Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 99. Lepas


__ADS_3

Xiu dan Wein Lao masih terus mengikuti langkah kaki raja Ling serta Reiner yang tengah menuju tempat tinggal istrinya itu.


Mereka berusaha mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh raja Ling.


"Lao, aku capek tau! Rasanya aku mau balik ke istana deh terus istirahat di kamar, kaki aku udah pegal-pegal banget begini. Masih jauh ya jalannya?" keluh Xiu.


"Kamu gausah ngeluh deh! Kan kamu yang mau bantu raja Ling tadi, katanya kamu khawatir sama dia. Kalau aku sih sebenarnya udah pengen pulang, tapi kamu ngeyel tadi." ujar Wein Lao.


"Ya aku kan cuma takut aja kalau raja Ling nantinya malah diapa-apain sama panglima jahat itu! Kamu emang gak mikir apa soal itu semua? Dimana rasa perhatian kamu sayang?" ucap Xiu.


"Yaudah, kalo gitu gausah ngeluh!" ujar Wein Lao.


"Ih kamu jahat banget sih Lao! Masa kamu gak ngerti maksud aku? Aku itu mau digendong sama kamu, biar capek aku ilang." rengek Xiu.


"Hah? Dih, tadi aja kamu digendong sama aku malah minta turun terus. Sekarang ngapain kamu pengen digendong lagi sama aku?" ujar Wein Lao.


"Ya itu kan beda sayang, aku sekarang capek! Kamu gendong aku ya sayang? Katanya kamu suami yang perhatian, gendong aku dong biar aku gak capek lagi!" ucap Xiu.


"Kamu manja banget sih sayang! Kalo aku gendong kamu, nanti aku yang capek dong!" ujar Wein Lao.


"Ohh, jadi kamu gak mau gendong aku nih? Yaudah, aku bakal ngambek sampe besok!" ancam Xiu.


"Eh eh, jahat banget sih ancamannya gitu!" ucap Wein Lao seraya mencekal lengan istrinya.


"Ya makanya kamu mau gendong aku dong! Lagian apa salahnya sih kalau kamu gendong istri kamu sendiri?" ucap Xiu cemberut.


"Iya iya sayang, yaudah aku mau gendong kamu. Aku nurut aja deh sama apa yang kamu bilang, daripada kamu ngambek." ucap Wein Lao pasrah.


"Yaudah," ucap Xiu singkat.


Tanpa basa-basi lagi, Wein Lao langsung menggendong istrinya itu ala bridal style dan membuat wanita itu terkejut.


"Gimana? Kamu suka kan aku gendong kayak gini?" tanya Wein Lao sedikit menggoda.


"Suka dong, apalagi aku jadi gak capek lagi kalau digendong begini." jawab Xiu.


"Iya kamu emang gak capek, tapi aku yang capek sayangku cintaku!" ujar Wein Lao.


"Biarin aja lah, kamu lebih pilih aku yang capek atau kamu yang capek?" tanya Xiu.


"Yaudah iya, aku ngalah aja deh sama kamu cantik! Tapi, nanti malam kasih aku jatah ya?" ujar Wein Lao disertai kekehan kecil.


"Huft, dasar gak ngotak! Lagi keadaan kayak gini masih sempat-sempatnya bahas gituan, ayo cepat kita kejar raja Ling!" ucap Xiu.


"Tenang aja! Kita gak bakalan ketinggalan sama raja Ling kok," ucap Wein Lao.


Xiu mengangguk saja, sedangkan Wein Lao dengan susah payah berusaha terus berjalan walau harus menahan beban tubuh istrinya.


"Huh berat banget!" keluh Wein Lao.


"Ih jangan ngeluh terus sayang! Ayo lebih cepat lagi jalannya, tuh udah jauh loh raja Ling!" ujar Xiu.


"Kamu enak ngomong gitu, aku yang lagi gendong kamu kesusahan tau!" protes Wein Lao.


"Sabar sayang! Kamu kan suami yang perhatian sama istrinya, jangan ngeluh dong!" ujar Xiu.


"Ya ya ya.." Wein Lao menggeleng pelan.


"Hehehe.." Xiu terkekeh kecil dan mengusap wajah suaminya dengan lembut tanpa rasa bersalah.


