Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 108. An Ming dan pemuda desa


__ADS_3

"Ya, aku harus bisa pelajari jurus ini!" ucap Fey Chu.


"Hey wanita sialan!" Fey Chu terkejut saat seseorang tiba-tiba meneriakinya dengan lantang dari depan sana.


"Siapa kalian?" tanya Fey Chu pada sekumpulan orang yang mendekatinya itu.


"Kamu jangan pura-pura lupa! Aku yakin, pasti kamu masih mengenali kami!" ujar orang itu.


Gadis itu terdiam sejenak, barulah ia menyadari bahwa orang-orang di hadapannya kini adalah rombongan perampok yang sebelumnya ingin merebut barang bawaannya.


"Ternyata kalian lagi, mau apa ha? Apa kalian tidak puas dengan apa yang aku berikan tadi? Masih ingin dihajar lagi?" tanya Fey Chu.


"Jangan sombong kau wanita sialan! Sekarang serahkan semua barang-barang kamu, atau kami akan menghabisi kalian!" ancam pria itu.


"Aku tidak mau!" tegas Fey Chu.


"Baiklah, ayo kita serang dia dan rebut semua barang miliknya!" ucap pria itu.


"Tunggu!" suara teriakan menghentikan tindakan yang hendak dilakukan oleh mereka.


Mereka semua langsung menoleh ke asal suara, tampak seorang wanita berdiri disana memegang panah di tangannya.


"Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan kami, atau kamu akan menanggung akibatnya!" ucap si pria dengan emosi.


"Aku Chen Yufei, aku tidak suka dengan tindakan kalian ini!" jawab wanita itu.


"Ah banyak bicara! Langsung saja kita habisi mereka berdua!" geram si pria.


"Hiyaaa..." gerombolan rampok itu pun maju menyerang Chen dan juga Fey Chu secara bersamaan.


Chen menarik busurnya, melesakkan anak panah ke arah orang-orang itu dan tepat mengenai beberapa dari mereka.


Lalu, ia mengambil pedangnya bersiap menghadapi orang-orang yang tersisa.


Fey Chu juga demikian, dia menghadapi para perampok itu dengan jurus-jurus yang sudah diajarkan gurunya sebelum ini.


Slaasshh...


Sabetan pedang Chen berhasil melukai perampok tersebut hingga tersungkur ke tanah.


"Majulah, akan kubuat kau seperti dia!" ancam Chen pada seorang di depannya.


Sementara itu, Fey Chu juga dengan mudahnya mampu menghabisi satu persatu perampok yang menyerangnya saat ini.


Gadis itu masih terlalu sakti bagi seluruh perampok di hadapannya kini, bahkan dia berhasil mengalahkan mereka tanpa kesulitan sedikitpun.


Bruuukkk...


Akhirnya semua perampok itu tersungkur di tanah dengan posisi terlentang, kebanyakan dari mereka terluka parah akibat serangan Fey Chu dan Chen.


"Rasakan itu! Suruh siapa kalian berani mengganggu ku?!" ujar Fey Chu.


"Ayo kita pergi dari sini!" si perampok itu langsung bangkit dan pergi bersama yang lainnya.


Fey Chu pun tersenyum lebar, melirik ke arah Chen dan menatapnya bingung, baru kali ini ia bertemu dengan gadis itu.


"Hey, terimakasih ya!" ucap Fey Chu.


"Sama-sama, kamu ternyata hebat juga ya dalam bertarung!" ucap Chen.


"Ini belum seberapa, aku masih ingin yang lebih hebat lagi dari ini," ucap Fey Chu.


"Aku yakin kamu pasti bisa!" ucap Chen.


"Oh ya, siapa namamu? Baru kali ini aku bertemu denganmu dan melihatmu, apa kau tinggal di dekat sini?" tanya Fey Chu.


"Ya, aku tinggal tak jauh dari sini, tepatnya di desa Fuxiu. Namaku Chen Yufei, aku anak dari pasangan Ryu dan Luan," jelas Chen.


"Waw! Desa Fuxiu? Pantas saja kamu hebat, ternyata kamu berasal dari sana!" puji Fey Chu.




"Oh iya, kamu ada lihat An Ming gak tadi? Dia udah pulang belum ya?" tanya ratu Lien.


"Eee kayaknya belum deh ratu, soalnya daritadi saya gak lihat pangeran An Ming di sekitar istana. Emang kenapa ya ratu?" jawab Luan.


