Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 102. Lamaran?


__ADS_3

"Lao, kenapa berhenti? Kita sudah sampai?" tanya Xiu penasaran.


Cup!


"Iya sayang, kita baru aja sampai." jawab Wein Lao seraya mengecup pipi wanita itu.


"Eee boleh aku lihat sekarang?" tanya Xiu.


"Tentu saja, sini biar aku bantu buka kainnya ya!" jawab Wein Lao sembari membuka kain penutup tersebut dari mata istrinya.


Xiu mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menetralkan pandangannya, ia langsung syok berat begitu menyaksikan apa yang ada di depan matanya.


Sebuah taman bunga yang indah nan cantik itu sangat menyejukkan matanya, kupu-kupu yang terbang di sekitarnya serta kicauan burung-burung menambah kesan damai disana.


"Hah? Ini tempat apa Lao? Indah sekali seperti di surga, aku benar-benar kagum dengan tempat ini!" ucap Xiu terpesona.


"Ini kebun bunga milikku, aku sengaja mendesain semua ini untuk kamu sayangku." ucap Wein Lao.


Wanita itu tersentak kaget mendengar ucapan yang dilontarkan suaminya, ia reflek menoleh menatap wajah Wein Lao seakan tak percaya.


"Serius??" tanya Xiu memastikan.


"Iya cantik, kalo gak percaya tanya aja sama semua prajurit serigala!" jawab Wein Lao.


"Iya iya, aku percaya kok! Makasih ya sayang, kamu selalu bisa bikin aku bahagia!" ucap Xiu sembari membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Sama-sama sayang, aku kan gak mau istri kecil aku ini sedih walau sekali!" ucap Wein Lao.


Xiu tersenyum lebar dan semakin membenamkan wajahnya disana, sedangkan Wein Lao juga merapatkan dekapannya seolah tak mau wanita itu terlepas darinya.


"Senang sekali ya kalian berdua? Peluk-pelukan di atas kuda, sungguh romantis!"


Suara itu mengejutkan keduanya yang tengah asyik berpelukan, mereka menoleh ke samping dan menangkap seorang wanita berdiri disana.


"Kau lagi kau lagi, apa maumu ha?!" geram Wein Lao yang merasa terusik dengan kehadiran wanita itu.


"Hahaha, baguslah kamu masih mengenalku pangeran serigala!" ucap wanita itu.


"Tidak usah banyak basa-basi kamu! Katakan saja langsung apa mau kamu dan kenapa kamu selalu mengusik kita berdua!" ujar Wein Lao.


"Sabarlah pangeran! Apa begini sikap dari para petinggi istana? Aku kesini datang baik-baik loh, bukan ingin cari ribut." ucap wanita itu.


"Ya memang, tapi setiap kali kau muncul selalu saja bikin aku kesal! Apalagi perkataan kamu sebelumnya yang ingin menghancurkan Quangzi, itu sangat membuat kamu emosi!" ucap Wein Lao.


"Tidak perlu emosi, karena itu semua kan akan terjadi nanti. Kalian itu cukup berjaga-jaga saja, supaya istana kalian tidak hancur!" ucap wanita itu.


"Kamu pikir semudah itu menghancurkan Quangzi, ha? Bahkan untuk menyentuh bagian depannya saja, kau tidak akan mampu perempuan aneh!" ucap Wein Lao.


"Kita lihat saja nanti pangeran, siapa yang akan memenangi pertempuran ini!" ucap wanita itu.


"Jika kamu menantang Quangzi, jangan harap kamu bisa lepas begitu saja!" ucap Xiu.


Wanita itu menatap sang putri dengan senyum seringai di bibirnya, sedangkan Xiu tampak bingung siapa sebenarnya wanita di hadapannya itu.


"Aku pergi dulu, selamat bersenang-senang ya kalian berdua!" ucap wanita itu.


Setelahnya, wanita itu pun pergi menghilang dari hadapan keduanya.


"Sialan emang tuh cewek! Dia sebenarnya siapa sih?!" geram Wein Lao.


"Entahlah," Xiu menggeleng pelan.




Pasukan raja Ling yang sedang berusaha mencari dan menemukan Reiner itu secara tiba-tiba kembali dihadang oleh sekumpulan orang di depan sana.


