
Xi Mei tengah melatih kekuatannya untuk memastikan bahwa ia memang sudah menguasai semua jurus-jurus yang diberikan oleh Ryu.
Gadis itu tampak sendirian saat ini, ia memang tidak memiliki teman lagi selain Chen dan juga Zheng yang sekarang sudah bertugas di istana.
Memang sebelumnya ia berteman dengan Jason, akan tetapi pria itu tiba-tiba menghilang ditelan bumi dan tidak diketahui bagaimana kabarnya.
Xi Mei mengulangi beberapa jurus yang kemarin ia pelajari di perguruan pamannya, ia berhasil dengan mudah melakukannya dan membuat beberapa binatang di sekitarnya terkesima.
Ya Xi Mei memang berlatih di dalam hutan yang luas, tepatnya dekat sungai serta air terjun.
"Huh aku harus bisa membuat air di sungai ini terangkat, seperti yang paman ajarkan sebelumnya kepadaku!" ucap Xi Mei menghela nafasnya.
Gadis itu mulai mengangkat dua tangannya, menutup mata dan bersiap mengeluarkan jurus pamungkas yang ia miliki.
Duarr...
Seketika ledakan terjadi dan air sungai tersebut muntah akibat perbuatannya, sekitar hutan itu basah karena air yang tadi ia muntah kan.
Xi Mei tersenyum senang, ia memandangi kedua telapak tangannya dan merasa lega karena kali ini dirinya berhasil lagi alias tidak gagal.
"Hahaha, aku berhasil! Aku sekarang sudah bisa mengendalikan air disini," ucap Xi Mei.
Prok prok prok...
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar di belakang sana, Xi Mei pun sangat terkejut mendengarnya dan spontan membalikkan badan.
Xi Mei cukup heran, pasalnya sebelum ini ia hanya berada sendirian di dalam hutan itu dan tidak ada siapapun yang mengikutinya.
Namun, sekarang di depan matanya terlihat sosok pria bertubuh tinggi yang mengenakan jubah cukup besar hingga menutupi wajahnya.
"Kau luar biasa, gadis muda! Aku terkesan dengan kemampuan mu barusan!" ujarnya.
"Siapa kau?" tanya Xi Mei dengan menyipitkan kedua matanya bermaksud mengenali pria itu.
"Perkenalkan, aku Terizla. Aku adalah penguasa kegelapan dan raja para iblis di seluruh dunia. Aku bisa mengajarkanmu ilmu yang lebih tinggi lagi dari yang kau miliki sekarang, tuan putri Xiu!" jawabnya.
"Hah??" Xi Mei amat terkejut mendengar pria itu memanggil dirinya dengan sebutan putri Xiu.
"Kenapa putri Xiu? Kau terkejut karena aku mengenali dirimu?" ucap pria itu tersenyum seringai.
"Ba-bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Xi Mei gugup.
"Mudah saja tuan putri, aku ini raja iblis dan aku dapat mengenali siapapun meski dia sedang menyamar seperti dirimu. Jadi, kamu tidak perlu sembunyikan dirimu lagi putri!" jawab pria itu.
"Lalu, apa mau mu? Kenapa kamu datangi aku disini?" tanya Xi Mei keheranan.
"Aku ingin membantumu Xiu, aku tahu kau saat ini tengah bersiap untuk menyerang istana Quangzi bukan? Kamu ingin menguasai kembali istana itu dan merebutnya dari raja Xavier yang saat ini memimpin disana, iya kan?" jelas Terizla.
"Darimana kamu tahu?" tanya Xi Mei.
Terizla tersenyum kemudian berkata, "Semua hal tentang dirimu sudah ku ketahui, tuan putri. Duduklah sejenak dan bicara denganku!"
Xi Mei mengangguk saja, kebetulan dirinya juga tengah lelah setelah berlatih sedari tadi.
Mereka pun duduk di sebuah batu besar, Xi Mei masih terus menatap Terizla dengan heran.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, tuan putri? Kau masih ragu denganku? Apa kau ingin aku sebut apapun mengenai dirimu, agar kau bisa percaya denganku?" tanya Terizla.
"Boleh, apa saja yang kau ketahui dariku?" ucap Xi Mei menantang pria di hadapannya itu.
