
Ceklek...
Feng Lian muncul dari balik pintu, tersenyum menatap kedatangan pangeran ke tempat tinggalnya itu.
"Pangeran?" ucap Feng Lian terkejut.
"Iya Lian, ini aku. Selamat pagi ya gadis cantikku!" ucap An Ming sambil tersenyum renyah.
"Hah? I-i-iya, pagi juga pangeran!" balas Feng Lian.
"Kamu sungguh cantik pagi ini, Lian! Wajah kamu terlihat lebih anggun dari sebelumnya, aku suka itu!" ucap An Ming merayu gadis itu.
"Terimakasih pangeran! Oh ya, pangeran ada apa datang kesini?" tanya Feng Lian.
"Tidak ada, aku hanya ingin bertemu denganmu. Asal kau tahu, semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan kamu." jawab An Ming.
"Pangeran bisa aja, ngapain juga pangeran mikirin aku? Aku kan bukan siapa-siapa," ucap Feng Lian.
"Sekarang kamu emang bukan siapa-siapa, tapi gak lama lagi kamu bakal jadi istri aku sekaligus tinggal di istana Quangzi." ucap An Ming.
"Hah? Istri??" Feng Lian terkejut hebat mendengar ucapan An Ming barusan.
"Pangeran seriusan bilang begitu tadi?" tanya Feng Lian memastikan.
"Iya Lian, buat apa aku bercanda? Aku mau mempersunting kamu dan membawa kamu ke istanaku, bahkan kakak serta ibuku saja sudah setuju dengan itu." jawab An Ming.
"Ta-tapi, aku ini hanya warga desa biasa. Aku tidak pantas menjadi istrimu pangeran, aku lebih cocok sebagai pelayanmu." ucap Feng Lian.
"Hey! Kata siapa?" ujar An Ming.
"Memang begitu pangeran, warga desa tidak mungkin bisa menjadi istrimu. Aku yakin ada banyak putri kerajaan lain yang pantas untukmu pangeran," ucap Feng Lian.
"Jika aku maunya dirimu, mereka bisa apa? Kamu itu cantik sayang, aku suka!" ucap An Ming.
Feng Lian terdiam saja di tempatnya.
"Sudahlah, boleh kan aku masuk? Aku ingin bicara dengan ayahmu terkait proses lamaran kita," ucap An Ming.
"Apa? Lamaran??" lagi-lagi Feng Lian kembali dibuat terkejut, hari masih pagi namun suasana jantungnya sudah berdebar sangat kencang.
Sementara Zheng di belakang sana juga tak kalah terkejut, ia heran pada sang pangeran lantaran ingin melamar gadis yang baru dikenalnya.
"Iya cantik, aku mau secepatnya kita menikah. Maka dari itu, sekarang juga aku mau bilang sama ayah kamu kalau kita akan menikah." ucap An Ming sambil tersenyum lebar.
"Maaf pangeran! Tapi, apa tidak terlalu cepat? Kita saja baru kenal sehari loh, masa pangeran udah mau lamar aku?" tanya Feng Lian.
"Itu gak penting cantik, kalau sudah cinta maka disegerakan saja menikah! Jadi, aku mau nikahin kamu secepat mungkin!" jawab An Ming.
"Terserah pangeran aja deh, aku juga gak bisa bantah keinginan pangeran. Kalau emang kamu maunya begitu, yaudah aku mah cuma bisa nurut aja." ucap Feng Lian malu-malu.
An Ming tersenyum puas, kemudian mencolek dagu gadisnya sekilas.
"Begitu dong sayang, kalo gitu aku mau ketemu sama ayah kamu ya? Abis itu kita bahas tentang pernikahan kita Minggu besok," ujar An Ming.
"Hah? Minggu besok?" ujar Feng Lian terkejut.
"Iyalah Lian, kalau bisa cepat kenapa harus lama-lama ya kan? Lagian pernikahan itu gak baik ditunda-tunda, harus disegerakan!" ucap An Ming.
"I-i-iya aja deh," ucap Feng Lian gugup.
•
•
Xiu dan Wein Lao berniat pulang ke istana mereka setelah menghabiskan waktu bersama di taman khusus milik pria itu.
