Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 56. Zheng datang


__ADS_3

"Yaudah, kamu duduk dulu gih sana! Istirahat sebentar sebelum mulai latihan, sambil nunggu yang lain juga." ucap Ryu.


"Emangnya boleh guru?" tanya Xi Mei ke Felix.


"Boleh Xi Mei, tapi nanti kalau yang lainnya udah siap kamu harus ikutan baris di lapangan ya buat pemanasan!" jawab Felix.


"Siap guru!" ucap Xi Mei menurut.


Xi Mei pun duduk di bangku yang tersedia, mengipas-ngipas lehernya dan mengambil nafas.


"Capek banget ya?" ujar Wein Lao.


"Hah? Eee..." Xi Mei langsung gugup dan salah tingkah saat didekati oleh pria itu.


"Gausah gugup gitu, wajar kok kamu capek. Maaf ya karena semalam aku telat bantuin kamu buat usir nyamuk-nyamuk itu!" ucap Wein Lao.


"Kamu gak perlu minta maaf, itu bukan salah kamu tau!" ucap Xi Mei tersenyum manis.


Mereka saling pandang selama beberapa detik hingga membuat Ryu serta Felix senyum-senyum disana.


"Ehem ehem.." Ryu berdehem pelan.


Xi Mei dan Wein Lao terkejut secara bersamaan, mereka langsung reflek menjauh dan salah tingkah saat ditatap oleh kedua pria dewasa itu.


"Ada apa paman? Latihannya sudah mau dimulai ya?" tanya Xi Mei berdiri dari duduknya.


"Ah tidak, kamu lanjutkan saja tatap-tatapan sama Wein nya! Paman sama guru kamu mau pergi sebentar kesana, ada sesuatu yang harus kita cek disana." jelas Ryu.


"Ta-tapi paman.."


"Gapapa Xi Mei, kamu disini dulu aja sama Wein! Nanti kita kembali lagi kok, sekalian mulai latihan pertama buat kamu." potong Felix.


"Baik guru!" ucap Xi Mei menurut.


Setelahnya, Ryu dan Felix pun pergi meninggalkan Xi Mei berdua dengan Wein Lao disana.


"Wein, kamu gak mau pergi juga?" tanya Xi Mei.


"Hah? Kalau kamu pengen aku pergi dari sini, yaudah aku bakal pergi kok." ucap Wein Lao.


"Ya enggak lah, aku justru maunya kamu disini biar ada yang nemenin aku." kata Xi Mei.


"Oh oke, aku bakal tetap disini." ucap Wein Lao.


"Terimakasih!" ucap Xi Mei tersenyum.


"Eee Xi Mei, aku mau minta izin deh sama kamu." kata Wein Lao ragu-ragu.


"Loh, minta izin apa? Emangnya kamu mau kemana?" tanya Xi Mei penasaran.


"Iya Xi Mei, rencananya aku sama yang lain mau pergi dari sini. Tugas kita kan udah selesai buat kawal kamu dan pasukan kamu sampai kesini, jadi kita harus kembali ke wilayah kita." jelas Wein Lao.


"Kamu mau pergi? Kenapa gak tinggal disini aja selama beberapa hari ke depan, sekalian temenin aku?" tanya Xi Mei tampak bersedih.


"Tidak bisa Xi Mei, kami harus kembali ke istana dengan segera! Maafkan kami ya Xi Mei, tapi jika kamu membutuhkan bantuan maka kamu bisa memanggil kami kok!" ucap Wein Lao.


"Yaudah deh, gapapa." kata Xi Mei murung.


"Xi Mei, kamu jangan sedih gitu dong! Walaupun aku dan pasukan pergi, kamu kan gak sendiri. Masih ada paman kamu yang temani kamu disini, jadi kamu harus semangat ya! Bukannya kamu mau berlatih ya dengan guru Felix?" ujar Wein Lao.


"Iya Wein Lao, aku tidak sedih kok. Terimakasih ya sudah menemani aku sampai sini!" ucap Xi Mei.


"Sama-sama, Xi Mei." kata Wein Lao.


"Oh ya, kapan kamu akan pergi?" tanya Xi Mei.


