
Sliingg sliingg sliingg...
Bunyi pertarungan mereka terdengar cukup seru, Ryu berusaha ekstra untuk dapat menembus pertahanan Xavier yang cukup kuat itu.
"Habislah kamu Xavier!!" teriak Ryu.
Slaasshh...
Niat Ryu untuk menusukkan pedangnya ke tubuh Xavier gagal lantaran Xavier lebih dulu mengeluarkan tenaga dalamnya yang membuat Ryu terpental ke belakang.
Bruuukkk...
"Aakhhh!!" Ryu memekik kesakitan, ia berusaha bangkit, namun usahanya gagal karena rasa sakit yang begitu parah di bagian dadanya.
"Kamu tidak akan bisa mengalahkan ku, butuh beribu-ribu orang sepertimu untuk dapat menandingi kemampuan ku." ucap Xavier.
"Jangan sombong kamu Xavier! Aku masih belum kalah, aku pastikan kali ini kamu tidak akan selamat dariku!" ucap Ryu.
"Oh ya? Kamu mau apa lagi, pak tua? Yasudah, biar aku percepat saja kematian mu ya. Aku tidak tega melihat kamu menahan sakit seperti itu," ucap Xavier.
Xavier pun mengangkat pedangnya, tersenyum menatap Ryu sembari mengarahkan pedangnya itu ke tubuh Ryu.
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Xavier.
Ryu hanya terdiam, matanya melotot tajam dan terus berusaha untuk bangkit, tapi selalu gagal.
"Baiklah, matilah kamu pak tua!" ujar Xavier.
Slaasshh...
Tiba-tiba sebuah anak panah datang meluncur ke arahnya dan tepat mengenai pedang milik Xavier hingga terjatuh ke lantai.
"Hah??" Xavier terkejut dengan itu, begitupun Ryu yang tak kalah syok menyaksikan apa yang terjadi barusan.
"Kamu tidak akan bisa membunuh ayahku, Xavier!" ucap Chen yang muncul dengan busur panahnya.
Sontak Ryu teramat kaget melihat putrinya berada disana, ia tak menyangka kalau Chen akan senekat itu menolongnya.
"Chen? Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu datang kesini?" tanya Ryu cemas.
"Tidak apa ayah, aku akan membantumu menghadapi raja bodoh ini!" jawab Chen.
"Tapi Chen, ini sangat berbahaya bagimu! Cepat kamu pergi dari sini, tidak usah perdulikan ayah! Ayah bisa mengatasi semuanya sendiri!" ujar Ryu.
"Aku gak akan pergi ayah! Aku akan tetap disini, aku bisa hadapi orang ini kok!" ucap Chen.
"Hahaha, jadi wanita kurang ajar ini putrimu, Ryu? Baiklah baiklah, suatu kebetulan yang bagus. Aku bisa menghabisi kalian berdua sekaligus, dan itu akan membuatku merasa puas!" ucap Xavier.
"Kamu tidak usah banyak bicara! Kamu hadapi saja aku, kita buktikan siapa yang lebih hebat diantara kita!" ucap Chen menantang Xavier.
"Wah wah wah! Ternyata putrimu mewarisi sifat darimu ya Ryu, dia benar-benar pemberani dan sombong sama sepertimu. Tapi, aku suka dengan orang-orang yang pemberani seperti dirinya. Walau pada akhirnya, aku juga yang akan memenangkan pertempuran nanti." ucap Xavier.
"Jangan banyak bicara kamu! Ayo hadapi aku, atau ubah identitas kamu itu!" ujar Chen.
Xavier menatap tajam ke arah Chen dengan pedang yang sudah ia genggam itu.
"Kurang ajar kamu! Siapa namamu?!" ujar Xavier.
"Namaku Chen, aku sengaja memberitahu itu agar kamu tidak mati dalam keadaan penasaran!" jawab Chen dengan lantang.
"Sialan anak ini!" umpat Xavier.
"Hiyaaa..." Chen mengangkat pedangnya dan maju menyerang Xavier.
•
•
"Akh!" Felix sudah semakin tertekan dengan senjata milik Terizla yang kuat itu.
Lama-kelamaan, Felix mulai kehabisan tenaga dan tidak bisa lagi menahan senjata Terizla tersebut.
"Rasakan ini Felix!" teriak Terizla.
