
In Lao pun terdiam memikirkan ucapan ratu Lien, ia jadi ragu untuk keluar dan membantu pasukannya.
"Kamu benar juga, para penjahat itu memang tidak bisa diduga. Baiklah, aku akan tetap disini menjaga kalian semua." ucap In Lao.
"Terimakasih raja Lao atas pengertiannya! Maafkan aku, kalau aku terlalu cemas!" ucap ratu Lien.
"Tidak apa, kamu itu benar ratu! Aku memang seharusnya tetap disini, lantaran tempat ini tidak boleh kosong." ucap In Lao.
"Ya raja Lao," ucap ratu Lien sambil tersenyum.
Tanpa sadar, Xiu sudah ada di dekat mereka dan menatap mereka dengan wajah kebingungan.
"Apa maksud yang mulia barusan? Memangnya kenapa tempat ini tidak boleh kosong? Apa sudah ada penyerangan dari luar?" tanya Xiu.
"Eee Xiu, kenapa kamu kesini? Sudah, kamu nikmati saja pestanya bersama suamimu itu ya!" ucap ratu Lien.
"Gimana aku bisa menikmati pesta, kalau mommy sama yang mulia aja kelihatan panik begini? Ada apa sih mom? Cerita dong sama aku!" ujar Xiu.
"Gak ada apa-apa Xiu, semuanya aman terkendali. Ya kan raja Lao?" ucap ratu Lien.
"Benar tuan putri! Kamu tidak perlu khawatir begitu, kami disini akan menjaga kalian supaya tidak terjadi sesuatu pada kalian!" ucap In Lao.
"Ta-tapi..."
Duaarrr...
Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dahsyat dari arah luar yang membuat mereka bertiga kaget secara bersamaan.
"Hah? Apa itu?!" ucap Xiu.
Semua orang disana pun ikut panik, mereka berteriak dan berhamburan kesana-kemari mencari perlindungan yang aman.
"Aaaaa kita diserang!!"
"Toloongg!!"
Suara-suara dari para rakyat itu membuat ratu Lien merasa cemas dan kasihan, ia pun bergerak untuk menenangkan mereka semua.
"Tenanglah semua! Kalian tidak perlu panik, tetap di dalam sini dan jangan ada yang keluar apapun yang terjadi! Kami akan berusaha melindungi kalian, jadi kalian tetap tenang ya!" ucap ratu Lien.
"Tapi ratu, bagaimana jika orang-orang jahat itu masuk kemari dan menghajar kami?"
"Iya ratu, kami belum mau mati. Kami semua masih ingin hidup!"
In Lao pun ikut membantu ratu Lien untuk menenangkan mereka.
"Kalian semua tenang saja! Tidak akan ada satupun dari kalian yang mati saat ini, aku dan seluruh pasukan Quangzi serta serigala akan melindungi kalian semua!" ucap In Lao.
"Terimakasih yang mulia! Kami harap itu semua benar-benar terjadi, karena kami masih ingin meneruskan hidup kami."
"Ya, kalian berdoa saja!" ucap In Lao.
Ratu Lien tersenyum sembari menatap In Lao, ia sangat senang lantaran In Lao berhasil membuat para warga disana menjadi lebih tenang.
"Terimakasih raja Lao! Kamu sudah membantuku untuk menenangkan mereka," ucap ratu Lien.
"Tidak perlu berterimakasih begitu ratu, aku juga tidak ingin mereka semua panik." ucap In Lao.
Ratu Lien mengangguk pelan sembari memalingkan wajahnya ke arah lain, menatap sekeliling yang dipenuhi aura kepanikan.
"Yasudah, aku akan cek ke depan saja. Aku harus bantu cegah mereka masuk kesini!" ucap In Lao.
"Tapi raja Lao—"
"Tenang saja! Pasukan serigala ada banyak sekali di sekitar mu saat ini, kamu dan yang lain pasti akan baik-baik saja! Lagipun, para penjahat itu juga tidak mungkin bisa masuk kesini." potong In Lao.
"Bagaimana jika itu terjadi dan dugaan mu salah?" tanya ratu Lien cemas.
"Ada aku juga disini, ratu." ucap Wein Lao yang muncul dari samping sambil tersenyum.
"Kamu bicara apa Wein Lao? Kamu itu baru saja menikah dengan putriku, masa kamu sudah ingin membahayakan nyawa kamu?" ujar ratu Lien.
