
Ctaaashh...
Akhirnya pedang milik Xavier itu berhasil menyentuh tubuh Xiu, memberikan goresan luka di perut putri Xiu yang membuat gadis itu berdarah.
"Akh! Pedang itu dahsyat juga! Padahal aku hanya terkena sedikit, tapi lukanya benar-benar parah. Apa ini saatnya aku gunakan sabit kembar Daddy?" gumam Xiu sambil memegangi perutnya.
Wein Lao tampak panik melihat gadisnya terluka, ia sangat khawatir dengan luka yang diderita istrinya itu.
"Hahaha, apa yang akan kamu katakan lagi Xiu? Lihatlah sekarang, tubuhmu terluka akibat pedang milikku ini! Dan sebentar lagi, kamu juga akan mati di tanganku!" ucap Xavier.
"Aku memang terluka, tapi ini tidak seberapa Xavier!" balas Xiu.
Xiu berdiri tegak, tangannya terlepas dari luka yang mengeluarkan darah.
Semua mata tertuju padanya, saat tiba-tiba luka tersebut sembuh dengan sendirinya.
"Apa? Bagaimana mungkin??" ujar Xavier.
"Kalau hanya luka seperti itu saja, tidak mungkin dapat menyakitiku Xavier! Kamu perlu lebih semangat lagi untuk bisa membuatku terluka!" ucap Xiu sambil tersenyum.
"Kurang ajar! Ternyata kamu menggunakan sihir, dasar curang!" umpat Xavier.
"Sihir atau apalah itu, yang penting aku tidak akan bisa terluka oleh apapun!" ucap Xiu.
Xavier menggeram kesal sembari mengepalkan tangannya, ia kembali maju menyerang putri Xiu dengan membabi buta.
Kekuatan Xavier meningkat dengan seketika, membuat Xiu cukup kewalahan saat menghindar dari serangan-serangan pria itu.
"Hahaha, kamu terlihat lebih kuat saat emosi Xavier. Baiklah, tapi ini tidak cukup untuk bisa mengalahkan aku. Kamu butuh lebih dari ini Xavier!" ledek Xiu.
"Banyak omong kau! Hiyaaa..." Xavier yang sudah emosi, terus saja menyerang Xiu dari berbagai sudut.
Namun, keahlian Xiu dalam menghindar sangat baik. Bahkan kini gadis itu naik ke atas pohon hingga membuat Xavier amat kesal.
"Hey gadis sialan! Sini kau dan hadapi aku! Jangan menghindar dariku Xiu! Kamu harus kuhabisi saat ini juga, supaya tidak ada lagi yang dapat menghalangiku menguasai Quangzi!" teriak Xavier.
"Kalau aku gak mau gimana??" ucap Xiu dengan nada meledek.
"Kurang ajar! Kalau begitu aku yang akan memaksa kamu untuk turun dari sana gadis pengecut!" ancam Xavier.
"Coba saja kalau bisa!" tantang Xiu.
Xavier langsung bergerak maju mendekati putri Xiu, ia berniat merobohkan pohon itu agar Xiu terjatuh dari atas sana.
Wein Lao yang menyaksikan itu dibuat heran dengan kelakuan istrinya, ia tak mengerti apa maksud Xiu melakukan itu.
Ctaaashh... duaarrr!!!
Serangan Xavier ke arah pohon itu berhasil membuat pohon tersebut rubuh.
Akan tetapi, Xiu sudah lebih dulu turun dan berdiri di belakang Xavier.
"Halo paman jahat!" sapa Xiu sambil tersenyum.
Xavier menoleh dan melihat Xiu tengah melambaikan tangan ke arahnya.
"Jangan sok imut di hadapanku!" ujar Xavier.
Xiu menampilkan wajah cemberutnya, membuat Wein Lao tersenyum dan merasa gemas melihat tingkah istrinya itu.
Namun tidak dengan Xavier, pria itu justru semakin kesal dan kembali maju untuk menghadapi Xiu.
Tiba-tiba saja tanah bergetar, langkah Xavier pun terhenti akibat itu dan ia sangat amat bingung mengapa semuanya bisa terjadi.
"Apa-apaan ini??" ujar Xavier.
"Ini adalah pertanda, paman. Pertanda bahwa sesuatu yang luar biasa akan muncul saat ini juga, kamu pasti sangat senang saat melihatnya nanti paman!" ucap Xiu.