"Mungkin nanti siang, aku ingin melihat kamu latihan dulu bersama guru Felix. Sepertinya seru menonton kamu berlatih," jawab Wein Lao.


"Ahaha, tentu saja. Pasti akan sangat seru menyaksikan aku berlatih nantinya," ujar Xi Mei.


"Mengapa begitu?" tanya Wein Lao.


"Karena aku akan menunjukkan beberapa kemampuan yang aku kuasai nanti," jawab Xi Mei.


"Waw aku tidak sabar untuk itu!" ujar Wein Lao.


"Yasudah, ayo kita kesana!" ucap Xi Mei tanpa sadar menggenggam tangan Wein Lao.


Pria itu tak menepis tangan Xi Mei, justru menikmati dan ikut melangkah bersama Xi Mei untuk bersiap berlatih.




Sementara itu, Zheng bersama pasukannya telah tiba di depan perguruan Felix sesuai perintah dari ratu Lien pada mereka.


Sontak saja Zheng hendak masuk ke dalam untuk menemui Xi Mei, kebetulan ia juga sudah sangat merindukan gadis itu.


Namun, saat hendak masuk mereka justru dicegat oleh pasukan werewolf yang berjaga di depan pintu masuk itu.

__ADS_1


"Berhenti! Kalian mau kemana?" ucapnya.


"Kami ingin masuk ke dalam menemui guru Felix dan salah seorang muridnya," jawab Zheng.


"Ada keperluan apa?" tanya werewolf itu lagi.


"Tidak ada, kami hanya ditugaskan oleh ratu Lien dari istana Quangzi untuk datang kesini dan menemui pendekar Xi Mei di dalam sana. Apa kalian tetap ingin melarang kami?" jelas Zheng.


"Hah?" werewolf itu terkejut dan saling pandang satu sama lain.


"Maafkan kami! Kami tidak tahu jika kalian adalah utusan dari istana Quangzi, kalau begitu silahkan masuk ke dalam!" sambungnya.


"Baiklah, terimakasih!" ucap Zheng seraya berbalik menatap para prajuritnya. "Kalian semua tetap disini, bantu mereka menjaga gerbang ini agar tidak ada penyusup!" lanjutnya.


"Siap!" ucap prajurit itu serentak.


Lalu, Rube si ninja yang turut berjaga disana langsung menghampiri Zheng berniat mengantar pria itu masuk ke dalam.


"Mari tuan, biar saya antar ke dalam!" ucap Rube.


"Siapa kau?" tanya Zheng heran.


"Perkenalkan, aku adalah Rube. Aku ini yang sudah mengawal non Xi Mei serta tuan Ryu selama dalam perjalanan menuju kemari, dan mereka berdua juga temanku namanya Ah Shin serta Rulli." jelas Rube.


"Baiklah, kalau begitu antar aku untuk bertemu dengan pendekar Xi Mei!" pinta Zheng.


"Siap tuan! Mari ikuti kami!" ucap Rube.


Zheng mengangguk pelan, lalu masuk mengikuti langkah kaki Rube dan kedua ninja lainnya.


Zheng cukup terpukau melihat luasnya tempat perguruan tersebut.


"Waw indah sekali!" ucap Zheng spontan.


"Tentu saja tuan, tempat ini memang salah satu perguruan paling indah di negeri kita. Selain itu, disini juga merupakan tempat terkuat yang sangat cocok bagi para pendekar di luaran sana untuk menambah ilmu mereka." kata Rube.


"Pantas saja Xi Mei memilih berlatih disini, rupanya tempat ini memang benar-benar luar biasa! Saya jadi tertarik untuk ikut berlatih disini," ucap Zheng.


"Hahaha, mengapa tuan tidak ikut mendaftar saja seperti nona Xi Mei?" tanya Rube terkekeh kecil.


"Itu yang aku inginkan, tapi sulit terjadi karena aku harus mengabdi pada istana." jawab Zheng.


"Benar juga, tuan kan sudah bekerja di istana. Jadi, sebaiknya tuan fokus saja menjaga istana dan tidak usah berlatih lagi!" ujar Rube.


"Ya, sekarang dimana Xi Mei? Mengapa daritadi aku tidak melihatnya?" tanya Zheng penasaran.


