
Dara masuk ke dalam rumah yang megah itu, ternyata benar kata Mona bahwa para pembantu disana kalau di malam hari sudah berada di paviliun, sehingga dia bisa leluasa masuk kesana.
Mona memang tidak tahu dengan jelas letak kamarnya Novan, dia hanya mengetahui letak kamarnya Novan ada dilantai satu.
Dan ternyata dilantai satu hanya ada tiga kamar tidur, Dara mencoba untuk membuka satu persatu pintu kamar disana, ternyata dua kamar tidak dikunci, mungkin karena kamar itu adalah kamar tamu, makanya tidak dikunci.
Hanya tersisa satu kamar di lantai satu itu, ternyata pintu tersebut kuncinya menggunakan pasword. Dara yakin kamar itu pasti kamarnya Novan.
Dara mencoba untuk memasukan pasword dengan ngasal, sampai Dara memasukkan tanggal kelahiran Novan, namun ternyata tetap saja salah.
Dara nampak frustasi, kemudian dia mencoba untuk memasukan tanggal kelahirannya sendiri, karena dia tahu Novan sangat terobsesi pada Dara.
Dara terperangah, begitu kamar pintu itu akhirnya bisa dibuka, ternyata Novan memang sangat mencintainya sampai pasword kunci pintu kamarnya pun harus menggunakan tanggal lahirnya, tapi walaupun begitu, Dara sudah tidak bisa membalas perasaan Novan, karena pria itu sudah tidak ada lagi dihatinya.
Dara masuk ke dalam kamar, dia segera mencari guci berwarna biru yang dulu dia berikan pada Novan.
Dara melihat guci tersebut ada diatas nakas, matanya berkaca-kaca melihat guci itu, bagaimana pun juga Novan pernah ada di dalam hatinya, sampai Dara membuatkan guci tersebut untuk kado ulang tahun Novan karena dia tidak memiliki uang untuk membeli sesuatu.
Tapi ternyata cinta Novan malah berubah menjadi obsesi, sampai tega membuat Dara koma kemudian dia lumpuh dan amnesia dalam waktu yang lama, walaupun sekarang dia sudah bisa berjalan dengan lancar, setelah dia berusaha keras untuk bisa berjalan lagi.
Dara menghapus air matanya yang tiba-tiba saja menetes, "Kenapa kamu tega bisa berbuat kejam seperti itu padaku, Novan?" lirihnya, menatap guci pemberian darinya.
Dengan hati yang berdebar Dara membuka tutup guci itu, dia melihat ada sebuah flashdisk disana, entah apa isi di dalam flashdisk tersebut, dia segera membawanya.
__ADS_1
Dara mengendap-ngendap berjalan keluar rumah yang megah itu, Dara masih melihat kedua security yang sedang sibuk memisahkan Mona dan Alan, karena mereka bertengkar dengan cara tidak jelas.
"Aduh udah dong kalian bertengkarnya." lerai seorang security yang berbadan tinggi.
"Bagaimana kami tidak bertengkar, dia itu maksa terus agar aku mau jadi pacarnya." jawab Mona dengan nada ngotot sambil menunjuk Alan.
Alan hanya bisa menghela nafas, dia harus berpura-pura naksir pada Mona. "Ayolah Mona, kita jadian aja. Nanti aku kasih cilok, makanan kesukaan kamu."
"Lho kok kamu tau makanan kesukaan aku?" tanya Mona pada Alan.
"Ya tau lah, kamu tiap hari ke sekolah makan cilok."
Security berbadan besar menepuk pundak Alan, "Kalau cinta itu gak boleh pemaksaan lho, Mas. Mending Mas cari cewek lain aja yang bisa menerima Mas apa adanya."
Mona dan Alan sangat bernafas lega begitu melihat Dara sudah berhasil keluar dari gerbang.
"Wah ide yang bagus, iya mending aku sama dia aja dari pada menunggu Yunan yang gak pasti." Mona langsung merangkul lengan Alan, karena harus segera pergi dari sana.
Alan terkekeh, "Nah gitu dong honey, jadi kita jadian ya?"
Mona menganggukan kepala, "Ya udah, kita jadian aja. Tapi ingat ya ciloknya nanti."
Kedua security menggaruk kepalanya yang gak gatal, dia gak paham, tadi mereka bertengkar terus makanya kedua security itu berusaha untuk memisahkan mereka, eh sekarang mereka secara tiba-tiba menjadi akur dan jadian.
__ADS_1
"Ehm, ehm." Alan terus saja berdehem sambil memegang tenggorokannya. "Gara-gara berantem terus sama kamu, aku jadi haus, honey. Boleh minta minum gak Mas?" Alan ingin minta minum pada kedua security disana.
"Bawa aja Mas di pos security." jawab salah satu security disana.
Security berbadan tinggi ingin mengikuti Alan, "Biar saya antar."
Mona langsung mengajak bicara pada security yang mau mengikuti Alan, "Eh Mas saya mau bicara."
"Bicara apa, Nona?"
Mumpung Mona bisa mengalihkan perhatian mereka, Alan segera masuk ke pos security, dia memang haus, karena dari tadi terus saja beradu mulut dengan Mona. Mona emang jago dalam masalah bicara.
"Skenario apaan? Masa aku dibilang naksir sama dia?" gerutu Alan, setelah minum, dia membuka laptop security, lalu dia menghapus rekaman CCTV pada hari ini.
...****************...
Alan dan Mona menjemput Dara yang sedang berdiri tak jauh dari gerbang belakang rumahnya Pak Tomi.
Mona dan Dara duduk di kursi belakang, sementara Alan yang menyetir mobil.
Dara memasukkan flashdisk ke laptop miliknya Alan, dia ingin tau ada apa aja di dalam flashdisk itu.
"Wah ada video apa itu?" Mona sangat penasaran.
__ADS_1
"Sepertinya rekaman CCTV." Dara segera mengklik video tersebut, begitu video itu berputar, Mona dan Dara nampak shock melihatnya.