"Apa maksudmu gadis sialan? Sesuatu apa lagi yang akan kamu lakukan kali ini?" tanya Xavier.
"Hahaha, paman lihat saja sendiri!" jawab Xiu dengan suara tawa jahatnya.
Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke atas, pandangan Xavier terus mengarah kesana dengan raut kebingungan.
Langit tampak gelap dan guntur mulai bermunculan, tanah bergetar sangat hebat saat itu juga.
Petir menyambar ke segala arah hingga tepat mengenai kepala Xiu.
Xavier dan Wein Lao sangat terkejut, mereka menganga lebar menyaksikan sebuah senjata dahsyat muncul dari tangan gadis itu.
"Habislah kamu paman Xavier!" ucap Xiu.
"Sabit kembar??"
•
•
In Lao bersama pasukannya terhenti saat hendak menghampiri putri Xiu yang sedang bertarung melawan Xavier di depan sana.
__ADS_1
In Lao benar-benar terkejut melihat apa yang ada di depan matanya saat ini, bagaimana Xiu mengeluarkan sebuah senjata yang sangat dahsyat.
"Wah luar biasa! Sudah lama aku tidak melihat sabit itu lagi, ternyata kini senjata itu ada di tangan putri Xiu." ucap In Lao.
"Benar yang mulia! Terakhir kali aku melihatnya, ketika raja Feng masih hidup beberapa tahun lalu. Aku sangat rindu dengan sabit itu!" sahut Ren sang panglima kerajaan serigala.
"Yasudah, kita lihat pertarungan itu dari sini saja. Aku penasaran apakah putri Xiu dapat mengendalikan sabit itu atau tidak? Kita juga bisa berjaga-jaga di sekitar sini, supaya dampak dari sabit itu tidak dirasakan oleh warga-warga." ucap In Lao.
"Baik yang mulia!" ucap Ren patuh.
Mereka pun memutuskan tetap disana, In Lao sangat tidak sabar ingin melihat putri Xiu menggunakan sabit kembar itu untuk melawan Xavier disana.
Terlihat langit semakin gelap, awan-awan muncul menutup sinar matahari yang hendak masuk sehingga membuat suasana sangat dingin.
Kini putri Xiu sudah berhasil memunculkan sabit kembar itu dan membuat Xavier amat terkejut, ia tersenyum saat melihat wajah pria di depannya yang terlihat ketakutan.
"Kamu kenapa paman? Apa kamu takut melihat senjata ini, ha?" tanya Xiu pada Xavier.
"Aku tidak pernah takut dengan senjata apapun! Sabit kembar itu juga memiliki kelemahan, aku pasti bisa mengalahkannya!" jawab Xavier lantang.
"Semangat yang bagus paman! Setidaknya kamu meninggal dengan penuh semangat dan bukan sebagai orang yang pengecut!" ucap Xiu.
"Sialan kau! Hiyaaa..." Xavier langsung maju menyerang Xiu dengan pedang miliknya.
Namun, langkah Xavier terhenti hanya karena Xiu menebaskan kedua sabit itu ke arahnya secara bersamaan.
Slaasshh...
Xavier pun terpental cukup jauh hingga terpentok sebuah pohon besar dan tergeletak disana.
Bruuukkk...
"Ughh!!" rintih Xavier kesakitan.
Pria itu memuntahkan darah cukup banyak, ia memegangi dadanya dan masih sempat melirik ke arah Xiu dengan wajah sayu.
"Ka-kau benar-benar kurang ajar!" ucapnya lirih.
Xiu terdiam saja menatap ke arah Xavier, ia pun juga tak menyangka bahwa sabit kembar itu memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
Hanya dengan sekali tebas saja Xavier sudah berhasil ia kalahkan, bahkan kini pria itu tak lagi mampu membuka matanya.
Wein Lao yang sebelumnya hanya memperhatikan, kini coba menghampiri istrinya untuk segera menghentikan pertarungan itu.
"Sayang, ayo sudahi pertarungan ini! Aku tidak mau keadaannya semakin buruk!" pinta Wein Lao.
"Iya Lao, sepertinya Xavier sudah mati. Apa itu artinya aku menang?" ucap Xiu.
