Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 73. Pemimpin yang sebenarnya


__ADS_3

Prajurit-prajurit itu mengangkat pedang mereka, bersiap menyerang Wein Lao dan putri Xiu.


Tentu saja mereka berdua juga mengambil ancang-ancang untuk menahan serangan mereka.


"Cukup!!" teriak raja Ling.


Hal itu membuat pertarungan mereka tidak jadi terlaksana, para prajurit pun menatap raja mereka yang masih tergeletak disana.


"Kalian tidak usah menyerang mereka, bawa saja aku pergi dari sini!" pinta raja Ling.


"Baik raja!" ucap prajurit itu menurut.


Mereka pun membawa raja Ling pergi dari sana untuk segera kembali menuju istana Sidhagat.


"Kenapa kamu pergi raja Ling? Apa kamu sudah tidak menuduh tuan putri sebagai pembunuh ayahmu lagi?" tanya Wein Lao mengejek.


"Diam kau! Ini belum berakhir, aku akan kembali untuk menyelesaikan semuanya!" ucap raja Ling.


"Baiklah, kami akan selalu menunggu kehadiran kamu kembali. Cepat sembuh raja Ling!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.


Xiu hanya ikut tersenyum tanpa berbicara, mereka kini membiarkan raja Ling dan para pasukannya pergi dari sana.


"Xiu!!"


Mereka terkejut mendengar suara teriakan itu, Xiu langsung menoleh ke asal suara dan melihat ibunya disana.


"Mommy? Gusion...??" ucap Xiu terheran-heran.


Ratu Lien bersama Gusion pun bergerak maju menghampiri Xiu dan Wein Lao yang masih berdiri disana.


"Mom, mommy kenapa bisa sama dia? Dia itu kan panglima Quangzi yang membela Xavier, mommy harus jaga jarak dari dia!" tanya Xiu penasaran.


"Kamu gak perlu khawatir sayang! Gusion ini sekarang sudah jadi pasukan kita, dia mencintai Quangzi dan mommy percaya kalau dia tidak akan berkhianat dari kita." jelas ratu Lien.


"Tapi mom, memangnya Xavier sudah berhasil dikalahkan?" tanya Xiu.


"Iya putriku, orang di samping mu itu yang sudah mengalahkan dia." jawab ratu Lien.


"Hah??" Xiu terkejut bukan main.


Gadis itu mengarahkan pandangan ke wajah Wein Lao, menatap pria itu dengan mulut terbuka.


"Benar begitu, Lao?" tanya Xiu.


"Iya tuan putri, aku tadi sudah berhasil mengalahkan Xavier." jawab Wein Lao.


"Syukurlah, kamu memang benar-benar hebat Lao! Aku kagum denganmu, tidak salah aku memiliki teman sepertimu!" ucap Xiu tersenyum lebar.


"Biasa saja putri, aku masih jauh dari kata hebat." ucap Wein Lao merendah.


Lalu, ratu Lien nampak keheranan lantaran tidak terlihat keberadaan raja Ling disana yang sebelumnya menyerang Xiu.


"Eee Xiu, dimana raja Ling? Kenapa dia tidak ada disini?" tanya ratu Lien bingung.


"Dia sudah kabur mom, tadi kami berhasil mengalahkan dia dengan mudah." jawab Xiu.


"Oh ya? Baguslah, jadi tidak perlu ada peperangan lagi disini. Mommy benar-benar bangga memiliki putri sepertimu Xiu, kamu itu hebat dan pemberani!" ucap ratu Lien.


"Tentu saja mommy, kan aku mau jadi pahlawan buat Quangzi. Aku gak mau Quangzi jatuh ke tangan orang-orang yang salah, seperti Xavier." ucap Xiu.


Ratu Lien tersenyum tipis, kemudian merangkul pundak Xiu dan mengusap punggungnya.


"Tapi, sebenarnya ada satu keinginan ku yang belum terwujud mom." ucap Xiu.


"Hah? Apa itu sayang?" tanya ratu Lien.


"Aku ingin mengalahkan Xavier dengan tanganku sendiri, bahkan membunuhnya. Dia sudah membunuh ayahanda, aku tidak terima dengan itu mom. Dari dulu, aku selalu berlatih keras agar bisa melakukan semua itu." jawab Xiu.