"Tidak ratu, aku bukan ingin membahayakan nyawaku. Tapi, justru aku mau melindungi keluarga ku dari serangan itu." ucap Wein Lao.
"Sudahlah, ayah percaya padamu Wein Lao! Sekarang ayah ke depan sebentar, semoga saja tidak ada musuh yang berhasil masuk kesini!" ucap In Lao.
"Baik ayah!" ucap Wein Lao menurut.
•
•
Bruuukkk...
Zheng tersungkur di lantai istana sembari memegangi perutnya yang terasa sakit akibat serangan Terizla.
"Awhh akh!" Zheng memekik kesakitan.
"Hahaha, itulah akibatnya kalau kamu berani melawanku dasar bodoh!" ucap Terizla.
"Kurang ajar!" umpat Zheng kesal.
"Sudahlah, biarkan saja dia disitu! Ayo kita segera masuk ke dalam dan habisi orang-orang disana, terutama putri Xiu yang sialan itu!" ucap Xavier menahan Terizla yang hendak menghabisi Zheng.
"Ya, kau benar! Kita masuk ke dalam! Tapi, kamu tetap disini Alice untuk menghadang mereka mengejar kita!" ucap Terizla.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti!" ucap Alice menurut.
"Yasudah, ayo pergi!" perintah Terizla.
Terizla dan Xavier serta beberapa pasukan mereka mulai bergerak masuk lebih dalam menuju tempat pesta pernikahan putri Xiu.
Namun, langkah mereka lagi-lagi terhenti akibat Ryu dan Felix muncul di hadapan mereka sambil tersenyum lebar.
"Mau kemana kalian, ha?" ucap Ryu.
"Hahaha, kalian jangan mimpi bisa mengacaukan pesta pernikahan tuan putri!" sahut Felix.
"Benar itu! Karena kami tidak akan membiarkan kalian membuat keributan disini, kalian semua akan kami habisi saat ini juga!" ucap Ryu.
"Cih banyak omong kalian cecunguk sialan! Baiklah, ayo maju kalian berdua dan hadapi aku!" ucap Terizla.
"Dasar monster hijau tidak tahu diri! Masih saja ingin berusaha menguasai istana Quangzi, sebaiknya kamu sadar dan berubah menjadi makhluk yang baik! Sampai kapanpun, keinginan kamu itu tidak akan mungkin terwujud!" ucap Ryu.
"Aku sudah membuang jauh-jauh mimpi itu, karena sekarang yang aku inginkan hanyalah kematian putri Xiu dan kehancuran istana Quangzi!" ucap Terizla.
"Bukannya dirubah jadi lebih baik, eh malah makin parah tuh mimpi." ujar Ryu.
"Tidak usah banyak bicara kalian! Mari kita mulai saja pertarungan ini dan buktikan siapa yang lebih baik diantara kita!" tantang Xavier.
"Ini lagi satu, udah pernah ketangkap bukannya taubat malah makin menjadi-jadi, emang minta dihabisin nih kayaknya!" ucap Ryu.
"Berisik! Hiyaaa..." Xavier langsung bergerak maju menyerang Ryu dan Felix secara membabi buta.
"Hiyaaa..." Terizla mengikuti dari belakang untuk membantu Xavier.
Mereka pun saling bertarung, Xavier menghadapi Ryu, sedangkan Terizla melawan Felix dengan senjata andalannya.
•
Gusion yang sedikit terluka, melangkah ke dalam dengan tertatih-tatih untuk membantu yang lain menghadapi Terizla serta Xavier.
"Aakhhh!!" Gusion memekik menahan sakit.
"Saya harus bantu mereka! Saya tidak boleh membiarkan istana ini hancur di tangan mereka!" ucap Gusion.
Saat di dalam, Gusion menemukan Zheng serta pasukannya sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
Ia juga melihat Alice bersama pasukannya tengah menjaga Zheng disana.
"Sial! Zheng sudah berhasil dilumpuhkan, pasti Terizla dan Xavier juga sudah masuk ke dalam. Berarti ratu Lien dalam bahaya, aku harus menolong sang ratu!" ucap Gusion lirih.
Pria itu celingak-celinguk mencari jalan lain untuk bisa masuk kesana tanpa harus berhadapan dengan Alice dan pasukannya.