"Semuanya, aku tahu bahwa kau adalah putri dari yang mulia raja Feng Ying, sang raja besar Quangzi yang dibunuh secara kejam oleh Xavier. Kau juga memiliki seorang ibu, ratu Lien Hua yang turut bekerjasama dengan Xavier untuk mengkhianati suaminya sendiri." jelas Terizla.
"Apa maksudmu bicara begitu? Tidak mungkin ibuku berkhianat dengan kerajaan, kamu jangan asal bicara ya makhluk bodoh!" umpat Xi Mei kesal.
"Tenang tuan putri Xiu, jangan emosi! Aku mengatakan yang sebenarnya, ratu Lien memang melakukan semua itu. Kau harus percaya denganku, buktinya sudah jelas dan nyata! Bahkan sekarang ratu Lien turut menikmati istana bersama Xavier, padahal seharusnya dia bersedih karena suaminya dibunuh. Selain itu, ratu Lien juga ingin menyingkirkan kau dari istana agar kau tidak bisa berkuasa disana. Ratu Lien ingin putranya dengan Xavier lah yang menjadi pewaris di istana itu," ucap Terizla panjang lebar.
Xi Mei terdiam bingung, perkataan Terizla barusan memang memengaruhi pikirannya. Namun, tentu saja Xi Mei belum semudah itu percaya dan ia yakin ibunya tidak mungkin berbuat begitu.
"Kalau kamu butuh bantuan ku, katakan saja putri Xiu! Aku akan siap membantu apapun yang kau inginkan, karena aku juga kebetulan tidak suka jika Xavier lah yang memimpin Quangzi. Aku lebih ingin melihatmu duduk di kursi pemimpin Quangzi, karena kau lebih berhak!" ucap Terizla.
"Tentu saja, aku memang akan menyingkirkan Xavier dari sana. Tapi, setelah aku mendapat kekuatan yang cukup." kata Xi Mei.
"Itu bagus tuan putri! Aku bisa memberikanmu kekuatan itu jika kau mau!" tawar Terizla.
"Berikan aku waktu untuk berpikir sejenak!" pinta Xi Mei pada Terizla.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu tuan putri. Kalau begitu, sekarang aku pergi dulu. Pikirkan tawaran ku itu matang-matang!" ucap Terizla bangkit dari duduknya.
"Ya," ucap Xi Mei mengangguk singkat.
Setelahnya, Terizla pun berlalu pergi meninggalkan Xi Mei yang masih dilanda kebingungan itu.
"Aku semakin bingung sekarang, apa benar yang dikatakan pria tadi soal mommy? Apa mommy memang sudah mengkhianati daddy?" gumamnya.
Pukkk..
Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang, Xi Mei pun kaget dan reflek menaikkan kedua pundaknya sembari menoleh ke belakang.
"Eh paman?" ucapnya lega saat melihat Ryu disana.
"Kenapa kamu diam saja, Xi Mei? Kamu sudah selesai melatih kemampuan mu?" tanya Ryu bingung lalu duduk di samping gadis itu.
"Umm, aku baru saja selesai paman. Sekarang aku sedang bingung, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa merebut kembali istana Quangzi dari tangan Xavier." jawab Xi Mei pelan.
"Kenapa bingung cantik? Paman yakin kok, kamu bisa merebut kembali istana itu!" ucap Ryu.
"Tapi paman, menghadapi perampok saja aku tidak mampu, bagaimana aku bisa melawan Xavier nantinya? Aku ini sangat lemah paman, aku butuh kekuatan tambahan!" ucap Xi Mei.
"Tenang saja sayang! Paman kan sudah berjanji sama kamu, paman akan bawa kamu ke tempat teman paman yang ahli beladiri! Disana kamu pasti bisa mendapatkan kekuatan tambahan yang kamu mau," ucap Ryu.
"Iya paman, tapi kapan paman akan membawaku kesana?" tanya Xi Mei.
"Kapanpun kamu siap, paman pasti antarkan kamu kesana! Kamu beritahu saja ke paman ya!" jawab Ryu sambil tersenyum.
"Sekarang pun aku siap paman!" ucap Xi Mei.