"Mommy tau kamu sangat benci sama dia, tapi kamu harus bisa tahan itu semua sayang! Dendam itu gak baik, yang ada hanya bikin kamu menderita nantinya." ucap ratu Lien.


"Benar putri Xiu, sebaiknya engkau jangan terus dikuasai oleh dendam! Xavier itu memang jahat dan kejam, tetapi jika kamu bersikap seperti itu maka apa beda kamu dengan dia?" sahut Wein Lao.


"Iya, aku ngerti. Tapi, gak tahu kenapa aku gak bisa lupain semua itu begitu aja." ucap Xiu.


"Yaudah, sekarang kita kembali aja ke perguruan elang putih. Kamu harus istirahat yang banyak supaya hati kamu bisa dingin!" ucap ratu Lien.


Xiu mengangguk setuju, mereka pun pergi bersama-sama menuju perguruan elang putih dengan sang ratu merangkul putri Xiu.




Tanpa sengaja, rombongan ratu Lien itu bertemu dengan Ryu dan para pasukannya saat hendak menuju perguruan elang putih.


Sontak saja Ryu terkejut lantaran sang ratu sudah kembali dan tidak ada raja Ling diantara mereka, itulah yang membuatnya penasaran.


"Loh ratu, ini semua sudah selesai? Dimana raja Ling dan pasukannya?" tanya Ryu keheranan.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir Ryu, mereka semua telah berhasil dikalahkan oleh putriku dan juga pangeran Lao. Jadi, sekarang kita bisa tenang karena kita sudah memenangkan pertarungan ini!" jawab ratu Lien.


"Hah? Wah syukurlah kalau begitu! Putri Xiu sama pangeran Lao memang hebat, kalian berdua bisa bikin raja Ling kocar-kacir! Paman salut sama kalian!" ucap Ryu sambil tersenyum.


"Paman bisa aja, aku gak hebat kok. Tapi, Wein Lao nih yang jago banget." ujar putri Xiu.


"Ah enggak, masih lebih jago tuan putri." ucap Wein Lao.


"Hebatan kamu tau," ucap putri Xiu.


"Enggak putri, tetap tuan putri paling hebat." ucap Wein Lao.


"Mana ada? Jelas-jelas kamu tadi yang kalahin raja Ling sampe dia terkapar, itu artinya kamu lebih hebat daripada aku!" ucap putri Xiu.


"Hey, sudah-sudah! Ini kenapa jadi pada debat sih? Kalian berdua itu sama-sama hebat, udah selesai kan?!" ucap ratu Lien menengahi.


"Hehe, maaf mom!" ucap putri Xiu.


"Yasudah, jangan debat lagi! Ryu, sepertinya mereka butuh minum untuk mencegah perdebatan itu. Kamu siapkan minuman untuk mereka ya!" pinta ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Ryu.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, Xiu masih tampak mencuri-curi pandang ke arah Wein Lao tanpa sepengetahuan pria itu.


"Aku kok jadi gini ya? Apa aku punya rasa sama Wein Lao?" batin Xiu.


Namun, rupanya tatapan Xiu itu diketahui oleh Zheng yang berada tak jauh darinya.


Zheng pun nampak tidak suka, bisa dibilang dia cemburu karena Xiu terus saja memperhatikan Wein Lao bukan dirinya.


Tapi apa boleh buat, Zheng tak mempunyai hak untuk melarang Xiu melakukan itu karena dia bukan siapa-siapa gadis itu.


"Sadar Zheng, sadar! Kamu itu bukan siapa-siapa tuan putri, dan gak akan mungkin juga bisa jadi pasangannya. Sekarang aku jadi paham kata-kata paman Ryu waktu itu, aku harus buang jauh rasa cintaku karena Xi Mei ternyata adalah putri Xiu." gumam Zheng dalam hati.


"Hey Zheng! Kamu kenapa melamun aja? Ada masalah?" tanya Felix dengan berbisik.


"Ah guru, tidak kok. Aku hanya senang karena kita bisa menang dalam peperangan kali ini," jawab Zheng berbohong.


"Yakin? Lalu, kenapa kamu ngeliatin putri Xiu terus daritadi?" tanya Felix sambil tersenyum tipis.