"Itu anak kemana sih? Udah mau sore begini, dia belum pulang juga. Apa aku cari aja dia kali ya?" ujar ratu Lien.


"Eh jangan ratu! Biar suami saya aja yang susulin pangeran An Ming, lebih baik ratu tetap disini aja!" ucap Luan.


"Gak bisa, Ryu udah ada tugas dari saya. Sekarang yang ada di istana ini ya cuma aku, jadi memang aku yang harus cari An Ming!" ucap ratu Lien.


"Duh, mending jangan deh ratu! Itu bahaya tau, kalau terjadi sesuatu sama ratu di luar sana gimana?!" ucap Luan.


"Gak akan kok, aku bisa jaga diri. Kamu tunggu aja disini ya, barangkali nanti An Ming pulang!" ucap ratu Lien.


"Ta-tapi ratu..."


"Sudah, aku pergi ya? Aku titip istana sama kamu, Luan!" potong ratu Lien.


Ratu Lien langsung mempercepat langkahnya meninggalkan Luan, pelayan itu tidak bisa berbuat banyak untuk menahan sang ratu karena ia sudah tertinggal cukup jauh.


Saat di gerbang, ratu Lien bertemu dengan pasukan serigala yang dipimpin raja In Lao.


Ratu Lien pun menghentikan langkahnya sejenak untuk menyambut kedatangan pasukan serigala.


"Ratu Lien, mau kemana?" tanya In Lao.

__ADS_1


"Eee..."


"Ratu!" Luan muncul dan memotong ucapan sang ratu, ia bernafas lega lantaran melihat pasukan serigala berada di hadapannya kini.


"Huh syukurlah, ternyata ratu belum pergi!" ucap Luan dengan nafas tersengal-sengal.


"Ada apa ini? Memangnya kamu mau kemana, ratu Lien?" tanya In Lao dengan wajah bingung.


"Aku hanya ingin mencari putraku, aku khawatir dengannya!" jawab ratu Lien.


"Putramu? Memangnya dia pergi kemana? Apa dia tidak pamit denganmu?" tanya In Lao.


"Tadi dia pamit dan bilang ingin pergi menemui kekasihnya, tetapi aku tidak tahu dimana tempatnya. Hingga kini belum ada kabar darinya, itu yang membuatku cemas!" jelas ratu Lien.


"Sabarlah ratu! Siapa yang pergi bersama pangeran An Ming tadi?" tanya In Lao lagi.


"Eee Zheng, ya dia bersama Zheng.." ratu Lien menjawab dengan cepat.


"Kalau begitu kau tidak perlu khawatir, ratu! Aku yakin pangeran pasti aman jika bersama Zheng! Tenanglah dan tunggu saja kepulangan putramu itu di dalam istana!" ucap In Lao.


"Kau memang benar! Tapi, aku tidak bisa tenang jika belum mendapat kabar darinya," ucap ratu Lien.


"Ikutlah denganku, akan ku perlihatkan padamu kondisi pangeran An Ming saat ini!" ujar In Lao.




Felix terlihat kebingungan saat ini, ia melirik Zheng di sampingnya, namun hanya mendapat respon geleng-geleng dari Zheng.


"Lian, kamu mau kan ikut denganku?" tanya An Ming kepada gadisnya.


"Jangan sekarang pangeran! Situasinya sedang gawat, yang ada kita berdua bisa dihadang oleh mereka. Sebaiknya pangeran ikuti saja perkataan paman Zheng dan guru Felix barusan," ucap Feng Lian.


"Mengapa begitu, Lian? Kamu tidak mencintaiku?" tanya An Ming tampak kecewa.


"Bukan begitu pangeran, aku hanya tidak mau ada keributan disini," jelas Feng Lian.


"Tidak akan ada keributan lagi, setelah kita berdua menikah nanti. Kamu bisa percaya padaku Lian!" ucap An Ming berusaha meyakinkan gadisnya.


Feng Lian terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Pak, sudah lah jangan halangi kami! Biarkan kami menghabisi pangeran sombong itu! Kami tidak takut sama sekali padanya!" teriak Tachi.


"Kamu benar-benar keras kepala, Tachi! Cepat bubar atau kalian akan menerima akibatnya!" geram Shi Yuqi.