Ctaaashh...
Terizla menambah kekuatannya hingga berhasil membuat pedang Felix hancur berkeping-keping.
"Hah! Hah! Sial!" ujar Felix.
"Hiyaaa..." tak berhenti sampai disitu, Terizla langsung kembali menyerang Felix dan memukul tubuh Felix dengan senjatanya itu.
Bughh...
Felix tak dapat menghindari serangan itu, ia pun terkena pukulan dahsyat pada bagian lengan serta dadanya.
"Akh! Uhuk uhuk.." Felix terdorong ke belakang dan jatuh ke lantai dengan posisi miring.
"Hahaha, segini saja kekuatan guru dari lembah parabuan? Dasar lemah!" ucap Terizla.
"Makhluk ini semakin kuat saja, tenaganya itu sangat luar biasa. Kalau terus begini, aku bisa mati dibuatnya." batin Felix.
"Bagaimana guru Felix? Apa kamu masih mau melanjutkan pertarungan ini? Atau kamu sudah menyerah dan mengaku kalah?" tanya Terizla yang semakin mendekat ke arah Felix.
__ADS_1
"Cih! Pantang bagiku untuk menyerah pada seseorang sepertimu!" ujar Felix.
Felix mencoba bangkit, ia berhasil berdiri seperti semula walau masih harus memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Baiklah, rasakan ini guru sombong!!" teriak Terizla.
Bughh...
Terizla kembali melayangkan pukulan ke arah wajah Felix menggunakan balok andalannya.
Felix yang tak siap, terkejut dengan serangan itu dan balok tersebut mengenai tepat pada bagian wajahnya.
Bruuukkk...
Felix terkapar di lantai setelah memuntahkan darah yang cukup banyak, seketika itu juga ia tak sadarkan diri.
"Hahaha, hahaha..." Terizla tertawa puas sembari mengangkat kedua tangannya.
"TERIZLAAA!!!" suara teriakan itu membuyarkan tawaan Terizla.
"Raja Lao?" Terizla terkejut hebat melihat kehadiran In Lao dan para pasukannya disana.
"Ya Terizla, ini aku. Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu sudah membuat kacau di tempat ini, sekarang kamu harus dihabisi!" ucap In Lao.
"Payah! Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau raja Lao juga ada disini?" batin Terizla.
Terizla tampak ketakutan saat melihat In Lao berdiri di depannya, ia memang belum pernah bisa mengalahkan In Lao dalam sebuah pertarungan sebelumnya.
"Kenapa kamu diam saja? Ayo hadapi aku, Terizla!" geram In Lao.
"Untuk apa aku harus susah payah melawan mu, raja Lao? Lebih baik aku masuk ke dalam dan habisi tuan putri Xiu, daripada aku berlama-lama disini. Karena tujuan utamaku adalah membunuh putri Xiu," ucap Terizla.
"Kamu tidak akan bisa menyentuhnya, karena kamu harus berhadapan denganku lebih dulu!" ucap In Lao dengan lantang.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni kamu, sebaiknya kamu minggir dan jangan halangi aku! Aku masih baik padamu raja Lao, jadi jangan pernah pancing emosiku!" ucap Terizla.
"Bilang saja kamu takut denganku Terizla, dasar pengecut! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu!" ucap In Lao.
"Cih! Siapa yang takut denganmu? Aku hanya malas meladeni orang sepertimu!" elak Terizla.
"Banyak bicara kamu! Rasakan ini!" geram In Lao.
Tanpa basa-basi lagi, In Lao langsung bergerak menyerang Terizla dengan kekuatan serigala miliknya.
Terizla terkejut dan berusaha menghindari setiap serangan dari In Lao itu, namun tetap saja sulit baginya melakukan itu semua.
•
•
Memang Xiu sudah berhasil membuat seluruh masyarakat yang hadir disana tenang setelah mendengar kata-katanya, tapi tetap saja Xiu khawatir terjadi sesuatu pada istana Quangzi.
"Lao, aku harus gimana ya? Aku gak mau istana Quangzi hancur!" tanya Xiu pada suaminya.
"Kamu tidak perlu takut istriku! Istana ini tidak akan pernah hancur, kamu percaya sama aku ya!" ucap Wein Lao mengeratkan dekapannya.