"Hah? Aku gak gitu kok, aku bukan lihatin putri Xiu doang, tapi semuanya." elak Zheng.


"Oh gitu, yasudah gausah panik gitu dong! Kamu juga hebat kok Zheng, walau gak sehebat pangeran Lao." ucap Felix.


Zheng cukup terkejut dengan ucapan Felix, ia tak mengerti mengapa Felix mengatakan itu padanya.


"Maksud guru Felix apaan sih? Kenapa coba ngomong begitu di depan aku? Apa dia tahu kalau aku lagi cemburu sama Wein Lao, karena dia dekat banget sama putri Xiu?" batin Zheng.


Bahkan, sedari tadi Wein Lao terus saja tersenyum renyah di samping putri Xiu walau tak sadar jika ia sedang diperhatikan oleh gadis itu.


"Lama-lama aku jadi makin betah disini, apalagi kalau bisa ada di dekat tuan putri Xiu terus. Gak tahu kenapa, rasanya tiap kali deketan sama putri Xiu aku selalu bahagia banget." batin Wein Lao.


Karena terus asyik memandangi Wein Lao, putri Xiu sampai tidak melihat ke depan dan berujung pada tersandung oleh batu.


Dugg...


"Akh!" pekik Xiu pelan sembari memegangi kakinya.


"Hah? Tuan putri?" Wein Lao langsung sigap membantu Xiu saat gadis itu tersandung.


"Tuan putri gapapa?" tanya Wein Lao cemas.


Lagi dan lagi, Zheng harus melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Wein Lao memegang tangan putri Xiu kali ini.




Saat tiba di perguruan elang putih, putri Xiu langsung menemui Xavier yang sudah menjadi tahanan mereka disana.


Tampak kalau Xavier tengah duduk dengan kedua tangan terikat kuat dan dijaga oleh para ninja serta anak murid Felix.


Xiu pun tersenyum senang melihat itu, ia puas karena Xavier sudah ditangkap walau sebenarnya ia masih ingin menghabisi pria itu.


"Hahaha, lihatlah nasib kamu sekarang ini pengkhianat! Kamu sekarang bukan lagi raja Quangzi, tapi justru akan menjadi tahanan Quangzi yang dibenci oleh seluruh masyarakat!" ujar Xiu.


"Kamu salah Xiu! Para rakyat Quangzi tidak membenciku, mereka justru mencintaiku. Aku ini pemimpin yang baik dan adil, aku bisa membuat mereka merasakan keadilan. Tidak seperti ayahmu dahulu, yang selalu bersikap semena-mena terhadap rakyat kecil!" ucap Xavier.


"Kurang ajar! Disaat seperti ini, masih saja kamu berani membawa-bawa nama ayahku. Apa kamu ingin kuhabisi Xavier?!" geram putri Xiu yang hendak menyerang Xavier.


Namun, tangan ratu Lien sigap untuk mencegah putri Xiu melakukan itu.


"Tahan putriku, kamu harus sabar dan bisa menahan diri! Xavier memang sengaja ingin memancing amarah mu, itu sebabnya kamu jangan sampai terpancing!" ucap ratu Lien.


"Iya mom, maaf!" ucap putri Xiu.


Ratu Lien beralih menatap Xavier, mereka pun bertatapan cukup lama tanpa ada satupun diantara mereka yang berbicara.

__ADS_1


Plaaakk...


Tiba-tiba saja ratu Lien menampar wajah Xavier cukup keras, membuat semua orang disana terkejut bukan main melihatnya.


"Kamu apa-apaan Lien? Kenapa kamu tampar aku? Aku ini suami kamu loh," tanya Xavier.


"Jangan bilang begitu lagi! Aku ini udah bukan istri kamu lagi, jadi diantara kita sudah gak ada hubungan apa-apa. Kamu itu sekarang tahanan Quangzi, dan kamu pantas mendapatkan itu!" ucap ratu Lien emosi.


"Bisa-bisanya kamu bilang seperti itu, aku bukan tahanan Quangzi dan sampai kapanpun itu gak akan pernah terjadi!" ucap Xavier.


"Asal kamu tahu Lien, aku masih punya anak di Quangzi dan dia juga anak kamu. Jadi, aku ini berhak untuk tinggal di istana bersama anak kita sayang." sambungnya.