"Tidak mau paman, kami akan terus berjuang demi Feng Lian!" tegas Tachi.


Kegigihan Tachi itu diikuti oleh para pemuda yang lain, mereka semua tetap kekeuh ingin terus berada disana memperjuangkan sosok Feng Lian.


"Ayolah Lian, katakan pada mereka jika kau ingin menikah denganku!" paksa An Ming.


"Aku jamin mereka pasti akan mengerti, jika kamu telah membuat keputusan," ucap An Ming.


"Ta-tapi pangeran..."


"Cepatlah Lian! Kau cinta padaku bukan?" potong An Ming.


"I-i-iya pangeran," jawab Feng Lian gugup.


"Baguslah, kalau begitu cepat kamu katakan pada mereka jika kamu ingin menikah denganku secepatnya!" pinta An Ming.


Feng Lian akhirnya mengangguk singkat, lalu maju mendekat ke arah Tachi dan yang lainnya.


"Hey kalian! Tolong cukup, hentikan semuanya! Kalian tidak bisa memaksakan kehendak kalian, karena aku sudah membuat keputusan!" ucap Feng Lian dengan lantang.


Semua orang disana pun terkejut, termasuk sang ayah sendiri, Shi Yuqi.


"Apa maksudmu Lian? Keputusan apa yang kamu buat itu?" tanya Tachi dengan wajah bingung plus penasarannya.


"Aku akan menikah dengan pangeran An Ming secepatnya, jadi kalian tidak perlu melakukan hal ini lagi disini!" jawab An Ming.


"Hah? Apa??" Tachi terkejut bukan main.


Tak hanya Tachi, namun seluruh orang yang ada disana ikut terkejut dibuatnya. Mereka tak menyangka dengan apa yang dikatakan Feng Lian barusan.


Sementara An Ming tampak tersenyum gembira, ia merasa senang karena Feng Lian mau menuruti kemauannya.


"Lihat kan paman? Lian itu juga mencintaiku, jadi cintaku tidak bertepuk sebelah tangan," bisik An Ming di telinga Zheng.


"Ya pangeran," ucap Zheng.




Ratu Lien baru selesai menyaksikan keberadaan putranya melalui alat yang diberikan raja In Lao.


Ratu Lien pun tampak syok melihatnya, karena saat ini putranya terlihat cekcok dengan para pemuda di kampung.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa An Ming sampai dihadang pemuda-pemuda itu?" tanya ratu Lien keheranan.


"Entahlah ratu, tapi sepertinya semua sudah aman terkendali di tangan Zheng dan Felix. Ratu tidak perlu khawatir lagi sekarang!" jawab In Lao.


"Tetap saja aku belum bisa tenang, aku takut terjadi sesuatu dengan putraku!" ucap ratu Lien.


"Tenanglah ratu! Aku akan mengutus pasukan untuk menghampiri pangeran An Ming, bagaimana?" ucap In Lao.


"Aku sendiri yang akan datang kesana, aku tidak bisa diam aja disini!" ujar ratu Lien.

__ADS_1


"Jangan ratu! Kamu sebaiknya disini saja, istana tidak boleh kosong tanpamu!" ucap In Lao.


"Tapi, firasat ku benar-benar tidak tenang memikirkan An Ming! Aku harus kesana sekarang, aku takut dia kenapa-napa!" ucap ratu Lien.


"Kamu tidak usah khawatir begitu ratu! Biar kita pantau pangeran dari sini, kita pastikan kalau pangeran baik-baik saja!" ucap In Lao.


"Aku tetap akan pergi kesana, aku khawatir sekali dengan putraku!" ucap ratu Lien.


"Sabar ratu! Kalau kamu memaksa pergi, aku sendiri yang akan menghalangi kamu," ucap In Lao.


Ratu Lien terdiam sesaat menatap wajah sang raja yang terlihat serius dan tidak main-main untuk melakukan apa yang dikatakannya.


"Bagaimana ratu? Apa kamu masih ingin memaksa pergi?" tanya In Lao.


"Baiklah, aku akan tetap disini. Tapi, tolong kamu perintahkan pasukan kamu untuk pergi menyusul An Ming sekarang! Aku khawatir sekali dengannya, aku tidak mau dia terluka!" ucap ratu Lien.


"Tentu saja ratu, aku akan lakukan itu semua demi ratu dan juga pangeran An Ming!" ucap In Lao.


