
Mona merasakan dirinya lemas seketika, diantara semua pria di dunia ini kenapa harus Alan, jika tau pria yang dijodohkan denganya adalah Alan, dia tidak akan pernah meminta Alan menjadi pacar bohongannya.
Niat hati ingin menggagalkan perjodohan, eh malah mempercepat rencana pernikahan.
Mona sama sekali tidak nafsu makan, membayangkan bagaimana dia setiap hari harus hidup bersama dengan pria sengklek dan playboy cap nanggung seperti Alan, rasanya dunianya akan benar-benar kacau.
Mona dan Alan tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya, karena orang tua mereka lagi membicarakan bagaimana konsep pernikahan Alan dan Mona, dan juga sampai membahas calon cucu mereka.
"Pokoknya kita harus cepat punya cucu, gak kebayang bagaimana cantik dan gantengnya cucu-cucu kita." Bu Lia mengatakannya sambil terkekeh.
"Iya kalau mereka saling cinta pasti bakalan cepat tokcer." Bu Maya menanggapi perkataan calon besannya itu.
Pak Wira kebetulan duduk di dekat Alan, dia berbisik pada Alan. "Nanti om punya obat kuat yang manjur, bisa kuat sampai pagi."
Alan jadi menelan saliva membayangkannya, haruskah dia merelakan melepaskan keperjakaannya bersama Mona nanti?
Oh tidak, Alan tak bisa membayangkannya. Padahal dia sama sekali tidak berniat untuk menikah.
__ADS_1
"Maaf, aku mau ke kamar mandi dulu." Mona meminta izin untuk pergi ke kamar mandi, dia ingin menenangkan diri, sambil mempersiapkan diri agar bisa bicara sejujurnya pada orang tuanya dan Bu Maya bahwa dia dan Alan sebenarnya tidak saling mencintai.
"Ya, Mona." jawab Bu Maya.
Mona pun pergi ke kamar mandi.
Alan rasa dia harus bicara berdua dengan Mona, untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Dia pun meminta izin untuk ke kamar mandi.
"Aku harus ke kamar mandi dulu."
...****************...
"Alan, ngapain kamu kesini? Ini kamar mandi cewek." protes Mona.
"Kita harus bicara." Alan ikut masuk ke dalam, karena takut keburu ada orang-orang datang kesana, dikira dia akan mengintip para wanita.
"Eh kamu mau ngapain?" Mona menjadi deg-degan berada di kamar mandi bersama Alan.
__ADS_1
"Tentu saja kita harus membicarakan tentang perjodohan kita. Ini semua gara-gara kamu, coba kalau kamu gak menjadikan aku pacar bohongan kamu, gak akan kaya gini." Alan menyalahkan ide konyolnya Mona, dia berbicara dengan pelan, takut suaranya kedengeran orang lain.
Mona tidak mau disalahkan. "Lah kan aku gak maksa, tadi aku sudah bilang kalau kamu gak mau, tinggal aku suruh Malik. Kamu yang bilang bersedia."
"Terus kita harus bagaimana sekarang? Aku gak mau menikah sama kamu."
"Emang aku mau? Ogah. Seharusnya kamu gak usah bicara berlebihan sampai bilang hidupku tanpa Mona separuh nyawaku akan hilang. Jadi kan aku bingung kalau bilang tadi semua hanyalah bohongan."
Alan menggaruk kepalanya yang gak gatal, dia nampak frustasi sekali.
Alan mendengar suara langkah seseorang di luar kamar mandi, dia segera menyalakan air dari keran, biar pembicaraan mereka berdua tidak ada yang mendengarkan.
"Pokoknya sekarang ini juga kita harus berani bicara sama orang tua kita, kita bilang sama mereka kalau kita tidak ingin menikah dan kita tidak saling mencintai, oke?" Alan mengatakannya dengan nada penuh penekanan.
"Oh oke, mari kita lakukan. Jujur aja aku gak mau hidup bersama kamu, kalau bisa hari ini terakhir kita bertemu."
"Oke, jangan sampai kita bertemu lagi. Ayo kita bicara sama orang tua kita."
__ADS_1
Alan segera membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya dia melihat ada mamanya dan Bu Lia sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.