"Tapi Lao, bagaimana kalau mereka berhasil masuk kesini dan merusak semuanya?" tanya Xiu lagi.
"Tenang ya cantik! Aku yang akan jadi orang pertama untuk melindungi kamu dan juga ratu, jadi kamu tidak perlu cemas lagi! Kamu hanya perlu berdiri di belakangku, mengerti?!" ucap Wein Lao.
Xiu mengangguk pelan, membenamkan wajahnya lebih dalam pada bahu suaminya sembari melingkarkan tangan di pinggang pria itu.
Cupp!
Wein Lao memberi satu kecupan manis di bibir istrinya, membuat Xiu melotot lebar dan mendongak menatap wajah pria tersebut.
"Kenapa? Kamu kaget ya dapet ciuman dari suami kamu yang tampan ini?" goda Wein Lao.
"Apaan sih? Aku tuh justru kesel, bisa-bisanya kamu cium aku disaat seperti ini!" elak Xiu.
"Emangnya kenapa sih? Aku kan cuma mau tenangin kamu sayang, aku gak pengen kamu panik terus begini. Kamu kan tahu sendiri, aku itu suami yang perhatian dan sayang banget sama istrinya." ucap Wein Lao.
"Halah gombal! Udah deh, mending kamu cari cara supaya kita bisa lawan mereka semua! Aku gak mau mereka leluasa acak-acak istana!" ucap Xiu.
"Tenang aja sayang! Ayah aku pasti saat ini sudah sampai di depan, dia juga mungkin sudah bertemu dengan para penjahat itu. Jadi, kamu tidak perlu panik lagi sayang!" ucap Wein Lao.
"Apa hubungannya memang?" tanya Xiu bingung.
"Karena ayah itu adalah sosok raja yang kuat dan tangguh, dia bisa menghabisi semua musuh-musuhnya mulai dari yang lemah sampai yang kuat sekalipun. Jadi, menghadapi Terizla ataupun Xavier hanya masalah kecil untuknya." jawab Wein Lao sambil tersenyum.
Braakkk...
Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dan membuat semuanya disana berteriak panik.
"Aaaaa!!" para warga spontan berteriak kencang.
"Sa-sayang, gimana ini??" Xiu terlihat panik dan mengeratkan pelukannya pada sang suami.
"Tenang sayang! Kita lihat dulu siapa yang datang, mungkin dia kawan bukan lawan!" ucap Wein Lao.
Xiu mengangguk, matanya kini kembali tertuju ke arah pintu dan menangkap sosok Xavier serta beberapa pasukannya di depan sana.
"Xavier?" ucap Xiu lirih.
__ADS_1
"Sial! Dia benar-benar harus diberi pelajaran!" umpat Wein Lao nampak kesal.
"Tahan Lao! Biar aku saja!" pinta Xiu.
"Apa maksudmu? Aku tidak mungkin membiarkan kamu melawan orang itu! Dia cukup kuat sayang, aku gak mau kamu terluka karena dia!" ucap Wein Lao melarang istrinya.
"Tidak apa Lao, aku yakin aku bisa mengalahkan dia! Lagipun, mimpiku dari kecil adalah untuk dapat membalas dendam ayahku padanya. Jadi, biarkan aku menghadapi dia ya!" ucap Xiu.
"Ta-tapi Xiu..."
"Hahaha, hahaha!" ucapan Wein Lao terpotong oleh suara tawa Xavier yang menggelegar di seluruh ruangan hingga membuat semua orang menutup telinga mereka.
"Hari ini kalian semua akan mati di tanganku! Kalian tidak mungkin bisa selamat, apalagi melarikan diri dari sini!" ucap Xavier.
"Kamu tidak usah banyak mimpi Xavier! Kami disini tak akan mungkin dapat kau kalahkan, jadi jangan terlalu berharap untuk bisa mengalahkan kami semua!" ucap Wein Lao lantang.
"Kesombongan mu tidak pernah hilang, Wein Lao! Memang waktu itu kamu berhasil mengalahkan aku, tetapi kali ini berbeda. Aku sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya, dan aku akan membalas semua itu saat ini juga!" ucap Xavier.
"Bukan Wein Lao yang akan kamu hadapi Xavier, tapi aku, Xiu Jia Li." ucap Xiu.
Xavier sedikit terkejut mendengarnya, tapi kemudian ia tersenyum lebar dan tertawa meledek gadis itu.
