
Mata Yunan berkaca-kaca begitu Dara memanggil namanya, "Dara, istriku."
Dara mengerutkan keningnya begitu Yunan memanggilnya Dara dan juga memanggilnya istriku. Apakah mungkin pria yang sedang menolongnya itu sedang mabuk juga?
Dara dibuat terkejut saat melihat ketiga preman Milan itu mencoba untuk menyerang Yunan. Namun ternyata bukan Yunan yang dibuat babak belur oleh mereka, tapi merekalah yang dibuat babak belur oleh Yunan.
"Arrrggghhh!" ketiga preman Milan itu terkapar sambil meringis kesakitan.
Kemudian ketiganya saling menatap, ternyata sebuah isyarat agar mereka harus cepat melarikan diri.
Dengan cepat mereka segera berdiri, lalu berlari dengan sangat cepat meninggalkan Yunan dan Dara.
"Wei, kalian semua pada mau kemana?" Yunan merasa belum puas menghajar mereka.
Yunan baru ingat dengan sepatunya, ternyata salah satu diantara ketiga preman itu membawa sepatu yang telah Yunan lempar tadi.
__ADS_1
"Sepatuku!" sewotnya, padahal dia baru saja membeli kemarin sepatu yang harganya lebih dari seratus juta rupiah itu.
Tapi Yunan sadar, ada yang lebih penting dibandingkan dengan sepatunya, siapa lagi kalau bukan Daranya, sang istri yang sudah lama dia cari.
Yunan menatap sendu pada Dara, akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan wanita yang sangat dia cintai dan dia rindukan itu. Rasanya seperti sebuah mimpi, akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan istrinya.
"Dara!" lirih Yunan, dia berjalan mendekati Dara, ingin memeluknya.
Namun, Yunan terkejut begitu melihat Dara melangkah mundur menjauhi Yunan. "Namaku Luna, bukan Dara."
Dara menghela nafas, sudah dia duga pembalap yang terkenal dengan ketampanannya itu sedang mabuk, sehingga menganggap dia adalah istrinya. "Tapi nyatanya aku memang bukan istri kamu. Sepertinya kamu sedang mabuk berat, kalau begitu aku permisi, aku harus pergi, aku gak mau tunangan aku mengkhawatirkan aku."
Betapa sakitnya hati Yunan saat mendengar Dara sudah bertunangan. "Jangan bercanda denganku, Dara. Sudah cukup sandiwaramu itu, aku sudah tau alasan kamu pergi meninggalkan aku. Tapi sampai kapanpun kamu adalah istri aku, kita gak pernah bercerai."
Dara semakin yakin kalau Yunan sedang mabuk berat, "Kamu adalah seorang pembalap terkenal, seharusnya kamu bisa jaga image kamu, agar tidak menimbulkan masalah. Karena kamu sudah menolong aku, aku tidak akan membicarakan hal ini pada orang lain."
__ADS_1
Yunan lama terdiam, memandangi Dara, dari cara bicaranya dan cara dia menatapnya, Dara tidak terlihat sedang berakting. Dia terlihat seperti memang sama sekali tidak mengenalinya, tapi apakah di dunia ini ada dua orang yang memiliki wajah yang sama? Rasanya sangat mustahil.
Dara menunjukkan sebuah cincin yang melingkari jari manisnya pada Yunan, untuk meyakinkan Yunan kalau dia benar-benar sudah bertunangan. "Ini adalah cincin pertunangan aku bersama calon suamiku."
Yunan terperangah melihatnya, memperhatikan cincin yang melingkari jari manisnya Dara, Dara sepertinya memang benar sudah bertunangan.
Apakah mungkin wanita dihadapannya ini bukan Dara? Tapi hatinya sangat yakin kalau wanita cantik itu adalah Dara, istrinya.
"Kamu tidak boleh pergi begitu saja, sepatu aku di bawa pergi oleh mereka, kamu harus menggantinya." Hanya ini satu-satunya cara agar Yunan bisa menahan Dara untuk tidak pergi.
"Oke, aku akan menggantinya, berapa harga sepatu itu?" Dara membawa dompet yang ada di dalam tasnya.
"250 juta." jawab Yunan dengan santai.
Saking kagetnya mendengar harga sepatu itu, sampai dompet yang dipegang oleh Dara terjatuh.
__ADS_1