
Novan telah selesai meeting bersama kliennya, setelah selesai meeting, dia harus kembali ke hotel Briliant, dia bertemu dengan suster Devi yang sedang berdiri di depan kamar hotel nomor 207, itu adalah kamar hotel milik Dara.
"Luna dimana?" tanya Novan pada suster Devi.
Suster Devi terpaksa berbohong, Novan tidak boleh tau kalau Dara telah menghilang malam ini. "Nona Luna sudah tidur, Tuan. Nona Luna sangat kelelahan, karena itu dia meminta jangan ada yang mengganggunya."
"Biarkan aku melihatnya." Novan ingin melihat Dara yang sedang tertidur, padahal baru beberapa jam tidak bertemu, tapi rasanya sangat merindukannya.
"Maaf, gak bisa, Tuan. Nona Dara harus beristirahat malam ini." suster Devi memang lebih loyal pada Dara, karena dia sudah merawat Dara begitu lama, banyak menghabiskan hari-harinya untuk mengurus sang Nona.
Novan hanya bisa menghela nafas, karena dia tau suster Devi lebih patuh pada Dara dibandingkan dengannya, makanya dulu dia ingin memecat suster itu, tapi karena Dara menolak keputusan Novan, dia terpaksa masih mempekerjakannya.
"Hmm... oke, tapi kakinya gak kenapa-kenapa kan?"
"Gak, Tuan. Nona Dara sudah berjalan lancar, hanya saja dia belum bisa berjalan cepat apalagi berlari."
Novan sangat bernafas lega, kemudian dia memberikan satu botol berisi obat pada suster Devi. "Obat Luna tinggal sedikit lagi, aku sudah membelinya. Kamu harus rutin memberikannya obat, agar dia cepat sembuh."
__ADS_1
Suster Devi menganggukan kepala, dia membawa obat dari tangan Novan. "Baik, Tuan. Tapi boleh saya usul?"
"Usul apa?"
"Ingatan Nona Luna sama sekali tidak ada perkembangan, bagaimana kalau kita carikan saja dokter yang lain. Saya rasa Dokter Prayoga tidak mampu menyembuhkan ingatan Nona Luna." Suster Devi sangat memperhatikan kesehatan Dara.
Novan sangat tidak suka dengan usulan dari suster Devi, tapi agar tidak membuatnya curiga, dia terpaksa mengiyakan saja. "Baiklah, nanti aku akan mencarikan dokter yang lebih baik dari Dokter Prayoga."
Setelah mengatakan itu, Novan masuk ke dalam kamarnya, dia sangat kelelahan sekali, sehingga membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Impian dia telah tercapai, Angkasa dan Dara telah berada dalam genggamannya, walaupun dia merasa ada yang kurang karena Dara belum bisa menerimanya dengan sepenuh hati. Sehingga setiap mereka bertemu, Dara ingin selalu ditemani suster Devi, maka dari itu dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Dara, apalagi bermesraan.
"Maafkan aku Dara, aku terpaksa melakukannya, agar kamu menjadi milik aku. Karena cinta aku lebih besar dari pada cinta Yunan kepadamu. Aku yang lebih dulu mengenalmu dan aku yang lebih dulu mencintaimu." lirih Novan.
Novan sangat merasa bersalah pada Dara, karena hari itu, tepatnya 6 tahun yang lalu, dia terpaksa harus membuat Dara hampir mati.
Novan tau Dara telah diusir oleh Pak Tomi, makanya dia dari pagi mengikuti Dara, mengikuti bus yang ditumpangi Dara.
__ADS_1
Namun, Novan sangat kecewa ketika tau Dara memutuskan untuk kembali pada Yunan, Dara berhenti di tengah jalan, lalu menyebrangi jalan menuju halte bus. Dari raut wajah Dara, dia terlihat sangat menyesal karena harus berniat meninggalkan Yunan.
Karena itu Novan terpaksa harus menabrak Dara, dia tidak rela jika Dara kembali pada Yunan, walaupun setelah dia berhasil menabrak Dara, Novan menangis, membenci dirinya sendiri, karena hampir saja Dara mati gara-gara ulahnya.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel Novan tiba-tiba bergetar, ternyata ada pesan dari nomor tak dikenal.
Novan mengerutkan keningnya begitu membaca pesan itu.
[Aku bersumpah, akan mengirim kamu ke neraka.]
Novan sangat kesal ketika membaca pesan itu, dia segera menelpon nomor tak dikenal tersebut, namun sayangnya nomor itu telah dinonaktifkan.
"Berani sekali dia menakutiku."
"Tapi siapa dia?"
__ADS_1
Novan mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja itu hanya sebuah pesan iseng atau salah kirim.