
Kondisi istana Quangzi cukup mengerikan, kini Terizla resmi mengangkat dirinya sendiri sebagai raja disana didampingi oleh Alice yang akan menjadi ratunya.
Sementara Xavier tetap pada jabatannya semula, yakni panglima perang kerajaan.
Tentu saja hal itu sangat membuat Xavier geram plus kecewa, ia merasa tindakan Terizla sungguh tidak adil baginya.
"Kurang ajar Terizla! Bisa-bisanya dia anggap dirinya sebagai raja dan tidak mengangkat ku untuk mengisi posisi lebih tinggi lagi. Dia benar-benar tidak menganggap ku ada disini lagi, dasar sombong!" batin Xavier emosi.
Xavier yang sedang dilanda amarah pun pergi dari pesta pengangkatan raja baru tersebut, ia sudah sangat muak melihat sikap Terizla yang angkuh dan ingin menang sendiri.
Xavier pun pergi ke belakang istana, ia duduk dekat kolam dan meratapi nasibnya disana. Sesekali Xavier melempar batu ke dalam kolam tersebut, memandangi bayangan wajahnya pada air itu.
"Ternyata begini rupa ku, mengapa Lien tak tertarik lagi denganku? Padahal wajahku ini masih tampan, bahkan lebih tampan dari Feng Ying." ujarnya.
"Aaarrgghh!! Kenapa pembahasan ku jadi ke arah situ? Padahal aku sedang membenci Terizla, aku yang harusnya menjadi raja disini bukan dia! Bisa apa makhluk hijau itu tanpa bantuan para iblis? Sedangkan aku, aku ini memiliki kekuatan sendiri yang bisa meratakan seluruh istana termasuk dirinya!" geramnya mengepalkan tangan.
Saat Xavier tengah asyik bergumam dengan dirinya sendiri, tiba-tiba saja seorang prajurit datang menghampirinya dan sedikit membuat Xavier terkejut.
"Permisi panglima!" ucap prajurit itu.
"Ya, ada apa? Kenapa kau datang kesini?" tanya Xavier mencoba tenang.
"Anda dipanggil oleh yang mulia raja Terizla untuk kembali ke pesta. Beliau mengatakan, ada hal penting yang ingin disampaikan kepada anda panglima." jelas prajurit itu.
"Hal penting? Apa itu?" tanya Xavier penasaran.
"Saya pun tidak tahu, panglima. Silahkan saja panglima tanyakan langsung pada raja Terizla!" jawab prajurit itu.
"Baiklah, saya akan segera kembali kesana. Kau pergilah dulu, aku masih ingin menikmati udara sejuk disini!" titah Xavier.
"Baik panglima!" ucap prajurit itu.
Sang prajurit pun berlalu pergi meninggalkan Xavier disana, Xavier kembali menatap air di kolam dengan wajah kebingungan. Ia penasaran hal penting apa yang ingin disampaikan Terizla kepadanya.
__ADS_1
"Raja gak jelas ini mau ngomong apa lagi sih? Ribet amat jadi orang!" gumamnya kesal.
Akhirnya mau tidak mau, Xavier pun beranjak dari tempat itu dan kembali ke dalam istana untuk menemui Terizla karena ia penasaran dengan apa yang hendak disampaikan raja baru itu padanya.
***
Kembalinya Xavier ke dalam istana, ia langsung menemui Terizla dan memberi hormat pada raja baru di Quangzi itu.
"Maaf yang mulia! Tadi kata salah seorang prajurit, anda mencari saya dan ingin bicara dengan saya. Lalu, apa yang ingin anda sampaikan pada saya yang mulia?" tanya Xavier pada intinya.
"Tenanglah Xavier! Silahkan kau duduk di tempat mu dan kita bicara dengan santai!" pinta Terizla.
"Baiklah yang mulia!" ucap Xavier menurut.
Xavier pun duduk sesuai kemauan Terizla, lalu berbicara dengan sang raja disana.
"Jadi begini Xavier, saya dan Alice ingin menyebarluaskan kekuatan kami ke kota seberang. Kami akan meninggalkan istana dalam beberapa waktu, maka dari itu saya selaku raja disini meminta kamu untuk menjaga istana selagi saya dan ratu Alice pergi. Kamu bersedia kan?" ucap Terizla menjelaskannya.
