
"Aku gak akan pernah nurut sama kalian!" ucap Xi Mei keras dan menggeleng cepat.
"Baiklah, kau yang meminta sendiri untuk dikasari. Jangan salahkan kami ya cantik!" ucap ninja itu.
Mereka bertiga langsung bergerak cepat dan hendak menangkap tubuh Xi Mei, namun gadis itu berhasil menghindar dan justru berdiri melewati ketiga pria liar tersebut.
"Ah sial!" ujar si ninja.
"Sudah kubilang, tidak semudah itu kalian bisa menyentuhku. Apa kalian tidak tahu aku ini siapa, ha?" ucap Xi Mei.
"Hahaha, sekarang kau jadi berani ya cantik? Okay, kita semakin senang untuk bisa menangkap kamu kali ini!" ucap ninja itu.
"Coba saja kalo bisa!" tantang Xi Mei.
Xi Mei berlari ke arah luar gubuk, tiga ninja itu pun berteriak dan mengejarnya dengan cepat.
"WOI BERHENTI!!" teriak mereka bersamaan.
Ketiga ninja tersebut berhasil menyusul Xi Mei, mereka menepuk pundak Xi Mei dari belakang dan membuat gadis itu tidak bisa bergerak.
"Hahaha, mau kemana kau? Kamu tidak akan bisa lepas dari kami!" ucap ninja itu.
Xi Mei membalikkan tubuhnya, menarik tangan si ninja yang ada di pundaknya lalu memukul perut pria itu sampai terhempas.
Bughh..
"Akkhh!" si ninja memekik kesakitan sembari memegangi perutnya.
Xi Mei memanfaatkan itu untuk kembali berlari dari sana.
"WOI TUNGGU!" ninja-ninja itu kembali mengejarnya seakan tak mau melepaskannya.
"Hah! Hah! Aku harus kemana ini?" ucap Xi Mei ngos-ngosan.
"WOI BERHENTI!"
"Aduh! Mereka makin dekat lagi, ini aku pilih jalan yang mana ya? Kanan atau kiri? Ah yang mana aja deh, yang penting aku harus bisa kabur dari mereka!" ucap Xi Mei bimbang.
Akhirnya Xi Mei memilih pergi ke arah kanan, ia berlari sekencang mungkin agar bisa terhindar dari ketiga ninja yang mengejarnya.
Benar saja dugaan Xi Mei, ninja-ninja tersebut memilih menghentikan langkahnya dan tidak jadi mengikuti Xi Mei.
"Sial! Dia masuk kawasan Sidhagat lagi, gimana dong bos?" ujar salah satu ninja.
"Biarin aja, paling juga dia bakal dijadiin tawanan disana. Kita cabut aja, jaga daerah perbatasan ini supaya gak ada lagi orang yang bisa masuk kesini!" jawab yang lainnya.
"Oke bos!" ninja-ninja itu menurut dan berbalik pergi kembali menuju gubuk mereka.
✨
Tanpa diduga, ketiga ninja tadi justru berpapasan dengan Ryu yang tengah bingung mencari Xi Mei di kawasan hutan itu.
Sontak saja mereka mencegat Ryu dan melarang Ryu untuk melanjutkan perjalanannya, karena mereka tidak menyukai itu.
"Hey, berhenti!" pinta si ninja.
Ryu menghentikan langkahnya lalu berkata, "Mau apa kalian? Aku hanya ingin lewat, dan aku juga tidak memiliki harta ataupun barang berharga yang bisa kalian ambil."
"Hahaha, dasar bodoh! Kita juga tidak butuh harta kamu!" ucap ninja itu tertawa kecil.
"Lantas mengapa kalian mencegat ku?" tanya Ryu keheranan.
"Pergilah dari sini, kau tidak diizinkan masuk kawasan hutan ini! Kalau kau tetap memaksa, maka kami akan menghabisi kamu!" jawab ninja.
"Aku tidak mau pergi, aku sedang mencari keponakanku dan aku harus bisa menemukan dia!" ucap Ryu.
"Ohh jadi benar, kau pria yang bersama gadis cantik itu semalam kan?" ucap si ninja.
Sontak Ryu terkejut mendengar perkataan ninja tersebut, ia reflek membulatkan matanya dan mendekat ke arah tiga ninja itu.
"Kalian melihat ponakan ku?" tanya Ryu.
