Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 91. Kemunculan Alice


__ADS_3

Wein Lao tengah bersiap untuk pergi menuju istananya pagi ini.


Xiu sang istri pun merasa sedih saat suaminya mengatakan dia akan pergi sebentar lagi.


"Lao, kenapa kamu mendadak sekali ingin pergi ke istana mu sih? Kamu tidak bicara apa-apa kemarin, bahkan kamu hanya membahas masalah bercinta. Apa kamu sengaja ingin meninggalkanku setelah mendapat yang kamu mau?" ujar Xiu.


"Kamu bicara apa putri? Mana mungkin aku seperti itu? Tubuh kamu itu sangat memuaskan, masa aku pergi tinggalin kamu sih? Nyesel banget dong aku nantinya!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.


"Terus, kenapa kamu gak bilang-bilang dulu sama aku kalau kamu pergi pagi ini? Aku kan jadi kaget tau karena baru dengar sekarang, kamu emang ngeselin tau Lao!" ucap Xiu cemberut.


"Tidak perlu sedih gitu, aku kan pergi tidak lama. Aku hanya ingin menyelesaikan persoalan di istanaku sebentar, setelah itu pasti aku akan kembali kesini menemui mu istriku. Kamu bisa pegang kata-kata aku ini!" ucap Wein Lao.


Xiu masih terus memasang wajah cemberut, itu membuat Wein Lao gemas dan mencubitnya.


"Duh, gemesin banget istriku satu ini!" ujar Lao.


"Kamu gausah gombalin aku kayak gitu deh! Aku ini lagi kesal sama kamu, jadi jangan sentuh-sentuh tubuh aku!" geram Xiu.


"Kenapa sih sayang? Masa cuma sekedar colek juga gak boleh? Aku kan suami kamu, tubuh kamu ini juga udah sah jadi milik aku." ucap Wein Lao


"Ih kata siapa? Tubuh aku ya tetap jadi milik aku lah, mana bisa jadi milik kamu?! Kamu emang suami aku, tapi kamu gak bisa seenaknya gitu dong sama aku!" cibir Xiu.


"Iya iya, aku minta maaf ya sama kamu cantik! Aku kemarin belum kepikiran emang buat pergi sekarang, makanya aku gak bilang apa-apa sama kamu sayangku." ucap Wein Lao.


"Halah bohong!" ujar Xiu.


"Kamu kok gak percaya sih sama suami kamu sendiri? Aku beneran loh belum kepikiran kemarin, baru tadi pagi aku kepikiran." ucap Wein Lao.


"Yaudah iya aku percaya, tapi tetap aja aku masih gak terima." ucap Xiu.


"Apa lagi sih sayang? Kamu kenapa gak terima, ha?" tanya Wein Lao bingung.


"Ya iyalah, aku gak terima karena kamu udah mau tinggalin aku gitu aja hari ini. Kita baru nikah beberapa hari loh, masa kamu udah mau pergi aja dari sini? Gak romantis banget!" jawab Xiu.


"Kurang romantis apa coba aku? Semalam aku udah bikin kamu keenakan sampai terus-terusan teriakin nama aku, ya kan?" goda Wein Lao.


"Hah? Ish kurang ajar ya kamu! Ngapain coba yang semalam pake dibahas lagi? Udah ah intinya aku kesel sama kamu!" ujar Xiu cemberut.


"Hey, jangan cemberut gitu dong! Aku pergi kan buat urus kepentingan istana serigala, jadi aku harus pergi sekarang. Tapi, kalau urusannya udah selesai nanti pasti aku bakal balik lagi kesini dan temenin kamu lagi." bujuk Wein Lao.


"Iya iya, terserah kamu aja! Kalau kamu emang mau pergi, sana pergi!" ujar Xiu.


"Beneran nih kamu bolehin aku pergi?" tanya Wein Lao memastikan.


"Iya Lao, aku bolehin kok." jawab Xiu.


"Kalau gitu kamu senyum dong sayang! Biar aku bisa nyaman perginya dan gak gelisah, jangan cemberut gitu terus!" ucap Wein Lao.


"Nanti aku senyumnya begitu kamu pulang lagi kesini, sekarang mah aku susah buat senyum." ucap Xiu.


Cup!


