
Baca malam saja...
Novan pulang ke rumahnya, dia langsung ditanyai beberapa pertanyaan oleh Bu Thesa karena melihat wajahnya terluka. Beruntung ayah tirinya sudah tidur.
"Novan, kenapa wajah kamu terluka? Kamu bertengkar sama siapa?"
Novan enggan menjawab pertanyaan dari mamanya. "Novan capek, Ma. Novan mau tidur."
"Kamu itu kepala sekolah, gak pantas wajah kamu babak belur seperti itu, reputasi kamu bisa tercoreng nanti." Bu Thesa malah mengomel.
Novan menghela nafas, "Sebenarnya aku lelah untuk melakukan semua ini, Ma. Terkadang aku ingin sekali menyerah, hidup tidak sesuai dengan yang aku mau itu sangat membuat aku tersiksa."
Bu Thesa tidak terima jika Novan menyerah begitu saja. "Hanya satu langkah lagi, papa tirimu sakitnya sudah bertambah parah. Tidak mungkin dia mempercayakan pada Yunan untuk menjadi pemegang perusahaan, Yunan belum cukup umur."
"Tapi ambisiku ini sudah membuat aku kehilangan hal yang paling berharga untuk aku, Ma." Novan mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.
"Maksudmu apa, Novan? Siapa hal yang berharga untuk kamu?" Bu Thesa tidak terima jika Novan memiliki wanita lain selain Yuri.
Novan hanya diam, dia enggan untuk menjawab.
"Ingat Novan, kita sudah terlanjur melakukan semua ini. Jangan sampai kamu menyerah! Angkasa Grup harus menjadi milik kita, kamu mau hidup miskin seperti dulu lagi?"
Tentu saja Novan sudah nyaman dengan kehidupannya yang sekarang, apapun yang dia mau bisa dia beli. Dulu saat dia dan ibunya hidup miskin, mereka sangat kesulitan sekali untuk mencari sesuap nasi.
Tapi hatinya benar-benar hancur jika membayangkan Dara telah menjadi istri rahasianya Yunan. Dia tidak bisa membiarkan Dara lebih lama lagi tinggal bersama Yunan.
"Aduh bagaimana cara menyembunyikan wajahmu yang lebam itu, Novan? Kenapa harus berkelahi sih? Tidak bisa kah kamu terus terlihat menjadi anak yang baik?" Bukannya mengobati luka Novan, Bu Thesa malah terus mengomel.
__ADS_1
Novan merasa kesal mendengar mamanya yang terus saja mengomelinya, lebih baik dia pergi dari sana.
"Lho kamu mau kemana, Novan?"
"Tidur di luar." jawab Novan dengan nada ketus, dia menjawab sambil berjalan ke luar dari rumah.
Dulu Dara adalah orang yang paling mengerti dengan perasaannya, dia selalu merasa tenang dan nyaman jika bersama Dara, namun karena ambisinya dia telah kehilangan gadis itu sekarang.
Tapi Novan tidak akan menyerah, dia akan merebut Dara kembali dari Yunan.
...****************...
Ternyata Novan pergi ke apartemen Yuri, Yuri terkejut saat melihat wajah Novan yang terluka.
"Sayang, wajah kamu kenapa?" Yuri memegang wajah Novan yang lebam.
Novan menghentakan tubuh Yuri ke dinding dengan kasar. Membuat Yuri ketakutan. "Sayang, kamu kenapa?"
"Aku sedang kesal, tolong puaskan aku!" Novan menyambar bibir Yuri, dia mencium bibirnya dengan kasar.
Yuri tidak bisa mengimbangi keganasan Novan, bahkan pria melucuti semua pakaiannya. Lalu melahap buah dada Yuri.
"Ahhh... sayang pelan-pelan." Yuri meringis merasakan perih di area puncak di bulatan kenyalnya.
Novan tak seperti biasanya, dia bersikap begitu dingin dan kasar.
Novan menggendong tubuh Yuri. Membawanya masuk ke dalam kamar. Lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Novan menindih tubuh Yuri, dia langsung melahap kembali bulatan kenyal di dada Yuri, memainkan area puncaknya dengan lidah, lalu menyesapnya dengan kuat.
"Ahhh... Novan!"
Badan Yuri menggelinjang begitu merasakan jemari Novan bergerak menulusuri pangkal paha, lalu jemari itu bergerak menyentuh area intinya.
"Owhh..."
Yuri mencengkram rambut Novan yang sedang asik menyesap buah dadanya, dia dibuat gila begitu merasakan jemari Novan dibawah sana masuk ke dalam miliknya, bergerak keluar masuk, membuatnya meremang.
"Ahhh.... cepat masukan sayang." Yuri sudah tak tahan lagi.
Novan segera menyatukan milik mereka, dia menggerakkan pinggulnya, menghantam milik Yuri berkali-kali.
Keduanya mende-ah.
Keringat membasahi keduanya, malam ini adalah malam ketiganya untuk mereka. Yuri melakukannya dengan sepenuh hati karena dia sangat mencintai Novan, namun Novan hanya menganggap Yuri pelampiasan naf-su saja.
Novan menyesap buah semangka milik Yuri. kemudian Novan menghentakkan lebih dalam.
"Ahhh..."
Keduanya mengerang begitu merasakan ada yang keluar dari milik mereka, sehingga tubuh Novan ambruk menindih Yuri.
Novan merasakan sedikit lega karena sudah mendapatkan pelampiasan atas semua rasa kesal yang dia hadapi malam ini. Dia kesal karena Dara mengabaikannya, dia kesal karena Yunan bilang tidak akan melepaskan Dara, dan dia juga kesal karena ibunya selalu saja menekannya untuk menjadi anak yang baik dan penurut di depan ayah tirinya.
Setelah Novan tidur terlelap, Yuri mengobati luka di wajah Novan, kemudian dia tersenyum memandangi wajah calon suaminya itu, Yuri beberapa kali memberikan ciuman di wajah Novan yang sudah dia obati itu.
__ADS_1