"Ya, kami yang membawanya semalam. Kami tidak suka ada orang lain yang memasuki kawasan ini, itu sebabnya kami menculik keponakan mu semalam." jawab si ninja.
"Kurang ajar! Dimana keponakanku sekarang? Cepat katakan bodoh!" bentak Ryu emosi dan langsung menarik baju ninja itu.
"Jangan membentak ku seperti itu! Kau ingin tahu dimana keponakan mu berada kan? Lepaskan dulu bajuku!" ucap ninja itu.
Ryu menurut dan melepaskan tangannya dari baju si ninja, namun ninja itu justru melancarkan serangan ke arahnya dan mengeroyok Ryu secara bersamaan.
Perkelahian pun terjadi, Ryu cukup kewalahan menghadapi serangan dari ketiga ninja itu.
Namun, pada akhirnya ia berhasil melumpuhkan mereka bertiga dengan pedang miliknya.
Bruuukkk...
__ADS_1
Tubuh tiga ninja tersebut pun terjatuh ke tanah, mereka merintih kesakitan sembari memegangi bagian tubuh mereka.
Ryu berjalan menghampiri ketiganya dengan membawa pedang di tangannya, membuat tiga ninja itu ketakutan.
"To-tolong ampuni kami! Jangan bunuh kami!" ucap ninja itu memohon.
"Aku akan mengampuni kalian, kalau kalian mau bebaskan keponakan ku sekarang." ucap Ryu.
"Ta-tapi, keponakan mu sudah tidak ada bersama kami. Dia tadi melarikan diri ke dalam hutan di daerah Sidhagat," ucap ninja itu.
"Jangan bohong kau! Cepat katakan yang sejujurnya, dimana keponakanku?!" bentak Ryu.
"Itu benar tuan, keponakan kamu memang sudah pergi. Kami tadi juga berusaha mengejarnya, tetapi saat dia memasuki kawasan Sidhagat kami tidak berani lagi mengikutinya." jelas ninja itu.
"Mengapa begitu?" tanya Ryu heran.
"Apa kau tidak tahu? Kawasan Sidhagat adalah kawasan paling sensitif di sekitar sini, tidak boleh ada sembarang orang yang memasuki kawasan itu tanpa izin. Hanya masyakarat daerah Sidhagat serta para punggawa istana saja yang dapat masuk kesana," jawab ninja itu.
"Lalu, jika ada yang tetap memaksa masuk padahal dia bukan bagian dari istana, bagaimana? Apa yang akan terjadi padanya?" tanya Ryu penasaran.
"Orang itu bisa ditangkap dan dijadikan tahanan istana, bahkan yang lebih buruk dia juga bisa langsung dibunuh di tempat sebelum sempat masuk ke kawasan istana." jawab ninja itu.
"Dari gaya bicaranya, sepertinya mereka sedang jujur padaku." batin Ryu.
"Baiklah, kalian harus temani aku mencari keponakanku ke wilayah Sidhagat!" ucap Ryu.
"Apa? Ma-maaf tuan, kami tidak berani masuk kesana!" ucap ninja itu ketakutan.
"Kalian lebih pilih mati rupanya?" ancam Ryu.
Ketiga ninja itu langsung terbelalak lebar begitu Ryu mengangkat pedangnya, mereka pun terpaksa ikut dengan Ryu walau sangat ketakutan.
•
•
Xi Mei masih terus berjalan di sekitaran hutan yang cukup lebat itu, ia tampak bingung mencari jalan untuk keluar dari sana dan menemui pamannya.
Tidak adanya busur panah, membuat Xi Mei sedikit was-was khawatir kalau ada sesuatu yang akan menyerangnya nanti.
"Duh, aku harus kemana ini? Gak ada tanda-tanda paman di sekitar sini. Untungnya orang-orang tadi juga gak ngejar aku lagi, tapi kira-kira kenapa ya? Apa mereka takut?" gumam Xi Mei.
"Kalau emang mereka takut, apa coba penyebabnya?" sambungnya.
Tiba-tiba saja Xi Mei merasa seperti ada yang tengah mengawasinya disana, gadis itu pun reflek menghentikan kakinya dan menoleh ke sekeliling.
Namun, suasana sunyi disana dan tidak ada jawaban sama sekali. Xi Mei pun merasa aman, ia berpikir bahwa tadi hanyalah pikirannya saja karena terlalu cemas.