"Ah kamu ini! Tapi, aku tak yakin kalau Xavier memang sudah mati. Bisa saja dia hanya pingsan, kan baru terkena sekali tebasan sabit ini." ucap Xiu tampak ragu.
"Tenang saja Xiu! Xavier pasti sudah mati saat ini, karena sabit kembar itu memang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dan dia dapat membunuh lawannya walau hanya dengan sekali tebasan saja." ucap In Lao yang mendekati mereka.
"Hah? Raja Lao??" ucap Xiu terkejut.
In Lao tersenyum saja menatap keduanya.
•
•
Semuanya telah selesai dan peperangan itu juga sudah dihentikan.
Saat ini putri Xiu tengah menjalani malam pertamanya bersama sang suami, Wein Lao.
Gadis itu berjalan menghampiri Wein Lao yang sedang duduk sendirian di atas ranjang.
Xiu tampak cantik mengenakan pakaian serba merah yang memanjakan mata.
"Lao.." ucapnya lirih.
Sontak Wein Lao terkejut, ia melirik ke arah Xiu dan spontan berdiri begitu menyadari wanita itu sudah ada di dekatnya.
"Hey! Akhirnya kamu datang juga istriku! Sudah lama aku menunggumu, kemana saja kamu ha?" ucap Wein Lao seraya menyentuh dagu serta pipi gadis itu.
"Umm, tadi aku bicara sebentar dengan mommy terkait perang itu. Aku hanya cemas pada kondisi para prajurit yang terluka, termasuk juga Gusion serta Zheng." jawab Xiu pelan.
"Pantas saja aku tidak melihatmu disini, ternyata kamu masih di luar. Padahal aku sudah mengantuk loh, tapi aku tahan karena aku ingin tidur bersama istriku yang cantik ini." goda Wein Lao yang terus mengelus wajah Xiu.
Xiu tahu bahwa Wein Lao menginginkan haknya, ia pun tersenyum dan melangkah menuju ranjang lalu terduduk disana.
Wein Lao hanya mengikutinya, duduk di sebelah gadis itu dan langsung menarik tengkuknya agar lebih dekat dengannya.
"Kamu sangat cantik sayangku! Malam ini pasti akan menjadi malam yang sangat indah bagi kita berdua! Aku pastikan kamu tidak akan melupakan malam ini Xiu! Aku akan buat kamu merasakan kenikmatan yang luar biasa!" ucap Wein Lao seraya membelai rambut istrinya.
"Apa yang mau kamu lakukan memangnya? Jangan aneh-aneh ya Lao!" ucap Xiu khawatir.
"Kamu gak perlu takut! Ini sesuatu yang nikmat kok, aku yakin kamu pasti menyukainya!" ucap Wein Lao yang mulai tidak sabar.
Pria itu segera mendekati leher Xiu dan mengendusnya, ia juga mengecup serta menghisap aroma gadis itu membuat empunya mengerang pelan.
__ADS_1
Wein Lao sudah semakin tidak sabar, ia langsung menuju bibir Xiu dan melahapnya.
Xiu yang terkejut hanya bisa pasrah dan mengikuti saja alur permainan suaminya.
Perlahan-lahan mereka terbaring di atas ranjang dengan posisi saling memagut satu sama lain.
Kini Wein Lao sudah berada di atas tubuh sang putri, menindihnya penuh gairah.
Tak mau berlama-lama, Wein Lao segera menanggalkan seluruh pakaian Xiu dan melemparnya ke sembarang arah hingga gadis itu telanjang sepenuhnya.
Selanjutnya pun kegiatan itu makin panas, keduanya sama-sama menikmati hal yang baru pertama kali mereka lakukan itu.
Setelah puas bermain, Wein Lao tampak tersenyum menatap wajah istrinya yang sudah sangat lelah dan dipenuhi keringat itu.
"Terimakasih sayang!" ucapnya.
Cupp!
Wein Lao mendaratkan kecupan singkat di bibir Xiu yang kesuciannya baru saja ia renggut itu.
Xiu tak mampu menjawab, nafasnya masih terengah akibat permainan panas tadi.
"Kamu bisa beristirahat sekarang!" ucap Wein Lao.
"Tolong kamu turun dari tubuhku! Aku gak kuat tahan berat badan kamu tau! Lagian mau sampai kapan kamu disitu?" ucap Xiu lemas.