Xiu terkejut bukan main saat Wein Lao mengecup pipinya secara tiba-tiba.


"Gimana? Udah mau senyum belum?" goda Lao.


"Apa sih ih? Emang kamu pikir dengan kamu cium aku terus aku mau senyum gitu buat kamu? Enggak akan ya Lao!" ujar Xiu.


"Hahaha, duh gagal deh! Terus, kamu maunya diapain sayang sama aku?" ucap Wein Lao.


"Tau ah!" Xiu yang ngambek akhirnya memilih pergi meninggalkan suaminya.




Xiu berlari keluar dari kamarnya dan menuju halaman istana, ia masih sangat kesal dengan Wein Lao yang hendak pergi meninggalkannya.


Namun, Xiu justru berpapasan dengan Chen serta Ryu yang kebetulan sudah keluar dari ruang pengobatan baru-baru ini.


"Loh tuan putri, kenapa tuan putri lari-lari seperti itu? Ada masalah?" tanya Chen bingung.


"Ah Chen, tidak kok tidak ada masalah apa-apa. Aku hanya menghindari seseorang," jawab Xiu.


"Siapa?" tanya Chen penasaran.


"Suamiku," jawab Xiu sambil terus menoleh ke belakang dengan nafas tersengal-sengal.


"Memangnya ada apa tuan putri? Mengapa tuan putri harus menghindari pangeran Lao?" tanya Chen sangat heran.


"Aku kesal dengan dia, dia mau pergi dari Quangzi, tapi gak bilang dulu sama aku dari kemarin. Aku kan merasa gak dianggap tau!" jelas Xiu.


Chen tersenyum saja seraya melirik ke arah ayahnya.


"Sabar putri Xiu! Namanya rumah tangga pasti akan ada masanya sebuah pertengkaran kecil seperti ini, kita hanya perlu meladeninya dengan sabar dan jangan emosi!" ucap Ryu.


"Nah, yang dibilang ayah itu benar tuan putri! Sebaiknya tuan putri sabar aja dulu, mungkin pangeran Lao punya alasan kenapa dia gak kasih tau tuan putri sebelumnya." sahut Chen.


"Kamu tahu apa soal pernikahan, Chen? Kamu kan belum pernah menikah," cibir Xiu.

__ADS_1


"Eee iya juga sih, hehe.." ucap Chen sambil nyengir.


"Tapi, nasehat ayah itu benar loh putri!" lanjutnya.


"Iya iya, aku ngerti. Ya tapi wajar aja kan kalau aku kesal sama dia sekarang?" ujar Xiu.


"Iya tuan putri, wajar kok kesal-kesal sedikit. Asal tuan putri jangan terlalu emosi dan membawa masalah ini berlarut-larut! Nanti yang ada malah kalian sudah buat damainya," jawab Ryu.


"Iya paman, gak bakal berlarut-larut kok. Aku cuma mau menghindar dari Lao aja sekarang, supaya dia kapok dan gak mengulangi ini lagi." ucap Xiu.


Ryu menggeleng disertai senyum tipisnya.


"Yasudah paman, aku mau keluar dulu ya? Jangan bilang sama Lao kalau aku pergi dari istana!" ucap Xiu.


"Loh, memang tuan putri mau kemana?" tanya Ryu heran.


"Aku cuma mau cari udara segar, bosan di istana terus beberapa hari ini." jawab Xiu.


"Tunggu dulu tuan putri! Apa tidak sebaiknya tuan putri minta izin lebih dulu sama ratu Lien atau pangeran Lao?" ujar Ryu.


"Buat apa aku minta izin sama Lao? Aku kan lagi kesal sama dia dan pengen hindari dia paman!" ucap Xiu.


"Ya setidaknya dengan ratu, tuan putri." ujar Ryu.


"Gak mau ah! Kalau aku balik lagi ke dalam, nanti aku malah ketemu lagi sama Lao. Lagian aku cuma mau ke danau kok, udah ya paman sama kak Chen nurut aja oke!" ucap Xiu.


"I-i-iya tuan putri, tapi kami akan temani tuan putri ya?" ucap Ryu.


"Terserah kalian aja!" ucap Xiu singkat lalu melangkah keluar gerbang istana diikuti oleh Ryu dan Chen.


