gak pengertian banget sih nih Rai!" batinnya.




Malam harinya, Xi Mei sudah nampak rapih dan wangi bersiap untuk pergi menonton festival bersama Zheng serta Rai.


Kedua teman sekamarnya, yakni Yun Su dan Ah Lam mendekatinya. Mereka penasaran melihat Xi Mei berpakaian rapih begitu.


"Loh Xi Mei, kamu mau kemana?" tanya Yun Su.


"Eh kalian, ini loh aku diajak pergi ke tempat festival sama Zheng dan Rai. Oh ya, kalian berdua mau ikut sekalian apa enggak? Kalau mau, ayo kita pergi sama-sama!" jawab Xi Mei.


"Eee sebenarnya sih kita mau ikut, tapi ganggu kencan kamu sama Zheng gak?" ujar Yun Su.


"Apaan sih? Aku sama Zheng itu cuma teman, kita juga perginya tak berdua tapi bertiga sama Rai." elak Xi Mei.


"Hehe, iya deh iya yang cuma temenan. Tapi, kok rasanya setiap hari kalian deket banget ya udah gitu nempel terus lagi kayak truk gandeng." cibir Yun Su.


"Bener tuh, dimana ada Xi Mei disitu pasti ada Zheng begitupun sebaliknya." sahut Ah Lam.


"Kalian ini bicara apa sih? Kok jadi ngelantur kemana-mana? Udah deh, intinya kalian mau ikut apa enggak nih sama aku?" ujar Xi Mei.


"Eee enggak dulu deh, kamu bertiga aja perginya sama mereka ya!" ucap Yun Su.


"Oh oke, gitu kek daritadi jawabnya! Gausah pake ngomongin yang lain!" ucap Xi Mei.


"Yeh iya Xi Mei, maaf! Kamu mah begitu aja marah ih, kita kan cuma bercanda tau biar seru dan gak tegang." kata Yun Su.


"Iya Xi Mei, jangan marah dong sama kita!" sahut Ah Lam.


"Iya iya, aku juga gak marah kok. Cuma kesel aja karena omongan kalian tadi itu gak jelas banget!" ucap Xi Mei.


"Loh kok gak jelas sih? Kan itu jelas tau, kita ngiranya kamu sama Zheng itu pacaran karena kalian deket banget." kata Yun Su.


"Gak ada yang pacaran, udah deh jangan gosip!" ucap Xi Mei ketus.


"Iya Xi Mei iya..." ucap Yun Su tersenyum lebar.


"Yaudah, aku pergi dulu ya? Titip barang-barang aku termasuk busur aku disini, sampai ketemu lagi!" ucap Xi Mei.


"Oke Xi Mei!" ucap Yun Su dan Ah Lam.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2