"Kamu semangat sekali ya Xi Mei! Baiklah, paman bisa antarkan kamu kesana sekarang. Asalkan kamu minta izin dulu sama bibik Luan, gimana? Setuju?" ucap Ryu mencolek hidung Xi Mei.
"Eee kenapa harus izin dulu, paman? Kita kan bisa langsung pergi sekarang," ujar Xi Mei.
"Tidak bisa sayang, kamu tetap harus izin sama bik Luan! Yuk, kita pulang dulu!" ucap Ryu.
"Iya deh paman.." ucap Xi Mei mengangguk setuju.
Ryu menggandeng tangan Xi Mei, lalu bersamaan bangkit dari tempat duduk itu dan melangkah pergi menuju ke rumah Luan.
•
•
Akhirnya ratu Lien memutuskan untuk pergi sendiri dengan kudanya tanpa meminta izin dari Xavier, pastinya ia akan menerima hukuman jika sampai Xavier mengetahui semua itu.
"Huh lega rasanya aku bisa keluar dari istana, sudah lama aku tidak berkeliling seperti ini!" ujarnya.
Sang ratu pun menghentikan kudanya sejenak saat menyadari ada sesuatu yang sedang mengawasinya dari kejauhan, ia coba menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan siapakah yang ada disana.
Namun, suasana malam hari yang begitu sepi di daerah itu membuatnya sadar bahwa tidak ada siapapun disana. Ratu Lien pun mengira kalau ia hanya salah paham.
Ratu Lien kembali memacu kudanya pergi dari sana dengan cepat, ada rasa cemas serta khawatir kalau ternyata memang benar ada seseorang yang tengah mengamatinya.
"Siapa ya yang sedang mengawasi ku? Apa itu orang suruhan Xavier?" gumamnya panik.
Sangking paniknya, ratu Lien sampai tidak sadar bahwa ia melewati jalan yang salah dan malah semakin menjauh dari istana.
Ratu Lien baru sadar bahwa ia salah jalan, ia justru berada di depan hutan terlarang yang selama ini belum pernah dimasuki oleh siapapun.
Ratu Lien pun bergegas menghentikan kudanya, lalu menoleh kesana-kemari menatap ke sekeliling yang tampak asing di matanya.
"Hah? Kenapa aku bisa ada disini? Perasaan tadi aku lewat jalan ke istana deh," ujarnya bingung.
"Duh, aku gimana dong sekarang? Aku gak tahu ini ada dimana!" sambungnya.
Ratu Lien sangat panik, ia belum pernah datang ke tempat itu sebelumnya. Suasana disana yang sepi membuat sang ratu juga bingung harus bertanya pada siapa.
Belum lagi perasaannya juga masih tidak bisa tenang, ia yakin ada seseorang yang sedang mengawasinya saat ini. Walau ia sendiri belum tahu siapa yang mengawasinya itu.
"Aku harus kemana ya? Kalau aku putar balik, nanti yang ada aku bisa ketemu orang yang ngawasin aku itu. Tapi, kalau aku terus masuk kesana malah semakin bahaya. Hutan itu kan terlarang, nanti aku gak bisa keluar lagi." gumam sang ratu.
Slaasshh...
Tiba-tiba saja anak panah muncul menyerang ke arah sang ratu, hampir saja anak panah itu mengenai tubuhnya jika ia tidak menghindar.
__ADS_1
"Haish, siapa yang berani menyerang ku?! Tunjukkan wajahmu!" teriak ratu Lien emosi.
"Hahaha... hahaha..." ratu Lien terkejut saat suara tawa muncul dan membuatnya bergidik.
Lalu, tampak lima orang pria muncul di hadapan sang ratu dan mengelilingi ratu Lien sambil terus tertawa keras.
Sontak ratu Lien semakin cemas dibuatnya, ia memandangi satu persatu wajah dari pria yang ada di sekitarnya itu dengan tubuh gemetar.
"Kalian siapa? Mau apa kalian?" tanya ratu Lien.
"Hahaha, kita benar-benar gak nyangka bisa bertemu dengan ratu yang cantik jelita sepertimu disini. Sungguh malam yang luar biasa indah!" ucap salah seorang pria itu.