"Ayah, kita gak jadi pulang?" tanya Chen.


"Tidak Chen, kita harus kawal tuan putri supaya dia baik-baik aja!" jawab Ryu.


"Baik ayah!" ucap Chen menurut.


Namun, langkah cepat Xiu membuat Ryu dan Chen cukup kewalahan mengejarnya.


"Hah? Duh, tuan putri tunggu!!" teriak Chen panik.




Xiu tiba di sebuah danau indah yang sering ia datangi sewaktu kecil bersama ayahnya dulu.


Kini Xiu kembali datang kesana, walau tak dengan sang ayah yang telah tiada itu.


Sementara itu, Chen dan Ryu baru sampai beberapa saat sesudah Xiu datang disana.


"Hah hah hah! Capek banget!" keluh Chen dengan nafas terengah-engah.


"Iya Chen, ini akibat kondisi kita yang belum pulih. Tapi, kita gak boleh mengeluh! Kita harus bisa bantu tuan putri dan jaga dia selama disini!" ucap Ryu coba menetralkan nafasnya.


"Iya ayah, tapi kira-kira kenapa ya tuan putri datang kesini? Dia kelihatan bahagia banget tuh, apa karena masalahnya sama pangeran Lao?" ujar Chen.


"Bisa jadi begitu, tapi udah lah kita gak perlu tau apa alasan tuan putri datang kesini! Itu bukan urusan kita sayang!" ucap Ryu.


"Iya ayah.." ucap Chen menurut.


"Yasudah, ayo kita dekati tuan putri!" perintah Ryu.


"Oke ayah!" ucap Chen.


Mereka pun melangkah mendekati putri Xiu yang tengah berdiri di pinggir danau sembari memejamkan mata.


"Ah segarnya! Aku jadi pengen disini terus selamanya," ucap Xiu.


"Hah??" Xiu terkejut mendengar suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Xiu pun menoleh, ia melihat Chen yang tengah menutupi mulutnya disertai Ryu yang menatap tajam ke arah putrinya itu.


"Eh kak Chen, paman?" ucap Xiu tersenyum lebar.


"Iya tuan putri, ini kita. Maaf ya tadi aku lancang bilang begitu! Aku cuma kaget aja dengar omongan tuan putri tadi," ucap Chen.


"Gapapa kak, tapi emangnya kenapa kamu kaget begitu?" tanya Xiu heran.


"Ya kaget aja tuan putri, abisnya tuan putri bilang kalau mau tinggal disini selamanya." jawab Chen.


"Hahaha, itu cuma istilah kak. Soalnya disini nyaman banget dan bikin betah," jelas Xiu.


"Ohh, berarti kamu gak beneran mau tinggal disini kan tuan putri?" tanya Chen.


"Ya enggak lah kak, yakali aku tinggal di danau? Mau tidur dimana aku nantinya?" jawab Xiu.


"Hehe, iya juga sih.." ujar Chen sambil nyengir.


"Yaudah, sekarang kalian bisa istirahat dulu disana! Aku cuma mau hirup udara segar kok, aku janji gak akan kemana-mana lagi!" ucap Xiu.

__ADS_1


"Baik tuan putri!" ucap mereka serentak.


Tiba-tiba saja Alice muncul bersama Wingki dan para pasukan iblisnya.


"Hahaha hahaha.." suara tawa itu terdengar menggelegar di telinga putri Xiu.


Sontak Xiu beserta Ryu dan Chen langsung menoleh ke asal suara, mereka menatap Alice penuh rasa heran.


"Mau apa lagi kamu?" tanya Xiu geram.


"Aku ingin menghabisi kamu Xiu! Dengan begitu, aku yakin raja Lao akan muncul dan aku bisa membalaskan dendam suamiku kepadanya nanti!" jawab Alice dengan lantang.


"Apa maksudmu? Raja Lao tidak akan mudah untuk dihabisi, begitupun denganku!" ucap Xiu.


"Kamu jangan sombong Xiu! Kamu memang bisa mengalahkan Xavier, tapi tidak denganku. Hari ini adalah terakhir kalinya kamu dapat bernafas Xiu!" ucap Alice.