Keduanya tampak sangat bahagia, mereka terus tersenyum dan saling merangkul satu sama lain di atas kuda yang mereka tumpangi.
"Sayang, makasih banget ya kamu udah bikin hari aku cerah kali ini!" ucap Xiu.
"Sama-sama cantik, itu udah tugas aku sebagai suami kamu." ujar Wein Lao.
"Ih kamu emang paling bisa deh bikin aku bahagia kayak gini!" ucap Xiu tersipu.
"Yaudah, berarti nanti malam aku boleh minta jatah dong? Kan aku udah bikin kamu bahagia," ujar Wein Lao sambil tersenyum licik.
"Kamu kok jatah mulu sih yang dipikirin? Enggak ah aku capek tau!" ucap Xiu kesal.
"Yeh kok gak mau sih? Sia-sia dong aku bikin kamu bahagia kayak sekarang, masa gak ada imbalannya buat aku?" ujar Wein Lao.
"Berarti kamu ngelakuin ini semua gak ikhlas ya? Cuma ngarepin dapet jatah gitu?" ucap Xiu.
"Gak gitu lah sayang, maksudnya aku bikin kamu senang supaya kamu mau kasih jatah ke aku." ucap Wein Lao.
"Ya itu mah sama aja, tau ah dasar suami nyebelin!" ujar Xiu merengut.
"Hey! Kok bilangnya gitu sama suami sendiri? Gak boleh tau sayang!" tegur Wein Lao.
"Biarin aja, suruh siapa kamu kayak gitu sama aku?! Aku udah senang-senang, eh gak tahunya kamu ada niat terselubung." ujar Xiu.
"Jangan cemberut gitu lah sayang! Aku kan cuma minta hak aku sebagai suami, apa salah?" bujuk Wein Lao.
Xiu menatap ke arah Wein Lao dengan wajah kesal yang tampak imut di mata pria itu.
"Kamu kenapa? Marah sama aku? Kamu itu kalo lagi marah begini malah kelihatan tambah imut tau, aku terkam juga nih disini." goda Wein Lao.
__ADS_1
"Ish, imut imut apanya!" cibir Xiu.
"Hahaha, tuh kan makin imut! Istriku ini emang dah gak ada lawan!" ucap Wein Lao.
"Gausah ngerayu, aku lagi kesel sama kamu!" ujar Xiu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Yah jangan gitu dong cantik!" bujuk Wein Lao.
"Suka-suka aku lah, makanya kamu jangan nyebelin jadi cowok! Kasih hadiah ke aku ternyata ada maunya, dasar mesum!" cibir Xiu.
"Mesum sama istri sendiri mah gapapa dong?!" ujar Wein Lao sambil terkekeh kecil.
Xiu terdiam saja, ia benar-benar kecewa pada kelakuan suaminya itu yang menurutnya sangat menyebalkan.
Tiba-tiba saja, seorang wanita terlempar dan mendarat tepat di hadapan mereka dengan kondisi luka yang cukup parah.
Bruuukkk...
"Akh! To-tolong!!" ringis wanita itu.
"Hah??" Xiu terkejut melihatnya.
•
•
Disisi lain, Felix tengah menjalankan tugas dari sang ratu untuk memantau dan mencari tahu info mengenai Feng Lian, kekasih An Ming itu.
Tampak Felix mengendap-endap dibalik pohon dan semak belukar untuk memandangi Feng Lian di depan sana.
"Ternyata itu wanitanya, dia cantik pantas saja pangeran sangat tertarik padanya!" gumam Felix.
Disaat Felix hendak melangkah lebih dekat demi mencari tahu apa yang sedang diobrolkan An Ming di depan sana, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Heh! Kamu siapa? Lagi apa disini?" Felix terkejut hebat ketika suara parau terdengar di telinganya.
"Eee sa-saya.." Felix terlihat gugup dan bingung saat hendak menjelaskannya.
"Kalau kamu mau macam-macam, saya akan teriak supaya warga disini langsung hajar kamu!" ancam pria itu.