"Huh gak ada apa-apa... tapi, ini aku harus jalan kemana lagi? Capek banget tau, aku gak tahu daerah sini lagi!" ucapnya mengeluh.
Slaasshh...
"Aaaaa!" Xi Mei reflek berteriak kencang saat anak-anak panah berterbangan di atas kepalanya dan hampir mengenainya.
"Si-siapa yang lakuin itu? Muncul kamu, jangan sembunyi dasar pengecut!" teriak Xi Mei.
Tak lama kemudian, Xi Mei menyesali ucapannya karena keluarlah orang-orang yang berpakaian seperti prajurit kuno dari balik semak-semak disana.
"Duh, kok muncul beneran sih?" ujar Xi Mei.
Terlihat orang-orang itu terus melangkah ke dekat Xi Mei dengan tatapan tajam, membuat Xi Mei makin ketakutan.
"Kalian siapa? Mau apa?" tanya Xi Mei gugup.
"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu, siapa kamu dan mau apa kamu masuk ke wilayah kami? Apa kamu tidak tahu, kalau ini adalah wilayah Sidhagat dan tak bisa ada sembarang orang masuk kesini?!" ucap prajurit itu.
"Aku lagi cari paman aku, dan aku juga kesasar. Kalian bisa bantu aku?" ucap Xi Mei.
"Tersesat? Hahaha, itu alasan kuno yang selalu digunakan orang-orang jahat untuk masuk ke wilayah ini. Kami tak akan semudah itu percaya denganmu!" ucap prajurit itu.
"Aku gak bohong, aku benar-benar tersesat. Aku juga gak tahu ini tempat apa, gimana bisa aku punya niat jahat?" ucap Xi Mei.
"Sudahlah, katakan saja yang sejujurnya pada kami apa tujuan kamu masuk ke tempat ini?!" bentak si prajurit makin emosi.
"Aku udah jujur, aku gak bohong!" ucap Xi Mei.
Prajurit-prajurit itu tampak saling bertatapan, mereka berpikir sejenak sebelum mulai melakukan tindakan terhadap Xi Mei.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau jujur. Kami akan tangkap dan bawa kamu ke istana!" ucap prajurit.
"Hah? Istana? Istana apa? Kalian jangan macam-macam ya, aku gak mau ikut sama kalian!" ucap Xi Mei ketakutan.
"Ini bukan pilihan, tapi paksaan!" tegas mereka.
Keenam prajurit itu bergerak maju, mendekat ke arah Xi Mei dan bersiap menangkap gadis itu untuk dibawa menuju istana.
__ADS_1
"Ayo, kita tangkap dia!" teriak si prajurit.
"Siap!" sahut yang lainnya.
"Hey, jangan mendekat! Aku bisa bikin kalian semua menyesal nantinya!" ucap Xi Mei.
"Kami tidak perduli!" tegas prajurit itu.
Prajurit-prajurit itu pun mulai maju dan hendak menangkap Xi Mei, namun Xi Mei tidak pasrah begitu saja karena ia melakukan perlawanan kepada para prajurit tersebut.
•
•
Zheng terus merasa cemas memikirkan Xi Mei, entah mengapa belakangan ini ia terus kepikiran dengan gadis itu.
Mungkin saja Zheng sedang merindukan Xi Mei, sehingga wajah Xi Mei selalu terbayang-bayang di dalam pikirannya.
"Duh, saya kenapa ya? Dari kemarin saya gak pernah bisa lupain Xi Mei. Sebenarnya ini ada apa? Kenapa saya khawatir sekali dengan Xi Mei? Atau jangan-jangan, sedang terjadi sesuatu pada Xi Mei?!" gumam Zheng.
Tiba-tiba saja, ratu Lien muncul disana dan mendekati Zheng yang sedang kebingungan.
"Zheng!" ucap ratu Lien pelan.
Zheng terkejut dan reflek menoleh ke arah sang ratu, ia merasa heran karena ratu Lien sudah berada di dekatnya.
"Eh ratu, maaf kalau saya melamun! Tadi saya—"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bicara denganmu sebentar. Apa kamu bisa?" potong ratu Lien.
"Tentu saja ratu, saya bisa." jawab Zheng.
"Baguslah," ucap ratu Lien tersenyum.
