Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 80. Tahan Wein Lao!


__ADS_3

"Itu dia pangeran Lao datang!" teriak prajurit.


Berbagai penyambutan yang telah disiapkan pun mulai dilakukan oleh mereka semua, namun putri Xiu justru bersembunyi dibalik tubuh ibunya.


"Hey sayang! Kamu ini kenapa? Jangan sembunyi gitu dong sayang!" ujar ratu Lien.


"Gapapa mom, aku gak mau dilihat sama Lao. Aku malu mom! Gimana kalau dia gak suka sama dandanan aku yang sekarang? Aku takut banget mom! Aku takut bikin Lao kecewa!" ucap Xiu.


"Kamu gak perlu takut! Lao pasti suka sama kamu! Udah ah, gausah pake sembunyi segala kayak gini! Kamu itu cantik kok sayang, jangan takut ya!" ucap ratu Lien.


"Iya kak, kakak cantik banget loh!" ujar An Ming.


"Eee tapi..." ucapan Xiu terjeda saat ia melihat sebuah kereta kuda telah berhenti di depannya.


Glekk..


Xiu meneguk ludahnya, menatap ke arah kereta kuda tersebut dengan serius.


"Selamat datang, yang mulia raja In Lao dan pangeran Wein Lao yang terhormat!" ucap Gusion memberi penghormatan.


Muncullah dua orang pria tampan dari dalam kereta tersebut, mereka adalah In Lao dan juga Wein Lao.


Xiu pun tertegun begitu melihat calon suaminya itu, ia tak menyangka bahwa Wein Lao bisa semakin tampan.


Wein Lao langsung mengedarkan pandangannya, mencari sosok putri Xiu yang memang sudah ia rindukan sedari tadi.


Pria itu tersenyum lebar begitu menemukan sosok gadisnya, ia semakin tidak sabar untuk segera melamar gadis itu.


"Cantik sekali dia!"


Xiu menyadari bahwa Wein Lao tengah menatap ke arahnya sambil tersenyum, ia pun berusaha menghindari tatapan pria itu karena malu.


"Ih ngapain sih dia pake ngeliatin aku segala?" batin Xiu.


Ratu Lien pun bergerak maju menghampiri tamunya yang baru datang itu, namun putri Xiu dan An Ming hanya berdiam diri di tempat mereka.


"Selamat datang raja Lao! Aku merasa senang karena dapat bertemu denganmu lagi!" ucap Lien.


"Terimakasih ratu Lien! Aku juga senang bisa bertemu dengan sang ratu, aku jadi teringat sewaktu dulu raja Feng masih hidup. Berasa nostalgia setiap kali aku datang kesini dan ketemu denganmu, ratu." ucap In Lao.


"Iya, gak nyangka ya kalau ternyata anak-anak kita bisa berjodoh dan saling mencintai. Sebentar lagi kita berdua akan menjadi keluarga, setelah mereka menikah." ucap ratu Lien sambil tersenyum.


"Ah iya, aku juga kaget sewaktu Wein Lao bilang kalau dia akan melamar putri Xiu hari ini. Aku gak nyangka ternyata pria seperti Wein Lao bisa memikat hati putri Xiu," ucap In Lao.


"Hahaha..." ratu Lien tertawa puas bersama raja Lao disana.


Lalu, In Lao dan Wein Lao pun turun dari kereta kudanya untuk lebih mendekat ke arah sang ratu.


"Mari raja Lao, dan kamu juga pangeran Lao! Kita sama-sama masuk ke dalam, sepertinya putriku sudah tidak sabar ingin segera memulai acara lamaran ini." ucap ratu Lien.


"Baiklah ratu!" ucap In Lao tersenyum tipis.


Mereka mulai melangkah maju, namun Wein Lao tak bisa mengalihkan pandangannya dari putri Xiu yang berada di depannya.


Akibatnya, Xiu tampak terus menunduk tak tahan terus-menerus ditatap oleh Wein Lao seperti itu.


Saat ini Wein Lao sudah berada tepat di depan tubuh putri Xiu, ia tersenyum lebar dan menggerakkan tangannya untuk menarik dagu putri Xiu agar menatap ke arahnya.