"Ja-jangan pak! Saya bukan penjahat kok, saya ini pasukan istana Quangzi." ucap Felix gemetar.
"Punggawa istana? Lalu, mau apa kamu ada disini dan mengendap-endap begitu?" tanyanya lagi.
"Eee aku hanya ingin memastikan pangeran An Ming baik-baik saja, itu dia sedang ada di depan sana bersama seorang wanita." jawab Felix.
Sontak pria itu mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Felix.
"Oh begitu, maaf deh tadi saya sudah salam paham sama kamu! Abisnya gerak-gerik kamu mencurigakan sih, jadinya saya kira kamu itu mau macam-macam disini." ucap pria itu.
"Baiklah, kalau begitu teruskan saja memantaunya ya tuan!" ucap pria itu.
"Eh tunggu tunggu! Saya bisa tanya sesuatu sama kamu?" ujar Felix menahan pria itu.
"Iya bisa tuan, memangnya kamu mau tanya apa sama saya?" ucap pria itu penasaran.
"Kamu tahu wanita yang disana itu?" tanya Felix seraya menunjuk ke arah Feng Lian.
"Ah iya, saya tahu. Ada apa ya sama dia tuan?" jawab pria itu kebingungan.
"Pangeran An Ming mengatakan ingin menikahi gadis itu, lalu saya ditugaskan ratu untuk mencari tahu siapa dia. Jika kamu tahu sesuatu tentang dia, tolong beritahu saya sekarang juga!" jelas Felix.
"Ohh, iya iya saya tahu kok tuan. Gadis itu namanya Feng Lian, dia kembang desa di kampung ini. Banyak lelaki yang mengejar-ngejar dia dan berharap citanya, saya gak nyangka kalau pangeran ternyata juga tertarik sama dia." ucap pria itu.
"Pantas saja dia sangat cantik, ternyata memang dia incaran banyak pria. Lalu, apa kamu tahu mengenai keluarganya?" tanya Felix kembali.
"Tentu saja tuan, saya kenal dekat sama orang tua Feng Lian!" jawabnya.
•
•
"Permisi ratu!" ucap Gusion.
"Iya panglima, ada apa?" tanya ratu Lien.
"Ada yang ingin saya sampaikan pada ratu, ini penting sekali ratu!" jawab Gusion.
"Penting sekali? Apa itu?" tanya ratu Lien penasaran.
"Begini ratu, barusan ada seseorang yang mengirim surat ke kita. Isi suratnya itu ancaman, dia minta kita semua untuk keluar dari istana atau kita akan mati." jelas Gusion.
"Hah? Bisa aku lihat surat itu?" pinta ratu Lien.
"Tentu ratu, ini suratnya." jawab Gusion.
Gusion pun memberikan surat tersebut kepada sang ratu, yang langsung membuat ratu Lien terkejut hebat melihatnya.
"Siapa yang kirim surat ini?" tanya ratu Lien.
"Saya juga tidak tahu ratu, tadi dia mengirim surat melalui anak panah." jawab Gusion.
"Haish, kurang ajar!" geram ratu Lien.
Tampak amarah tersirat di sorot mata sang ratu setelah membaca isi surat tersebut.
__ADS_1
"Gusion, kamu harus cari tahu siapa pengirim surat ini! Temukan dia dan bawa dia ke hadapanku secara hidup-hidup!" perintah ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Gusion patuh.
Setelahnya, Gusion pun berbalik lalu pergi dari tempat itu untuk melaksanakan tugas yang diberikan sang ratu.
"Maaf ratu! Apa hamba boleh menemani Gusion mencari pengirim surat itu?" tanya Ryu.
"Tidak Ryu, kamu tetap disini dan jaga istana! Istana tidak boleh kosong, karena itu sangat berbahaya! Bisa saja ada musuh yang datang menyerang nanti, kita tidak boleh lengah!" jawab ratu Lien.
"Baiklah ratu, kalau begitu hamba akan berjaga di luar!" ucap Ryu.
"Ya Ryu, silahkan!" ucap ratu Lien.
"Permisi ratu!" ucap Ryu.
Ryu pun menyusul pergi untuk kembali berjaga di gerbang istana.
