
Walaupun pikiran Yunan saat ini sedang kalut, tapi dia tidak boleh bertindak gegabah dan terburu-buru, apalagi sekarang ini ada seseorang yang harus dia lindungi dan dia jaga.
Jika Novan adalah orang sejahat yang dia pikirkan, Dara berarti berada dalam bahaya, karena Novan begitu berambisi untuk memiliki Dara. Biar nanti saat Novan dan ibu tirinya lengah, dia bisa menginterogasi ketiga pembantu disana.
Yunan bergegas pergi ke apartemennya, dia harus berpura-pura terlihat ceria di depan Dara, dia tidak boleh terlihat sedih setelah mengetahui bagaimana kematian ayahnya yang mungkin saja meninggal secara tidak wajar, karena Dara juga tidak boleh banyak tekanan.
Tiitt...
Tiitt...
Tiitt...
Yunan memasukkan pasword ke dalam kunci pintu apartemen, tak lama kemudian pintu pun bisa terbuka, Yunan masuk ke dalam apartemennya, dia langsung mencari sang istri tercinta.
"Dara!"
"Dara!"
Yunan memanggil nama sang istri sambil mencarinya ke setiap sudut ruangan.
Yunan sangat bernafas lega begitu melihat Dara sedang memasak di dapur.
__ADS_1
Dara menoleh ke arah Yunan. "Kamu sudah pulang?"
Yunan menganggukkan kepala, "Hm."
Yunan berjalan mendekati Dara, lalu memeluk tubuh Dara. Memeluknya dengan begitu erat. "Izinkan aku memeluk kamu, hanya sebentar. Hari ini aku sangat lelah sekali." lirihnya.
Padahal bukan lelah, tapi hati Yunan sedang sedih, masih teringat bagaimana isi surat dari sang ayah, dan apalagi kemungkinan ayahnya meninggal secara tidak wajar.
Dengan memeluk Dara, hati Yunan yang begitu sedih kini bisa sedikit tenang.
Dara hanya diam, dia tak menjawab perkataan Yunan, walaupun sebenarnya dia ingin membalas pelukan suaminya itu, tepatnya orang yang bertahta di dalam hatinya.
Maafkan aku Yunan, tapi aku harus melakukannya demi kamu_ kata hati Dara.
Novan telah sampai di jembatan yang ada di Jalan Nuansa 5, dia menghentikan mobilnya disana, Novan melihat ke GPS yang dikirim oleh Arya, si peneror itu masih berada di jembatan tersebut.
Novan menyeringai, "Awas saja kalau sampai aku menemukan kamu, aku tidak akan pernah memaafkan kamu."
Novan segera turun dari mobilnya, suasana disana begitu sepi, memang dari dulu suasana di jembatan itu tak begitu ramai, sehingga Novan sangat leluasa untuk membuang tubuh Yuri ke sungai yang ada di kolong jembatan tersebut, 6 tahun yang lalu.
Novan celingukan mencari seseorang di jembatan tersebut. Dia tak paham, padahal di GPS masih terlacak si peneror itu masih ada disana, tapi mengapa tak ada siapa-siapa.
__ADS_1
Novan tak sengaja melihat ada sebuah ponsel disana, membuat dia menggigit bibir bawahnya, lalu membawa ponsel tersebut.
"Shittt..." Novan yakin si peneror itu sedang mengerjainya.
Untuk memastikannya, dia mencoba menelpon nomor si peneror itu, dan benar saja ponsel itu bergetar.
Drrrrrttt...
Drrrrrttt...
Novan merasa kesal, seakan dia sedang dipermainkan oleh orang tersebut.
"Hei, siapa lu?"
"Kalau berani ayo lawan gue, bangsatt!"
Novan membanting ponsel tersebut, sampai ponsel itu retak, dengan emosinya Novan menginjak-injak ponsel itu sampai hancur.
"Awas saja, aku akan menghancurkan kamu seperti ponsel ini. Jangan pernah berani mempermainkan aku."
Asisten El hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Novan yang nampak mengerikan itu, seperti orang gila, berteriak-teriak, marah-marah,dan juga menghancurkan handphone sampai tak berbentuk lagi.
__ADS_1
Padahal dulu saat dia pertama kali melihat Novan yang masih remaja, Novan terlihat sangat pendiam dan lugu, dia tak paham mengapa Novan bisa berubah semenakutkan itu.
Sepertinya Novan telah di teror oleh seseorang, bisa dipastikan Novan melakukan kejahatan bukan hanya ke satu orang.