"I love you, Wein Lao sayang!" ucap Xiu.


"Disaat begini aja kamu bilang love you love you, dasar!" cibir Wein Lao.


Xiu tersenyum lebar dan membuat Wein Lao merasa gemas, ingin sekali rasanya dia melahap bibir mungil wanita itu saat ini.




Sementara itu, raja Ling masih memaksa Reiner untuk membawanya ke tempat tinggal istri dari panglimanya itu.


Raja Ling tampak sangat emosi, ia sudah tidak sabar ingin segera menghabisi Reiner serta istrinya untuk membalas dendam.


Namun, tak mungkin jika raja Ling menyerang Reiner saat ini karena hanya Reiner satu-satunya jalan agar ia bisa bertemu dengan si pembunuh ayahnya.


"Cepatlah Reiner, jangan sengaja berlama-lama!" pinta raja Ling emosi.


"Maaf yang mulia! Hamba hanya tidak sanggup jika harus melihat istri hamba mati!" ucap Reiner.


"Begitu juga denganku Reiner, aku sangat tidak menyangka dengan kematian ayahku! Kamu tahu sendiri kan betapa aku kehilangan dia? Jangan merasa jadi korban ya kamu, karena kamu itu seorang pembunuh!" tegas raja Ling.


Reiner menunduk dengan tubuh gemetar ketakutan saat ditatap tajam oleh raja Ling.


Slaasshh...


Tiba-tiba saja sebuah cahaya menyerang ke arah mereka dan hampir saja mengenai tubuh raja Ling jika ia tak menghindar.


Namun, itu juga membuat Reiner berhasil melepaskan diri dari genggamannya dan dijadikan manfaat untuk kabur.


"Hah? Apa-apaan itu??" ujar raja Ling terkejut.

__ADS_1


Tentunya hal itu dijadikan kesempatan oleh Reiner untuk pergi menjauh dari raja Ling.


"Hey! Jangan pergi kamu!" teriak raja Ling.


Reiner terus berlari untuk menyelematkan diri, ia tidak mau jika harus mati di tangan raja Ling.


Raja Ling berusaha mengejar Reiner dan menangkapnya kembali.


"Hey berhenti!" teriak raja Ling.


Tak lama kemudian, seseorang muncul dan membawa Reiner pergi.


"Hah? Siapa itu?!" ujar raja Ling keheranan.


"Aaarrgghh sial! Dasar kurang ajar!" umpatnya.


Akibatnya, kini raja Ling sudah tidak bisa melihat keberadaan Reiner di sekitar sana.


Ia terus mengacak-acak rambutnya dan berteriak meluapkan emosi di dalam dirinya.


"Sial! Siapa yang membawa kabur Reiner? Kalau terus begini, gimana caranya saya bisa balas dendam sama dia?" ujar raja Ling.


Tiba-tiba saja Xiu serta Wein Lao muncul di dekatnya.


"Raja Ling, apa yang terjadi? Mengapa kau terlihat marah sekali? Lalu, dimana panglima Reiner yang jahat itu?" tanya Xiu bingung.


"Dia kabur dibawa seseorang," jawab raja Ling.


"Apa? Bagaimana bisa??" tanya Xiu terkejut.


"Tadi ada sinar cahaya yang mendekat ke arah saya, akibatnya saya menghindar dan itu dijadikan kesempatan sama Reiner untuk kabur. Lalu, ada seseorang yang muncul dan membawa dia kabur. Saya gak tahu siapa orang itu," jelas raja Ling.


"Hah? Lao, gimana ini? Kamu gak bisa gitu cari tahu mereka ada dimana sekarang?" tanya Xiu.


"Emangnya kamu pikir aku ini tau segalanya? Ya enggak lah cantik!" jawab Wein Lao.


"Tapi Lao, emangnya ayah kamu gak ada kasih alat buat melacak keberadaan seseorang gitu? Tadi aja portal waktu kamu punya, masa cuma pelacak aja enggak?" ujar Xiu.


"Enggak cantik, aku gak punya." kata Wein Lao.


"Terus sekarang gimana dong? Kita harus bantu raja Ling buat temuin panglima Reiner, supaya masalah dia cepat selesai!" ucap Xiu.


"Kalian gak perlu repot-repot begitu bantu saya! Saya akan urus semuanya sendiri, terimakasih ya atas perhatiannya!" ucap raja Ling.