"Aku sedang malas berkelahi, kamu pergi saja dan kembali lain waktu!" pinta Xiu.


"Kurang ajar! Rasakan ini!" Alice yang kesal akhirnya langsung menyerang Xiu begitu saja.


Slaasshh...


"Akh!" Xiu memekik sakit seraya memegangi lengannya yang terkena serangan dadakan dari Alice itu.


"Tuan putri!" teriak Chen yang langsung menghampiri Xiu dan menolongnya.


"Hahaha, habislah kamu Xiu! Ayo lawan aku atau aku akan jadikan kamu bulan-bulanan ku!" ujar Alice tertawa ria.


"Sial!" Xiu mengumpat kecil dan berusaha bangkit.


"Tuan putri tidak apa-apa?" tanya Chen.


"Iya, aku bisa hadapi dia!" jawab Xiu.


"Tapi tuan putri.." ucapan Chen terhenti saat suara teriakan lantang muncul begitu saja disana.


"HEY RATU IBLIS SIALAN!!" mereka semua kompak menoleh ke asal suara dan tampaklah sosok Wein Lao berdiri disana.


"Hah??" Xiu terkejut melihatnya.




Ratu Lien sedang tampak bersedih saat ini, ia duduk sendirian di pinggir pancuran istana sembari menatap ke arah kolam yang dipenuhi ikan-ikan.


Entah mengapa ratu Lien kembali teringat pada sosok Feng Ying, suaminya yang sudah dibunuh oleh Xavier beberapa waktu dulu.


Hingga kini memang ratu Lien masih belum bisa melupakannya, ia terlanjur jatuh cinta pada pria itu hingga sulit baginya untuk bisa tegar kembali.


"Seandainya kamu ada disini raja Feng, aku yakin pasti kamu bangga sekali melihat putrimu sudah tumbuh menjadi wanita yang kuat dan cantik! Dia adalah pemanah hebat, berbagai jurus juga sudah dia kuasai, kamu pasti bangga memiliki putri sepertinya Feng!" batin ratu Lien.


Tiba-tiba kenangan manis tentang dirinya bersama raja Feng Ying pun muncul di ingatan, hal itu membuatnya menitikkan air mata kesedihan.


"Mommy!" tiba-tiba suara putranya terdengar tak jauh dari sana.


"An Ming?" benar saja pria kecil itu sudah berada di samping sang ratu saat ini bersama Luan.


"Mommy, kenapa mommy nangis disini? Mommy lagi sedih ya?" tanya An Ming heran.


"Eee enggak sayang, mommy cuma lagi pengen lihat ikan-ikan disini aja." jawab ratu Lien ngeles.


"Maaf ya ratu! Tadi den An Ming memaksa buat diantar ketemu sama ratu, saya tidak bisa menghalangi niat den An Ming." ucap Luan pada ratu.


"Gapapa bik, aku juga gak masalah kalau An Ming ada disini, dia itu kan putraku." ucap ratu Lien.


"Asyik! Berarti aku boleh kan temenin mommy sekarang?" tanya An Ming tampak riang.


"Boleh dong sayang, ayo sini duduk di pangkuan mommy!" pinta ratu Lien.


"Iya mom," An Ming mengangguk disertai senyum renyahnya, lalu berjalan mendekati sang ratu.


An Ming langsung saja duduk di pangkuan ibunya, ia sesekali menoleh ke wajah ratu Lien dan mengecupnya lembut.


Cup!


Ratu Lien cukup terkejut dengan itu, ia melongok lebar dan tersenyum ke arah putranya.


"Duh, akhirnya ada yang cium mommy lagi nih!" goda ratu Lien.


"Ahaha, itu biar mommy gak sedih!" ujar An Ming.


"Makasih ya sayang, kamu perhatian sekali sama mommy!" ucap ratu Lien.


"Sama-sama mom, kan mommy itu mommy aku." ucap An Ming sambil tersenyum.


Ratu Lien pun mendekap erat tubuh putranya, ia merasakan kenyamanan dan ingin terus seperti itu.


"Xavier, kamu memang jahat dan kejam. Tapi lihatlah, putramu ini jauh berbeda denganmu. Aku sangat berharap, kelak dia mampu menjadi pemimpin di Quangzi ini!" batin ratu Lien.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2