"Nanti sayang, aku masih nyaman berada disini. Tubuhmu benar-benar membuatku merasa enak!" ucap Wein Lao sembari menggigit telinga Xiu.
"Eenngghh sudah!" Xiu mencakar punggung Wein Lao yang justru kembali bermain di leher serta dadanya itu.
Namun, Wein Lao tak berhenti dan malah semakin bersemangat untuk melanjutkan itu.
•
•
Paginya, Xiu keluar kamar dan berniat menemui ratu Lien untuk mengatakan sesuatu.
Akan tetapi, ratu Lien malah lebih dulu berhasil menemukan keberadaan putrinya itu.
Melihat putri Xiu yang sedikit aneh, ratu Lien pun sadar bahwa putrinya itu sudah bukan gadis lagi.
"Bagaimana putriku? Sepertinya kamu baru mendapat hadiah kemenangan dari suamimu malam tadi ya?" ucap ratu Lien sengaja menggoda putrinya.
"Ah mommy, jangan bilang gitu dong! Aku kan jadi malu tau di depan pelayan mommy!" ucap Xiu dengan wajah memerah.
"Ahaha, tidak apa putriku. Hal yang wajar kok bagi seorang istri jika melakukan itu, apalagi kemarin peperangan itu cukup melahirkan dan pastinya suamimu ingin mengakhiri semuanya dengan permainan bersamamu." goda sang ratu.
"Sudahlah mom! Aku gak mau bahas itu lagi! Ada sesuatu yang mau aku sampaikan sama mommy, jadi mommy tolong serius ya kali ini!" ucap Xiu.
"Sesuatu apa sayang?" tanya ratu Lien.
"Aku kan sudah membunuh Xavier, lalu bagaimana dengan An Ming? Apa dia akan membenciku, mom?" ucap Xiu mengutarakan apa yang ia khawatirkan dari semalam.
"Eee mommy juga tidak tahu sayang, tapi yang pasti saat ini An Ming sangat sedih dan belum mau diganggu oleh siapapun. Dia terus saja menangis dan mengurung diri di kamarnya," ucap ratu Lien.
"Duh, ini pasti karena Xavier meninggal. Aku harus temuin An Ming sekarang, aku gak mau An Ming sedih terus dan dia malah jadi benci sama aku nantinya!" ucap Xiu.
"Tenang sayang! Untuk saat ini biarkan An Ming sendiri dulu ya?" ucap ratu Lien.
"Tapi mom, aku khawatir An Ming makin sedih dan marah sama aku! Aku gak mau dia benci sama aku, mom!" ucap Xiu.
"An Ming gak mungkin benci sama kamu, percaya sama mommy ya!" ucap ratu Lien.
"Mommy yakin? Kalau dia nanti benci sama aku gimana?" tanya Xiu.
"Yakin sayang, An Ming pasti gak akan benci kamu! Saat ini An Ming cuma butuh waktu buat menerima semuanya, dia pasti akan baik-baik aja nantinya!" jawab ratu Lien.
Xiu mengangguk saja, ratu Lien berusaha menenangkan Xiu dengan cara mengusap punggung wanita itu.
"Tenang ya sayang!" ucap ratu Lien.
"Iya mom.." ucap Xiu lirih.
Tak lama kemudian, Wein Lao muncul dari kamar dan melihat istrinya tengah bersama ratu Lien di depan sana.
Ia pun berjalan mendekati mereka karena penasaran apa yang sedang diobrolkan oleh mereka sampai membuat istrinya bersedih.
"Ehem ehem, pagi semua! Ada apa sih ini? Kok kamu sampai sedih begini?" tanya Wein Lao.
"Eh Lao, ceria banget nih kayaknya. Pasti karena dapat jatah semalam ya?" goda ratu Lien.
"Apa sih mom? Masih aja bahas gituan disini, udah deh jangan begitu terus!" ucap Xiu.
"Iya iya sayang, mommy gak bahas itu lagi kok!" ucap ratu Lien sambil tersenyum.
"Yaudah, kamu juga gausah tanya-tanya ya Lao! Gak ada apa-apa kok disini, aku sama mommy cuma bahas soal An Ming kok." ucap Xiu pada suaminya.
"Oh gitu.." ucap Wein Lao mengangguk saja.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...