Xiu dan Wein Lao saling bertatapan satu sama lain, sedangkan raja Ling tersenyum saja.


"Yasudah ya, saya permisi dulu!" ucap raja Ling.




Putri Xiu dan Wein Lao pun juga hendak kembali ke istana karena hari sudah menjelang malam.


Namun, tetap saja perasaan Xiu masih terus tidak enak memikirkan masalah raja Ling.


Wein Lao yang melihat itu coba membujuk istrinya agar tidak bersedih lagi.


"Hey cantik! Kamu kenapa, hm?" tanya Wein Lao.


"Aku gapapa, aku cuma mikirin raja Ling yang lagi sedih banget gara-gara Reiner kabur. Jadinya dia gak bisa deh balas dendam atas kematian ayahnya, kasihan tau!" jawab Xiu.


"Segitu perdulinya kamu sama raja Ling ya? Padahal dia udah sempat tuduh kamu dan mau balas dendam ke kamu," ujar Wein Lao.


"Itu kan dulu Lao, sekarang semuanya kan udah kebongkar. Makanya aku mau raja Ling bisa cepat tuntasin balas dendamnya, karena aku tau rasanya menyimpan dendam." ucap Xiu.


"Ya ya ya, terus sekarang kamu maunya apa sayangku? Kita harus ngapain?" tanya Wein Lao.


"Umm, kita bantu raja Ling ya sayang! Kita cari Reiner sampai ketemu, jangan pulang sebelum dia ketemu!" jawab Xiu.


"Hah? Kamu gila apa gimana si cantik? Yakali kita gak pulang demi nyari si pembunuh itu, males banget aku!" ujar Wein Lao.


"Kenapa sih Lao? Apa salahnya kita bantu raja Ling buat temuin Reiner? Kamu bisa minta bantuan ayah kamu, siapa tau bisa kan." ucap Xiu.


"Hadeh, kamu jangan terlalu baik lah sama orang! Kalau kamu kecapekan gimana nanti? Ini aja kamu udah minta gendong sama aku," ujar Wein Lao.


"Yaudah, kamu turunin aku!" pinta Xiu.


"Yakin? Emang kuat jalan sendiri?" tanya Wein Lao.


Xiu mengangguk disertai senyum manisnya, Wein Lao pun menurunkan tubuh istrinya itu ke bawah.


"Huh lega rasanya!" ucap Wein Lao.


"Ish, kok diturunin beneran sih?!" protes Xiu.


"Lah kenapa cantik? Tadi kan kamu sendiri yang minta diturunin, ya aku turunin lah. Lumayan juga jadinya aku gak pegal lagi," ucap Wein Lao.


"Oh gitu ya? Jadi, kamu emang gak mau gendong aku dan gak ikhlas? Dasar nyebelin kamu!" ucap Xiu kecewa.


"Gak gitu sayang, tadi kan—"

__ADS_1


"Udah ah!" Xiu memotong ucapan Wein Lao dan pergi begitu saja dari sana.


"Hey, tunggu sayangku cintaku!" teriak Wein Lao.


Wein Lao bergerak mengejar Xiu dan berhasil mencekal lengan wanita itu, sehingga akhirnya Xiu terpaksa menghentikan langkahnya.


"Apaan sih Lao? Ngapain kamu tahan aku? Aku mau cari Reiner sendiri!" ucap Xiu.


"Jangan ngambek dong sayang! Aku gendong lagi ya supaya kamu gak capek?" ujar Wein Lao.


"Gausah, nanti kamu pegel dan malah nyalahin aku!" cibir Xiu.


"Enggak kok sayang, yang tadi aku ngaku aku salah. Aku minta maaf ya sama kamu! Sekarang kita cari Reiner bareng-bareng, okay?!" bujuk Wein Lao sambil tersenyum.


"Huft, beneran nih kamu mau bantu aku buat cari Reiner?" tanya Xiu.


Wein Lao hanya tersenyum, lalu menggendong tubuh wanita itu secara mendadak.


"Iya sayang, aku akan bantu kamu!" ucapnya.


"Ih kamu mah!" ujar Xiu.


Disaat mereka hendak melangkah lagi, tiba-tiba saja seorang wanita muncul menghadang mereka di depan sana.