"Ah, saya lewat samping aja deh." ucapnya.
Slaasshh...
"Hah? Apa-apaan ini?!" ucapnya terkejut.
"Kamu mau kemana, ha? Kamu pikir kamu bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan ratu? Itu tidak akan pernah terjadi, karena kamu harus melangkahi aku dulu!" ucap Alice yang kini sudah berada di belakangnya.
Gusion berbalik dengan perlahan sembari memegangi perutnya yang terluka.
"Menghadapi makhluk sepertimu tidaklah sulit buatku, aku akan lakukan apa yang kamu minta tadi ratu iblis!" ucap Gusion tersenyum smirk.
"Hahaha, kamu yakin bisa melakukannya? Lihatlah dirimu Gusion, kamu terluka! Dengan kondisi sehat saja kamu tidak mungkin bisa mengalahkan ku, apalagi dengan keadaan terluka seperti ini." ujar Alice.
"Sejak kapan kamu perduli dengan kondisi lawan kamu, ratu iblis? Aku bisa mengalahkan kamu walau dalam keadaan seperti ini, camkan itu!" ucap Gusion mantap.
"Baiklah, kamu boleh maju dan serang aku lebih dulu!" pinta Alice.
"Keputusan yang akan membuat kamu menyesal, Alice!" ucap Gusion.
"Hiyaaa..."
•
•
Suasana semakin kalut, ratu Lien tidak dapat menenangkan para warga disana lagi karena berbagai guncangan serta suara-suara mengerikan terdengar dari dalam sana.
Akibatnya, mereka semua pun terus berteriak panik sembari berlarian kesana-kemari meminta pertolongan.
Xiu yang berada di dekat sang ratu pun merasa bingung, ia tak tega melihat kepanikan di wajah para warga Quangzi itu.
"Mom, kita harus bagaimana?" tanya Xiu.
"Sabar Xiu! Kita hanya perlu berdoa untuk saat ini, supaya orang-orang jahat di luar sana tidak berhasil masuk ke dalam sini. Kalaupun itu terjadi, kita harus bersiap siaga dan melindungi seluruh masyarakat Quangzi!" jawab ratu Lien.
"Iya mom, tapi aku tidak tega melihat mereka panik seperti ini. Kita harus lakukan sesuatu!" ucap Xiu.
"Kamu benar! Sebaiknya kamu temui mereka, lalu hibur mereka!" usul ratu Lien.
"Hah? Bagaimana caranya aku bisa hibur mereka, mom?" tanya Xiu kebingungan.
"Kamu itu kan selalu membawa ketenangan bagi setiap orang yang melihat mu, jadi kamu hanya perlu berdiri di hadapan mereka lalu bicara dengan nada lembut." jawab ratu Lien.
"Tapi mom, aku gak bisa." ucap Xiu.
"Kamu bisa sayang! Kamu coba saja lakukan yang mommy katakan tadi! Ini semua demi rakyat kita sayang, supaya mereka tenang." ucap ratu Lien.
__ADS_1
Xiu menoleh ke belakang, melihat kegelisahan di wajah orang-orang itu. Ia sungguh tidak tega, terlebih cukup banyak juga anak-anak kecil yang ikut menikmati pesta disana.
"Ini semua salahku mom, harusnya aku gak ngeyel buat undang mereka ke pestaku hari ini! Kalau aja aku nurut sama mommy, pasti mereka gak akan terjebak dalam situasi seperti ini. Aku memang anak yang payah!" ucap Xiu.
"Kamu jangan bicara seperti itu sayang! Ini semua bukan kesalahan kamu, jadi kamu jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri ya!" ucap ratu Lien.
"Tapi mom, kan memang benar begitu adanya. Aku ini gak becus jadi pemimpin!" ucap Xiu.
"Enggak sayang, kamu gak gitu kok. Sudah ya, kamu tidak perlu menyalahkan diri kamu sendiri dan bersedih begitu!" ucap ratu Lien sembari memeluk putrinya dengan erat.
Lalu, Wein Lao yang kini telah menjadi suami dari putri Xiu pun bergerak menghampiri istrinya sambil menatap penuh kasihan.
"Putri Xiu," ucapnya lirih.
Sontak Xiu langsung menoleh, melepaskan diri dari pelukan ibunya dan menghapus air mata yang sempat menetes di wajahnya.