"Hahaha, kamu bisa apa gadis kecil? Kamu tidak sebanding denganku, kemampuan kamu itu hanya seujung kuku ku saja. Sebaiknya kamu jangan macam-macam denganku, Xiu!" ucap Xavier.
"Kamu bisa bicara begitu saat ini, tapi tidak nanti setelah aku mengalahkan mu!" ucap Xiu.
Xiu mengeluarkan busur panahnya dan langsung melesakkan satu anak panah ke arah Xavier.
Slaasshh...
Jlebb...
"Akh! Apa-apaan ini? Kurang ajar kau gadis sialan!" umpat Xavier saat mendapati sebuah anak panah menancap di bahunya.
Xiu tersenyum tipis, menatap suaminya dengan bangga.
"Itu baru permulaan Xavier, masih ada banyak anak panah yang menunggu giliran untuk aku lesakkan ke dalam tubuhmu itu." ucap Xiu.
"Sialan!" Xavier nampak semakin kesal.
"Bagaimana ini Xavier? Kamu masih bisa melanjutkan pertarungan ini?" tanya Fredison.
"Tentu saja, hanya satu anak panah tidak membuatku gentar!" jawab Xavier sembari mencabut anak panah itu dari bahunya.
"Lihat itu putri Xiu? Anak panah mu sudah kucabut, dia tidak ada apa-apanya bagiku!" ucap Xavier.
"Kita lihat saja, sejauh mana kamu mampu bertahan dari serangan-serangan ku!" tantang Xiu.
Gadis itu kembali menarik busurnya, membuat Xavier terkejut dan bersiaga untuk menahan anak panah yang akan melesak ke arahnya.
Slaasshh...
•
•
Sementara itu, Chen yang terluka cukup parah akibat berkelahi dengan Xavier masih berusaha untuk bangkit dan menghampiri ayahnya di sebelah sana.
Chen sangat sedih sekaligus kecewa karena ia gagal mengalahkan Xavier dan menyelamatkan ayahnya, ia pun kesulitan untuk bisa bangkit dari posisinya saat ini.
"Aakkkhhh!!" Chen terus berteriak untuk menguatkan tenaganya.
"Chen, sudahlah jangan dipaksa! Ayahmu ini baik-baik saja, kamu tidak perlu memaksa untuk datang kesini anakku!" ucap Ryu.
"Ayah? Tapi, ayah terluka dan aku ingin membantu ayah." ucap Chen.
"Tidak perlu sayang! Kamu juga terluka, justru lebih parah dariku. Ayah bisa mengobati luka ini sendiri, termasuk juga lukamu itu." ucap Ryu.
"Maafkan aku ayah! Aku gagal mencegah Xavier masuk ke dalam sana, aku ini memang tidak berguna!" ucap Chen.
"Jangan bicara begitu sayang! Biar bagaimanapun, kamu telah menyelamatkan nyawaku. Kalau kamu tidak datang tadi, mungkin ayah sudah mati di tangan Xavier." ucap Ryu sambil tersenyum.
"Tapi, aku tidak bisa menghentikan Xavier, ayah. Harusnya aku tak membiarkan dia masuk ke dalam sana, pasti sekarang suasana disana sedang kacau karena ulahku." ucap Chen.
"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri putriku! Kamu sudah berusaha, tapi memang kekuatan Xavier itu sangat luar biasa." ucap Ryu.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang ayah?" tanya Chen pada ayahnya.
"Kamu tetap disini! Ayah akan memulihkan tenaga dalammu terlebih dulu," jawab Ryu.
"Bagaimana dengan ayah sendiri?" tanya Chen.
"Tenaga ayah sudah pulih nak," jawab Ryu sambil tersenyum dan bangkit dari posisinya.
Ryu pun mendekati putrinya, ia menggunakan kekuatan miliknya untuk menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Chen.
"Sudah enakkan?" tanya Ryu.
"Sudah ayah, tapi rasanya aku masih belum bisa bergerak banyak. Tubuhku terasa sangat sakit ayah," jawab Chen.
"Wajar, itu akibat serangan Xavier tadi. Kamu masih harus belajar lagi untuk mengelak dari serangan-serangan seperti itu," ucap Ryu.
"Iya ayah, aku mengerti." ucap Chen.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...