"Hah? Siapa itu sayang??" tanya Xiu terkejut.


"Aku juga gak tahu, tapi kamu tenang aja ya jangan panik!" ucap Wein Lao.




Sementara itu, Reiner yang sebelumnya dibawa oleh seseorang itu kini sudah berada di sebuah tempat yang jauh dari wilayah masyarakat.


"Uhuk uhuk.."


Reiner terbatuk-batuk sembari memegangi bagian tubuhnya yang terluka, ia melirik ke arah wanita bertopeng yang berdiri di sampingnya itu.


Perlahan wanita itu membuka topengnya, lalu menunjukkan wajahnya kepada Reiner sambil tersenyum lebar.


"E-emy??" ucap Reiner terkejut saat melihatnya.


"Jangan bergerak dulu! Tubuhmu itu terluka parah, kamu diam saja disitu!" ucap wanita itu.


"Ya, tapi bagaimana kamu bisa tahu kalau aku ditangkap raja Ling?" tanya Reiner.


"Aku tak sengaja melihatnya tadi, aku curiga saja kenapa kamu dan raja Ling ada di daerah ini. Ternyata benar kalau kamu sudah tertangkap, bagaimana raja Ling bisa tahu?" ucap Emy.


"Aku juga bingung, padahal tadinya dia masih mengira kalau pembunuh ayahnya itu adalah putri Xiu. Tapi, tiba-tiba saja dia datang dan langsung tangkap aku. Dia paksa aku buat bawa dia ketemu sama kamu," jelas Reiner.


"Sial! Apa yang sudah diperbuat oleh putri Xiu sampai raja Ling bisa tahu semuanya? Ini benar-benar tidak beres!" ujar Emy.


"Entahlah, tapi kita tidak usah pusing memikirkan tentang itu! Sebaiknya kita harus segera pergi dari sini, sebelum raja Ling dan pasukannya datang kesini!" ucap Reiner.


"Kamu terluka, memangnya kamu bisa pergi sekarang?" tanya Emy.


"Aku baik-baik saja selama ada kamu di sebelahku, sayang." jawab Reiner dengan rayuan.


"Jangan gombal! Sekarang bukan waktunya buat begitu, ingat kita lagi diincar raja Ling!" ujar Emy.


"Iya aku tahu, makasih ya karena kamu udah selamatin aku tadi! Kalau gak ada kamu, mungkin aja raja Ling udah tau tempat ini." ucap Reiner.


"Iya, aku juga gak mau kali raja Ling datang kesini. Pasti dia bukan cuma bunuh kamu, tapi aku juga." ucap Emy.


"Itu dia sayang, aku belum siap kalau kita harus berpisah." ucap Reiner.


"Ini semua salah kamu! Kenapa kamu gak awasin pergerakan putri Xiu? Aku yakin dia pasti lakuin sesuatu sama raja Ling!" ucap Emy.


"Mungkin iya, soalnya raja Ling jadi percaya banget sama Xiu dan malah nuduh aku!" ujar Reiner.


"Haish, yasudah kamu istirahat aja dulu! Aku buatin ramuan herbal ya buat kamu? Supaya luka di tubuh kamu bisa cepat sembuh, terus kita bisa langsung pergi dari sini." ucap Emy.


"Boleh tuh, jangan lama-lama ya sayang!" ucap Reiner sambil tersenyum.


Emy mengangguk pelan, kemudian masuk ke dalam tempat tersebut untuk membuat ramuan penyembuh luka.


Sementara Reiner tetap menunggu di depan sana sambil terus mengusap dadanya yang terasa sesak.


"Huh sakitnya!" keluh Reiner.


"Hey panglima Sidhagat!" Reiner amat kaget mendengar suara tersebut, tiba-tiba saja Alice beserta gerombolan iblisnya sudah berada di tempatnya.


"A-apa yang kamu lakukan disini? Bagaimana kamu tahu tempat ini?" tanya Reiner gugup.


"Aku ini ratu iblis, aku bisa dengan mudah melacak keberadaan seseorang yang aku ingin cari tahu. Kamu tidak usah banyak tanya, karena aku kesini ingin mengajakmu bekerjasama." ucap Alice.


"Kerjasama??" tanya Reiner terkejut.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2