"Tentu saja saya bersedia, yang mulia! Saya akan menjaga istana ini dengan sepenuh hati saya, ketika nanti yang mulia dan sang ratu kembali pasti istana ini masih dalam kondisi baik-baik saja dan tidak akan terjadi kerusakan walau sedikit!" ucap Xavier penuh kesenangan.
"Baiklah, saya bisa percaya denganmu Xavier! Jangan pernah kamu membuat saya kecewa!" ucap Terizla.
"Tidak akan yang mulia!" ucap Xavier.
"Yasudah, sebentar lagi saya dan Alice akan segera pergi mengenakan kendaraan istana. Kau jaga istana ini sebaik mungkin, jangan sampai ada yang berubah sedikitpun begitu saya tiba kembali disini!" titah Terizla.
"Siap yang mulia! Tapi, berapa lama kiranya yang mulia akan pergi?" tanya Xavier.
"Tidak lama, hanya sampai kami berhasil menguasai seluruh negeri ini. Kau tak perlu cemas, kami pasti kembali untuk duduk berdampingan di singgasana yang mewah ini!" jawab Terizla.
"Baiklah yang mulia!" ucap Xavier tersenyum smirk.
Xavier bergumam di dalam hati,"Baguslah si makhluk bodoh ini akan pergi, aku jadi bisa leluasa menguasai istana tanpa campur tangan darinya lagi!"
__ADS_1
***
Setelah kepergian Terizla dan Alice beberapa waktu lalu, Xavier kini mendatangi penjara bawah tanah menemui ratu Lien yang sedang ditahan disana.
Tanpa basa-basi, Xavier pun membuka sel lalu masuk ke dalam penjara itu. Xavier tersenyum saat Lien tersadar dari tidurnya dan menatap ke arahnya, ia berjongkok di samping wanita itu sambil mengusap puncak kepalanya lembut.
"Kamu benar-benar cantik Lien! Aku tidak pernah bosan melihat kecantikan mu ini," ucap Xavier.
"Mau apa lagi kamu kesini, Xavier? Aku sudah bilang jangan pernah datangi aku lagi, kenapa kau masih saja ngeyel!" ujar ratu Lien.
"Aku ini sayang sama kamu, Lien. Aku gak bisa jauh-jauh dari kamu! Tolong kamu jangan usir aku atau halangi aku buah dekati kamu ya! Karena sampai kapanpun, aku akan selalu ada di dekat kamu!" tegas Xavier.
"Kamu bicara apa sih? Kita ini gak ada hubungan apa-apa lagi, kamu juga seorang pembunuh yang sudah membunuh suamiku. Haruskah aku dekat dengan pembunuh sepertimu?" ujar ratu Lien.
"Dengar Lien, aku melakukan itu karena tekanan Terizla. Aku tidak ingin membunuh Feng, tapi aku terpaksa karena Terizla terus menekan ku. Padahal aku hanya ingin meminta Feng melepaskan mu agar kita bisa kembali bersama, tolong kamu percaya padaku Lien!" ucap Xavier.
"Untuk apa aku percaya dengan kata-kata omong kosong mu itu? Sekarang lebih baik kamu pergi, tinggalkan aku sendiri disini!" pinta ratu Lien.
"Tidak akan Lien. Aku justru akan melepaskan kamu dari sini, lalu kita tinggal bersama-sama di istana ini sebagai seorang raja dan permaisuri. Kamu mau kan Lien?" ucap Xavier.
"Maksud kamu apa?" tanya Lien kebingungan.
"Iya, aku akan menikahi mu Lien. Sebentar lagi juga aku bakal menjadi seorang penguasa di istana Quangzi ini, aku butuh pendamping yang bisa menemaniku untuk memimpin istana. Aku rasa kamu lantas Lien, terlebih aku juga mencintaimu." jelas Xavier.
"Kamu tidak usah mengada-ada! Gak mungkin kamu bisa menjadi raja disini, sedangkan Terizla sudah mengukuhkan diri sebagai pemimpin Quangzi yang baru, walau tanpa persetujuan ku. Jadi, semua omongan mu itu hanya khayalan semata!" ujar ratu Lien.
"Tidak Lien, itu bukan khayalan. Aku akan menjadi raja disini menggantikan Terizla yang pergi jauh bersama Alice," ucap Xavier tersenyum smirk.
Lien terkejut mendengar omongan Xavier, ia tak mengira kalau Xavier benar-benar licik. Bahkan pria itu sampai tega mengkhianati sekutunya sendiri dan ingin merebut Quangzi dari Terizla, padahal dulunya Xavier adalah kurang yang baik.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1