"Iya, ada apa gerangan sampai sang ratu Quangzi ini pergi malam-malam begini?" sahut yang lain.
"Kalian mau apa? Aku gak bawa harta atau barang berharga sama sekali, sebaiknya kalian pergi saja dan jangan ganggu aku!" ucap ratu Lien.
"Hahaha, kami tidak akan pergi begitu saja sebelum mendapat apa yang kami inginkan. Jika ratu tidak membawa harta benda, kami juga gak masalah dikasih mencicipi tubuh ratu yang mulus dan indah itu!" ucap salah satu dari mereka.
"Jangan kurang ajar ya! Aku ini ratu kalian, tidak sepantasnya kalian bicara seperti itu padaku! Apa kalian semua mau dihukum dan menjadi tontonan seluruh rakyat Quangzi?!" ucap ratu Lien emosi.
"Kau salah ratu, bukan kita yang akan menjadi tontonan rakyat Quangzi. Tetapi, kaulah yang harus melayani kami dan memberikan kepuasan kepada kami semua disini!" ucap orang itu.
"Kurang ajar! Kalian memang benar-benar ingin diberi pelajaran!" umpat sang ratu kesal.
"Hahaha, marilah ratu kita bersenang-senang bersama di malam yang indah ini!" ucap orang itu.
Ratu Lien menggeleng cepat, turun dari kudanya dan menarik keluar pedang yang ia bawa.
"Jangan macam-macam denganku!" ucap ratu Lien sembari menodongkan pedangnya.
"Waw ngeri sekali!" ujar pria itu meledek.
"Hahaha, tidak perlu susah-susah melawan kami, ratu! Kau menyerah saja dan nikmati permainan kami nanti, karena kami memiliki pedang alami yang lebih besar daripada pedang di tanganmu itu ratu!" sahut yang lain.
"Hah? Kau ini bicara apa? Dasar tidak tahu sopan santun! Lihat saja, aku tidak akan mengampuni kalian semua!" ucap ratu Lien.
"Hahaha, ayo kita tangkap dia!" ucap orang itu ingin menyerang sang ratu.
Akhirnya kelima pria tersebut mulai maju mendekati ratu Lien, mereka tampak mengitari sang ratu sambil terus tertawa keras.
"Menyerah lah ratu!" pinta mereka.
"Tidak. Aku akan perjuangkan harga diriku, kalian lah yang akan kuhabisi saat ini juga!" ucap ratu Lien.
"Baiklah ratu, kau yang memintanya." ucap orang itu.
Kelima pria tersebut pun menyerang ratu Lien dengan pedang mereka, sang ratu berusaha menangkis serangan-serangan tersebut dan membalas serangan mereka.
Sriinggg sriinggg sriinggg...
Suara adu pedang mereka terus terdengar, ratu Lien cukup lihai memainkan pedangnya hingga membuat kelima pria itu kewalahan.
Sreekkk...
Akan tetapi, salah satu pedang berhasil mengoyak baju yang dikenakan sang ratu hingga robek pada bagian pundak.
"Hahaha, lihat itu ratu! Bajumu saja sudah sobek, itu tanda kekalahan mu akan tiba!" ucapnya.
"Aku belum kalah, aku masih bisa menghabisi kalian semua!" ucap ratu Lien.
"Sudahlah ratu, tidak perlu kita berkelahi seperti ini! Aku yakin sebenarnya kau juga menginginkan sentuhan dari kami bukan?! Jadi, kau jangan terlalu munafik ratu!" ucap orang itu merayu sang ratu.
"Cih! Aku tidak sudi tubuhku disentuh oleh orang-orang menjijikkan seperti kalian! Hiyaaa.." ratu Lien emosi dan kembali menyerang mereka.
Slaasshh...
Tiba-tiba cahaya kuning muncul dan membuat kelima pria tersebut silau, termasuk sang ratu. Mereka tidak bisa melihat apa-apa kali ini, hingga cahaya itu hilang setelah beberapa detik muncul.
Barulah kelima pria itu sadar bahwa sang ratu sudah tidak ada di depan mereka, hanya tersisa kuda milik ratu Lien yang masih berdiam diri disana.
"Aaarrgghh sial! Siapa tadi yang udah bawa kabur ratu?!" geram mereka.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1