Sontak saja raja Ling serta Akai menghentikan langkah mereka dan meminta seluruh prajurit untuk bersiap siaga.


"Sial! Itu Alice dan pasukan iblisnya, kira-kira mereka mau apa dari kita?!" ujar raja Ling.


"Entahlah yang mulia, mungkin saja mereka ingin membantu kita. Bukankah selama ini ratu Alice juga bekerjasama dengan kerah Sidhagat?" ucap Akai coba menerka maksud kedatangan Alice.


"Itu dulu sewaktu aku masih membenci putri Xiu, tapi sekarang kan sudah tidak." ucap raja Ling.


"Ah iya, saya lupa." ucap Akai.


Perlahan Alice dan para pasukan iblisnya itu maju mendekati raja Ling disertai tatapan tajamnya yang membuat sang raja kebingungan.


"Kamu mau apa Alice? Aku sudah tidak ada urusan denganmu, jadi sebaiknya kamu menyingkir dan jangan menghalangi jalanku! Aku sedang terburu-buru!" ucap raja Ling.


"Kata siapa kita sudah tidak ada urusan? Kamu mau mencari Reiner bukan?" ujar Alice.


"Darimana kau tahu?" tanya raja Ling heran.


"Hahaha, itulah kehebatan ku yang mulia. Aku ratu iblis yang tahu segalanya," jawab Alice.


"Lantas kau mau apa? Menghalangiku untuk mendapatkan Reiner?" tanya raja Ling.


"Tentu tidak, aku justru akan membantumu untuk menemukan dia dan membalas dendam atas kematian ayahmu." jawab Alice.


"Apa maksudmu? Memangnya kamu bisa membantuku?" tanya raja Ling.


"Ya, tentu saja bisa. Asalkan kamu juga mau membantu aku nantinya," jawab Alice.


"Sudah kuduga, pasti kau menginginkan sesuatu dariku. Katakan apa yang kau mau, aku pasti akan turuti!" ujar raja Ling.


"Aku hanya ingin kamu membantuku untuk membalas dendam pada putri Xiu dan Wein Lao, atas kematian suamiku Terizla." ucap Alice.

__ADS_1


"Apa? Maaf Alice, tapi aku tidak bisa melakukan itu!" ucap raja Ling.


"Kenapa? Bukankah kau dulu sangat membenci putri Xiu dan Wein Lao?" tanya Alice terkejut.


"Memang iya, tapi sekarang tidak. Aku sudah mengetahui mereka tidak bersalah, bukan mereka pembunuh ayahku. Jadi, aku tak punya alasan untuk membenci mereka lagi." jelas raja Ling.


"Dasar payah! Meskipun mereka bukan pembunuh ayahmu, tapi mereka itu harus tetap dimusnahkan dari muka bumi ini!" ucap Alice.


"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanya raja Ling.


"Karena putri Xiu dan Wein Lao memiliki tekad untuk menguasai negeri ini, mereka pasti akan menghabisi kamu juga yang mulia!" jawab Alice.


"Benarkah begitu?" tanya raja Ling tak percaya.


"Tentu saja, untuk apa aku berbohong padamu?" jawab Alice sambil tersenyum.


Raja Ling terdiam memikirkan perkataan Alice barusan.


"Apa itu benar?" batinnya.




Sementara itu, An Ming kembali mendatangi rumah Feng Lian sang gadis yang ia sukai walau baru bertemu sekali itu.


An Ming kini ditemani oleh Zheng, mereka berdua bersama-sama pergi ke rumah gadis itu sesuai permintaan An Ming.


"Paman, biar aku saja yang ketuk pintu!" ucap An Ming.


"Baiklah pangeran, silahkan!" ucap Zheng.


Tanpa menunggu lama, An Ming langsung maju mengetuk pintu rumah tersebut.


TOK TOK TOK...


"Permisi! Lian, apa kau ada di rumah?" ucap An Ming sedikit berteriak.


Tak lama, pintu pun terbuka.


Ceklek...


Feng Lian muncul dari balik pintu, tersenyum menatap kedatangan pangeran ke tempat tinggalnya itu.


"Pangeran?" ucap Feng Lian terkejut.


