
Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, namun Dara belum pulang juga ke apartemen, membuat Yunan cemas.
Yunan mencoba untuk beberapa kali menghubungi sang istri tercinta, namun ponsel Dara tidak aktif, Yunan segera mencari keberadaan Dara dengan menggunakan motor sportnya.
"Dia kemana? Kenapa susah sekali dihubungi?" Yunan begitu gelisah setelah memastikan Dara tidak ada di sekolah, dia segera memacu motornya kembali untuk mencari Dara.
Ternyata Dara sedang termenung di halte bus, lama sekali dia termenung disana, memikirkan bagaimana pembicaraannya bersama dengan ayah dari suaminya bocahnya itu di kantor utama Angkasa.
Mungkin karena melamun dari tadi sampai di baru menyadari ada bus terakhir melewatinya, Dara segera mengejar bus tersebut.
"Hei tunggu!" Dara berlari begitu cepat, namun sayangnya bus yang dia kejar tidak kunjung berhenti.
Dara hanya bisa menghela nafas memandangi bus yang sudah melaju cukup jauh, dia terengah-engah karena kecapean, sampai keringat dingin bercucuran membasahi dahinya.
Tak ada satu pun taksi yang melintas kesana, membuat hidup Dara merasa sial. Dara memilih untuk memesan ojeg online, dia baru menyadari ternyata ponselnya lobet.
"Ya ampun, hidup aku benar-benar sial." keluhnya.
Dara terpaksa harus berjalan kaki, siapa tau nanti akan ada taksi yang melintas, jalanan disana begitu sepi, membuat Dara sedikit ketakutan, tapi dia harus tetap melangkah, agar bisa cepat pulang.
__ADS_1
Brrmm...
Brrmm...
Brrmm...
Dara mendengar suara deruman motor terdengar begitu ramai, Dara terkejut saat melihat ada 4 motor sport mengelilinginya.
Keempat motor terus berputar mengelilingi Dara, mereka sengaja membuat suara knalpot begitu bising memekan telinga. Lalu salah satu dari keempat orang itu menghentikan motornya, Dara tak bisa berlari karena di kelilingi oleh motor dan keempat pengendara motor tersebut.
"Kalian siapa? Kenapa kalian menggangguku? Jangan macam-macam padaku, aku akan melaporkan kalian ke polisi." Dara mencoba untuk mengancam mereka.
Dara mengerutkan keningnya, sepertinya dia hapal betul siapa suara laki-laki yang memakai jaket hijau tersebut.
Laki-laki berjaket hijau membuka helmnya, "Kita bertemu lagi Bu Dara."
Dara nampak menganga, ternyata laki-laki itu adalah Angga, musuh bubuyutannya Yunan. Dan ketiga pengendara lainnya kompak membuka helmnya, ternyata mereka adalah Ferdi, Doni, dan Niko. Mereka berempat dikeluarkan dari sekolah gara-gara sering membully dan melakukan pemalakan terhadap Malik.
"Kenapa kalian melakukan ini padaku? Apa yang kalian lakukan tidak bermoral terhadap guru kalian sendiri." Dara tidak terima dengan perlakuan Angga cs yang menurutnya sangat tidak sopan.
__ADS_1
Angga tertawa lagi, "Kamu lupa ya, sekarang kamu bukan guruku lagi."
Angga berjalan mendekati Dara, "Bagiku kamu hanyalah seorang wanita dewasa yang cantik."
Angga ingin menyentuh dagu Dara, tapi Dara dengan kasar menepis tangan Angga.
"Jangan kurang ajar kamu, Angga." Dara sangat marah sekali.
"Seharusnya waktu itu kamu diam saja, setelah Yunan dinyatakan bersalah. Tapi kamu malah mati-matian membelanya, membuat kami dikeluarkan dari sekolah, kami di hukum oleh orang tua kami."
Angga masih dendam pada Dara, gara-gara Dara yang mati-matian membela Yunan, Dara juga satu-satunya orang yang mempercayai kalau Yunan tidak bersalah, sehingga perbuatan bejat Angga dan ketiga temannya di sekolah akhirnya terungkap, dan mereka dikeluarkan dari SMA Angkasa.
Ketiga teman Angga memilih diam, mereka hanya mengepung Dara bersama motor-motor mereka.
Dara mencoba untuk berbicara dengan tidak emosi, "Seharusnya kalian introspeksi diri, mengapa kalian bisa dikeluarkan dari sekolah? Itu karena perbuatan kalian yang keterlaluan dengan menindas orang yang lemah."
"Jangan ceramahi kami bu guru, kami bukan muridmu lagi. Mending kamu ikut hangout bareng kami, kita akan bersenang-senang. Aku ingin tau bagaimana rasanya bersenang-senang dengan wanita dewasa." Kini Ferdi yang berkata seperti itu.
Semuanya terkekeh begitu mendengarkan perkataan Ferdi.
__ADS_1