"Terimakasih raja Lao!" ucap ratu Lien.


In Lao tersenyum saja tanpa berpaling dari wajah sang ratu.


"Ratu, ayah!" suara lantang tersebut membuat keduanya terkejut dan spontan menjauh.


Mereka sama-sama menoleh ke arah depan, terdapat Wein Lao yang sedang mendekati mereka dari sana.


"Wein Lao, kamu darimana saja? Aku mencari-cari kamu sedari tadi loh," tanya ratu Lien.


"Maaf ratu! Aku tidak tahu kalau ratu mencari ku, tadi aku sedang bersama Xiu di kamar," jawab Wein Lao dengan gugup.


"Yasudah, aku kira kalian pergi keluar tanpa memberitahuku," ucap ratu Lien.


"Tentu tidak ratu, kami tidak akan pernah melakukan itu," ucap Wein Lao.


"Lalu, dimana putriku sekarang?" tanya ratu Lien.


"Eee Xiu masih istirahat di kamarnya, ratu." Wein Lao menjawab dengan wajah menunduk.




Gusion dan Ryu masih kelimpungan mencari sosok pengirim surat ancaman ke istana Quangzi itu.


Mereka berdua tampak bingung harus mencari kemana lagi, karena memang tidak ada petunjuk apapun yang bisa mereka dapatkan.


"Bagaimana ini paman? Kita harus pergi kemana lagi?" tanya Gusion bingung.


"Entahlah panglima, aku juga bingung sekali. Tidak ada petunjuk apapun yang kita dapatkan, sangat sulit untuk bisa mencari tahu siapa yang mengirim surat ancaman itu!" jawab Ryu.


"Terus, kenapa paman tadi mengiyakan saja perintah ratu?" tanya Gusion heran.


"Kan aku sudah jelaskan, aku begitu karena gak mungkin kita nolak perintah ratu," jawab Ryu.


"Iya juga sih," ucap Gusion.


"Sudahlah, kita coba cari ke desa di depan sana saja! Siapa tahu kita dapat petunjuk dari sana," ucap Ryu menunjuk ke depan.


"Kalau tidak ada apa-apa disana bagaimana paman?" tanya Gusion ragu-ragu.


"Kita coba saja dulu! Setidaknya kita sudah berusaha, kalaupun gagal ya mungkin belum rezeki kita," jawab Ryu.


"Santai sekali paman bicara begitu! Lalu, saat ratu bertanya kita harus menjawab apa paman?" ujar Gusion tampak panik.


"Kamu itu mudah sekali panik ya Gusion, jangan lah terlalu begitu!" ucap Ryu.


"Bagaimana saya tidak panik? Kita gagal menjalani perintah dari ratu," ucap Gusion.


"Yasudah, ayo kita kesana! Barangkali saja ada informasi di desa itu yang bisa kita ambil," ucap Ryu.


"Baiklah paman!" ucap Gusion menurut.


Akhirnya kedua pria itu melangkah memasuki desa yang cukup ramai, mereka langsung disambut oleh para pedagang yang menjajakan dagangannya.


"Silahkan pak dipilih dipilih!"


Gusion dan Ryu berjalan begitu saja melewati kumpulan pedagang itu, tentu karena tujuan mereka bukan ingin membeli sesuatu disana.


Tanpa sengaja, mereka justru bertemu dengan An Ming serta beberapa pasukan Quangzi yang sedang berselisih paham di depan sana.


"Paman, sepertinya itu pangeran An Ming," ucap Gusion.


"Kau benar panglima! Kita hampiri mereka!" ucap Ryu.


"Baik paman!" ucap Gusion menurut.


Keduanya langsung bergerak cepat mendekati kerumunan itu dengan wajah panik.


"Lian, apa benar kamu ingin menikah dengan pangeran kecil yang tidak tahu diri ini?" tanya Tachi pada Feng Lian.


"Iya benar, aku akan menikah dengan pangeran An Ming sebentar lagi. Sekarang kalian cepat pergi, jangan buat keributan disini!" jawab Feng Lian.


"Kurang ajar! Kamu lebih memilih si kecil yang payah ini dibanding kami, apa hebatnya dia ha?" geram Tachi.


An Ming tersenyum seringai menyaksikan kemarahan di wajah Tachi.


"Pangeran!" suara panggilan itu membuat An Ming terkejut dan menoleh ke belakang.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2