"Iya Lian, ini aku. Selamat pagi ya gadis cantikku!" ucap An Ming sambil tersenyum renyah.


"Hah? I-i-iya, pagi juga pangeran!" balas Feng Lian.


"Kamu sungguh cantik pagi ini, Lian! Wajah kamu terlihat lebih anggun dari sebelumnya, aku suka itu!" ucap An Ming merayu gadis itu.


"Terimakasih pangeran! Oh ya, pangeran ada apa datang kesini?" tanya Feng Lian.


"Pangeran bisa aja, ngapain juga pangeran mikirin aku? Aku kan bukan siapa-siapa," ucap Feng Lian.


"Sekarang kamu emang bukan siapa-siapa, tapi gak lama lagi kamu bakal jadi istri aku sekaligus tinggal di istana Quangzi." ucap An Ming.


"Hah? Istri??" Feng Lian terkejut hebat mendengar ucapan An Ming barusan.


"Pangeran seriusan bilang begitu tadi?" tanya Feng Lian memastikan.


"Iya Lian, buat apa aku bercanda? Aku mau mempersunting kamu dan membawa kamu ke istanaku, bahkan kakak serta ibuku saja sudah setuju dengan itu." jawab An Ming.


"Ta-tapi, aku ini hanya warga desa biasa. Aku tidak pantas menjadi istrimu pangeran, aku lebih cocok sebagai pelayanmu." ucap Feng Lian.


"Hey! Kata siapa?" ujar An Ming.


"Memang begitu pangeran, warga desa tidak mungkin bisa menjadi istrimu. Aku yakin ada banyak putri kerajaan lain yang pantas untukmu pangeran," ucap Feng Lian.


"Jika aku maunya dirimu, mereka bisa apa? Kamu itu cantik sayang, aku suka!" ucap An Ming.


Feng Lian terdiam saja di tempatnya.


"Sudahlah, boleh kan aku masuk? Aku ingin bicara dengan ayahmu terkait proses lamaran kita," ucap An Ming.


"Apa? Lamaran??" lagi-lagi Feng Lian kembali dibuat terkejut, hari masih pagi namun suasana jantungnya sudah berdebar sangat kencang.


Sementara Zheng di belakang sana juga tak kalah terkejut, ia heran pada sang pangeran lantaran ingin melamar gadis yang baru dikenalnya.




Gusion serta Ryu sedang berjaga-jaga di pintu depan istana Quangzi untuk mengantisipasi bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti penyerangan mendadak.


Mereka juga tak mau jika Quangzi dianggap sepele oleh sebagian orang yang ingin menghancurkan istana tersebut, sehingga Gusion memerintahkan para prajurit untuk terus bersiaga disana.


"Panglima, memangnya siapa perempuan yang kemarin datang kesini itu?" tanya Ryu penasaran.


"Aku pun tidak tahu, dia orang yang misterius dan mencurigakan." jawab Gusion.


"Apa dia salah satu musuh kita yang ingin menyerang istana Quangzi ini?" tanya Ryu.


"Sepertinya begitu, tapi aku tidak tahu pasti dia musuh atau bukan." jawab Gusion.


"Hadeh, kenapa selalu saja ada orang yang ingin mengusik kebahagiaan sang ratu?!" ujar Ryu.


"Entahlah, tapi biasanya orang-orang seperti itu adalah orang yang merasa iri dan ingin menggantikan posisi ratu disini." ucap Gusion.

__ADS_1


"Yah begitulah, memang masih banyak orang-orang yang berpikiran begitu!" ucap Ryu.


"Yasudah, intinya kita sebagai penjaga keamanan di Quangzi harus memastikan bahwa istana ini aman dan keluarga istana tidak boleh terluka sedikitpun!" ucap Gusion.


"Ya panglima, itulah tugas kita. Siapapun lawan kita nanti, kita harus siap menghadapinya dan kita tidak boleh takut!" ucap Ryu percaya diri.


Slaasshh....


Tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat cepat melewati mereka berdua dan menancap tepat di bagian dada salah seorang prajurit.


"Aakhhh!!" prajurit itu memekik kesakitan.


"Hah? Prajurit!!" Gusion serta Ryu spontan terkejut dan langsung mendekati prajurit itu.


"Hey, bertahanlah!" ucap Gusion.