"Jangan nunduk dong putri!" pinta Wein Lao.


Deg!


Xiu benar-benar terkejut, sentuhan dingin di wajahnya membuat jantungnya berdebar kencang.


"Kamu kenapa?" tanya Wein Lao bingung.


"Eee a-aku.." Xiu sangat gugup dan gemetar.


"Ada yang salah?" tanya Wein Lao lagi.


"Ah eee enggak kok, gak ada." jawab Xiu.


Gadis itu dengan cepat membalikkan badannya membelakangi Wein Lao, membuat Wein Lao dan yang lainnya merasa heran.


"Duh, aku kok gugup banget sih? Ayolah Xiu, dia itu calon suami kamu!" batin Xiu.




Singkat cerita, semuanya kini sudah berada di dalam istana untuk menyaksikan prosesi lamaran putri Xiu dan Wein Lao.


Tampak mereka sudah saling berhadapan, Xiu pun semakin berdebar-debar saat ditatap dari jarak dekat oleh kekasihnya itu.


"Tuan putri Xiu, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Wein Lao sembari meraih satu tangan Xiu dan menariknya perlahan.


Wein Lao kini merendahkan posisinya, berlutut di hadapan putri Xiu seraya menggenggam tangan gadis itu.


"Ya, aku mau." jawab Xiu singkat.


Prok.. prok.. prok..

__ADS_1


Semua orang disana langsung bertepuk tangan, termasuk sang ratu yang tampak bahagia melihat putrinya sudah dilamar oleh seorang pria.


"Aku suka jawaban kamu, Xiu!" ucap Wein Lao.


Pria itu pun mengambil cincin dari sakunya, menautkan cincin tersebut di jari manis putri Xiu dengan perlahan.


Cupp!


Wein Lao mengecup punggung tangan Xiu di hadapan semua orang, membuat gadis itu makin tak karuan dan wajahnya bertambah memerah.


Wein Lao kembali berdiri tegak menghadap ke arah putri Xiu, ia memeluk tubuh gadis itu dengan erat sembari mengusap punggungnya lembut.


"Aku sayang kamu!" ucap Wein Lao.


"Aku juga!" balas Xiu pelan.


Suara tepuk tangan dan sorak-sorai kembali terdengar disana, semuanya tampak bahagia dan mulai menikmati pesta yang sudah disiapkan.


Namun, reaksi Zheng justru berbeda. Ia tampak tidak senang melihat putri Xiu berdansa dengan Wein Lao di depan matanya.


Zheng mengepalkan tangannya, bibirnya tampak gemetar hebat seperti menahan emosi saat Wein Lao bermesraan dengan putri Xiu.


"Kenapa ini? Kenapa rasanya sulit sekali bagi saya untuk mengikhlaskan semuanya? Padahal saya ini bukan siapa-siapanya, tapi kenapa saya harus marah saat ini?" batin Zheng.


Pukkk...


"Tenanglah Zheng! Kamu tidak perlu emosi begitu!" ucap Gusion yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Kamu bicara apa? Siapa juga yang emosi? Lagipun, saya tidak memiliki alasan untuk emosi saat ini." ucap Zheng berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa padanya.


"Kamu tidak perlu berbohong padaku, aku tahu kamu tidak suka melihat putri Xiu dilamar oleh pangeran Lao. Kamu pasti mencintai tuan putri kan? Wajar saja, karena kamu memang cukup dekat dengannya." ujar Gusion.


"Jangan bicara aneh-aneh! Saya gak mungkin mencintai tuan putri Xiu, jadi kamu tidak usah berpikir seperti itu!" elak Zheng.


"Masih aja kamu menyangkal, sudahlah jujur saja sama aku!" ucap Gusion tersenyum tipis.


Zheng terdiam sembari memalingkan wajahnya, matanya kini fokus menatap ke arah putri Xiu yang tengah menikmati momen romantisnya disana.


"Benar begitu kan, Zheng?" tanya Gusion.


"Kata-kata kamu memang benar, tapi saya akan berusaha menghilangkan rasa itu." jawab Zheng.


"Hahaha, akhirnya kamu mengaku juga. Menurut aku, kamu gak perlu hilangkan rasa itu. Daripada kamu menjauh, lebih baik kalau kamu perjuangkan cinta kamu!" usul Gusion.