"Kamu jangan mimpi! An Ming memang anak kamu, tapi bukan berarti kamu bisa ikut tinggal di istana sama kami!" ucap ratu Lien.


"Kenapa begitu?" tanya Xavier.


"Karena kamu itu penjahat, dan tempat yang paling pantas untuk penjahat seperti kamu ya cuma di penjara!" jawab ratu Lien.


"Waduh, kamu kejam banget sih Lien! Tolonglah jangan begitu, maafin aku ya!" ucap Xavier.


"Maaf gak akan ada untuk kamu Xavier, dan berhenti panggil aku Lien! Mulai saat ini, aku telah resmi menjabat sebagai ratu Quangzi dan aku yang memimpin Quangzi!" ucap ratu Lien.


Wein Lao dan Xiu tersenyum bersamaan, sedangkan Xavier masih menatap ratu Lien dengan wajah kesalnya.


"Lao, dimana mahkotanya?" tanya ratu Lien.


"Ah sebentar ratu," ucap Wein Lao.


Wein Lao pun mengambil mahkota milik Quangzi dan menyerahkan itu kepada ratu Lien.


"Ini ratu," ucap Wein Lao.


"Terimakasih Lao!" ucap ratu Lien.


Ratu Lien langsung menunjukkan mahkota itu di depan Xavier, ia tersenyum lalu memakainya di hadapan semua orang.


"Kamu lihat kan Xavier? Mahkota ini sekarang sudah menjadi milikku, bukan kamu lagi!" ucap ratu Lien.


"Wah mommy cantik banget pake mahkota itu!" ucap Xiu.


"Bisa aja kamu Xiu, nantinya ini juga bisa kamu pakai kok sayang. Kamu itu pewaris sah dari Quangzi, kamu berhak atas mahkota ini!" ucap ratu Lien.


"Enggak ah mom, aku gak mau." ucap Xiu.


"Hah? Kenapa?" tanya ratu Lien bingung.


"Ya karena yang bakal pimpin Quangzi nanti kan pangeran Lao," jawab Xiu sambil tersenyum menghadap ke arah Wein Lao.


Sontak semuanya dibuat terkejut dengan jawaban Xiu, mereka tak mengerti apa maksud Xiu mengatakan itu.




Singkat cerita, Wein Lao menghampiri Xiu di taman samping perguruan elang putih.


Wein Lao masih bingung mengapa Xiu berkata seperti tadi di depan ratu dan yang lainnya.


"Tuan putri?" ucap Wein Lao pelan.


"Eh Lao, kenapa?" tanya Xiu.


"Boleh gak aku ikut duduk di samping kamu? Ada yang mau aku tanyakan sama kamu," ucap Wein Lao.


"Ah iya, boleh kok. Duduk aja!" ucap Xiu.


"Makasih!" ucap Wein Lao.


Wein Lao pun duduk di samping Xiu, menatap ke arahnya sambil tersenyum tipis.


"Ada apa Lao?" tanya Xiu heran.


"Aku cuma mau tanya sama kamu, soal ucapan kamu tadi siang. Daritadi aku masih kepikiran, maksud kamu bicara begitu apa sih?" ucap Wein Lao.


"Ohh, udah lah gausah dibahas lagi! Aku kan cuma bercanda tau, kamu jangan mikirin itu ya!" ucap Xiu.


"Bercanda? Aku kira kamu lagi serius," ucap Wein Lao.


"Emangnya kenapa? Kamu kepengen pimpin Quangzi beneran? Kalau emang iya, kamu bisa coba bilang ke mommy kok." ucap Xiu.


"Hah? Eee enggak kok, aku cuma penasaran aja tadi. Aku sama sekali gak berharap buat jadi pemimpin di Quangzi, karena itu bukan ranah aku. Justru aku bahagia ngeliat Quangzi sudah kembali dipimpin oleh orang yang benar," ucap Wein Lao.


Xiu mengangguk sambil tersenyum tipis, menatap ke arah Wein Lao tanpa berkedip sedikitpun.


"Andai kamu tahu Lao, sebenarnya aku serius tadi. Aku pengen kamu jadi pemimpin Quangzi, setelah kita menikah nanti." batin Xiu.


"XIU!!"

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2