Tampak Gusion juga masih berada disana, ia seperti sedang kebingungan saat ini.
"Panglima, sedang apa?" tanya Ryu heran.
"Aku bingung paman, aku tidak tahu harus mencari pengirim surat ini kemana. Gak ada petunjuk sama sekali yang bisa aku dapatkan, ini sangat sulit!" jawab Gusion gelisah.
"Sabarlah panglima! Bagaimana dengan panah yang dikirim oleh orang itu sebelumnya? Siapa tahu kita bisa dapatkan petunjuk disana," ucap Ryu.
"Ah iya, kau betul paman! Tapi, dimana ya anak panah itu?" ujar Gusion.
"Bukankah sebelumnya kamu menyuruh prajurit untuk mencabut panah itu?" tanya Ryu.
"Iya benar, tapi aku gak tahu kemana prajurit itu membuang anak panahnya. Aku juga lupa sudah menyuruh siapa," jawab Gusion.
"Kita tanyakan saja pada mereka yang berjaga disini," ucap Ryu.
"Baiklah paman!" ucap Gusion menurut.
Mereka berdua pun sama-sama menanyakan hal itu kepada seluruh prajurit disana.
"Jadi, kau yang mencabut anak panah itu?" tanya Gusion.
"Benar panglima!" jawab prajurit itu.
•
•
Raja Ling masih terus memikirkan perkataan Alice tentang putri Xiu dan Wein Lao.
Ia khawatir jika perkataan itu memang benar maka keselamatannya akan terancam.
"Sial! Gara-gara perkataan Alice tadi, aku jadi tidak bisa fokus mencari Reiner si pembunuh itu! Tapi, yang dia katakan itu benar tidak ya? Apa iya Xiu sejahat itu?" batin raja Ling.
Melihat rajanya tengah dilanda kebingungan, Akai pun berinisial mendekatinya.
"Ada apa yang mulia?" tanya Akai penasaran.
"Tidak, aku hanya kepikiran dengan perkataan ratu Alice tadi. Aku khawatir jika semua yang dia katakan benar adanya," jawab raja Ling.
"Tenanglah yang mulia! Aku yakin, putri Xiu tidak mungkin seperti itu! Ratu Alice pasti sengaja ingin mengadu domba Quangzi dan Sidhagat, supaya kita bermusuhan lagi." ucap Akai.
"Kau benar juga Akai! Dasar iblis licik! Memang yang dia katakan selalu berhasil membuat orang merasa yakin!" ujar raja Ling.
"Begitulah yang mulia, kita memang tidak boleh mempercayai perkataan iblis! Mereka semua tidak bisa dipercaya," ucap Akai.
"Iya juga, yasudah aku tidak akan memikirkan lagi apa yang dia katakan." ucap raja Ling.
"Benar begitu yang mulia! Kita sebaiknya fokus saja mencari keberadaan Reiner, karena itu tujuan utama kita!" ucap Akai.
"Ya ya ya, tapi kemana lagi kita harus mencari?" tanya raja Ling bingung.
"Eee ikuti saja jalan lurus ini yang mulia, siapa tahu kita bisa mendapat petunjuk di depan sana!" jawab Akai memberi masukan.
"Baiklah, aku ikuti usul kau!" ucap raja Ling.
"Ayo semuanya, kita lanjutkan pencarian ini dan temukan Reiner sampai dapat!" ucap raja Ling pada seluruh pasukannya.
"Siap yang mulia!" sahut seluruh prajurit disana.
Mereka pun kembali bergerak maju demi menemukan Reiner si pengkhianat itu.
Namun, tiba-tiba saja mereka dicegat oleh sekelompok orang bertopeng hitam.
"Hati-hati semuanya!" teriak raja Ling.
Orang-orang bertopeng itu kini berada di hadapan raja Ling dan menatap tajam ke arahnya.
"Siapa kalian?" tanya raja Ling.
"Bukan urusanmu, ayo serang!" ucap orang itu.
Tanpa basa-basi, sekumpulan orang itu langsung menyerah ke arah raja Ling dan para pasukannya secara membabi buta.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1