"Saya tidak butuh pendapat kamu!" ujar Zheng.


"Oh ya? Menyakiti diri sendiri itu tidak baik Zheng, berhentilah mengalah demi orang lain! Kamu juga butuh kebahagiaan itu," ucap Gusion.


Gusion mengusap bahu Zheng sambil tersenyum, kemudian berbalik dan pergi dari sana.


"Dia memang benar, tapi apa saya bisa perjuangkan cinta saya? Gak mungkin saya bisa menang dari pangeran Lao!" batin Zheng.




Hari sudah mulai larut, putri Xiu bersama Wein Lao sedang bersama di kamar dan tengah terduduk berdampingan di ranjang yang empuk itu.


Wein Lao memang sudah mendapat izin sebelumnya dari ratu Lien untuk memasuki kamar calon istrinya itu.


Namun, tentu saja Xiu merasa tidak nyaman saat tiba-tiba Wein Lao masuk kesana. Bagaimanapun juga, mereka belum sah menjadi suami-istri.


"Lao, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Xiu.


"Tidak ada, aku hanya ingin menemui calon istriku. Setelah acara pesta tadi, aku merasa sangat lelah sayang. Maka dari itu, aku datang kesini dan ingin beristirahat denganmu." jawab Wein Lao.


"Kamu ini bicara apa? Bukannya pelayan sudah menyediakan kamar khusus untukmu? Kenapa kamu malah datang kesini? Bagaimana jika ada yang melihat?" tanya Xiu panik.


"Itu bukan sebuah masalah, ratu Lien saja sudah memberiku izin untuk datang kemari." ucap Wein Lao sambil tersenyum dan mengusap wajah mulus putri Xiu.


"Tapi Lao, apa kamu yakin mau istirahat sama aku disini?" tanya Xiu cemas.


"Tentu saja, kenapa tidak? Lagipun, lebih seru kalau malam ini kita tidur berdua. Aku selama ini selalu tidur sendirian tau, sekarang izinkan aku tidur di sebelah mu ya cantik!" pinta Wein Lao.


"Huh, baiklah! Aku emang gak bisa nolak permintaan kamu. Tapi, kita cuma tidur ya gak ngelakuin apapun itu! Ingat loh, kita baru lamaran, belum menikah! Jadi, kamu harus bisa tahan semuanya!" ucap Xiu.


Wein Lao justru memajukan wajahnya ke arah putri Xiu, menatap lebih dekat sembari membelai rambutnya perlahan.


"Mengapa harus ditahan, jika kita bisa lakukan itu sekarang? Memangnya kamu gak mau merasakan semua itu? Lagipula, kita kan sudah pasti bakal menikah nantinya." goda Wein Lao.


"Enggak ya, tetap aja aku gak mau! Aku belum siap tau!" ucap Xiu menolak.


"Hahaha, kamu lucu sekali putri! Aku jadi makin gemas denganmu," ucap Wein Lao.


"Halah gombal!" cibir Xiu.


Cupp!


Xiu amat terkejut saat Wein Lao mengecup bibirnya secara tiba-tiba, apalagi pria itu menempelkan bibirnya cukup lama disana.


Xiu pun tersadar, ia segera mendorong tubuh Wein Lao menjauh agar bibir mereka terlepas.

__ADS_1


"Kamu ini apa-apaan sih?! Aku capek tau, daritadi kan kamu udah cium aku terus! Sekarang aku mau istirahat, kamu tolong ngertiin aku!" ucap Xiu.


"Iya sayang," ucap Wein Lao.


Xiu memasang wajah cemberut, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi menghadap ke samping membelakangi Wein Lao.


Pria itu pun mengikuti apa yang dilakukan putri Xiu, ia berbaring di samping gadis itu dan memberanikan diri memeluk tubuhnya dari samping.


"Mmhhh kamu wangi sekali Xiu! Jadi seperti ini rasanya menghirup aroma tubuh putri kerajaan?" ujar Wein Lao seraya mengendus leher Xiu.


Xiu mati-matian menahan rasa geli di tubuhnya dengan menggigit bibir bagian bawahnya.