"Ya Lao, ada apa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Xiu.
"Aku tidak butuh apapun saat ini, aku hanya ingin kamu tersenyum istriku. Jujur saja aku tidak bisa melihat kamu bersedih seperti ini, tolong kamu hilangkan kesedihan kamu itu ya!" pinta Wein Lao.
"Dengarkan permintaan suamimu sayang! Kamu jangan pernah menangis lagi, tetaplah tersenyum seperti semula!" sahut ratu Lien.
"Iya mom, aku juga gak mungkin nolak permintaan suami aku." ucap Xiu sambil tersenyum.
"Nah, itu lebih baik. Sekarang aku agak tenang melihatnya, semoga kamu bisa terus tersenyum seperti ini ya sayang!" ucap Wein Lao.
Xiu hanya mengangguk kecil dan terus mengembangkan senyumnya di hadapan Wein Lao, ia tak ingin membuat suaminya itu merasa sedih karena melihatnya menangis.
"Yasudah, mari aku antar kamu temui para warga dan bicara dengan mereka!" ucap Wein Lao.
"I-i-iya.." ucap Xiu menurut.
Wein Lao pun menggandeng lengan istrinya, pamit kepada sang ratu sebelum mulai melangkah bersamaan menghampiri para warga disana.
•
•
Terizla masih terus bertarung dengan Felix, si guru dari lembah parabuan itu.
Mereka berdua terlihat seimbang, namun Terizla sedikit diuntungkan dengan staminanya yang masih lebih kuat dibanding Felix.
Akibatnya, kini Terizla berhasil menekan Felix dan membuat pria itu kesulitan bergerak.
"Hahaha, menyerah lah guru payah! Atau aku akan meremukkan tubuhmu dengan senjata milikku ini!" ucap Terizla sambil tertawa sombong.
"Aakhhh!!" teriak Felix berusaha menahannya.
"Hahaha.. hahaha..." Terizla terus tertawa puas.
Sementara pertarungan antara Xavier dan Ryu juga berlangsung sengit, pedang keduanya saling beradu dan belum ada yang berhasil mengenai bagian tubuh satu sama lain.
"Kamu ternyata cukup kuat juga, pak tua. Aku akui kehebatan mu itu!" ucap Xavier.
"Aku tidak butuh pengakuan darimu Xavier, karena kamu bukan siapa-siapa lagi!" ucap Ryu.
"Hiyaaa..." Ryu kembali bergerak maju menyerang Xavier dengan lebih gesit.
Sliingg sliingg sliingg...
Bunyi pertarungan mereka terdengar cukup seru, Ryu berusaha ekstra untuk dapat menembus pertahanan Xavier yang cukup kuat itu.
"Habislah kamu Xavier!!" teriak Ryu.
Slaasshh...
Niat Ryu untuk menusukkan pedangnya ke tubuh Xavier gagal lantaran Xavier lebih dulu mengeluarkan tenaga dalamnya yang membuat Ryu terpental ke belakang.
Bruuukkk...
"Aakhhh!!" Ryu memekik kesakitan, ia berusaha bangkit, namun usahanya gagal karena rasa sakit yang begitu parah di bagian dadanya.
"Kamu tidak akan bisa mengalahkan ku, butuh beribu-ribu orang sepertimu untuk dapat menandingi kemampuan ku." ucap Xavier.
"Jangan sombong kamu Xavier! Aku masih belum kalah, aku pastikan kali ini kamu tidak akan selamat dariku!" ucap Ryu.
"Oh ya? Kamu mau apa lagi, pak tua? Yasudah, biar aku percepat saja kematian mu ya. Aku tidak tega melihat kamu menahan sakit seperti itu," ucap Xavier.
Xavier pun mengangkat pedangnya, tersenyum menatap Ryu sembari mengarahkan pedangnya itu ke tubuh Ryu.
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Xavier.
Ryu hanya terdiam, matanya melotot tajam dan terus berusaha untuk bangkit, tapi selalu gagal.
"Baiklah, matilah kamu pak tua!" ujar Xavier.
Slaasshh...
Tiba-tiba sebuah anak panah datang meluncur ke arahnya dan tepat mengenai pedang milik Xavier hingga terjatuh ke lantai.
"Hah??" Xavier terkejut dengan itu, begitupun Ryu yang tak kalah syok menyaksikan apa yang terjadi barusan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1