Namun, kesadaran prajurit itu hilang akibat panah yang menancap di dadanya. Darah juga terus mengalir membasahi tubuhnya, sungguh momen yang menyakitkan bagi mereka berdua.


"Sial, kita kecolongan! Prajurit, cepat bawa dia ke ruang pengobatan!" titah Gusion.


"Tunggu dulu!" pinta Ryu.


"Ada apa paman?" tanya Gusion.


"Sepertinya ada surat di anak panah ini," jawab Ryu sembari mengambil sesuatu dari panah tersebut.


"Hah? Surat?" ujar Gusion terkejut.


Ryu pun bangkit dan memberikan kertas kecil tersebut kepada sang panglima, sedangkan prajurit tadi sudah dibawa ke ruang pengobatan.


"Ini panglima, bukalah!" ucap Ryu.


Gusion mengangguk, kemudian membuka kertas tersebut dan melihat isinya.


“Jika kalian tidak segera pergi dari istana, maka aku pastikan kalian semua akan mati!“


Gusion tercengang melihatnya, ia langsung mengepal kuat dan celingak-celinguk seperti mencari seseorang.


"Ada apa panglima?" tanya Ryu penasaran.


"Ini surat ancaman, aku tidak tahu siapa yang mengirimnya, tapi pastinya dia bukan orang sembarangan." jawab Gusion.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ryu bingung.


"Kita laporkan ini pada ratu," jawab Gusion.


"Baiklah!" ucap Ryu menurut.




Sementara itu, Felix tengah mendapat tugas dari ratu Lien untuk menyelidiki seseorang yang tak lain ialah Feng Lian si gadis yang telah membuat putranya terpesona itu.


Ratu Lien sangat tidak mau jika An Ming salah dalam memilih perempuan, apalagi mereka baru pertama kali bertemu dan sang ratu belum mengetahui asal-usul wanita itu.


"Paman guru, bisakah aku meminta bantuan darimu?" tanya ratu Lien.


"Tentu saja ratu, apapun itu jika hamba bisa pasti hamba bantu!" jawab Felix.


"Terimakasih guru Felix! Aku hanya ingin kamu menyelidiki tentang wanita yang sedang didekati oleh An Ming, putraku." ucap ratu Lien.


"Eee memangnya siapa wanita itu, ratu? Apa dia mencurigakan?" tanya Felix penasaran.


"Tidak juga, aku belum tahu siapa dia. An Ming hanya memberitahuku kalau namanya adalah Feng Lian, untuk lebih jelasnya kamu bisa tanyakan lagi kepada Zheng atau guru Yao. Mereka pasti tahu lebih banyak tentang wanita itu," jelas ratu Lien.


"Baiklah ratu, hamba akan temui guru Yao sekarang! Kalau begitu hamba permisi dulu," ucap Felix sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Ya, silahkan! Kabari aku jika kamu telah berhasil menyelidik Feng Lian!" pinta ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Felix menurut.


Pria itu pun berbalik dan melangkah keluar dari tempat tersebut untuk melaksanakan tugasnya.


Tak lama kemudian, Gusion serta Ryu datang kesana menemui ratu Lien.


"Permisi ratu!" ucap Gusion.


"Iya panglima, ada apa?" tanya ratu Lien.


"Ada yang ingin saya sampaikan pada ratu, ini penting sekali ratu!" jawab Gusion.


"Penting sekali? Apa itu?" tanya ratu Lien penasaran.


"Begini ratu, barusan ada seseorang yang mengirim surat ke kita. Isi suratnya itu ancaman, dia minta kita semua untuk keluar dari istana atau kita akan mati." jelas Gusion.


"Hah? Bisa aku lihat surat itu?" pinta ratu Lien.


"Tentu ratu, ini suratnya." jawab Gusion.


Gusion pun memberikan surat tersebut kepada sang ratu, yang langsung membuat ratu Lien terkejut hebat melihatnya.


"Siapa yang kirim surat ini?" tanya ratu Lien.


"Saya juga tidak tahu ratu, tadi dia mengirim surat melalui anak panah." jawab Gusion.


"Haish, kurang ajar!" geram ratu Lien.


Tampak amarah tersirat di sorot mata sang ratu setelah membaca isi surat tersebut.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2