"Eee mungkin nona Xi Mei sudah mulai berlatih, mari kita lihat kesana tuan!" jawab Rube.


"Siap tuan!" ucap Rube menurut.


Rube pun menuntun Zheng menuju tempat Xi Mei berada, sedangkan dua ninja lainnya melangkah di belakang Zheng secara perlahan.


"Saya heran deh, kenapa pria utusan istana itu menyebut putri Xiu dengan nama Xi Mei? Apa dia tidak tahu jika Xi Mei adalah tuan putri Xiu?" tanya Rulli berbisik di telinga Ah Shin.


"Dasar bodoh! Kan sudah dibilang, Xi Mei itu sedang menyamar. Jadi, mungkin dia juga berpura-pura tak mengenali putri Xiu. Sudahlah, jangan berisik!" ujar Ah Shin.


"Iya iya, santai aja dong! Saya kan cuma tanya," ucap Rulli tampak bete.


Tak lama kemudian, mereka menemukan keberadaan Xi Mei yang tengah bersama Wein Lao di depan sana.


"Nah tuan, itu dia nona Xi Mei!" ucap Rube.


Zheng langsung mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjukkan Rube, namun seketika raut kesenangannya berubah saat melihat Xi Mei dan laki-laki lain disana.


"Siapa lelaki yang bersama Xi Mei itu? Kenapa mereka kelihatan dekat sekali?" batin Zheng.




Xi Mei masih belum menyadari keberadaan Zheng di belakangnya, ia tampak fokus memperhatikan guru Felix yang tengah memberi pengarahan kepada beberapa anak muridnya.


Wein Lao yang berada di sampingnya juga hanya terus menatap ke depan, menyaksikan keterampilan guru Felix dalam mengajari beberapa muridnya disana.


"Mei, kayaknya kualitas mereka ini masih di bawah kamu semua. Mungkin aja kamu bisa jadi murid terbaik di tempat ini," ujar Wein Lao.


"Kamu bicara apa sih? Mereka itu hebat-hebat loh, lagian emang mereka ini kan masih level dasar. Bisa jadi ada murid-murid lain yang lebih tinggi dari mereka dan juga lebih hebat daripada aku," ucap Xi Mei.


"Ya iya sih, tapi tetap aja lebih hebat kamu daripada siapapun yang ada disini." kata Wein Lao.


"Kamu berlebihan ah! Sehebat-hebatnya aku, pasti masih ada yang lebih hebat dari aku. Contohnya ya kamu ini, kamu itu kan werewolf yang udah pasti punya kekuatan hebat." ucap Xi Mei.


"Ah tidak kok, saya tidak memiliki kekuatan hebat atau apalah itu." ucap Wein Lao merendah.


"Kamu sukanya merendah aja, padahal aku tau kok kalau kamu jago. Coba dong sekali-kali kamu tunjukin ke aku kekuatan kamu itu!" ujar Xi Mei.


"Gak bisa Xi Mei," ucap Wein Lao.


"Kenapa?" tanya Xi Mei penasaran.

__ADS_1


"Aku bukan orang yang suka pamer, jadi aku cuma bisa tunjukin kekuatan aku disaat-saat genting." jawab Wein Lao.


"Ohh, jadi maksud kamu, aku ini suka pamer ya? Soalnya kan aku kemarin tunjukin kemampuan panah aku ke guru Felix," ucap Xi Mei.


"Ya enggak lah, itu kan kamu tunjukin kekuatan kamu biar supaya guru Felix tau kalau kamu punya kemampuan yang hebat. Jadi, itu mah gak termasuk pamer dong cantik." ucap Wein Lao.


"Apa? Kamu barusan bilang apa? Cantik? Aku gak salah dengar nih, ternyata manusia serigala bisa gombal juga ya." ujar Xi Mei tersipu malu.


"Gak ada salahnya kan?" ucap Wein Lao.


Deg!


Jantung Xi Mei seakan berhenti berdetak saat ditatap seperti itu oleh Wein Lao, ia langsung salah tingkah dan membalikkan badannya.


"Loh, kamu kenapa Xi Mei?" tanya Wein Lao heran.