"Jangan ditahan sayang! Aku suka dengar suara kamu, boleh kan kalau aku lakukan itu malam ini?" ucap Wein Lao menggoda gadisnya.


"Hah??" Xiu terkejut dan reflek menatap wajah Wein Lao yang bersembunyi di lehernya.


Pria itu malah mengecup leher mulusnya itu dan menggigitnya kecil hingga menimbulkan bekas.


"Akh! Apa yang kamu lakukan?!" protes Xiu.


"Tidak ada, hanya sebuah permainan kecil." jawab Wein Lao sambil tersenyum.




Keesokan paginya, Xiu terbangun dan membuka matanya. Ia melirik ke samping, nampak Wein Lao masih tertidur seraya memeluk pinggangnya cukup erat.


Xiu sangat kesulitan untuk bisa bangkit lantaran lengan kekar kekasihnya itu seakan menahannya agar ia tetap disana.


"Ih bangun Lao, ayo bangun!" ucap Xiu lantang.


Akhirnya Wein Lao membuka matanya, ia tersenyum lebar saat melihat wajah Xiu ada di depan matanya.


Cupp!


Pria itu langsung bergerak dan mengecup bibir Xiu sekilas sambil menindih tubuhnya.


"Hah? Ka-kamu ngapain?" ujar Xiu terkejut.


"Tidak ada, aku cuma mau cium kamu pagi ini!" jawab Wein Lao.


Setelahnya, Wein Lao pun terus mencumbui tiap inci tubuh Xiu yang mulus nan wangi itu hingga membuat empunya merasa kegelian.


"Ahh Lao cukup! Kamu benar-benar membuatku merasa aneh!" ucap Xiu meracau pelan.


"Iya sayang, begitulah. Kamu hanya perlu merasakan semuanya, biar aku yang lakukan ini untuk kamu!" ucap Wein Lao.


"Lao jangan!" ucap Xiu menahan tangan Wein Lao yang hendak membuka pakaiannya.


"Kamu kan tahu, aku belum siap buat itu. Maaf ya Lao, untuk sekarang kamu harus tahan dulu!" ucap Xiu menjelaskan.


Wein Lao menatap dingin ke arah mata putri Xiu, membuat gadis itu merasa bingung sekaligus ketakutan.


"I-i-iya, okay terserah kamu!" ucap Xiu gugup.


Wein Lao langsung tersenyum puas, ia pun kembali melanjutkan aksinya yang tertunda tadi.


TOK TOK TOK...


Namun, tiba-tiba suara ketukan pintu muncul dari arah luar kamar mereka yang membuat Wein Lao mengurungkan niatnya kembali.


"Aaarrgghh!!" Wein Lao menggeram kesal.


"Hahaha, kamu gagal lagi deh! Aku kan udah bilang, sabar dulu sayang sampai kita nikah nanti! Kamu gak mau dengar sih, tuh kan jadinya kamu kesal sendiri." goda Xiu sambil terkekeh kecil.


Wein Lao hanya diam menatap wajah Xiu, ia berusaha keras menahan gairah di tubuhnya saat ini agar tidak kelepasan.


Xiu langsung mendorong tubuh Wein Lao hingga terpental ke samping, gadis itu pun bangkit sambil meledek Wein Lao sejenak.


"Wle wle wle, kamu gak bisa sentuh aku lagi!" ledek Xiu seraya menjulurkan lidahnya.


Wein Lao justru terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, sungguh melihat tingkah gadis itu membuat dirinya merasa terhibur.


"Awas kamu ya! Setelah kita nikah nanti, aku gak akan pernah lepasin kamu!" ancam Wein Lao.


"Ih ngeri! Udah ah aku mau keluar aja, kalau lama-lama disini nanti aku digigit serigala lagi!" ujar Xiu.


"Ya ya ya.." ucap Wein Lao singkat.


Xiu pun bergegas melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


TOK TOK TOK...


"IYA SEBENTAR!!" teriak Xiu dari dalam sana.


Ceklek...


Xiu membuka pintu, senyum renyahnya tadi langsung menghilang saat melihat ratu Lien berdiri di hadapannya kini.


"Mommy...??" ucap Xiu terbujur kaku.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2