"Eee silahkan ratu duduk dulu! Gak enak lah kalo kita bicaranya sambil berdiri, ratu pasti capek juga kan?!" ucap Zheng.
"Benar juga," ucap ratu Lien setuju dan terduduk di kursi yang tersedia bersama Zheng.
"Jadi, apa yang ratu ingin bicarakan dengan saya? Apakah ada sesuatu yang penting?" tanya Zheng penasaran.
"Tidak juga, aku hanya ingin bertanya-tanya padamu mengenai pendekar Xi Mei. Aku lihat-lihat kamu dan dia cukup dekat, benar begitu Zheng?" ucap ratu Lien.
"Eee begitulah ratu, aku lumayan dekat dengan dia. Kebetulan sejak kecil kami sudah berteman, kita tinggal di desa yang sama, desa Fuxiu." ucap Zheng.
"Oh begitu, lantas apa kamu tahu tentang siapa orang tua pendekar Xi Mei?" tanya ratu Lien.
"Itu dia ratu, saya tidak tahu apa-apa mengenai orang tua Xi Mei. Sejak saya mengenal dia, Xi Mei hanya tinggal bersama paman dan bibinya. Dia juga tidak pernah menceritakan tentang ayah atau ibunya padaku," jawab Zheng.
"Baiklah, kalau begitu kamu bisa kan memantau kondisi Xi Mei setiap hari? Aku butuh laporan mengenai gadis itu," ucap ratu Lien.
"Kenapa ratu ingin saya memantau Xi Mei? Memangnya apa yang hendak ratu dapatkan dari pemantauan ini? Apa Xi Mei melakukan kesalahan ratu?" tanya Zheng heran.
"Ah tidak, bukan itu. Aku hanya ingin tahu, seberapa jauh dia berkembang sekarang." jawab ratu Lien.
"Tapi ratu, sepertinya saya tidak bisa melakukan itu untuk saat ini." kata Zheng.
"Loh kenapa? Bukannya kamu bilang kalau kamu dan dia cukup dekat? Kamu tenang saja, aku akan memberimu cuti dari istana untuk memantau Xi Mei, tapi aku akan tetap membayar gajimu seutuhnya." ucap ratu Lien.
"Bukan masalah itu ratu," ujar Zheng.
"Lalu apa?" tanya ratu Lien bingung.
"Aku tidak bisa melakukannya, karena saat ini Xi Mei sedang pergi bersama pamannya. Dari info yang saya dapatkan, mereka hendak pergi menuju lembah parabuan." jawab Zheng.
"Untuk apa mereka kesana?" tanya ratu Lien.
"Xi Mei itu adalah anak yang selalu merasa kurang, dia tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki saat ini. Xi Mei masih ingin menuntut ilmu lebih tinggi lagi, itu sebabnya pamannya menyarankan dia untuk pergi kesana ratu." jelas Zheng.
"Oh, menurutmu apa dia akan baik-baik saja selama perjalanan menuju kesana?" tanya ratu Lien.
"Semoga saja begitu ratu! Tapi, aku yakin paman Ryu akan menjaga Xi Mei selama perjalanan itu. Ratu tidak perlu khawatir, mereka pasti akan aman dan dapat kembali kemari." jawab Zheng.
"Baiklah, semoga yang kau katakan benar dan tidak terjadi sesuatu pada mereka!" ucap ratu Lien.
Zheng mengangguk-angguk pelan, sejujurnya ia penasaran mengapa ratu Lien tiba-tiba berbicara mengenai Xi Mei bersamanya.
"Maaf ratu kalau saya lancang! Saya ingin bertanya, mengapa ratu terlihat khawatir sekali dengan Xi Mei? Dan mengapa juga ratu terlihat ingin tahu perihal Xi Mei? Apa ratu mengenal gadis itu sebelumnya?" tanya Zheng penasaran.
"Eee aku..." ratu Lien bingung menjawabnya.
Tanpa disadari oleh mereka, Xavier rupanya tengah menguping dari jarak yang tidak terlalu jauh. Xavier pun juga penasaran mengapa istrinya tampak cemas sekali dengan Xi Mei.
"Aku ingin tahu, apa kiranya jawabanmu Lien. Aku juga penasaran, siapa sebenarnya Xi Mei dan mengapa kau terlihat begitu dekat dengannya?" gumam Xavier dalam hati.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...