"Eee gak kok, gapapa." jawab Xi Mei berbohong.


"Kamu jangan balik badan gitu dong! Aku jadi gak enak nih dipunggungin begitu," ucap Wein Lao.


"Biarin aja," ucap Xi Mei singkat.


Disaat Wein Lao hendak menyentuh pundak Xi Mei, tiba-tiba saja seseorang muncul dari belakang dan berdiri tepat di samping mereka berdua.


"Permisi nona, tuan Lao!" ucap Rube yang datang bersama Zheng serta dua ninja lainnya.


"Ah iya, ada apa?" tanya Wein Lao menatap keheranan saat melihat Zheng. "Dia siapa?" sambungnya menunjuk ke arah Zheng.


"Eee beliau ini utusan istana Quangzi, beliau diutus oleh ratu Lien untuk menjaga nona Xi Mei selama berguru di tempat ini." jawab Rube.


"Utusan istana?" Wein Lao terkejut mendengarnya.


"Iya, perkenalkan saya Zheng." ucap Zheng pelan.


Sontak Xi Mei langsung membalikkan badannya begitu mendengar suara Zheng, ia menganga lebar tak menyangka dengan kehadiran Zheng disana.


"Zheng?" ucap Xi Mei spontan.


"Halo Xi Mei!" ucap Zheng menyapa sambil tersenyum tipis.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Xi Mei bingung.


"Aku diminta ratu Lien buat jaga kamu. Aku juga bingung sih sebenarnya kenapa ratu minta begitu, tapi sebagai pasukan istana aku harus menuruti permintaan ratu itu." jelas Zheng.


Xi Mei terdiam, seketika pikirannya terarah pada sosok ratu Lien alias ibunya itu.



"Kamu kenapa Xi Mei? Kok tiba-tiba jadi sedih gitu? Kamu sangking kangennya ya sama aku, makanya kamu sampai sedih pas lihat aku ada disini?" ujar Zheng berharap.


"Hah? Enggak kok, bukan gara-gara itu. Aku juga gak sedih tau, aku cuma lagi mikir aja kenapa ratu suruh kamu kesini." elak Xi Mei.


"Masa sih? Terus, kamu senang gak aku datang kesini buat temenin kamu?" tanya Zheng.


"Umm, senang kok. Jadinya ada orang yang bakal temenin aku, setelah Lao pergi." jawab Xi Mei sembari melirik ke arah Wein Lao.


"Bagus deh, terus kamu gak mau gitu peluk aku? Kita kan udah lama gak ketemu, apa kamu gak kangen sama aku?" ucap Zheng.


"Eee aku..." Xi Mei tampak bingung.


Sementara Wein Lao justru menatap heran ke arah Zheng, ia merasa curiga sekaligus cemburu ketika Zheng hendak memeluk Xi Mei di depannya.


Wein Lao akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana dan membiarkan Zheng serta Xi Mei berduaan agar tidak mengganggunya.


"Xi Mei, aku permisi dulu ya!" ucap Wein Lao.


"Loh, kamu mau kemana?" tanya Xi Mei.


"Keluar sebentar, ada yang mau aku omongin sama pasukan aku disana." jawab Wein Lao.


"Oh gitu, yaudah gapapa." ucap Xi Mei.


Wein Lao mengangguk kecil, lalu pergi begitu saja meninggalkan Xi Mei dan Zheng berduaan.


"Mei, dia siapa?" tanya Zheng penasaran.


"Itu Wein Lao, raja werewolf yang aku temui di hutan kemarin. Dia juga yang sudah menemaniku sampai kesini," jawab Xi Mei.


"Ohh, kamu suka ya sama dia?" tanya Zheng.


"Hah? Maksud kamu?" ujar Xi Mei terkejut.


"Abaikan aja, itu gak penting. Sekarang boleh kan aku peluk kamu? Jujur loh, aku kangen banget sama kamu!" ucap Zheng meminta izin.


"Umm gimana ya...??" ujar Xi Mei berpikir.


Hugg...


Tanpa menunggu jawaban dari Xi Mei, Zheng langsung saja memeluk gadis itu dengan erat dan mengusap punggungnya di hadapan ketiga ninja yang masih tercengang disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2